
Happy reading
Setelah berberapa hari berada di rumah sakit kini Papa Sandi sudah diperbolehkan untuk pulang.
Orang tua Gibran juga sudah sampai Jakarta dengan selamat. Dan kehidupan Gibran sudah kembali seperti semula, mengantar dan menjemput Arum, kumpul teman temannya dan lainnya tanpa menyentuh berkas kantor lagi.
Sedangkan kini Arum sedang belajar untuk menghadapi ujian besok. Yah selama seminggu ini Arum harus dihadapkan dengan ujian akhir tahun atau ujian kenaikan kelas 12.
"Memangnya gak ngantuk yank? Jam segini masih belajar? Biasanya kamu jam 8 aja udah di alam mimpi," tanya Gibran yang kini sedang menikmati wajah cantik Arum dari panggilan video itu.
Tanpa Arum berulang kali membolak-balik dan buku yang ada di atas meja itu dengan fokus. Bahkan Gibran yang melihat itu sedikit bosan melihatnya untung ada wajah Arum yang membuat dia selalu mengagumi ciptaan tuhan itu.
"Nanti dulu, lagian masih jam 9 malam. Aku gak mau besok blank saat ujian," jawab Arum tanpa menatap Gibran.
Akhirnya Gibran membiarkan apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Dirinya menjadi penonton setia Arum yang sedang belajar tak peduli walau ia saat ini sudah mengantuk sekalipun.
"Yank, emang kamu gak ada tugas apa? Aku perhatiin akhir-akhir ini Kamu jarang sekali mengerjakan tugas emang gak ada?" tanya Arum pada sang kekasih.
"Ada sih tapi udah aku kerjakan jauh-jauh hari, emang kelihatan banget ya kalau aku gak tahu ngerjain tugas?" tanya Gibran dengan senyum tipisnya.
Ya memang selama ada tugas laki-laki itu selalu mengerjakannya tepat waktu tidak pernah mengulur waktu untuk mengerjakan tugas kuliahnya.
Jadi saat deadline tugas itu ia sudah santai dan mengumpulkan tugasnya ke dosen. Bahkan ibunya sendiri sering mengomelinya karena sering keluyuran daripada di rumah mengerjakan tugas.
"Iya sih kelihatan, apalagi selama ini kita sering berdua dan aku lihat kamu gak pernah buka buku atau buka laptop selain buka game," jawab Arum yang tak menyangka jika Gibran bisa seteladan itu.
"Hahaha ada waktunya sendiri buat belajar buat kampus, buat kantor dan juga jalan sama kamu. Gak semuanya harus diperlihatkan sayang, lagi pula aku tak ingin mencampurkan hal-hal pribadi dengan tugas-tugas itu."
Arum yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, benar apa yang dikatakan oleh Gibran. Jika kita bersamanya tapi pikirannya dengan tugas-tugasnya, pasti dia juga akan merajuk karena dianggap tidak penting.
Nggak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam, sudah berapa jam panggilan video itu berlangsung tapi yang pasti kini mata Arum sudah mulai berat pertanda ia mengantuk.
Hoammm
"Yank aku udah ngantuk, tidur dulu ya."
Aru menutup bukunya dan berjalan menuju kasur saya membawa ponsel yang ada di tangannya. Gibrannya dari tadi belum tidur menunggu sang kekasih itu langsung mengiyakan ucapan sang kekasih karena hari juga sudah malam.
"Iya sayang, tidur yang nyenyak dan mimpi indah hmm. Besok pagi aku jemput," ucap Gibran dan dianggukkan oleh Arum.
Tak menunggu lama mata indah Arum sudah mulai menutup tanpa mematikan panggilan video itu. Terima kasih sudah tidur itu tersenyum kemudian mengucapkan selamat malam walau tidak dijawab oleh Arum.
Tutt
****
Pagi pagi sekali Arum sudah bangun dan membuka buku catatannya. Hanya untuk mengingat poin poin penting sebelum ia mandi dan bersiap kensekolah.
Setelah 20 menit berlalu, Arum mulai membereskan buku buku yang ada di meja belajar itu dan memasukkannya ke dalam tas.
"Harusnya gak perlu bawa banyak buku, kan ujian."
__ADS_1
Tapi memang dasarnya Arum itu suka memberatkan dirinya sendiri ya jadi gitu. Bahkan apa yang tak seharusnya dibawa pun masuk ke dalam tas.
Arum berjalan menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandinya yang memakan waktu hampir 30 menit karena gadis itu mementingkan berendam di bathtubnya. (Tidak tahu waktu sekali.)
Ceklek
Arum keluar dari kamar mandi dengan aroma wangi mawar. Gadis itu berjalan menuju ruang ganti dan memakai seragamnya.
Drrtttt
GibranLv is Video Calling...
"Heh tumben banget VC jam segini, biasanya aja gue yang bangunin," gumam Arum memakai baju seragamnya dulu sebelum ia mengangkat panggilan video itu.
"Halo sayang, tumben telepon dulu ada apa?" tanya Arum saat panggilan video itu tersambung.
"Mau bangunin kamu niatnya, tapi kamu kayaknya udah bangun ya," ucap Gibran dengan suara seraknya. Jangan lupakan muka bantalnya yang masih terlihat disana.
"Hahaha aku kan kalau udah niat bangun pagi, pasti bangun pagi. Apalagi hari ini pertama ujian," ucap Arum seraya mengancingkan baju seragamnya.
"Yank.."
"Hmm."
