
Happy reading
Tak terasa jam sudah menunjukkan waktu pulang, bel pulang juga baru saja berbunyi berberapa menit yang lalu hingga membuat anak anak berhamburan pulang ke rumah masing masing.
Arum juga sudah menghubungkan Gibran dan orang rumah jika ia akan menjenguk temannya yang sakit dengan teman sekelas dan untungnya langsung di izinkan oleh keluarganya.
Kini Arum sudah berada di atas motor Mika, untungnya kakinya sampai hingga membuat Mika tak khawatir karena ia juga pernah melihat Arum mengendarai motor sport seperti miliknya.
"Ayo naik," ajak Arum dengan senyum manisnya.
"Helmnya?"
"Pakai aja, gue gak mau gerah kalau pake helm. Nanti arah ke rumah Aldo juga gak ada polisi, jadi tenang aja," ucap Arum pada Mika.
Akhirnya mika mengangguk dan naik ke atas motornya, jarang jarang kan ia ada yang bonceng biasanya sendiri mulu.
Vito yang sudah ada di atas motornya itu tetap mengawasi Arum. Itupun atas saran Yanti, Yanti tak ingin Arum kenapa napa karena bawa motor besar itu.
"Gue jagain kalian dari belakang," ucap Vito dan dianggukkan oleh Arum.
Arum mulai menjalankan pelan motor itu meninggalkan area parkir mengikuti anak anak yang sudah ada di depan mereka.
Rasanya setelah lama ia tak memegang stir motor membuat ia lupa diri. Salah keluarga ya yang tidak memperbolehkan dirinya untuk bawa motor gede sendiri yang ada di rumah.
Arum semakin mempercepat laju motor sport itu yang membuat Vito yang ada di belakang mereka cukup terkejut dengan ke kalian Arum dalam mengendarai motor.
"Hebat juga tu anak."
"Hebatlah wong dia dilatih sama pacarnya sendiri. Tapi Arum juga sempat cedera dan dilarikan ke rumah sakit," jawab Yanti yang membuat Vito mengangguk kemudian menyusul sang sahabat yang sudah ada di depan.
"Emang kamu mau belajar naik motor gede? Kalau iya aku bisa ajarin kamu," ucap Vito saat ia sudah melihat keberadaan motif Mika.
"Gak mau, maunya dibonceng terus."
"Terserah nyonya saja, tapi lain kali kamu duduk di depan aku ya sayang. Aku mau ngerasain gimana sensasinya ada cewek cantik di depanku," jawab Vito membayangkan jika sang kekasih ada di depannya dan ia bisa memeluk tubuh Yanti dari belakang. Ahh pasti sangat menyenangkan.
Yanti hanya bisa menghilangkan kepalanya walau itu tak bisa dilihat oleh itu Vito. Imajinasi laki-laki itu memang sangat ekstrem. Bahkan berapa hari lalu Vito menembak dirinya bukan si tempat romantis tapi sebuah wahana yang sangat menakutkan bagi yaitu wahan ontang anting atau wave swinger. Hal itu yang membuat Yanti terpaksa menyetujui ajakan Vito untuk pacaran.
Walaupun tak bisa dipungkiri jika ia juga senang ditembak oleh laki laki yang ia sukai dari dulu. Walaupun itu tertutup dengan gengsinya yang besar. Yanti berpikir itu dulu menyukai Arum yang sangat cantik, tapi ternyata laki laki itu juga menyukainya dari SMP.
__ADS_1
Sedangkan kini Arum sedang menikmati masa masa dimana dirinya bisa mengendarai motor kembali. Walau tadi ia sedikit mengibuli sang pacar kalau ia naik mobil. Karena kalau Arum bilang ia naik motor sport pasti dilarang oleh pacarnya itu.
"Seneng banget lu, kek gak pernah bawa motor gede aja," ucap Mika menatap sang teman yang asik menggoyangkan badannya hingga motor itu ikut bergoyang.
"Emang gue jarang banget buat bawa motor," jawab Arum menormalkan dirinya agar tidak terlalu bahagia.
Jalan menuju rumah Aldo memang sedikit tak mudah. Karena mereka harus berbelok menuju jalan bebatuan agar sampai ke rumah Aldo.
Arum coba untuk melajukan motor itu dengan kecepatan pelan, kalau tadi di jalan raya ia bisa saja langsung trabas dengan kecepatan tinggi kini ia harus hati hati apalagi ia sedang membonceng Mika.
"Woy ini jalan apaan, gue takut," ucap Arum yang membuat Mika terkekeh.
"Hoalah Rum, Arum. Berarti lu belum tatag banget bawa motor sport kalau jalan gini aja lu masih takut," ucap Mika berpegangan dengan tas kecil milik Arum. Gak bagus kalau ia memegang pinggang kecil temannya itu.
"Beh, kalau gue jatuh sakit say ini jalan bebatuan. Iya kalau ada dewa penolong kalau enggak bisa modyar kita," ujar Arum dan dianggukkan oleh Mika.
Memang benar sih jalan di sana masih bebatuan dan kanan kirinya adalah sawah. Kalau jatuh ya kalau nggak ke batu yang ada di jalan itu ya ke sawah, apalagi di sana tidak ada pembatas.
"Fokus aja udah, udah ketinggalan nih kita sama rombongan Bu Neneng sama anak anak," ucap Mika menunjuk mobil guru berwarna hitam di sana.
