
Happy reading
Berbeda dari biasanya, Tamarin hari ini mau di antar oleh Alex ke kampus biasanya wanita itu akan menolak.
"Sayang, nanti pulang dari kampus langsung ke kantor ya. Biar dijemput supir," ucap Alex mengelus surai lembut sang istri.
"Kenapa harus ke kantor?" tanya Tamarin dengan polosnya.
Biasanya jika pulang dari kampus ia langsung ke rumah atau tidak mampir dulu ke supermarket untuk membeli cemilan. Jika disuruh mampir ke kantor ya takut akan mempermalukan dirinya sendiri karena pakaiannya yang berbeda dari karyawan lain.
"Nemenin aku lah, kan kamu udah janji mau buat hubungan kita makin membaik. Baru aja semalam, masa kamu lupa?" tanya Alex dengan sedih.
Ternyata Tamarin belum sepenuhnya menerimanya sedangkan Tamarin hanya menganggukkan kepalanya, ia tak lupa dengan janji itu tapi apa harus ke kantor?
"Gak lupa kok, ya sudah nanti aku ke kantor. Tapi kamu harus jemput aku di lobby, aku gak mau ada drama gak dibolehin masuk kayak di novel novel," ujar Tamarin dengan santainya yang langsung dianggukkan oleh Alex.
"Heem, peluk dulu sebelum kamu keluar."
Tamarin tersenyum kemudian masuk ke dalam pelukan Alex, gadis yang sudah resmi menjadi wanita itu merasa semakin nyaman di dalam pelukan Alex.
Sejak malam pertamanya yang sedikit terpaksa itu, kini Tamarin sudah tak menyesal karena memberikan mahkotanya pada Alex.
Kini Tamarin sudah mulai terbuka dengan apa yang ia hadapi pada Alex. Wanita itu ingin menjadi istri yang baik mulai saat ini, mulai mengubur rasa sukanya pada Gibran yang memang tidak ditakdirkan untuknya.
"Kak, maaf ya selama ini Tamarin buta. Tamarin terlalu membesarkan gengsi dan juga menyalahkan keadaan, maaf selama ini Tamarin belum bisa menjadi istri yang baik. Maaf Kak, aku harap kakak mau membimbing aku lagi. Jangan lelah sama Tamarin ya," ucap Tamarin yang membuat Alex bahagia dengan ucapan yang tulus dari sang istri ini.
Selama ini ia selalu menunggu momentum dimana Tamarin mau menerima dirinya dan meminta maaf.
"Tanpa kamu minta kakak juga akan selalu membimbing kamu sayang. Kakak sadar gak semudah itu menerima pernikahan ini tapi kakak gak nyesel, kakak cinta sama kamu."
Jantung Tamarin berdetak kencang ketika Alex menyatakan cintanya. Tak bisa dipungkiri jika setiap yang dilakukan oleh Alex mampu menggetarkan hatinya tapi ia terlalu munafik untuk mengakuinya.
__ADS_1
"Kak, ajarkan Tamarin buat cinta juga sama kakak ya."
"Pasti."
Dengan senyum manis kemudian Alex mencium kening Tamarin dengan lembut dan sedikit lama.
Ciuman yang kini membuat jantung Tamarin berdisko ria di dalam sana.
"Nanti malam kita ulangi yang semalam ya," bisiknya yang kini malah membuat Tamarin terdiam.
Rasanya yang semalam saja masih linu bagaimana jika di ulang lagi. Walau tadi malam Alex memaksa tapi Tamarin merasakan jika Alex melakukan itu dengan lembut.
"Masih sakit loh."
"Nanti sembuh sayang, kalau perlu setalah dari kantor kita ke dokter hmm."
"Buat apa?" tanya Tamarin dengan pelan. Ia takut jika berhubungan dengan rumah sakit dan jarum suntik.
Deg
Tamara yang mendengar itu langsung membulatkan matanya. Membayangkan perutnya membuncit membuat Tamarin bergidik ngeri.
"Harus ya? Aku belum lulus loh," ucap Tamarin yang membuat Alex langsung menatap tajam Tamarin. Apa wanita ini pikir ia tak mau memiliki anak bersamanya.
"Harus!!! Kamu harus hamil anak aku, biar kamu kamu gak mikir buat ninggalin aku," jawab Alex dengan tegas.
"Tapi aku gak mau ke rumah sakit ya, nanti di suntik."
Ahh Alex hampir melupakan fakta jika Tamarin sangat takut dengan jarum suntik. Maafkan suamimu ini karena sudah berprasangka buruk.
"Hei sayang, bukankah tadi malam kamu juga merasakan suntik saktiku sayang. Bahkan kamu sampai lemas kan," ucapnya dengan nada mesum.
__ADS_1
Entah sudah berapa menit mereka berada di dalam mobil itu bahkan keduanya tak menghiraukan banyaknya motor dan orang orang yang lalu lalang disana.
Hingga tatapan Alex menatap salah satu motor yang baru terparkir disana. Tamarin yang mengikuti arah pandangan Alex itu tahu jika suaminya menatap laki laki yang menjadi rebutan Tamarin dan Lidia.
"Kamu mau temuin dia? Aku udah coba ikhlas kok lagian dia udah punya pacar yang dia cinta. Ayo bantuin aku minta maaf udah sempat berniat menghancurkan hubungan mereka. Sekalian ngenalin kamu sebagai suami aku," ajak Tamarin dengan paksa.
Akhirnya Alex mengangguk dan mengikuti Tamarin yang sudah berjalan ke arah Gibran yang sedang membuka helm full face itu.
"Gibran," panggil Tamarin. Gibran menoleh ke arah Tamarin dengan mengangkat alisnya.
"Gue mau minta maaf kalau selama ini gue cukup ganggu lu. Gue juga minta maaf udah ada niat buat hubungan lu sama pacar lu bubar. Itu karena rencana Lidia yang terlalu obsesi sama kamu, dan ia merencanakan hal hal yang jahat sama kamu," ucap Tamarin yang membuat Gibran hanya tersenyum tipis.
"Gue udah tahu, dan gue juga terima kasih lu udah mau akuin ini. Gue harap lu gak mengikuti apa yang dilakukan Lidia," jawabnya dengan tegas. Kemudian tatapannya beralih pada Alex yang dengan tatapan dinginnya menatap Gibran.
"Gue Gibran, Bang."
Alex mengangguk kemudian mereka saling berjabat tangan, kedua laki laki itu tampak saling bertatapan dengan tajam.
"Alex."
"Kak Alex ini adalah suami aku," ucap Tamarin dengan senyum manisnya memperkenalkan Alex sebagai suaminya.
"Hmm gue udah tahu."
"Hahh."
"Yah, Gibran ini anak buah aku saat masih aktif di jalan. Dan sekarang Gibran juga udah keluar dari club motor itu," ucap Alex dengan senyum pada Tamarin.
Tamarin yang baru mendengarkan tentang hal ini cukup terkejut kemudian hanya bisa mengangguk. Semua keluarga juga tahu kalau Alex adalah mantan anak jalanan yang selalu terlibat dengan polisi dan sekitar sana.
Bahkan dulu Tamarin sangat membencinya Alex yang merupakan anak jalanan bahkan ketuanya.
__ADS_1
Bersambung