Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Apa Kurangnya Aku?


__ADS_3

Happy reading


Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Luke yang terbangun terlebih dahulu karena kebelet. Dengan pelan ia menyingkirkan tangannya yang digunakan sebagai bantal Lidia.


Cups


"Pagi baby."


Walau tak mendapat jawaban dari Lidia, tapi melihat wajah cantik Lidia saja membuat ia senang.


Luke turun dari ranjang itu menuju kamar mandi, laki laki itu sekalian membersihkan dirinya karena dari kemarin ia belum mandi.


Lidia yang sebenarnya sudah terbangun itu hanya tersenyum tipis. Laki laki yang selalu ada saat ia butuh itu tampak tulus merawatnya.


"Pagi, Dad."


Jika dipikir lagi apa iya masih pantas bersanding dengan laki-laki sebaik Luke. Lidia sudah terlalu kotor untuk laki-laki itu.


Luka bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dan lebih cantik dari dirinya. Lidia ditakdirkan hanya sebagai pemuas saja tanpa bisa memiliki.


Dokter dan suster datang ke ruang rawat Lidia untuk mengecek keadaan wanita itu. Sedangkan Luke masih berada di kamar mandi.


"Maaf nona, Tuan Luke ada dimana ya? Soalnya ada yang ingin saya bicarakan," tanya Dokter Sindi dengan ramah pada Lidia.


"Ada di kamar mandi," jawab Lidia.


Jika dipikir-pikir dokter Sindi lebih pantas bersama Luke daripada dirinya yang hanya remahan rengginang ini. Dokter Sindi adalah dokter spesialis yang pasti sangat pintar diusianya yang masih muda.


"Emm, Nona tahu tidak. Tadi malam Tuan Luke sangat mencemaskan Nona. Bahkan Tuan sendiri yang menggendong tubuh Nona ke mobil saya. Nona saya berharap, Nona bisa membuka hati untuk Tuan kami. Tuan sudah lama mencintai nona, bahkan kami adalah saksi cinta tuan Luke pada Nona."


Lidia yang mendengar itu langsung menatap Dokter Sindi. Wanita cantik dan muda itu tampak memberinya sinyal agar ia menerima Luke. Tapi bagi Lidia, Luke terlalu baik untuknya.


"Dia lebih pantas bersama kamu dokter. Aku sudah menganggap Daddy Luke adalah ayah sekaligus kakakku."


"Mohon maaf Nona, tapi kami tidak pantas bersama Tuan. Tuan Luke sangat mencintai Anda, jadi tolong jangan kecewakan dia lagi," ucapnya dengan senyum manisnya.


Lidia hanya diam tak membalas ucapan dokter Sindi. Terlalu mustahil untuk dia yang banyak dosa ini bersama Luke yang sangat baik. Walaupun laki laki itu sudah mengambil apa yang paling berharga dalam hidupnya.


Tanpa mereka sadari Luke sudah selesai mandi dan mendengar percakapan mereka. Ada rasa sakit di hati laki-laki itu kala Lidia mengatakan jika Lidia hanya menganggap dirinya sebagai Ayah dan Kakak bukan sebagai laki-laki dan perempuan.

__ADS_1


Bolehkah Luke egois untuk saat ini, laki-laki itu sangat menginginkan wanita yang selalu ia jaga selama ini.


Tak menunggu waktu lama lu ke keluar dari kamar mandi dan menatap Dokter Sindi seolah mengatakan agar dokter Sindi dan suster itu keluar dari ruang rawat itu. Dokter yang paham itu langsung pamit undur diri pada Tuan dan Nona nya.


"Masih ada yang sakit?" tanya Luke pada Lidia. Wanita itu menggeleng kemudian kembali menarik selimut sampai batas dada.


"Kapan sampai di Indonesia?" tanya Lidia dengan pelan.


"Tadi malam," jawabnya mengambil kompres yang ada disana.


"Buka bajunya biar aku lap tubuh kamu," ucap Luke yang dijawab gelengan oleh wanita itu.


"Aku baik-baik saja, aku bisa kamar mandi sendiri."


"Jangan membantah!"


Mendengar suara itu akhirnya Lidia pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Luke. Tangannya masih diinfus hingga tak bisa membuat leluasa menggerakkan tangannya.


"Apa selama ini kamu senang tanpa ada aku?" tanya Luke pada Lidia.


Laki-laki itu mulai mengelap leher Lidia dengan lembut. Lidia menggelengkan kepalanya, walaupun ia bisa bebas dari Luke tapi penjagaan dari laki-laki itu membuat ya sedikit terkekang.


