
Happy reading!
Saat ini Arum dan Gibran sudah berada di ruang tamu menunggu kedatangan Mama Ani dan Papa Abi. Keduanya duduk di sofa yang berbeda bahkan Arum tampak enggan menatap Gibran yang senantiasa menatap dirinya.
"Mau aku colok matanya. Daritadi lihat mulu," ucap Arum menatap tajam mata Gibran.
"Aku cuma menikmati karya indah Tuhan yang ada di depanku ini."
"Ishhh dasar lelaki. Kamu gak mikirin nasib kita gimana hah? Aku takut orang tua kamu marah dan membuat kita berpisah. Aku sih gak apa apa pisah sama kamu, tapi nanti yang bayar jajan aku siapa kalau udah putus sama kamu?" tanya Arum yang tak sepenuhnya benar.
"Ternyata ini yang selalu kamu pikirkan hmm? Kalau kamu putus sama aku gak ada yang bayarin kamu jajan lagi hmm."
"Iya kenapa?" tanya Arum menantang Gibran yang ada disana.
Mana mungkinlah alasan Arum itu kalau putus dari Gibran, ya walaupun salah satunya uang Gibran tapi Arum sangat mencintai laki laki ini. Lagipula uang Arum juga sudah sangat cukup di atmnya karena setiap bulan Ayahnya selalu mentransfer uang ke rekeningnya.
"Nah kalau tahu aku ini sumber uangmu, kenapa kamu harus balas hukuman aku tadi?" tanya Gibran dengan wajah datar tanpa senyum.
"Ya aku kesel lah, aku takut kamu tadi mau anu in aku. Kan aku masih bersih gimana kalau nanti terjadi apa apa sama hubungan kita. Yang rugi kan juga aku," ucapnya tatapan yang sulit untuk Gibran artikan. Ada binar bahagia tapi juga ada kesedihan di mata Arum yang membuat Gibran hanya bisa mengangguk.
Memang benar kerugian memang selalu ada di wanita jika melakukan hal itu tanpa ada ikatan suami istri. Kalau laki-laki ingin menjelajah banyak wanita tidak akan terlihat tapi jika wanita walaupun satu kali pasti akan membekas seumur hidupnya. Darah perawan tak akan bisa kembali seperti semula.
Sedangkan Gibran yang mendengar itu langsung mendekat ke arah Arum dan memeluk tubuh sang kekasih. Sebenarnya ini juga ya g ada di dalam pikiran Gibran tadi tapi mengingat orang tuanya sangat menyayangi Arum tak mungkin menyuruh Arum dan Gibran pisah.
"Maaf ini memang salah aku," ucap Gibran dan dianggukkan oleh Arum.
Papa Sandi dan mama Tiya yang melihat dari awal hingga akhir kejadian itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Memang tak salah sih jika Gibran menghukum harum karena Arum sudah melanggar aturan yang ditetapkan oleh ayah agar tidak membawa motor gede.
Andai saja tak ada kejadian hari ini mereka berdua juga tidak akan tahu jika tadi siang Arum membawa motor milik temannya.
"Dasar anak muda."
"Sepertinya Mbak Anin sama Mas Abi udah mau sampai," ucap Mama Tiya menatap ponselnya.
"Hmm."
Kedua paruh baya ini berjalan menuju sofa ruang tamu dan duduk di sana seraya menunggu kedatangan orang tua Gibran.
"Mah... Pah... Arum minta maaf ya. Arum gak niat buat lec***n Gibran kok, gak tahu juga kenapa tadi Arum kayak gitu. Maaf ya Ma, pa," ucap Arum mendekati ke dua orang tuanya.
"Tetap di tempat duduk kamu," ucap Papa Sandi dengan suara tegas.
Mama Tiya yang mendengar itu langsung menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. Kenapa suaminya jadi seperti ini pada Arum, kan Arum anak kesayangan mereka.
"Pah..."
Bersamaan dengan Mama Tia yang akan menegur suaminya, dari arah pintu terlihat Mama Anin dan Papa Abi berjalan masuk ke dalam rumah itu kemudian menyapa Mama Tiya dan Papa Sandi.
"Ada apa ya mbak, Mas kok nyuruh kita kesini?" tanya Mama Anin pada mereka.
__ADS_1
"Duduk dulu mbak, dan biar anak-anak yang menjelaskan," jawab Mama Tiya mempersiapkan kedua paruh baya itu duduk.
