
Happy Reading!
Setelah selesai memakai pakaian yang bersih, Arum dan Yanti keluar dari kamar mandi. Kini giliran Gibran sendiri yang berganti pakaian kemudian baju Vito. Laki laki gak akan masuk ke kamar mandi berdua itulah yang Tya tahu.
Gibran berjalan ke arah Arum yang sedang duduk di atas batu dengan tangan yang memainkan ponselnya dengan santai.
"Katanya mau liburan tapi malah mainan hp mulu?" tanya Gibran menyentuh pundak Arum hingga membuat gadis itu terlonjak kaget.
Untung hp yang ia pegang tidak sampai jatuh ke air, kalau iya entah apa yang akan Arum lakukan pada Gibran. Apalagi di hp itu banyak sekali kenang kenangannya mulai dari saat mereka masih kecil sampai besar seperti ini.
"Ihh kamu ngagetin aja sih, untungnya gak jatuh hp aku," ucap Arum menggeplak lengan Gibran dengan keras.
Bahkan sampai berbunyi sakit kerasnya, sungguh Arum sangat kesal dengan Gibran karena tanpa bilang bilang langsung menyentuh pundaknya. Arum kan orangnya penakut jadi jangan salah dirinya jika seperti ini.
Gibran yang mendengar itu hanya tersenyum kemudian duduk di samping Arum. Bahkan tangannya yang tadi menjadi sasaran Arum tak membuat laki laki itu marah karena di sini memang ia yang salah sudah mengagetkan pacarnya.
"Maaf ya cantik, aku gak sengaja," ucap Gibran menggenggam tangan Arum.
Arum yang mendengar itu hanya mengendus kesal karena sang pacar yang sangat tidak tahu situasi.
Mereka saat ini ada di dalam hutan tidak menutup kemungkinan banyak makhluk halus di sekitar mereka yang bisa saja menyesatkan mereka.
"Kita disini sampai jam berapa?" tanya Arum dengan raut wajah cemberut.
Rasa keselnya belum hilang sepenuhnya hingga membuat gadis itu enggan menatap kekasihnya.
Yanti yang mendengar itu hanya menghentikan bahunya seraya memainkan ponsel mahalnya sesekali mengambil potret mereka dan pemandangan di sekitar.
"Sampai jam setengah 2 nanti, setelah itu kita mampir ke rumah makan dulu buat makan," jawab Gibran mengelus rambut Arum yang belum sepenuhnya kering.
"Jangan elus elus ihhh."
"Kenapa sih sayang, kamu masih marah soal aku kagetin tadi? Aku gak sengaja," jawab Gibran dengan senyum yang masih terbit disana.
"Aku gak apa apa, masih kesel aja sama kamu."
"Jadi kamu maunya gimana abiar aku gak kesel sama kamu?" tanya Gibran pada Arum.
"Gak tahu," jawabnya yang membuat Yanti dan Gitu tertawa dengan jawaban Arum. Sangat tidak ramah bintang 1.
"Ya sudah kita jalan jalan aja mau? Siapa tahu setelah kita jalan jalan kamu udah gak ngambek lagi," ajaknya dengan senyum manisnya.
Akhirnya Arum menerima ajakan Gibran untuk jalan jalan, sebenarnya rasa kesal pada Gibran itu hanya sedikit. Ya kali hanya dikagetkan gitu saja langsung membuat Arum marah marah tak jelas. Didiamkan aja nanti juga sembuh sendiri kesal itu.
Mereka berdua meninggalkan Yanti dan Vito di sana sendiri sedangkan mereka berjalan dengan tangan bergandeng di sekitar air terjun itu.
"Yank aku mau ajak anak anak kita nanti liburan gini. Bukan cuma di kota aja, tapi juga mengekplor temaot tempat yang bagus dan yang masih terjaga seperti ini," ucap Gibran menatap pohon-pohon yang masih sangat rimbun tapi tidak mengurangi keindahan tempat itu.