"Hufftt, jelas saja karena kamu hanya boleh bermain dengan Daddy. Daddy tak mungkin membiarkan tubuh kamu dinikmati oleh laki laki lain."


"Kenapa Daddy masih baik sama aku?" tanya Lidia yang membuat laki-laki itu menghentikan aktivitasnya.


"Kamu masih bertanya? Tentu kamu tahu jawabannya."


"Aku tak pantas dengan Daddy."


"Yang menentukan pantas dan tidaknya kamu buat aku adalah aku sendiri. Bukan orang lain, aku tak peduli dengan apa yang kamu lakukan Baby. Aku sayang dan juga aku cinta sama kamu, kamu pasti tahu itu," ucapnya dengan lembut.


Laki laki itu mulai mengelus rambut Lidia, tak bisa dipungkiri dulu iya sangat jatuh hati kepada gadis yang berusia 16 tahun. Bisa dikatakan ia pedofil karena menyukai gadis kecil sedangkan usianya sudah 30 tahun lebih tapi Luke tak peduli semua itu.


"Aku tahu semua yang terjadi dengan kamu, Baby. Mulai dari laki laki yang bernama Gibran itu mempermalukan kamu, tapi memang kamu yang salah. Aku tak ingin kamu mendendam, setalah pulang dari rumah sakit kamu akan Daddy bawa ke London," ucap Luke yang sudah tidak bisa dibantah lagi oleh Lidia.


"Tapi.."


"Masalah terjadi di Indonesia akan menjadi selesaikan saat ini juga. Kamu tak boleh terus terusan di negara ini, Baby. Bahkan ayah dan ibumu saja sudah tak peduli dengan adanya dirimu hidup atau tidak."

__ADS_1


Lidia terdiam memang benar selama ini ia tak diharapkan oleh kedua orang tuanya. Tapi Lidia bisa apa sebagai seorang anak Ia hanya mampu menurut. Membiarkan adiknya mendapatkan kasih sayang yang banyak dari kedua orang tuanya.


Gibran? Aishh membayangkan wajah dinginnya yang mempermalukannya saja sudah membuat ia sedih dan tak bisa berharap banyak pada laki-laki itu. Keysha dan Reno, kedua orang itu hanya bersahabat dengannya karena ia dekat dengan Gibran. Pasti keduanya juga sudah membencinya.


Lidia benar benar sendiri di negara ini, hanya Luke yang selalu ada untuknya.


"Tapi aku..."


"Aku menerima kamu baby. Sebenarnya apa yang kurang dari aku, aku hanya ingin mendapatkan cinta darimu saja tidak lebih."


"Kamu terlalu baik buat aku, Dad. Aku malu, aku sudah kotor."


"Tak ingatkah siapa yang mengambil kesucianmu dulu? Hanya aku yang bermain dengan tubuhmu selain itu tidak ada, aku selalu menjaga tubuh indah kamu ini agar tidak disentuh banyak oleh laki laki. Walau memang tangan dan bibir kamu ini harus dihukum. Persiapkan untuk nanti saya kamu sudah pulang hmm."


"Dasar."


Lidia cemberut mendengar ucapan dari laki-laki tua di depannya ini. Tua? Hei Luke masih 38 tahun, belum tua tapi terlalu matang.


"Jangan cemberut atau aku akan memakanmu disini baby."


"Daddy nakal."


"Ya itu Daddy."


"Apa Daddy benar benar mencintaiku? Apa Daddy tidak jijik dengan Lidia. Apalagi pasti Daddy tahu apa yang selama ini Lidia lakukan," tanya Lidia dengan polosnya. Jangan kalian pikir dia tidak tahu apa yang dipersiapkan oleh laki-laki di depannya ini.


"Cinta Daddy tulus, Baby. Bahkan aku sudah meminta kamu pada ayahmu, dan mereka memberi izin begitu saja tanpa mau tahu siapa aku. Sampai di London aku akan menikahi kamu, tak peduli kamu menolak sekalipun."


"Dasar pemaksa, Lidia masih kecil."


"Usiamu sudah 21 tahun bulan depan, apa itu di katakan kecil?"


Lidia hanya tersenyum, memang benar ia sudah besar apalagi ia sudah sangat jauh terjerumus ke lembah dosa, Lidia juga ingin hidup normal dan memiliki pasangan.


"Lupakan obsesi kamu disini, dan kita rajut masa depan kita di London."


"Janji Daddy tidak akan mempermasalahkan masa laluku?" tanya Lidia dan dianggukkan oleh Luke.


Akhirnya keduanya saling memeluk menyalurkan rasa bahagianya karena bisa bersama. Terlebih Luke yang sudah sangat ingin memboyong Lidia ke rumahnya di London.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2