
Happy reading
Gibran yang tidak mendengar jawaban sang kekasih itu kini semakin takut jika benar Arum mempercayai apa yang diucapkan oleh Claudia tadi.
"Yankk."
"Gak tahu, aku butuh penjelasan kamu."
"Oke aku jelasin tapi kamu gak boleh marah," ucap Gibran dan dianggukkan oleh Arum.
Gibran mengajak Arum untuk duduk di sofa itu. Bukan bukan disamping Gibran duduk tapi dipangkuannya. Entah kenapa Gibran ingin sekali memangku tubuh sang kekasih ini.
Dengan lembut akhirnya Gibran menceritakan siapa Claudia dan kiano sebenarnya. Mulai dari awal mereka kenalan hingga menjadi sahabat tapi Claudia bukan sahabatnya. Claudia adalah teman Kiano yang tergila-gila oleh Gibran.
Kronologi Kiano sampai b**uh *iri atau dibu*uh dari atap gedung sekolah mereka dulu.
Tidak ada yang tahu apa sebenarnya yang terjadi antara Claudia pada Kiano saat itu. Yang Gibran tahu dari teman temannya adalah Claudia berada di tempat yang sama dengan tempat Kiano bu**h d**i.
Tapi saat itu Claudia memasang ekspresi biasa saja tidak ada ketakutan ataupun salah jika dia yang melakukan hal itu.
"Semua terasa buntu hingga akhirnya, saat itu tiba tiba saja Claudia pindah begitu saja. Kecurigaan aku saat itu mengarah pada Claudia, aku yakin perempuan itu ada hubungannya dengan hilangnya nyawa Kiano. Walaupun polisi sendiri saja mendapatkan jalan buntu saat itu."
"Kamu gak terlibat kan yank?" tanya Arum menatap sang kekasih.
"Enggak, aku malah gak tahu kalau ada insiden itu. Di saat kejadian aku tidak masuk sekolah karena ikut mama ke Bogor, Nenek lagi sakit saat itu dan ingin lihat aku. Saat aku pulang ke Jakarta aku baru tahu jika Kiano sudah tiada."
Arum menganggukkan kepalanya di dalam anaknya bertanya tidak mungkin kan teman kekasihnya itu bunuh diri tanpa alasan. Tapi semua itu tidak penting karena yang terpenting saat ini adalah membuat perempuan yang tadi datang ke rumah Gibran tidak menganggu hubungan mereka. Karena Arum yakin, Claudia akan datang ke hidup Gibran lagi.
"Kamu harus hati hati sama Claudia itu yank. Aku punya firasat kalau dia bakal lakuin sesuatu buat kamu dan bikin hubungan kita berantakan."
Arum tidak su'udzon tapi itu hanya firasatnya saja, tidak ada salahnya mereka berjaga-jaga dari sekarang. Karena pelakor saat ini bisa saja berkedok malaikat.
"Iya sayangku. Kamu juga harus hati hati, setahu aku perempuan itu sangat nekat. Aku gak mau dia celakain kamu karena ambisinya tak tercapai," ucap Gibran mengelus lembut punggung sang kekasih.
"Iya, sama sama harus waspada karena aku gak bisa terus ada disisi kamu 24 jam begitupun sebaliknya," ucap Arum mengelus jakunn sang pacar. Memang sih jakun laki laki itu sungguh menggoda, apalagi kalau naik turun.
"Udah ih jangan nakal, nanti malah kebablasan kayak kemarin," ucap Arum menyudahi apa yang dia lakukan.
"Cuma yang atas doang kok yank, lagian aku kuat kok," jawab Gibran pada Arum. Laki laki itu tak mau menarik tangannya dari dalam kaos Arum.
"Kuat apanya, belum apa apa udah bangun gitu," gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Gibran.
"Normal."
Gibran yang ingin bermanja dengan sang pacar itu langsung menggendong sang kekasih apa koala untuk ke kamarnya.
Ia tak akan leluasa jika bermanja di ruang tamu itu. Atau bisa saja Mama dan Papanya langsung pulang dan masuk kemudian melihat dirinya dan Arum disana.
