Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Kafe


__ADS_3

Happy reading


Arum mengendarai motor metic itu dengan santainya menuju sebuah kafe yang memang agak jauh dari rumahnya dan lumayan dekat dengan rumah Gibran. Untungnya tadi saat lewat lampu merah tidak ada polisi karena ia tak memakai helm dan motornya pun motor pinjam.


Seketika Arum teringat dengan suatu hal, ia tidak membawa dompet.


"Duh pakenl gak bawa dompet lagi. Untung bawa hp tadi," gumamnya terus menjalankan motor itu ke kafe.


Sampainya di kafe, Arum langsung turun dari motor dan masuk ke dalam kafe itu. Tampilannya yang sangat sederhana bahkan sangat tidak mencerminkan seorang anak kaya raya. Arum hanya memakai celana pendek di atas lutut dan juga kaos lengan panjang.


"Mbak bayarnya pake scan bisa kan?" tanya Arum pada mbak mbak disana.


"Bisa kak, silahkan mau pesan apa?" tanya pelayan itu dengan ramah.


"Emmm mau ini, sama ini," ucap Arum menunjuk makanan dan dessert yang ada di buku menu.


"Minumnya kak."


" Es kelapa jeruk nipis aja."


Membayangkan betapa segarnya es kelapa dengan biji selasih yang ada di gelas membuat ia mendadak kehausan.


Pelayan itu melakukan kepalanya kemudian kembali ke tempatnya dan memberikan pesanan itu pada koki yang ada di kafe itu.


Seraya menunggu pesanannya datang, Arum memutuskan untuk menatap orang yang ada disana. Arum sedikit terkejut karena pakaian para anak anak muda sekarang udah kayak Tante Tante.


Iya sih cantik, tapi lihatlah bedaknya yang sangat tebal dan juga bibirnya yang berwarna merah. Bahkan Arum melihat lipstik itu menempel di gelas minumnya.


Ada ya orang seperti itu, macam-macam orang yang sangat entahlah mengikuti perkembangan zaman atau apa. Padahal ini hanya makan di kafe bukannya makan dengan para pejabat negeri.


Arum hanya menghilangkan kepalanya kemudian mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja.


"Ajak duo curut aja lah, bosen juga sendiri gini," gumamnya.


Kemudian Arum menekan tombol video di laman grup itu. Hingga kedua sahabatnya tersambung betapa terkejutnya Arum ketika mendapati wajah kedua sahabatnya sedang berada di satu tempat. Yaitu kamar. Astaga sejauh mana hubungan mereka hingga Vito dan Yanti berada satu kamar.


"Woy lu berdua ngapain di dalam kamar?" tanya Arum yang membuat wajah keduanya seketika memerah.


"Tidur lah, emang di kamar mau ngapain?" tanya Vito yang terlihat lebih santai.


"Kalian gak melakukan hal yang aneh-aneh kan?" tanya Arum yang langsung dijawab gelengan oleh keduanya.


"Kita cuma belajar doang kok tadi. Vito cuma ajak gue ke sini karena orang tuanya gak ada," jawab Yanti dengan jujur yang dianggukkan oleh Arum walau Arum sendiri tak begitu percaya dengan sahabatnya ini. Apalagi Vito yang memiliki otak rada-rada miring.


Tapi apa yang diucapkan Yanti memang begitu kenyataannya, Yanti memang di ajak pacarnya untuk ke rumahm lagian Mama dan Papa Vito juga sedang tidak ada di rumah.


"Tumben lu VC kita kenapa?" tanya Vito pada Arum.


"Datang ke kafe guys, gue sendiri nih bosen," pinta Arum dengan nada sedikit ngegas.


"Kafe, lu ngapain ke kafe? Sama pacar lu?" tanya Yanti dengan santainya.


"Gibran ada ujian katanya," jawab Arum.


"Oke, lu tunggu aja disitu. Kalau dalam 1 jam kita gak datang berarti kita lagi sibuk."


"Gayaan lu sibuk.."


"Dih gak percaya."

__ADS_1


"Ya udah ya gue tunggu setengah jam kalian nggak nyampe sini gue pecat kalian jadi sahabat gue," ancam Arum yang membuat kedua sahabatnya saling tatap.


