Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Papa Sakit


__ADS_3

Happy reading


Dengan langkah cepat Arum langsung masuk ke dalam kelas dan mengambil tasnya serta pamit pada guru mapel jika ia adalah urusan mendadak ke rumah sakit.


Para guru yang tahu siapa Arum itu mengizinkannya, dan menitip salam untuk orang tua Arum.


Tin tin


Dari kejauhan Gibran melihat Arum yang berlari ke arah gerbang, wajahnya tampak masih bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa Gibran menyuruhnya untuk izin.


"Pak bukain gerbangnya, Arum udah izin tadi," ucap Arum sesampainya di depan gerbang yang masih tertutup itu.


Pak satpam yang mendengar itu mengganggu kemudian membukakan gerbang untuk Arum. Kipernya sudah siap di atas motornya itu memberikan helm pada Arum.


"Kenapa sih nyuruh aku izin? Emang siapa yang sakit?" tanya Arum pada Gibran.


"Aku belum jelas siapa yang sakit sayang tapi tadi Mama telepon aku dan kamu disuruh cepat ke rumah sakit."


Harga mendengar itu langsung memakai helm yang diberikan oleh Gibran dan naik ke atas motor sport itu. Untungnya iya membawa jaket jadi bisa untuk menutupi pahanya yang terekspos jelas.


Tanpa babibu lagi Gibran langsung menjalankan mobil sport itu meninggalkan area sekolah menuju rumah sakit. Bahkan Arum lupa untuk bilang pada dua sahabatnya jika ia pergi. Yang ada dipikirannya saat ini adalah siapa yang berada di rumah sakit dan Kenapa mereka disuruh cepat ke rumah sakit?


Pikiran buruk itu mulai memenuhi otak kecil Arum. Gadis itu bahkan tanpa sadar mencengkram kaos yang dipakai oleh Gibran.


Gibran yang merasakan hal itu membiarkannya saja, kini fokusnya masih ke jalan raya. Ia ingin tahu apa yang membuat mamanya meminta dia dan Arum kenrumah sakit. Padahal setahunya tidak ada yang puna riwayat sakit di keluarganya.


Dengan kecepatan penuh akhirnya motor itu sampai di parkiran rumah sakit. Bahkan tergolong cepat karena hanya memakan waktu 20 menit saja dari sekolah Arum yang cukup jauh.


Arum turun dari motor itu, gadis itu dibantu Gibran melepaskan helm yang tiba tiba sulit untuk dibuka. Jantung Arum entah kenapa berdetak dengan sangat kencang bahkan nyaris membuat ia sesak.


"Yank."


"Ya kenapa?" tanya Gibran menatap Arum.


Arum tidak mengatakan apapun tapi ia mengarahkan tangannya ke dadanya dan diikuti oleh Gibran yang menyentuh dada Arum.


"Sayang kamu oke?" tanya Gibran yang kini malah panik saat merasakan detak jantung yang sangat kencang itu.


Aromanya bisa menggelengkan kepalanya kemudian langsung menggendong tubuh arum masuk ke dalam rumah sakit.


"Biar diperiksa dokter dulu ya."


"Enggak."


Karena mendapat penolakan dari Arum, akhirnya Gibran membawa Arum ke tempat di mana mamanya berada saat ini.


"Loh kita ngapain ke IGD?" tanya Arum dengan pelan.


Entah kenapa Gadis itu mendadak lemah seperti ini setelah sampai di rumah sakit. Di sana sudah ada mama Anin, papa Abi dan Mama Tiya yang duduk di depan ruangan itu.


"Mama."


Sampainya di tempat itu Gibran langsung menurunkan Arum di kursi tunggu itu. Mereka bingung kenapa Arum sampai digendong seperti tadi.


"Tadi Arum sempat sesak," ucap Gibran yang seolah mengetahui apa yang akan ditanyakan oleh mereka semua.


"Ini kenapa? Kalian kenapa disini? Siapa yang ada di dalam?" tanya Arum pada mereka.


Mereka tak menjawab tapi Mama Tiya langsung memeluk tubuh putrinya dengan lembut. Bahkan kini wanita paruh baya itu menangis diperlukan sang Putri.


Arum yang masih bingung itu langsung mengelus punggung sang ibu. Walau ia bingung tapi ia juga tak tega melihat ibunya sampai seperti ini. Terlihat mata ibunya yang sembab pasti habis menangis, dan kini kembali menangis lagi setelah ia datang.


"Mama kenapa nangis sampai kayak gini? Siapa yang ada di dalam Ma?" tanya Arum pada sang ibu.

__ADS_1


Bukannya menjawab Mama Tiya malah semakin menangis mendapat pertanyaan dari sang Putri. Armen tidak mendapat jawaban dari ibunya itu menatap calon mertuanya yang berdiri di depannya bersama Gibran.


