
Happy reading!
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore, seperti yang dikatakan Gibran tadi. Ia akan pamit pulang dulu karena harus mengantarkan sang kekasih pulang ke rumah.
"Sayang, kamu laper?" tanya Gibran seraya memakaikan jaket yang tadi di lepas ke tubuh Arum.
"Belum tapi aku mau bakso yang ada di kantin tadi, kayaknya enak aku cium baunya tadi," ucap Arum dengan senyum manisnya.
Yah tadi saat ia membeli minuman untuk Gibran, gadis itu mencium aroma kuah bakso yang sangat harum.
"Ya sudah ayo ke kantin, karena kamu udah temenin aku hari ini aku yang traktir."
"Halahh wong kalau makan sama kamu mesti kamu yang bayar tanpa aku minta," ucap Arum yang benar adanya.
Gibran tak ingin Arum mengeluarkan uang jika bersamanya karena itu sama saja menjatuhkan harga dirinya sebagai laki laki yang cukup kaya.
Mereka berjalan beriringan menuju kantin di kampus itu, dan semua itu tak luput dari pandangan para mahasiswi disana. Merasa yang disupport sudah pergi mereka juga ikut membubarkan diri.
"Noh lihat pada supporter pada ngilang gara gara Gibran pulang duluan."
"Hahaha emang idola dia tuh," jawab Reno seraya mendribble bola itu menghindari lawan main mereka.
"Kadang gue heran, kenapa dia gak gunain wajahnya buat ngaet para cewek cewek cantik di kampus ini? Sayang banget," ucap Dewa yang dasarnya playboy dan suka celap celup.
"Karena dia gak kayak lu yang suka celap celup sana sini," timpal Satriya dengan nada mengejek.
Satriya memang sangat hapal dengan sepak terjang Dewa yang ingin menemukan cintanya hingga dia rela menjadi playboy.
Mereka kembali bermain hingga waktu latihan selesai.
***
"Mbak bakso spesial 2 ya," pesan Gibran yang sudah duduk disana.
"Siap Mas Gibran, itu pacarnya ya?" tanya Mbak tadi pada Gibran.
"Iya."
"Cantik, pantes sama sampeyan yang ganteng," ucap Mbak kantin itu dengan senyum tulus.
"Iya makasih mbak."
Kantin yang tadinya sepi kini kembali ramai setelah Gibran dan Arum datang ke kantin. Salah satu mahasiswi tadi mendengar jika Gibran dan Arum ingin makan bakso di kantin jadi mereka inisiatif untuk mengikuti mereka.
__ADS_1
Dan benar saja Arum dan Gibran berada di kantin menunggu pesanan bakso mereka.
Sekitar 10-an anak datang ke kantin itu dan mereka juga ikut membeli makanan yang ada disana atau sekedar minum dan menatap dua pasangan itu dengan kagum. Para mahasiswi di sana iri dengan kecantikan Arum yang terlihat natural, sedangkan mereka yang memiliki wajah pas-pasan dan tertutupi oleh make up itu sedikit malu dan insecure.
"Kayaknya mereka mengikuti kita," ucap Arum menatap para mahasiswi disana. Tak ada yang laki-laki selain Gibran.
"Biarin aja, mereka paling juga ikutin kamu."
"Dih apaan mereka tuh fans kamu, bukan fans aku. Kalau nanti di kantin ini ada yang cowok dan di hati aku itu baru fans aku," ucap Arum mengambil kacang bawang yang ada di meja.
Arum membuka bungkus kacang bawang itu dan menyuapkan satu kacang itu pada Gibran. Bosan jika menunggu bakso yang matang tanpa makan sesuatu.
"Nanti kita buat yuk, yang gini enak. apalagi kalau rasa daun jeruk pedes-pedes gitu enak kali yank," ucap Arum mengunyah kacang yang cenderung asin itu.
"Kenapa nggak beli aja, aku males repot sayang. Lagian kalau beli juga nggak sampai 100 ribu," ucap Gibran mengambil kacang itu dan menyuapkannya ke Arum.
"Emang ada yang rasa daun jeruk dan pedas?"
"Ada mungkin."
Tak menunggu sampai 10 menit bakso pesanan Gibran dan Arum sudah sampai di meja mereka. Kemudian mereka menuangkan saus dan kecap beserta sambel ke mangkok itu.
"Gimana permainan aku tadi, keren kan?" tanya Gibran dan dianggukkan oleh Arum.
Gibran yang mendengar itu hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Lagian saat SMA itu ia belum pacaran dengan Arum hingga belum mendapatkan larangan seperti ini.