"Ancamannya itu mulu."


Tutt


Arum tak menjawab tapi langsung menutup panggilan video itu membuat kedua sahabatnya yang berada di seberang kesal dibuatnya.


"Sahabat kek Dajjal gini enaknya diapain ya yank?" tanya Yanti yang masih santai di atas kasur seraya memeluk perut Vito.


Ya memang sejak dulu mereka sudah terbiasa menginap di tempat masing-masing. Yanti memeluk itu juga tidak masalah selagi tidak kemana mana. Itu saja saat masih mereka sahabatan apalagi sekarang saat mereka sudah resmi menjadi pasangan kekasih.


Tapi tenang saja itu kuat menahan godaan dari pacarnya ini. Walaupun akhirnya ia harus bersolo karir di dalam kamar mandi.


"Buang ke empang keknya gak masalah sih," jawab Vito yang ikut kesal dengan sahabatnya itu.


"Jangan dibuang ke empang nanti pacarnya kamu ke kita lagi. Serem tahu kalau Gibran udah marah," ujar Yanti menelusupkan tangannya ke dalam kaos yang dipakai Vito.


Memang sudah menjadi kebiasaan Yanti memasukkan tangannya ke kaos yang dipakai Vito dan mengusap perut rata sang kekasih.


"Yank, aku ada film baru loh kamu mau lihat gak?" tanya Vito pada Yanti.


Memang keduanya sama-sama agak miring, jadi yah lupakan mereka yang seperti ini.


"Yang gitu gitu bukan?"


"Heem, tapi tetap romance kok."


"Boleh deh, tapi aku gak tanggung kalau kamu kayak kemarin kemarin."


Kalian pasti tahu apa yang akan mereka lihat setelah mendengar perbincangan keduanya. Arum sendiri sebagai sahabat sudah jengah untuk menasehati kedua sahabatnya agar menghentikan untuk melihat video yang seperti itu.


"Emang aneh-aneh itu anak, udah tau sendiri nih kata jaga cafe."


"Gak apa apa kali yank, mungkin dia bosen di rumah terus. Kamu kan juga sering ke cafe sendirian kalau lagi bosen ujung-ujungnya juga aku yang kamu telepon," timpal Vito dan dianggukkan oleh Yanti.


Keduanya memakai pakaian seadanya, Vito mengambil kunci motornya yang ada di atas nakas kemudian keluar dari kamar itu menuju luar rumah. Tak lupa Vito berpamitan pada Bibi yang ada di rumah itu jika mereka berjuang ingin keluar.


Setelah beberapa menit mereka berkendara akhirnya motor sport merah milik Vito sampai di cafe tempat Arum nongkrong. Memang sih tak ada setengah jam karena Vito melajukan motornya dengan kecepatan penuh.


Keduanya turun dari motor dan berjalan masuk ke cafe mencari keberadaan sang sahabat.


Arum yang melihat kedua sahabatnya sudah datang itu langsung melambaikan tangannya, agar kedua sahabatnya tahu keberadaannya.


Dan benar saja setelah melihat Arum disana sendiri, Vito dan Yanti langsung berjalan ke arahnya.


"Gila... Kita kayak anak gembel aja yang keluar pakai pakaian seadanya gini," celetuk Arum melihat penampilan kedua sahabatnya. Jangan lupakan mereka hanya memakai sandal jepit dengan merk swallow berwana biru dan hijau. Sangat tidak mencerminkan seorang anak pengusaha.


"Eh iya deng, baru sadar gue. Hahaha biarin aja deh, kan kalau gini nggak ada yang goda dan gak ada yang tahu kalau kita kaya," jawab Yanti langsung duduk di samping Arum diikuti oleh Vito.


"Pesen gih, gue yang bayar nanti," ucap Arum pada kedua sahabatnya. Makanan harum memang sudah sampai beberapa menit yang lalu dan kini makanannya itu hanya tinggal setengah.


Walaupun Arum tak membawa dompet tapi saldo di aplikasi mobile bankingnya juga sangat sangat cukup untuk mentraktir makan teman temannya ini.