Bahkan Arum dan Gibran juga sedikit heran karena tempat ini sangat bersih walaupun banyak pepohonan di sana.
"Nikah aja belum udah mikirin anak," cibir Arum menatap Gibran yang tampak mengangguk.
__ADS_1
"Cita cita itu harus ada sejak saat ini, gak boleh mendadak. Yah walau nanti kenyataan tak sesuatu dengan realita," jawab Gibran.
Laki-laki itu mulai membayangkan bagaimana jika nanti mereka memiliki anak. Pasti akan lucu lucu, apalagi mereka juga cantik dan tampan. Sangat narsis sekali tapi memang itulah kenyataannya, mereka termasuk keturunan good looking.
"Heh kamu bayangin apa hmm?" tanya Arum kala mendapatkan Gibran sedang melamun seraya tersenyum dengan lembut hal itu cukup membuat Arum takut.
Gak gak apik kalau tiba tiba Gibran langsung kejang kejang disini. Yang takut juga dia yang pasti akan membuat Arum kelimpungan.
"Bayangin kita sudah nikah dan punya anak pasti sangat lucu dan pintar. Ahh membayangkan saja sudah membuat aku ingin cepat cepat menikahi kamu," jawab Gibran dengan senyum manisnya.
"Ishh aku aja belum mikir sampai sana."
Dalam hati Arum tersenyum mendengar jawaban dari Gibran itu. Gadis itu jadi ikut membayangkan bagaimana jadinya jika ia yang masih sekolah sudah menggendong anak dan juga apakah nanti badannya masih bagus seperti semua atau gimana.
"Nanti aku gendut," ucap Arum menatap Gibran.
"Gendut pun aku tetap suka sama kamu. Itu ada dahan pohon yang udah tumbang, mau duduk disana. Kebetulan tempatnya strategis banget buat lihat pemandangan dari atas," ajak Gibran menunjuk dahan yang terlihat seperti kursi.
Akhirnya keduanya mulai berjalan menuju tempat duduk yang ditunjuk oleh Gibran.
"Wah keren sih kalau dilihat dari sini. Kelihatan semuanya, kalau dari bawah cuma kelihatan air terjunnya sama aliran sungai aja," ujar Arum yang sudah kembali good mood seperti semula.
Mereka menghabiskan waktu mereka disana, banyak hal yang diceritakan oleh Arum dan Gibran hingga membuat mereka lupa waktu.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, Gibran, Arum, Vito dan Yanti akhirnya memutuskan untuk pulang.
Kali ini Yanti mau jalan sendiri tak minta gendong atau tak digendong oleh Vito lagi. Malu lah, apalagi bobot tubuhnya yang tak ringan.
Sampailah mereka di parkiran motor, mereka langsung menaiki motor itu dan meninggalkan area wisata alam itu. Tak lupa mengucapkan terima kasih atas pemandangan indah disini. Maklum orang kota.
"Sayang, kamu mau kita jatuh ke jurang?" tanya Gibran saat pacarnya tak memeluknya seperti biasanya.
"Eh iya."
Arum langsung memeluk tubuh erat sang pacar. Sesekali Arum mengelus lembut perut laki laki itu yang membuat Gibran hampir kehilangan konsentrasi.
Dan sampailah mereka di suatu rumah makan, motor yang Vito dan Gibran kendarai terparkir diantara banyak motor di sana.
Gibran membiarkan Vito dan Yanti masuk terlebih dahulu ke dalam rumah makan itu sedangkan Gibran menarik tangan Arum untuk tetap stay disampingnya dulu.
"Kenapa? Kan Vito sama Yanti sudah masuk?" tanya Arum pada Gibran yang sedang mencekal tangannya.
"Aku mau hukum kamu dulu, karena tadi kamu udah bikin aku gak konsentrasi," jawab Gibran menarik tangan Arum lebih dekat kemudian cups.
Gibran mengecup bibir Arum dengan lembut kemudian mengelus lembut pipi sang kekasih dengan senyum manisnya.
