Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Udah Gak Usah Cemburu, Aku Cinta Kamu


__ADS_3

Happy reading!


"Pengumuman-pengumuman, sesuai kesepakatan kelas, setiap hari Kamis kas. Mohon untuk membayar kas sebesar 2000 rupiah."


Suara sang bendahara kelas mulai terdengar hingga membuat para laki-laki yang biasanya menunggak bayar kas perlahan-lahan melipir keluar dari. Tapi untungnya ada Yanti yang dengan sikap menghadang di depan kelas.


Zaskia dan Yanti adalah bendahara kelas, yang bertugas mencatat pengeluaran dan pemasukan di kelas itu entah berupa kas ataupun infaq.


"Mau kemana lu pada hah? Bayar kas dulu!!"


Yanti yang terkenal garang jika soal membayar kas itu langsung menodongkan tangannya.


"Yanti cantik, anu hari ini gue gak bawa uang. Nunggak dulu ya," ucap Tio dengan genit.


Vito yang melihat pacarnya dikatakan cantik oleh laki-laki lain itu merasa cemburu. Laki-laki itu mulai berjalan menuju arah Yanti dan menarik kerah baju Tio dan teman-temannya.


"Mau bayar kas atau gue robekin baju kalian?" tanya Vito yang membuat mereka yang ingin keluar itu merinding takut.


Bagaimana tidak takut baru berapa hari itu sekolah di SMA gemilang sedikit banyak anak-anak di sekolah itu mulai tahu dengan Vito yang memang merupakan preman sekolah di sekolahnya dulu.


Kadang anak-anak lain bingung kenapa Arum dan Yanti bisa bersahabat dengan preman sekolah.


Akhirnya para laki-laki yang ingin menunggak pas itu langsung membayar kas yang sebenarnya sedikit. Tapi entah kenapa mereka selalu menunggak dan memilih membeli rokok.


"Nah gitu kek dari tadi, gak perlu gue capek capek berdiri disini," ucap Yanti menerima uang dari anak anak bandel itu.


"Bagus, lain kali bantuin lagi aku buat nagih kas ya sayang."


"Iya."


Mungkin Vito sudah bucin dengan Yanti hingga iya-iya saja apa yang dikatakan oleh sang kekasih. Yanti berjalan menuju Zaskia yang sedang mencatat anak-anak yang sudah membayar kas.


Suasana cukup ramai di kelas mereka karena jam ke 4-5 guru mereka tidak hadir dan hanya memberi tugas. Hal itu dimanfaatkan oleh Zaskia dan Yanti menagih kas sedangkan anak anak lain sibuk bermain.


Arum? Gadis itu sibuk menyekroll Instagram milik sang kekasih. Sudah lama ia tak melihat foto-foto random dari laki-laki yang statusnya adalah kekasihnya itu.


"Astaga, dia sangat tampan."


"Bagaimana kamu bisa terlihat sangat tampan walau pose random seperti ini?"


Gadis itu sibuk dengan ponselnya hingga tak sadar jika Yanti sudah duduk di bangkunya dan menatap dengan tatapan bingung.


Kemudian Yanti menatap ponsel Arum dan ia melihat postingan-postingan Gibran yang likenya beratus ratus ribu. Andaikan Gibran membuka endorse mungkin laki-laki itu akan banyak mendapat penghasilan dari endorse annya.


Tapi memang dasarnya Gibran hanya menjadikan Instagram sebagai tempat menyimpan kenang-kenangan jadi ya santai santai aja. Lagi pula laki-laki itu sudah kaya tanpa membuka endorse.


"Woy, lu daritadi gue lihat senyum senyum mulu. Awas kesambet loh," ucap Yanti mulai mengerjakan tugas yang ditulis dipapan tulis oleh sekretaris kelas.


"Ganggu aja deh."

__ADS_1


Memang sudah kebiasaan Arum akan melihat video-video dan foto dari Instagram entah itu Instagramnya siapa saat jam kosong seperti saat ini.


Drttt


"Ada yang telpon tuh," ucap Yanti tanpa melihat ponsel Arum.


"Vc say, bukan telpon."


"Serah lu dah."


Arum mengangkat panggilan video dari Gibran, entahlah kenapa laki-laki itu bisa tahu jika Arum sedang online saat ini.


"Sayang kamu jamkos ya kok masih online?" tanya Gibran.


Baru mendengar suara Gibran lirih, laki-laki itu masih berada di kelas karena ia melihat banyak anak-anak di belakang Gibran.


"Jamkos, kok kamu bisa buka hp? Bukannya masih ada kelas?" tanya Arum yang dianggukkan oleh Gibran.


Kemudian laki-laki itu mengalihkan kamera ponselnya ke depan yang memperlihatkan dosennya sedang tertidur. Arum yang melihat itu hanya tersenyum, pantas saja kekasihnya bisa membuka ponsel dan menghubungi dirinya.


"Dasar."


"Jangan lupa ya nanti, oh ya tadi aku udah beli celana panjang buat kamu. Nanti ganti aja sama pakai jaket aku," ucap Gibran dan dianggukkan oleh Arum.


***


Tak terasa waktu sudah mulai siang. Karena sebentar lagi kelas 3 akan ujian jadi kelas 1 dan 2 dipulangkan cepat dari kemarin. Jam 1 siang mereka semua sudah bubar dari kelasnya masing-masing menuju parkiran.