Orang tua Gibran duduk di sofa itu yang saling berhadapan dengan anak-anak mereka.
"Jadi ada yang mau menjelaskan pada Papa dan Mama. Agar kami tidak bingung kenapa tiba-tiba Mbak Tiya menyuruh kami datang ke sini?" tanya Papa Abi menatap Arum dan Gibran yang masih menunduk.
"Kamu yang bilang," bisik Arum pada Gibran.
"Kamu aja, kan kamu tadi yang kepergok di atas aku," jawabnya masih dengan berbisik.
"Ihh kamu kan laki harusnya kamu yang jelasin ke Mama dan Papa," bisik Arum.
Bisikan mereka berdua membuat Mama dan Papa tak terlalu mendengar tapi hal itu cukup mengganggu karena mereka meminta penjelasan bukan bisikan seperti ini.
"Heh disuruh jelasin kok malah ngobrol sendiri, pake bisik bisik lagi," ucap Mama Anin yang membuat kedua orang yang saling berbisik.itu langsung terdiam.
Akhirnya Gibran memberanikan diri untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dari awal hingga akhir. Tidak ada yang ia tutup-tutupi dari kedua orang tua mereka, Gibran menerima semua keputusan akhir dari orang tua Gibran dan orang tua Arum sendiri.
Sedangkan Arum yang mendengar kita menceritakan tentang Ia yang menghukum Gibran membuat wajah putih Arum kini berubah menjadi merah. Entah kenapa juga tadi ia bisa senekat itu menaiki tubuh Gibran. Yang ada di pikirannya hanya ingin membuat laki-laki itu jelek dan tidak asal menghukum hingga membuatnya sedikit trauma dan takut.
Setelah Gibran menyelesaikan penjelasannya, terlihat Papa Abi dan Mama Ani saling pandang dan juga menghela nafas mereka.
Sampai di sini Papa Abi belum menemukan siapa yang salah dan siapa yang benar. Karena posisinya Arum dan Gibran sama-sama salah dalam mengambil hukuman.
"Huhh kenapa jadi seperti ini," gumam Papa Abi memijit keningnya membuat Mama Anin langsung mengelus punggung sang suami.
"Jujur saya malu sebagai orang tua Arum, tolong dimaafkan tingkah anak saya ya mbak, Mas," ucap Papa Sandi yang sedari tadi dia mendengarkan apa yang diceritakan oleh anak-anak mereka terutama cerita Gibran.
"Ehemm mungkin kita harus mengambil tindakan tegas untuk mereka berdua, Mas Sandi," ucap Papa Abi yang membuat Papa Sandi mengangguk.
"Jika masih pacaran saja mereka sudah berani berbuat seperti itu, gimana kalau mereka benar-benar tunangan. Apalagi Gibran adalah lelaki normal yang pasti akan tergoda dengan harum yang statusnya adalah tunangan."
"Jadi makasud Mas Abi gimana?" tanya Papa Sandi dengan bingung.
"Kita harus menikahkan mereka berdua, saya pribadi tak ingin jika Arum dirusak oleh anak saya sendiri. Lebih baik mereka menikah muda dan bebas melakukan apapun daripada masih pacaran seperti ini tapi melanggar batas," jawab Papa Abi yang membuat Papa sandi, Mama Tiya, Arum, dan Gibran terkejut bukan main mendengar apa yang diucapkan oleh Papa Abi.
Bagaimana tidak terkejut, karena usia Arum saat ini saja masih sangat muda untuk membina rumah tangga. Apalagi Gibran yang masih kuliah walaupun laki-laki itu sudah mulai belajar tentang perusahaan milik ayahnya.
"Tapi Pah, kita kan gak ngapa ngapain. Janji deh setelah ini kita nggak akan berbuat macam-macam, iya kan sayang," ucap Arum meminta pertolongan pada Gibran karena ia tak ingin menikah muda.
"Iya pah. Lagipula Arum masih muda dan Gibran juga masih kuliah. Gimana nanti cara Gibran menafkahi Arum?" tanya Gibran yang sepertinya melupakan sesuatu.
"Bukannya selama ini kamu sudah menafkahi dirinya. Kalian itu sudah mirip seperti suami istri di mana suaminya menafkahi istri Dan Istrinya selalu menuruti apa kata-kata suaminya," jawab Mama Anin yang kini angkat bicara.