Arum mematung sekejap sebelum akhirnya gadis itu mulai tersadar dengan apa yang dilakukan oleh sang pacar.
"Gibrannn."
__ADS_1
"Hmm."
Arum yang malu itu wajahnya langsung memerah. Gibran yang gemes dengan sang kekasih itu langsung menarik tubuh Arum ke dalam dekapannya.
"Kamu cantik kalau lagi malu gini," ucap Gibran dengan tawa yang makin membuat Arum malu.
"Banyak orang ih kamu bikin aku malu aja," ujar Arum dengan kesal karena itu adalah tempat umum yang membuat mereka tak bisa leluasa melakukan apa yang mereka inginkan.
Ini adalah negara + 62 bukan negara Belanda atau Amerika yang bebas melakukan hal-hal seperti ini. Mungkin jika di negara-negara tersebut hal itu sudah biasa dilakukan oleh warga sana sedangkan di Indonesia ciuman di tempat umum sangatlah tidak etis dan tidak untuk dicontoh.
"Mereka gak lihat."
Akhirnya setelah beberapa saat mereka berdebat, Arum dan Gibran memutuskan untuk masuk ke warung makan yang cukup ramai itu.
Keduanya yang melihat Yanti dan Vito itu langsung menghampiri keduanya dan duduk di tempat yang ada disamping mereka.
"Kalian ke mana aja lama banget?" tanya Yanti pada keduanya. Makanan yang mereka pesan saja sudah tiba beberapa menit lalu tapi kedua anak manusia itu masih berada di luar.
"Biasalah," jawab Arum tak ingin memperpanjang pertanyaan yang membuat dia kembali teringat dengan apa yang dilakukan Gibran tadi di parkiran.
"Lahh."
"Thanks udah dipesenin," ucap Gibran mengambil satu porsi makanan yang ada disana untuk Arum dan satu lagi untuknya.
"Iya sama sama."
Setelah mendapat makanan masing-masing mereka langsung memakan makanan yang ada di depan mereka dengan lahap. Wajar saja mereka sampai seperti orang yang sudah beberapa hari tidak makan, karena mereka terlalu lapar. Apalagi mereka makan hanya tadi pagi sedangkan siang mereka menghabiskan waktu mereka di air terjun.
Akhirnya setelah beberapa saat makanan yang ada di piring itu ludes habis dimakan mereka.
"Es teh gue mana?" tanya Arum saat mendapati es teh yang tadi ada di depannya sudah tidak ada.
Dan saat dia menoleh ke arah Gibran ternyata laki-laki itu yang meminum es teh miliknya.
"Sorry yank, tadi salah ambil. Nih minuman aku masih utuh belum aku sentuh sama sekali," jawab Gibran memberikan lemon tea miliknya yang masih penuh.
Arum pun menerimanya dan segera meminum minuman itu hingga tersisa setengah.
"Segar."
"Eh kita habis ini langsung pulang atau mau mampir ke mana dulu?" tanya Vito membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Emm gue sih masih pengen jalan jalan," jawab Arum dengan senyum tipisnya begitupun dengan Yanti.
Kedua gadis tampaknya masih belum puas dengan liburan mereka ke air terjun. Dan sebagai laki-laki yang notabene adalah kekasih mereka, Gibran dan Vito iya iya saja jika gadis mereka ingin jalan-jalan lagi. Mumpung masih di Bali.
"Kita mencar aja gimana? Vito sama Yanti dan gue sama Gibran," ucap Arum memberi ide untuk mereka.
Jujur saja mereka memerlukan waktu berjuang untuk kencan. Begitupun dengan Yanti dan Vito yang pasti menginginkan untuk jalan berdua saja.
"Setuju."
__ADS_1
Tiba-tiba dari arah belakang ada seorang wanita yang menghampiri mereka. Arum yang melihat wanita itu sedikit terkejut dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ini sebuah kebetulan atau memang direncanakan.
Bersambung