"Papa kamu menjadi korban dari kecelakaan tunggal saat berangkat ke kantor tadi, Papa dan Mama yang kebetulan mau ke rumah nenek Gibran membicarakan soal pernikahan kalian tak sengaja melihat kecelakaan itu dan papa hafal jika salah satu mobil itu adalah mobil Papa kamu."


Mendengar hal itu luruh sudah air mata Arum. Cirinya tak menyangka jika tadi pagi Papanya mengalami kejadian seperti ini.


"Ma..."


Arum merasakan jika tubuh ibunya mendadak lemas isak nangis yang tadi terdengar juga sudah hilang. Arum dengan lembut mentap ibunya yang kehilangan kesadarannya.


"Ma, Pa... Mama pingsan," ucap Arum pada mereka. Dengan sigap Mama Anin langsung mengambil alih tubuh Mama Tiya dan mencoba untuk membangunkan Mama Tiya.


"Mama kamu sudah berberapa kali pingsan, Nak. Tadi Mama kamu sudah diperiksa dokter tapi dia kekeuh mau nunggu papa kamu."


Gibran yang melihat Arum menangis itu langsung memeluk tubuh Arum yang ikut bergetar karena tangis.


"Cup cup, percaya deh sama aku. Papa bakal baik baik aja, dia laki laki yang kuat. Sudah jangan nangis, Papa butuh doa kita bukan tangis air mata," ucap Gibran yang membuat Arum mengangguk.


Mereka berada di sana harap-harap cemas menunggu dokter keluar dari ruang IGD itu. Kali ini mama Tiya masih belum sadarkan diri dipelukan Mama Anin padahal sudah 20 menit lebih.


Arum masih berada di pelukan Gibran seraya berkali-kali mengusap air matanya yang jatuh. Hingga akhirnya dokter keluar dengan keadaan panik.


Mereka yang ada di sana langsung mempertanyakan bagaimana keadaan Papa sandi.


"Akibat kebocoran yang ada di kepalanya, Tuan Sandi kehilangan banyak darah. Di rumah sakit ini hanya memiliki satu kantong darah yang sama dengan golongan darah Tuan sandi, kita perlu dua kantong lagi untuk transfusi darah beliau," ucap dokter itu seraya membuka masker yang dipakainya.


"Dokter bisa cek darah saya, saya putrinya kemungkinan besar darah saya cocok dengan darah Papa," ucap Arum disela tangisnya.


Gibran menatap Arum dengan tatapan tak biasa, ada sedikit ketidakrelaan saat Arum mengatakan ingin mendonorkan darahnya. Arum yang merasa ditatap itu menoleh ke arah Gibran dan tersenyum seolah mengatakan ia tidak apa-apa.


"Baik kalau begitu, silahkan mengikuti suster untuk mengecek darah anda."


Dengan senyum manisnya, Arum mengecup kening sang Mama yang belum bangun.


Sepeninggalan Arum, kini hanya tersisa Papa Abi, Gibran, Mama Anin dan Mama Tiya saja disana.


"Gibran kamu temani Arum, biar disini Papa dan Mama yang jaga Papa Sandi," ucap papa Abi pada Gibran.


Gibran menganggukkan kepalanya kemudian pamit pada orang tuanya dan mengikuti yang sudah masuk ke ruang transfusi.


"Boleh saya masuk?" tanya Gibran setelah membuka pintu ruangan itu.


"Silahkan masuk. Kalau mau menemani pacarnya," ucap suster itu dengan ramah kepada Gibran.


Dilihat dari pakaian Arum dan Gibran mereka masih sekolah dan kuliah jadi tak salah kalau suster bilang begitu.


Gibran masuk ke ruangan itu dan menemani Arum yang ingin diperiksa darahnya oleh suster. Arum harus menjalani beberapa rangkaian tes dan kesehatan agar mengetahui darahnya bagus atau tidak untuk didonorkan kepada Papa sandi.


"Darah Nona cocok dengan darah pasien, jadi bisa langsung donor darah selagi menunggu darah yang kita punya habis," ucap suster pada Arum yang hanya mengangguk.


Bahkan kini Arum tidak lagi menangis karena menangis pun tidak ada gunanya untuk kesembuhan Papa. Sedangkan Gibran yang berada di samping Arum itu tersenyum kemudian menggenggam tangan Arum sebelah.


"Mama gimana pas aku tinggal tadi?" Tanya Arum dengan suara seraknya seraya menatap selang yang mulai terisi darahnya.


"Belum bangun, tadi sempat aku suruh papa buat bawa Mama Tiya periksa sebelum aku ke sini," jawab Gibran dengan senyum manisnya kemudian menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipi putih milik Arum.


Seperti apa saat kemudian Arum sudah menyelesaikan donor darahnya dan mendapatkan ke kantong darah yang langsung dibawa ke ruang Papa Sandi dirawat.