"Lu dijemput atau gimana?" tanya Yanti yang masih sedikit kesal dengan kejadian beberapa waktu lalu.


"Di jemput," jawabnya dan dianggukkan oleh Yanti.


Yanti dan Arum keluar dari kelas ternyata Vito sudah menunggu keduanya di depan pintu. Laki-laki itu memang sengaja menunggu berdua sahabatnya sekaligus pacarnya itu.


Yanti dan Vito berjalan menuju parkiran sedangkan Arum berjalan menuju gerbang di mana Gibran sudah menunggu di depan sana. Jangan lupakan pada tatapan siswi yang belum pulang menatap Gibran dengan tatapan memuja.


Arum menatap Gibran yang memang sudah melepas helmnya dan memperlihatkan wajah tampannya pada siswi-siswi yang ada di sana. Dari kejauhan Arum melihat banyak kakak kelasnya yang menghampiri Gibran dan berusaha menggoda laki-laki itu.


Gibran terlihat tersenyum? What!! Dengan cepat Arum langsung berjalan menghampiri kekasihnya dan mengusir para hama yang mengerubungi Gibran.


"Sengaja ya mau pamer wajah?" tanya Arum dengan cemberut. Gibran yang melihat sang kekasih cemberut itu tersenyum kemudian mengelus pipi Arum yang merah.


"Aku gak goda sayang, emang gerah makanya aku buka helm."


Suara Gibran terdengar sangat lembut hingga membuat para siswi yang ada di sana seketika iri dengan Arum. Tanpa mengucapkan banyak kata gadis itu langsung naik ke atas jok motor Gibran tanpa memakai helm. Gibran yang tahu kekasihnya cemburu itu hanya bisa mengulum senyum tipisnya kemudian memakai helm full face miliknya tanpa mau bertanya kenapa Arum tak memakai helm itu.


"Siap sayang, kita meluncur sekarang. Jangan lupa peluk perut aku," ucap Gibran para Arum. Gadisnya itu langsung memeluk perut Gibran kemudian dengan gemas mencubit perut Gibran.


"Sakit sayang, kamu kok nakal sih lama lama," ucap Gibran menatap ke arah Arum.

__ADS_1


"Biarin, ayo berangkat katanya mau latihan basket."


Gibran yang mendengar itu langsung menghidupkan motornya dan kembali mengajukan motornya meninggalkan area sekolah. Tentu saja Gibran tak ingin kekasihnya itu semakin cemburu pada siswa-siswi yang memperhatikan dirinya dari tadi.


"Gila ya mereka couple goals banget."


"Gue kayaknya juga bakal kuliah ditempat Gibran deh. Biar tiap hari ketemu dia."


"Gantengnya itu cowok. Arum juga beruntung banget, jadi iri."


Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan yang terlontar setelah Gibran dan Arum meninggalkan tempat itu. Vito dan Yanti yang masih di parkiran itu hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Memang dimana mana sahabatnya itu selalu menjadi idola.


"Kamu gak mau peluk aku kayak Arum tadi?" tanya Vito menggoda sang pacar.


"Haiss jangan genit, ayo aku mau ke mall. Anterin, sekalian nonton," ajak Yanti yang mulai keluar sifat manjanya.


"Siap, Tuan putri."


Vito dan Yanti meninggalkan area parkiran itu menuju mall. Memang mereka sudah berencana ingin jalan-jalan ke mall setelah pulang sekolah. (Sangat tidak mencerminkan siswa yang baik dan benar, tapi ya namanya novel.)


****


Arum yang mulai bosan tak ada perbincangan di antara Gibran dan Arum itu mulai memasukkan tangannya ke kaos yang dipakai Gibran. Biarlah dikata dia nakal karena ia bisa saja tertidur jika tidak melakukan sesuatu.


"Tangannya," gumam Gibran memegang tangan Arum yang masuk ke dalam kaos yang ia pakai.


"Aku bosen, kamu gak ngajak ngomong," ucap Arum pada Gibran seraya mengeluarkan kembali tangannya.


"Kan kamu dari tadi cemburu sampai diamin aku dari tadi," jawab Gibran membelokkan motornya menuju kafe.


Motor itu berhenti di kafe milik salah satu teman Gibran. Gibran mendapatkan voucher makan gratis disini jadi tidak ada salahnya ia menggunakan voucher itu.


Perjuangannya berjalan masuk menuju kafe mencari tempat duduk. Hingga Arum menarik tangan Gibran untuk duduk di pojok agar tak terlalu menjadi pusat perhatian.


Keduanya dihampiri oleh seorang pelayan. Gibran memesan makanan yang disukai oleh Arum. Sedangkan Arum yang memilihkan minuman untuk mereka berdua.


Sepeninggalan pelayan itu, Gibran langsung menggenggam tangan Arum. Laki laki itu tak mau melihat wajah cemberut lagi dari Arum.


"Masih cemburu? Tadi aku gak ada niat menggoda mereka. Kan aku udah bilang aku gerah karena panas tadi," ucap Gibran dengan lembut.


Arum mengalihkan pandangannya, tapi sepertinya Gibran tak kehabisan cara agar membuat Arum tak marah dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Sayang."


Cups


"Udah gak usah cemburu, aku cinta kamu," ucap Gibran seraya mengecup kening Arum dengan lembut.


Arum seraya ngeblank otaknya, bisa bisanya Gibran menciumnya di tempat umum seperti ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2