"B H kamu warna hitam ya?" tanya Gibran yang membuat Arum langsung menutupi dadanya kemudian menatap Gibran yang hanya tersenyum dengan polosnya tanpa rasa bersalah sudah membuat Arum malu.
"Ishhh kamu me sum."
"Sayang yang namanya laki laki kalau gak me sum gak normal dong. Tapi tenang aja aku me sum cuma sama kamu doang," jawab Gibran dengan bangganya.
"GIBRANNNNN.."
Arum geram dengan sang pacar yang dengan terang terangan menggodanya seperti ini. Memang benar ia belum memakai rok tapi sudah pakai hotpants kok.
"Hahaha sayang... Aku jadi gak sabar buat lihat kamu tiap hari malu-malu gini. Butuh 1 Setengah bulan aja aku bisa menikahi kamu. Dan kita bakal jadi suami istri," ucap Gibran dengan senyum manisnya yang mampu membuat para wanita di luar sana klepek klepek dibuatnya tak terkecuali Arum sendiri yang sudah menjadi pacar Gibran.
"Tunggu aku naik kelas dulu, kalau aku gak naik kelas berarti kamu juga belum bisa nikah sama aku," goda Arum seraya memakai roknya. Tentu saja tak bisa dilihat oleh Gibran.
"Kamu pasti naik kelas."
"Sok tahu."
"Tahu lah, kan aku ada bakat cenayang," jawab Gibran yang diiringi tawa renyah dari laki laki itu.
Arum yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kalau gitu, aku mau cuci muka dulu terus jemput kamu," ucapk Gibran yang terlihat sudah bangun dari baringannya.
"Apa!! Cuma mau cuci muka aja? Gak gak kamu harus mandi, awas aja kalau kamu cuma cuci muka aja. Aku gak mau berangkat bareng sama kamu!!"
Gibran yang mendengar ancaman dari sang pacar itu hanya tersenyum kemudian mengangguk. Mana mungkin ia ke kampus hanya cuci muka, tapi kalau kepepet ya hanya cuci muka hihihi.
__ADS_1
Panggilan video itu dimatikan oleh Gibran, karena laki laki itu harus mandi dan menjemput sang pujaan hati hihihi.
"Dasar, kalau bukan pacar mungkin gue udah il feel kali ya," gumam Arum duduk di kursi depan meja rias itu dan mulai mengoleskan cream yang biasa ia pakai.
Walau ia sudah cantik tapi harus tetap merawat apa yang sudah Allah berikan untuknya dan juga agar Gibran tak kepincut cewek lain yang lebih cantik.
Setelah selesai dengan ritualnya, gadis itu kemudian mengambil kaos kaki dan tasnya kemudian berjalan menuju meja makan yang ternyata masih kosong.
"Loh dek, kamu kok udah siap aja? Biasanya jam setengah 7 atau jam 7 kurang kamu baru turun ini masih jam 6 lewat 5 loh dek?"
Arum yang di tanya seperti itu hanya tersenyum kemudian menatap jam dinding yang ada disana benar saja masih terlalu pagi.
"Gak apa apa ma. Arum mau ujian ma, doain lancar ya."
"Iya sayang pasti Mama doain. Kamu mau bawa bekel buat makan nanti siang?" tanya Mama Tiya dengan perhatian.
"Emmm mau sandwich aja ma, buat sarapan. Arum juga mau belajar bentar di sekolah, nanti kalau berangkat jam 7 malah gak sempet."
Mama Tiya tersenyum kemudian membuatkan sarapan buat sang putri. Sengaja Mama Tiya lebihkan roti isi itu agar Arum bisa membaginya dengan Gibran karena pasti Arum akan mengajak Gibran untuk segera berangkat.
******
15 menit kemudian suara klakson mobil Gibran berbunyi, Arum yang sudah menunggu itu langsung saja pamit pada kedua orang tuanya dan meminta dia restu agar ia bisa lancar ujian nanti.
Arum berlari membawa bekalnya ke dalam mobil Gibran kemudian tersenyum melihat laki laki yang setiap pagi menjemputnya itu.
"Siap?"
"Siap. Ayo!!"
Gibran mulai menjalankan mobilnya keluar dari area rumah itu, karena Arum juga sudah siap untuk cepat cepat sampai sekolah.
"Sayang tadi aku bawa bekel kita makan dulu ya."
"Emang kamu gak sempet sarapan hmm?" tanya Gibran, bukannya menolak tapi ia takut jika Arum akan kurang dengan makannya.
"Gak, soalnya aku tahu kamu pasti gak sarapan juga. Kan biasanya juga sarapan di rumah aku."
Gibran tersenyum mendengar itu kemudian menerima saja sata Arum menyuapi dirinya dengan roti isi yang dibawanya.
Setelah selesai menyuapi Gibran dengan roti isi yang dibawa. Mereka terlibat beberapa perbincangan yang mampu membuat pikiran Arum relaks.
"Setelah habis ujian aku ajak kamu ke air terjun mau? Sekalian ngerefresh otak kamu."
"Mau mau mau, dimana?"
"Bogor."
"Boleh aku juga udah lama gak ke air terjun."
Tak berapa lama akhirnya mobil Gibran sampai di depan gerbang yang sudah terbuka itu. Arum langsung pamit pada Gibran, Gibran mengecup kening Arum dengan lembut kemudian membisikkan kalimat penyemangat untuk sang kekasih.
__ADS_1
Setelah itu Arum keluar dari mobil dan berjalan menuju sekolahnya. Gibran yang melihat sang kekasih sudah masuk itu langsung tancap gas menuju kampusnya walau ia akan sangat kepagian hari ini datang ke kampus.
Bersambung