
Happy reading
"APA!!"
"Mau ngejek aku gak punya mata hah?" tanya Arum dengan muka garang tapi bukannya terlihat garang malah menggemaskan ditambah gadis itu hanya memakai baju piyama berwarna pink, sandal bulu, dan rambut yang masih berantakan karena baru bangun tidur.
Gibran yang melihat itu tersenyum kemudian mendekat ke arah Arum.
Grep
"Aku kangen banget sama kamu, kamu sih gak buka HP dari kemarin. Kamu nangis semalaman ya?" tanya Gibran dengan senyum tipisnya tak ingin melepaskan pelukan itu.
"Ihhh lepas, pengap tahu gak sih," ucap Arum menolak pelukan Gibran walaupun dalam hati ia sangat merindukan laki-laki itu.
Cuman sangat terpaksa akhirnya Gibran melepaskan pelukan itu kemudian mengajak harum untuk masuk ke dalam rumah. Aneh memang itu rumah juga rumah keluarga Arum tapi kenapa seperti rumah Gibran sendiri.
"Nih aku bawa cemilan buat kamu," ucap Gibran setelah mereka di ruang keluarga.
Mungkin itu adalah tempat favorit mereka daripada di ruang tamu yang langsung berhadapan dengan pintu masuk.
"Cemilan."
Arum langsung mengambil kresek itu dan membukanya berbinar sudah mata Arum kalah melihat banyak makanan kesukaannya di sana.
"Heem, Mama papa dimana yank?" tanya Gibran pada Arum.
"Di halaman belakang," jawabnya dan dianggukkan oleh Gibran.
Laki laki itu pamit pada Arum dan berjalan menuju halaman belakang, Gibran melihat ada mama dan papa Arum serta kakak dan kakak ipar Arum di halaman itu dengan canda tawa.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Tatapan mereka kini beralih ke arah pintu keluar menuju halaman itu, Gibran berjalan menuju mereka membawa paper bag berisi berbagai jenis kue kuean di dalamnya.
"Kapan sampainya Gib?" tanya Kak Naufal pada Gibran.
"Baru sampai kak."
Gibran menyalami mereka dengan sopan kemudian memberikan paper bag itu pada Mama Tiya yang ada disana.
"Terima kasih, kayak sama siapa apa bawa oleh oleh segala. Pasti Mama kamu yang suruh kan?" tanya Mama Tiya yang sepertinya tahu jika hal ini Mama Anin yang meminta Gibran untuk membawa oleh oleh.
"Iya ma."
"Ada perlu apa kesini Nak Gibran?" tanya Papa Sandi yang sedang membaca koran itu.
"Mau menyelesaikan masalah kemarin Pah, sama Arum. Pikiran Gibran gak tenang kalau belum bicara berdua," jawab Gibran dengan jujur mereka pun mengangguk.
"Bagus bagus, lebih cepat lebih baik."
"Heem, sejak kemarin sore Arum nangis terus hampir aja dia melewatkan makan malamnya. Kalau kamu lihat dia paling matanya juga masih sembab seperti semalam. Tolong kasih pengertian dia ya, Arum masih terlalu muda untuk menerima semua ini," ucap kak Cika pada Gibran.
"Siap. Kalau begitu Gibran temui Arum dulu ya di ruang keluarga. Kasihan nanti kalau nangis lagi," ucap Gibran pada mereka.
"Iya."
Gibran meninggalkan halaman belakang itu menuju ruang keluarga lagi dan menghampiri kekasihnya yang sedang memakan cemilan yang tadi ia bawa.
"Sayang."
"Hmmm."
"Aku mau masalah kita kemarin selesai hari ini. Aku juga gak mau sampai masalah ini berlarut larut hingga membuat hubungan kita tak sehat lagi," ucap Gibran memegang pundak sang kekasih.
Arum yang mendengar itu langsung meletakkan cokelat yang tadi ia pegang. Kemudian ia beralih menatap Gibran.
__ADS_1
"Huhh jujur aku gak yakin mau nikah sekarang, kamu tahu aku masih sekolah kan."
"Iya aku tahu."
Laki-laki itu kemudian menyandarkan kepala sang kekasih di pundaknya. Arum pasrah saja diperlakukan seperti itu karena ia juga lelah sehabis menangis kemarin malam. Dari situ juga butuh sandaran saat ini.
"Apa kamu tak mau menikah sama aku sayang?" tanya Gibran dengan senyum.
"Mau, tapi kan aku masih muda."
"Muda ataupun tua tak ada alasan untuk menikah kan? Dari segi finansial aku sudah cukup pantas untuk menjadi seorang suami yang bertanggung jawab untukmu. Insya Allah aku bisa menafkahi kamu lahir dan batin sayang," ucap Gibran yang membuat Arum tersenyum mendengarnya.
Arum tahu Gibran sudah bisa menafkahi dirinya yang menjadi pikirannya adalah ketika nanti ia sudah menikah apa ia bisa menjadi istri yang baik untuk Gibran. Apalagi sifatnya masih sangat kekanak-kanakan seperti ini.
"Aku gak yakin jadi istri yang baik buat kamu. Karena aku sendiri belum bisa bertanggung jawab buat diri aku sendiri," ucap Arum menerawang ke depan. Bagaimana nanti kehidupannya saat sudah menikah.
"Aku tidak menuntut kamu untuk menjadi istri yang baik bahkan sempurna sayang. Aku hanya ingin kamu di sampingku dari aku bangun tidur dan tertidur kembali. Aku ingin menikah itu bukan untuk menuntut kamu menjadi istri yang sempurna. Kita belajar sama-sama menjadi pasangan suami istri jika sudah menikah nanti. Jangan memikirkan hal yang tidak tidak dulu karena apa yang kamu pikirkan belum tentu akan terjadi di masa depan."
"Mungkin aku juga bukan suami yang sempurna nanti buat kamu tapi kamu bisa menegur aku jika aku melakukan kelalaian dalam menjalankan tugas rumah tangga kita," lanjutnya seraya mengelus rambut sang kekasih.
"Emm nanti kalau udah nikah aku masih bisa bebas atau tidak?" tanya Arum yang takut jika ia akan dikekang dan dikurung di rumah saja setelah menikah dan tidak bertemu dengan teman-temannya.
"Hei sayang, memangnya aku menikahi kamu hanya untuk pajangan hmm? Aku hanya ingin mengikat kamu sayang, kamu masih bebas jalan jalan atau keluar sama teman teman kamu. Asal kamu gak merendahkan aku sebagai suami kamu," ucap Gibran memberi jawaban yang memang sering menjadi pertanyaannya sendiri jika sang kekasih nanti akan menanyakan hal ini.
Dulu saat Reno dan Keisha ingin menikah, Reno menceritakan jika Keisha tak ingin dikekang walau sudah menikah. Dan hal itu akan terjadi pada Arum yang juga tak ingin hidupnya terkurung di dalam rumah saja.
"Bener aku masih bisa bebas menikmati waktu mudaku setelah menikah?" tanya Arum menatap Gibran dengan mata sipitnya.
"Iya sayang. Kita juga bisa pacaran halal jika sudah menikah. Tidak perlu takut dosa Kak jika ingin cium-ciuman atau melakukan hal yang lebih dari itu," jawab Gibran dengan senyum manisnya.
Akhirnya Arum sudah bisa lebih lega jika sudah mendengar jawaban dari Gibran yang seperti ini. Iya tak perlu takut nanti ya akan stres setelah menikah.
"Terima kasih."
__ADS_1
Bersambung