Jangan kalian pikir orang tua mereka tidak tahu jika selama ini Gibran selalu mengirimkan uang ke rekening yang selalu dibawa oleh harum. Itu masih atas nama Gibran karena memang Gibran yang memberikannya pada Arum.
"Mampuss."
"Mah.. pahh... Arum gak mau nikah muda, Arum gak ngapa ngapain kok tadi. Lagipula Arum cuma gelitikin Gibran sama kemoceng itu aja," ucap Arum yang membuat Mama Tiya dan Papa Sandi bingung.
__ADS_1
"Maaf ya mbak, Mas. Tapi sepertinya kita juga harus meminta persetujuan dari kakak Arum. Novel ada di negara ini saat ini mungkin sebentar lagi dia pulang dari rumah mertuanya."
"Naufal pulang? Kapan Mbak?" tanya Mama Anin.
"Kemarin mbak istrinya ngidam pengen mangga muda yang ada di Indonesia," jawab Mama Tiya yang membuat mereka menangguk.
"Berapa lama Naufal sampai?" tanya Papa Abi yang membuat kedua orang tua Arum menggelengkan kepalanya pertanda tak tahu.
Kemudian Mama Tiya mengambil ponselnya dan menghubungi anak sulungnya.
"Halo mah ada apa?"
"Kamu ada dimana sayang?" tanya Mama Tiya pada Naufal.
"Masih di rumah Ibu, kenapa?"
"Bisa pulang sebentar, ada yang ingin mama dan papa bicarakan sama kamu."
"Penting banget ya Mah? Soalnya Cika masih makan disini."
"Penting sayang, memakai bisa bicara ini lewat telepon. Mama harap kamu cepat pulang kalau kamu tak bisa meninggalkan istri kamu ajak istri kamu pulang sebentar saja, Setelah itu kamu boleh kembali ke sana," jawab Mama dan dianggukkan oleh Naufal dari seberang.
"Sepertinya kita harus menunggu Naufal pulang sebentar," ucap Mama Tiya dan dianggukkan oleh mereka.
****
Sekitar 20 menitan mobil Naufal terdengar dari luar, novel dan jika turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Mereka sedikit terkejut saat melihat kedua orang tua Gibran ada di rumah mereka.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Naufal yang sepertinya merasakan sesuatu yang tidak baik.
Kemajuan Naufal dan Cika menyalami kedua orang tua Gibran. Kemudian bergabung dengan mama dan Papanya di sofa itu.
Melihat novelnya jika sudah hadir akhirnya mempas sandi mewakili mereka menjelaskan pada anak sulungnya tentang apa yang sebenarnya terjadi hari ini.
Saat mendengar Gibran yang ingin menghukum Arum laki-laki itu ingin menonjok wajah tampan Gibran tapi ya urungkan karena mendengar cerita selanjutnya dari sang papa. Di mana Arum yang menaiki tubuh Gibran dan juga mengikat tangan Gibran dengan dasi Arum.
Kalau sudah begini siapa yang salah? Tidak ada yang benar dan keduanya salah. Jika ia menghukum Gibran maka itu tak adil untuk Gibran karena arum juga melakukan hal yang sama.
Tapi jika ingin menghukum Arum dan Gibran ia selalu kasihan dengan adik nya itu.
"Terus keputusan kalian bagaimana?" tanya Naufal pada mereka.
"Papa menginginkan Arum dan Gibran menikah agar menghindari kejadian yang tak ingin diinginkan," jawab Papa Abi yang membuat Naufal mengangguk.
Arum berharap kakaknya itu menolak permintaan dari bapak Abi yang ingin Ia menikah dengan Gibran di usia muda.
Tapi sepertinya hal itu tidak terjadi karena Naufal menganggukkan kepalanya dan mengiyakan apa yang diinginkan oleh Papa Abi.
"Jika ini memang keputusan kalian, dan Papa Mama juga setuju Arum nikah muda. Naufal juga tak keberatan, karena Naufal dan Chika juga menikah muda saat itu," jawab Naufal yang membuat Arum seakan hilang dari bumi ini.
__ADS_1
Sedangkan Gibran, terlihat laki-laki itu mengulas senyum manisnya kemudian menganggukkan kepalanya.
Bersambung