"Tapi Yanti sama Vito masih ada di belakang mereka," ucap Arum yang tadi sempat melihat motor Vito masih berada di belakang.
Sedangkan Yanti jangan ditanyakan sedang apa sekarang, gadis itu memeluk perut Vito dan juga memejamkan matanya. Memang Yanti sangat takut dengan jalan seperti ini, bukan tanpa sebab memang. Dulu ia pernah jatuh dari motor di jalan bebatuan gini karena ia tak berpegangan. Rasa sakitnya ini bahkan masih membekas sampai saat ini.
"Sorry lah. Yuk kita kejar tu mobil," ucap Arum dan dianggukkan oleh Vito.
Motor mereka Akhirnya sampai di depan rumah milik Aldo. Yang sedikit menjadi pertanyaan Arum adalah jalan yang tadi ia lalui ternyata jalan pintas karena jalan yang ada di depan rumah Aldo adalah jalan raya besar.
"Tahu gitu kita ikutin maps biar gak takut gue," ucap Yanti yang turun dari motor dan memeluk Arum.
"Udah jangan nangis, lagian kita udah sampai di depan rumah Aldo."
Yanti menganggukkan kepalanya dan ikut berjalan menuju rumah Aldo. Bu Neneng sebagai wali kelas mereka akhirnya mendahului untuk mengetuk pintu rumah itu.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamu'alaikum."
Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya keluar dari rumah itu dan menjawab salam Bu Neneng.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, mari masuk Bu guru dan anak anak."
Memang sebelumnya Bu Neneng sudah memberitahukan pada kedua orang tua Aldo jika anak anak kelas mereka akan berkunjung menjenguk Aldo.
Mereka semua masuk ke dalam rumah itu, tak lupa perwakilan kelas juga memberikan buah tangan yang tadi mereka beli pada paruh baya yang tak lain adalah ibu Aldo.
Saat masuk ke dalam rumah, Arum kagum dengan jejeran piala yang ada di lemari kaca itu. Saking banyaknya ia bahkan tak bisa menghitung piala itu, dan juga didinding rumah itu ada piagam penghargaan bergengsi di dekat lemari piala. Secerdas itu Aldo hingga bisa menyabet juara sebanyak ini.
"Hebat hebat," batin Arum.
Mereka duduk di karpet yang sudah digelar sebelumnya. Kemudian keluarlah Aldo yang berwajah pucat dan hanya memakai sarung.
Sepertinya Aldo tidak pura pura sakit, bahkan jalan laki laki itu sedikit goyang. Dan juga badannya yang sedikit kurus.
Bu Neneng membuka pembicaraan dan mengutarakan niat mereka menjenguk Aldo. Setelah beberapa saat menyimak akhirnya Arum tahu jika Aldo memiliki penyakit tipes, pantesan aja gak masuk berberapa hari ini.
Tanpa banyak orang sadari sedari tadi Aldo diam diam menatap Arum yang sedang menatap Bu Neneng. Laki-laki itu senang bisa dijenguk oleh orang yang ia sukai walau selamanya ia tak bisa bersama Arum.
"Terima kasih ya semuanya sudah mampir dan menjengukku. In syaa Allah 2 hari lagi aku bakal sekolah seperti biasa, udah kangen juga sama suasana kelas yang amburadul walaupun kelas MIPA," ucap Aldo dengan senyum manisnya.
Mereka semua pun menjawab dengan anggukan dan tersenyum. Teman yang akrab dengan Aldo langsung memberikan buku catatannya pada laki-laki itu. Oke kembali mengucapkan terima kasih kepada mereka.
"Yang penting lu sembuh dulu, pasti guru guru juga maklum kok kalau lu sakit. Jadi jangan dipaksa sekolah dulu kalau belum sembuh," ucap Arum membuka suaranya.
"Iya tenang aja, gue udah sembuh kok. Walau masih lemes buat jalan," ucap Aldo tersenyum manisnya. Laki-laki itu serasa mendapatkan perhatian dari gadis yang ia cintai selama ini.
Setelah beberapa saat mereka berada di rumah Aldo akhirnya Bu Neneng berpamitan pada keluarga Aldo dan juga Aldo sendiri. Para siswa dan siswi pun menyayangi orang tua Aldo dengan takzim tak lupa bersalaman pada Aldo dan mendoakan laki laki itu agar cepat sembuh.
Aldo dan keluarganya mengantar mereka sampai rumah. Kemudian melihat satu persatu anak anak udah meninggalkan area rumahnya. Setelah mereka semua pergi orang tua itu menatap Aldo yang masih tersenyum menatap kepergian gadis yang ia sukai.
"Yang tadi itu gadis yang kamu sukai, Al?" tanya Ayah pada sang putra.
"Iya Yah. Sayang aja dia udah punya pacar," jawab Aldo kini duduk di kursi teras.
"Masih banyak gadis lain, Nak. Jangan mengharapkan yang tidak akan menjadi milik kamu."
"Iya Bu."
Kau tuh memang menyukai Arum tapi ia tak ingin merebut gadis itu dari pacarnya. Lagi pula ia tak jelek-jelek amat untuk mendapatkan wanita yang ia sukai nanti. Tapi untuk saat ini ia hanya ingin melihat gadisnya ia cintai bahagia dengan pilihannya.
__ADS_1
Bersambung