"Sayang mau kemana?" tanya Arum seraya mengalungkan tangannya di leher Gibran.
"Kamar," jawabnya dengan senyum kemudian memberikan satu kecupan di bibir manis itu.
Sudah lama rasanya ia tak bermanja manja dengan Arum, entah itu hanya perasaan Gibran saja atau memang iya.
"Ngapain?"
"Manja manja sama kamu."
"Gak aneh aneh kan?"
"Enggak sayang. Kayak baru kenal aku aja sih hmm?"
__ADS_1
Arum hanya tersenyum kemudian mengeratkan pelukannya saat mereka sudah sampai lift. Naik tangga pun akan cepek rasanya.
Ting
Sampailah mereka di kamar Gibran yang kini sudah berubah. Dulu saat pertama kali masuk kamar Gibran, warnanya hanya hitam dan putih sangat monoton. Sekarang kamar itu sudah lebih berwarna dengan atap langit yang dibuat mendung berwarna putih di sertai lampu lampu yang cantik di sana. Dinding yang dulunya putih kini berubah menjadi biru laut yang sangat nyaman di pandang.
Bugh
"Ahh empuk banget kasurnya," ucap Arum saat Gibran menjatuhkannya ke kasur busa itu.
"Emang kasur di kamar kamu gak empuk hmm?" tanya Gibran dengan senyum manisnya mulai menindih tubuh Arum.
"Empuk juga sih tapi rasanya beda aja kalau disini. Wanginya kamu banget."
"Ya sudah kalau gitu kamu nginep aja disini, gak usah pulang kan ini juga rumah kamu," jawab Gibran menarik kaos yang dipakai oleh Arum.
"Jangan kelewat bates ya, gak boleh," ucap Arum memperingati sang pacar untuk tidak berbuat lebih.
"Yang atas doang boleh ya, please," muka Gibran di buat semelas mungkin agar membuat Arum mengasihani dirinya.
"Tapi.."
"Itung itung simulasi kalau jadi pengantin yang, anggap aja ini dp buat aku. Ya ya ya," pinta Gibran dengan senyumnya.
"Janji ya cuma atas aja, aku takut kalau kamu berbuat lebih. Apalagi kita belum nikah," ucap Arum pada Gibran.
Arum tahu laki laki itu juga memiliki hasr*t pada dirinya. Apalagi selama ini mereka tak lebih dari ciuman itupun hanya kecupan, tak lebih. Gibran selalu menjaga batasannya selama ini.
"Siap sayang. Makasih."
"Hmm."
Gibran mulai menyingkap kaos yang dipakai Arum dengan senyum manisnya. Entah apa yang merasuki Gibran hari ini, tapi ia hanya ingin merasakan puding nikmat ini.
Selama ini Gibran sering kali menolak ajakan sang teman untuk pergi ke club malam ataupun tempat tempat yang haram untuk dimasuki.
Tak!
Pengait bra itu terbuka begitu saja karena ulah Gibran, Arum yang kini mulai malu itu menutup dadanya dengan kaos yang masih ia pakai tadi.
"Yank, aku mau tanya boleh?" tanya Gibran pada Arum. Sebelum ia memegang sesuatu itu.
"Apa?"
"Kamu tadi ke apotek ya? Ngapain? Kamu sakit?" tanya Gibran pada Arum. Untungnya Gibran tak lupa dengan hal ini, ia masih bertanya tanya kenapa Arum masuk apotek.
Dan sepertinya Arum lupa jika ia diberi bodyguard bayangan oleh dua orang yang paling ia cintai itu.
"Aku gak sakit kok yank, tadi itu memang aku ke apotek sama teman aku," jawab Arum menarik selimut agar mata Gibran tak nakal.
"Emang teman kamu sakit apa? Dan gak biasanya kamu peduli begitu sama orang yang gak kamu kenal?" tanya Gibran dengan bingung tapi ia juga penasaran.
"Emmm."