"Iya sayangku, pacarmu ini gak akan pamerin perut sixpacknya. Karena ini milik kamu, bahkan sekarang kamu sudah berani megang-megang perut kakak yang se**i ini," jawab Gibran menggoda Arum hingga membuat wajah gadis itu memerah.
"Ih apaan sih."
Mereka kembali memakan bakso yang sudah tercampur dengan sambal yang lumayan. Sebenarnya mereka memiliki banyak kesamaan dalam memilih makanan seperti contohnya keduanya sama-sama menyukai udang (fans udang cek), dan mereka juga menyukai pedas. Keduanya juga tidak memiliki alergi pada makanan apapun.
Setelah selesai memakan bakso itu, Gibran dan Arum meminum es teh yang dipesan mendadak tadi.
Setelah dirasa pedas di mulut mereka berkurang, Gibran langsung membayar bakso mereka pada Mbak kantin itu. Kemudian keduanya terlalu meninggalkan kantin itu menuju parkiran motor. Gibran yang masih memakai jersey basket itu membuat arum merasa tak tega jika tubuh kekasihnya dimasuki angin.
"Pakai dulu, aku gak mau kamu sakit. Nanti aku juga ikut susah," ucap Arum melepaskan jaket Gibran yang ia pakai dan kembali memakaikannya ke tubuh kekar laki-laki itu.
"Nanti kamu malah kedinginan sayang ini sudah sore. Nanti kalau kamu masuk angin gimana? Aku cowok jadi aku bisa tahan angin yang menerpa tubuhku."
"Tetep aja cowok juga manusia biasakan? Kamu juga memiliki kelemahan, bukan cowok super. Udah deh mending kamu pakai ikan kita bisa pulang cepat," jawab Arum memaksa.
Lagi pula harum tidak ingin tubuh kekasihnya dilihat oleh cewek-cewek di luar sana. Apalagi nanti jika tubuh laki-laki itu diterpa angin pasti jersey yang melekat di tubuhnya akan mencetak perut Gibran.
__ADS_1
Akhirnya Gibran menerima dan mulai mengeluarkan motornya dari parkiran itu. Arum naik ke atas motor dan memeluk tubuh Gibran dari belakang.
"Siap?"
"Iya siap, ayo berangkat," ucapnya dengan senyum manis.
Motor itu melaju meninggalkan area kampus dan membelah jalan raya itu dengan cukup cepat. Jam sudah menunjukkan 5 kurang 10 menit jadi mereka tak bisa bersantai-santai di jalan, dan agar cepat sampai rumah Gibran melajukan motor sport itu dengan kecepatan penuh.
Army sudah terbiasa itu hanya memejamkan matanya kemudian ia memeluk tubuh kekasihnya dengan erat.
Perjalanan yang biasa ditempuh setengah jam kini dalam waktu 15 menit mereka sudah sampai di depan rumah besar milik keluarga Arum.
"Udah sampai nih, kamu gak mau turun hmm? Atau mau ke rumah aku aja?" tanya Gibran saat Arum tidak kunjung turun dari motornya.
"Eh udah sampai ya," ucap Arum yang mendadak linglung.
Gadis itu turun dari motor Gibran kemudian menatap kekasihnya yang masih berada di atas motor.
"Gih masuk," suruh Gibran pada Arum.
Arum diam kemudian memajukan wajahnya, Gibran yang bingung itu bertanya kenapa. Tak biasanya gadisnya itu akan bersikap seperti ini. Arum yang tak mendapat apa yang ia mau itu kemudian sedikit kesal.
"Sayang, kamu gak peka banget sih. Aku minta cium di kening, ishh aku males sama kamu," ucap Arum hendak membalikkan badan dan berjalan menuju rumah tapi ditahan oleh Gibran.
Cups
"Maaf sayang, pacarmu ini memang gak peka," jawabnya Kemudian mengecup lembut kening dan kedua pipi Arum.
"Udah kan, sekarang mana senyumnya?" tanya Gibran pada Arum. Arum yang mendapat ciuman itu tersenyum manis kemudian mengecup singkat pipi Gibran.
"Makasih sayang."
"Sama sama."
"Gih masuk udah sore," ucap Gibran dan dianggukkan oleh Arum.
Gadis itu mulai berjalan menuju rumah, Gibran yang melihat Arum sudah masuk itu langsung menjalankan kembali motornya meninggalkan rumah itu.
Arum berjalan pelan menuju rumah, sampainya di depan pintu Arum terdiam saat melihat ada seseorang yang sepertinya sangat familiar di depan sana.
"Kakak."
Bersambung
__ADS_1