
Happy reading
Sedangkan di sisi lain, paa sahabat Arum itu kini sedang berada di kamar dengan posisi Vito berada di belakang Yanti.
"2 jam loh, kuat emang kita nonton ni film?" tanya Yanti menoleh ke arah Vito.
"Kuat. Yok mulai."
Yanti menekan tombol power dan mulai menikmati awal film itu. Tangan Vito memeluk erat perut Yanti hingga membuat kepala belakang gadis itu menyandar di dada Vito.
Mereka larut dalam film itu hingga pada menit ke 10 menit sudah ada hal yang tidak baik dan benar.
"Yank, itu ceweknya kok gak ada ekspresi? Kan mereka lagi ****?" tanya Yanti menatap layar laptop itu yang menunjukan dua pasangan itu.
"Mungkin itu cuma settingan."
Vito yang dasarnya cowok normal jadi gimana gitu. Apalagi ia menonton film itu berdua dengan pacarnya.
"Yank."
"Suara kamu kenapa?"
Vito menggeleng dan menikmati film itu dengan tangan yang berada di atas dada sang pacar.
"Huhh."
Menit demi menit terlalui begitu saja, hingga di jam ke 2 akhirnya film itu berakhir dengan ending pembunuhan.
"Mana ada romancenya? Kamu bohong ih," ujar Yanti membalikkan badannya kemudian menatap Vito.
"Katanya teman aku sih romance yank, ya aku ikut aja."
"Ishh."
Saat mereka sedang saling berhadapan tiba tiba laptop itu menampilkan video milik Vito.
Plok plok plok
"Ahh ahh ahh."
"Ouhh yah yess oh no baby."
Sontak saja keduanya langsung menatap ke arah laptop dan betapa terkejutnya Yanti melihat video itu. Gadis itu langsung mematikan video itu dan menatap Vito.
"Apa itu maksudnya? Kamu sering nonton kayak gitu?" tanya Yanti pada Vito.
"Jarang kok, lagian aku mana ada waktu buat lihat laptop."
"Untung aja kedap suara kamar kamu kalau enggak gak tahu apa yang bakal dipikirkan oleh orang yang lewat di depan kamar kamu," ujar Yanti menutup laptop itu kemudian menatap tajam Vito.
"Yank, aku cuma penasan kok. Gak ada niat lain," ujar Vito menyandarkan kepalanya di belahan dada sang pacar.
"Haiss aku pikir kamu cuma lihat film film gitu, ternyata ada yang lebih vul_g4r lagi. Apa kamu lihat punya cewek cewek yang cantik cantik itu? Kamu lihat punya mereka yang warnanya pink sampai hitam? Jawab?"
"Enggak yank."
"Hais bohong banget."
__ADS_1
Yanti mengambil kembali laptop itu kemudian menghapus semua koleksi video milik Vito dan Vito pun tak protes karena memang dia yang salah sudah menyimpan video tak jelas itu.
Setelah menghapus semua video itu Yanti kembali meletakkan laptop itu di atas kasur.
"Ni kalau Arum tahu, habis kamu yank."
"Ya jangan sampai dia tahu. Aku gak mau dia nyuruh kamu pergi dari aku," jawab Vito yang tak ingin sang sahabat tahu tentang dirinya. Cukup tahu dirinya agak kurang aja jangan sampai tahu hal ini.
Vito yakin Arum pasti akan menyuruh Yanti menjauh dari Vito kalau tahu laki laki itu mengoleksi banyak video tak baik.
"Hmm."
Sekuat tenaga Vito tak menerkam Yanti saat ini, karena ia sudah berjanji untuk tetap menjaga sang pacar hingga mereka menikah nanti. Tapi kalau nyicil gak apa apa kan? Namanya juga cowok normal, Vito sendiri yakin kalau saat ini Yanti pasti pingin pipis.
Dan benar saja, Yanti yang tak bisa menahan ingin pipis itu langsung pamit pada Vito dan berlari ke kamar mandi meninggalkan Vito disana sendiri.
"Jangan malu maluin lu, pake bangun segala," gumamnya menatap ke arah bawa yang sudah mengembung. Untungnya ada selimut yang menutupinya.
Tak lama Yanti keluar dari kamar mandi dengan senyum. Kemudian naik lagi ke atas kasur. Dan berbaring disamping Vito. Laki laki itu bingung kenapa Yanti tiba tiba berbeda seperti ini.
"Kamu kenapa senyum senyum gini?" tanya Vito yang langsung dijawab gelengan oleh Yanti.
"Aneh kamu mah."
Vito tak ambil pusing dengan tingkah Yanti, laki laki itu kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Yanti yang melihat itu hanya terdiam kemudian kembali tersenyum. Entah kenapa dengan dirinya tapi ia ingin sekali tersenyum dengan manisnya.
Sedangkan Vito yang sudah berada di kamar mandi itu langsung menuntaskan apa yang harus ia tuntaskan. Memang sih di usianya saat ini masih mencari jati dirinya sendiri. Begitupun dengan Yanti, tapi soal cinta Vito tulus dengan gadisnya itu. Entahlah apa yang membuat Vito menyukai Yanti yang notabene adalah sahabatnya.
"Shhh ahhhh yankk sshh."