Gibran yang berada di samping Arum itu langsung memberikan susu yang diberikan oleh suster tadi pada Arum agar gadisnya itu tidak terlalu lemas.


"Maaf ya sudah membuat kamu repot." Arum menatap wajah Gibran yang belum beranjak dari ruangan itu sejak donor darah berlangsung. Ada rasa bersalah dalam diri Arum melihat Gibran yang senantiasa menunggunya dan memperhatikan dirinya.


"Kamu ngomong apa sih? Kamu nggak membuat aku repot sama sekali. Kalaupun repot yaitu kewajiban aku untuk kamu repotin," jawab Gibran mengelus lembut rambut Arum.

__ADS_1


"Aku mau lihat Mama, yank. Siapa tahu Mama udah siuman dan Papa juga sudah membuka matanya."


"Kamu belum boleh keluar dari ruangan ini kamu pulih sepenuhnya sayang. Darah kamu tadi diambil banyak loh sama suster jadi kamu nggak boleh kemana-mana dulu," ucap Gibran dengan lembut.


Bukannya ia menolak keinginan Arum untuk melihat nama dan Papanya tapi dengan kondisi Arum yang masih lemas tak mungkin bagi laki-laki itu membiarkan gadisnya kelelahan.


"Ya sudah."


"Aku keluar dulu ya beli makanan buat kamu, supaya kamu cepat sehat dan bisa melihat Papa lagi hmm."


"Iya jangan lama lama."


"Siap tuan putri. Tunggu ya sayang," pinta Gibran kemudian mengecup pipi Arum.


Arum menganggukkan kepalanya pertanda iya mengizinkan kekasihnya untuk keluar membelikan ia makanan. Kini hanya tersisa satu suster dan Arum di sana, Gadis itu meminta pada suster untuk membawanya ke tempat mama dan Papanya berada.


"Tapi nona, keadaan tubuh Nona masih lemas nanti kalau Nona kelelahan bisa drop."


"Gak akan lelah kok sus, lagian saya sudah biasa kayak gini dan ini nggak sakit sama sekali. Nanti kalau aku merasakan sesuatu yang buat tubuh gak enak nanti langsung kesini."


"Baik tapi dibawa ya infusnya, jangan sampai copot ya jarum infusnya," peringat suster yang tak tega melihat Arum dengan tatapan sendinya.


Suster itu adalah suster yang tadi juga ikut menangani Papa Arum di IGD. Jadi ya sedikit tahu jika Arum adalah Putri kandung dari orang yang kecelakaan tadi.


Dengan pelan, suster itu membantu Arum untuk turun dari brangkar seraya membawa botol infus di tangannya.


"Mari saya bantu kesana."


Arum dan suster itu berjalan menuju tempat Papa sandi dirawat. Saya melihat mamanya yang sudah siuman dari pingsannya tapi masih linglung dengan keadaan sekitar.


"Ma."


Mama Tia menatap Arum yang sedang membawa botol infus di tangannya itu. Wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh Arum.


"Nak Arum bukan seharusnya kamu di rawat ya. Kok kesini?" tanya Papa Abi pada Arum.


"Arum mau lihat Mama, Pa. Gimana keadaan Papa Sandi?" tanya Arum pada mereka.


"Belum ada perkembangan, setelah suster membawa kantong darah tadi mereka belum lagi keluar dari ruangan papamu."


."Gibran mana sayang?"


"Beli makan ma katanya."


Mereka menganggukkan kepalanya dan membiarkan Arum dan Mama Tiya saling menguarkan.


Dari kejauhan terlihat Gibran membawa beberapa kantong plastik dan diikuti Kak Naufal dan Kak Cika di belakangnya.


Kedua Kakak Arum langsung memeluk Arum dan Mama Tiya yang masih sedih akan berita ini. Kedua orang ini juga tahu dari Gibran yang menelepon mereka saat berada di rumah mertua Naufal.


Tadi papa Abi yang minta Gibran untuk m enghubungi Kakak Arum. Karena laki laki paruh baya itu tak memiliki nomor ponsel dari Naufal.


Naufal menguatkan mama dan adiknya agar tidak terlarut larut dalam kesedihan karena sejatinya tangisan mereka tidak ada artinya untuk kesembuhan Papa.


Ceklek


"Bagiama keadaan Papa dok?" Ini yang bertanya adalah naufal karena melihat mama dan adiknya yang sangat lemah membuat ia tak tega.


"Keadaan sudah membaik, Tuan Sandi sudah melewati masa kritisnya dan sekarang bisa dibawa ke ruang rawat," jawab dokter itu pada mereka.


Mereka yang mendengar ucapan sang dokter itu santai saja langsung mengucapkan syukur, karena sang Papa Sandi bisa melewati masa kritisnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2