"Wih asik nih di traktir, pesan yang banyak yank. Mumpung dia lagi kesambet," ucap Yanti memilih makanan di buku menu itu. Sedangkan Vito memanggil pelayan karena mereka juga ingin makan.


Yanti dan Vito memesan makanan yang mereka inginkan tanpa memikirkan harga karena semua sudah ditanggung oleh Arum.


"Kesini naik apa tadi? Kayak gak lihat mobil atau motor lu tadi di luar?" tanya Vito setelah pelayan tadi pergi.

__ADS_1


"Motornya Mbak Ning. Pembantu baru di rumah gue," jawab Arum dengan santainya.


"Lah kuncinya gak lu cabut dari motor?" tanya Yanti.


ukan apa-apa sebenarnya Tapi Yanti hanya tak ingin motor pinjaman itu hilang apalagi ini di luar rumah yang mungkin saja masih banyak pencurian di daerah sini, kan mereka tidak tahu.


Arum yang mendengar ucapan Yanti itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap ke arah luar.


"Bener belum gue cabut itu kunci motor," ujar Arum berlari meninggalkan tempat duduknya menuju parkiran.


Sampainya di parkiran, Arum sedikit menghela nafasnya panjang karena kunci motor itu tak hilang. Sebenarnya kalau hilang pun tak apa apa, tapi motor ini adalah motor kesayangan Mbak Ning yang dibeli saat gajian pertama di rumahnya. Itupun masih nyicil.


Sesudahnya Arum mengambil kunci motor itu, gadis itu langsung buru-buru masuk ke cafe itu lagi. Tak tahan rasanya berada di luar dengan panas seperti ini.


Baru berberapa langkah Arum berjalan, gadis itu malah ditabrak oleh seorang laki laki dari arah belakang. Eh bukan bukan di tabrak tapi di peluk dari belakang.


Karena takut ia diperkaos seperti Sania tadi pagi, Arum dengan beraninya langsung mendendang tulang kering seseorang itu.


Dugh


"Akhh."


"Eh kok kayak kenal suaranya," gumam Arum membalikkan badannya dan betapa terkejutnya saat tahu siapa yang ia tendang.


"Ups sorry gak sengaja, lagian kamu sih pake ngagetin," ucap Arum dengan cengirannya menatap Gibran yang sedang memegang i kakinya.


Gibran? Tak salah? Bukannya laki laki itu sedang ujian. Kok sekarang sudah disini.


"Sakit yank."


Teman-teman Gibran yang berada di belakang laki-laki itu tak percaya melihat Gibran yang seperti ini, emm terkesan manja.


Arum hanya tertawa kemudian mengajak kekasihnya untuk masuk ke dalam cafe. Diikuti oleh teman teman Gibran yang berada di belakang mereka.


Karena kursi di meja mereka tidak cukup untuk di teman-teman Gibran, alhasil mereka menggabungkan satu meja lagi ke meja Arum.


"Jangan manja, cuma ditendang gitu doang aja," ujar Arum pada Gibran yang masih dengan ekspresi kesal.


"Sakit tahu yank, lagian kamu kalau nendang gak nanggung-nanggung," ujar Gibran yang hanya dibalas tawa kecil oleh Arum.


"Sorry."


"Oh ya, kakak kakak ini temannya Gibran kan? Soalnya aku pernah lihat kalian main basket kemarin," ucap Arum mengabaikan Gibran.


Teman-teman Gibran yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, ternyata ini gadis yang bersama Gibran kala itu. Terlihat sederhana tapi tetap cantik menurut mereka.


"Iya dek," jawab salah satu dari mereka.


"Arum kak. Yang ini Yanti dan ini Vito teman teman aku," ucap Arum pada mereka.


"Salam kenal."


"Eh muka lu kok kayak gak asing ya, kayak mirip siapa sih Al?" tanya teman Gibran pada Yanti.


"Oh... Iya bang, gue adiknya kak Keysha."


"Nah iya mirip soalnya."


Akhirnya mereka berkumpul di cafe itu, Arum yang tadi ingin mentraktir kedua sahabatnya kini malah Gibran yang mentraktir mereka semua. Sungguh keduanya memang tak ada janjian sebelumnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2