Arum kini bimbang dengan apa yang terjadi tadi, apa ia harus menceritakan hal ini pada Giban atau tidak. Kalau cerita ia sama saja membuka aib Sania, tapi kalau diam Gibran pasti gak akan tinggal diam.
"Sayang aku tanya loh."
"Ponsel aku mana ay?"
"Di bawah lah. Kan kita cepet cepat tadi kesininya," jawab Gibran mengelus leher putih sang kekasih.
__ADS_1
"Yah padahal apa yang mau aku omongin ada disitu, sekaligus aku mau minta bantuan kamu," ucap Arum yang membuat Gibran sedikit bingung tapi ya sudahlah.
Gibran mengambil telepon rumah itu dan meminta bibi untuk membawakan ponsel Arum yang ada di meja tadi.
"Tunggu 5 menit," ucap Gibran kembali ke kasur itu dengan snyum manisnya.
Kini tangannya sudah melepaskan baju yang ia pakai sendiri. Dan ikut masuk ke dalam kasur itu. Memang sih tak terlalu dingin tapi memang mereka jiwa jiwa rebahannya itu sangat kuat. Mau apapun itu suasana kalau berdua kan enak.
Tok! Tok! Tok!
"Itu bibi."
Gibran dengan kesal kembali berdiri dan membuka pintu kamarnya, setelah itu giban kembali ke dalam kamar membawa ponsel Arum yang memiliki cassing berwarna biru glitter ungu ungu gimana gitu pokoknya kiyowokk kalau kata jaemin.
"Nih hp kamu."
Gibran kembali naik ke atas sakit kemudian bersandar disana dengan Arum.
Gibran melihat apa yang dilakukan oleh Arum di ponsel itu kemudian betapa terkejutnya saya ia melihat sebuah video yang ahhh sudahlah. Gibran tak sanggup melihatnya.
"Yank."
"Ini yang aku mau bilang."
Gibran menatap Arum dengan tatapan tak percaya, kemudian ia menarik tubuh sang pacar ke dalam pelukannya.
"Yank, mata kamu udah gak suci," gumam Gibran yang membuat Arum terkekeh geli.
"Hahaha tenang aja, aku gak lihat punya pak tua tadi kok. Aku cuma sedih sama Sania yang menjadi korbannya," jawab Arum dengan sendu.
Arum kembali teringat dengan keadaan tadi pagi saat ia sedang belajar di gazebo. Mendengar suara suara aneh kemudian astaghfirullah.
"Gimana ceritanya?"
Arum menceritakan semua yang ia lihat hari ini mulai dari suara suara aneh sampai ke apotek membeli obat pencegah kehamilan untuk Sania.
"Menurut kamu gimana baiknya, Ay? Aku gak mau pak tua itu tetap bekerja di sekolah itu, aku gak mau ada korban lagi," ucap Arum meletakkan ponselnya di kasur itu.
"Emm nanti aku pikirkan, ini juga gak bisa dibiarkan yank. Kalau sampai Sania hamil itu sama saja mencoreng nama baik sekolah kita, kamu tahu sendiri gimana baiknya sekolah kita itu bahkan gosip miring pun enggan ada di sana."
"Nah maka dari itu."
Bukan apa apa Arum berkata seperti ini, keluarga Gibran juga salah satu donatur di sekolah itu bahkan bisa dibilang sekolah itu berdiri di atas tanah milik keluarga Gibran yang sudah di wakafkan.
"Emmm yank."
"Hmm."
"Kamu gak mau nyoba kayak yang di video tadi?" tanya Giban, jujur saja ia sedikit teringat bagaimana suara dan peraga di video tadi.
"Ihh apaan sih, gak mau lah. Belum boleh," jawabnya dengan tegas.
"Ya sudah kalau gitu."
Gibran membawa tubuh sang kekasih agar berbaring di sampingnya. Ia ngantuk tapi juga ingin bermain dengan si kembar.
"Itung itung belajar jadi istri yank baik besok kalau udah nikah."
Akhirnya Gibran dapat merasakan empuknya si kembar dengan tangannya. Walau Arum sering menepuk tangannya yang makin nakal.
Tentu saja Arum malu.
__ADS_1
Bersambung