Vito berberapa menit melakukan hal itu seraya membayangkan pacarnya sendiri. Tak mungkin ia mengatakan jika dirinya SANGat kangEn dengan Yanti. Bisa bisa gadisnya itu tak mau lagi nginap di kamarnya.
Akhirnya setelah berberapa saat berusaha akhirnya, Vito sampai di puncak.
"Oh shittt."
Vito mengumpat sendiri dengan apa yang dia lakukan, karena sudah berada di dalam kamar mandi laki laki itu memutuskan untuk langsung mandi. Lagian semua juga sudah basah.
****
Ceklek
Vito keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang menutupi area pribadinya itu.
"Astaga kamu gak pake baju?"
"Habis mandi yank, lupa gak bawa baju ganti. Adanya cuma ini ya sudah aku pake daripada aku gak pakai apa apa, nanti kamu bisa pingsan lagi," jawab Vito tersenyum tipis melihat ekspresi sang pacar yang sangat menggemaskan jika malu seperti itu.
Andai Vito bisa bebas dengan Yanti mungkin laki laki itu sudah menerkam sang pacar.
"Aku mau ganti kamu mau ikut?" tanya Vito menggoda sang pacar yang langsung menutup tubuhnya dengan selimut.
"Kamu lucu banget kalau lagi malu gitu," ucap Vito berjalan menuju walk in closed dan mengganti pakaiannya. Ralat hanya memakai kolornya saja berwarna cokelat tanpa atasan.
Setelah mengeringkan rambutnya, Vito langsung berjalan menuju kasurnya dan membuka selimut yang menutupi tubuh Yanti.
__ADS_1
"Bosen gak di kamar terus?" tanya Vito.
"Bosen gak bosen sebenarnya," jawab Yanti menatap dada bidang sang pacar. Memang sih belum ada kotak kotaknya tapi tetap saja imannya yang masih setipis tisu itu tergoda melihat pemandangan itu.
"Yank boleh pegang gak sih?" tanya Yanti menatap dada itu.
"Terserah kamu aja," jawabnya meraih tangan Yanti untuk duduk di meja belajarnya kemudian ia duduk di kursi hingga posisinya Yanti lebih tinggi daripada Vito.
"Besok ujian tapi kita gak belajar," ujar Yanti mengelus lembut dada putih bersih itu.
"Ya sudah belajar bareng aja, biar aku sekalian belajar. Biasanya kalau sendiri aku suka males, ujung ujungnya main sama Bintang," ucap Vito membiarkan apa yang dilakukan oleh Yanti.
Fyi, Bintang adakah keponakan Vito yang berusia 5 tahun. Sedang aktif aktifnya jadi bocah, bahkan kedua kakaknya tak ragu untuk menitip anak mereka pada Vito. Jangan tanya kemana orang tua Bintang, pastinya membuat adik untuk Bintang. Jika ada Bintang, pasti mereka tak bisa leluasa. Alhasil Vito yang harus mengasuh ponakannya.
"Ngomong ngomong Bintang, kemana bocah itu yank. Dari tadi aku gak lihat dia?"
"Bintang lagi di rumah neneknya, mungkin malam ini baru pulang," jawab Vito.
Setelah selesai bermain main dengan dada Vito, Yanti turun dari meja itu dan duduk di samping Vito kemudian mengambil buku yang ada di atas meja itu.
"Sekarang belajar, nih pakai kaos dulu. Jangan gini, nanti aku bisa salah fokus," ucap Yanti memberikan kaos yang tersampir di gantungan itu.
"Itu kotor sayang. Bentar aku ambil baju dulu," ucap Vito berjalan secepat kilat mengambil kaos dan memakainya.
Setelah memakai baju, mereka berdua belajar bersama. Atau lebih tepatnya Yanti yang belajar dan Vito yang menganggu pacarnya belajar.
"Yank, besok kan kita sekelas. Aku nyontek ya, jangan pelit pelit kayak tadi pagi," ucap Vito pada Yanti.
"Gak bisa, aku gak akan pernah kasih kamu contekan sekalipun kamu itu pacar akum Usaha sendiri lah," jawab Yanti menatap Vito yang kini sudah cemberut.
Memang Yanti selalu abai saat Vito memanggilnya untuk menyontek. Karena Yanti tak mau Vito selalu bergantung pada jawaban seseorang.
"Kamu mah."
"Makanya belajar, kalau kamu bisa mendapatkan peringkat 20 besar se angkatan, aku bakal kasih kamu hadiah spesial," ucap Yanti memberika motivasi Vito untuk semangat belajar.
"Hadiah?"
"Heem hadiah, spesial buat kamu."
Bukan tanpa sebab Yanti mengatakan seperti itu, masuk 20 besar se angkatan itu sudah baik untuk laki laki itu. Karena satu angkatan berisi hampir 300 siswa.
"Oke."
Akhirnya Vito pun mengambil buku miliknya dan membacanya. Ia tak mau malas malasan seperti ini jika ingin mendapatkan hadiah dari sang pacar.
"Good boy."
Cups.
Vito yang mendapatkan kecupan di pipi itu mendadak terdiam kemudian ia menatap sang kekasih yang hanya tersenyum.
"Biar tambah semangat."
"Iya."
Bersambung
__ADS_1