Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Menenangkan


__ADS_3

Happy reading


Gibran menjalankan motor itu dengan kecepatan kencang. Bahkan laki laki itu tak lagi mempermasalahkan jika Arum tak berpegangan padanya. Sungguh kedatangan Claudia membuat ia badmood.


Arum pun tak banyak berbicara selama di perjalanan, Gadis itu memeluk tubuh Gibran dengan kentang seraya membisikkan kalimat penenang di telinga Gibran. Untungnya memang mereka tidak memakai helm jadi lebih mudah jika Arum ingin menenangkan Gibran.


"Kita berhenti di telaga itu ya," ucap Arum pada Gibran.


Laki-laki itu tak menjawab tetapi langsung membelokkan motor sport itu ke telaga buatan yang tampak indah berbentuk love.


Arum turun dari motor itu diikuti oleh Gibran. Arum dengan lembut menarik tangan Gibran hingga mereka kini sudah duduk di kursi besi yang tersedia di sana untuk pengunjung.


"Sini peluk dulu, kamu kayaknya lagi marah banget ya," ucap Arum merentangkan tangannya menyuruh Gibran untuk masuk ke pelukannya.


Gibran yang melihat itu langsung masuk ke dalam pelukan Arum yang sangat menenangkan dirinya yang saat ini sedang kesal dan marah pada Claudia. Setiap ingat tentang kematian Kiano. Gibran selalu saja seuring-uringan seperti ini, firasatnya yakin jika kalau dia ada hubungannya dengan kematian Kiano. Tapi masalahnya ia tidak ada bukti yang kuat untuk menuduh Claudia sebagai pem*unu*.


"Aku kesel yank, aku juga merasa bersalah pada Kiano. Kenapa saat itu aku tidak masuk sekolah, aku bersalah karena piano hanya memiliki dua sahabat aku dan Claudia. Jika saja saat itu aku bisa berada di sampingnya, piano tidak akan pergi secepat ini," ucap Gibran dengan suara lirihnya membuat Arum terenyuh. Sebesar ini rasa bersalah Gibran pada Kiano.


Tangan gadis itu mulai mengelus lembut rambut Gibran yang membuat Gibran makin mempererat pelukannya.


"Semua sudah berlalu sayang, Kiano juga sudah tenang disisi Allah. Jangan terus-terusan menyalahkan diri kamu dengan apa yang dialami oleh Kiano."


Gibran yang mendengar itu hanya terdiam dalam pelukan sang kekasih. Memang benar ia terus menyalahkan dirinya saat mengingat tentang Kiano karena dirinya tidak ada di saat kejadian itu. Ada dirinya ada di sana mungkin Kiano juga masih ada.


"Sudah ya jangan diingat ingat terus."


"Aku hanya tak habis pikir kenapa kalau dia pergi begitu saja tanpa memberi keterangan pada polisi tentang apa yang dilakukan Kiano dan dia saat berada di atap saat itu. Kenapa wanita itu memilih untuk pergi begitu saja tanpa meninggalkan petunjuk untuk semua orang. Bahkan sampai saat ini kita tak tahu apa yang terjadi pada Kianonsaat itu," ujar Gibran mengendurkan pelukannya kemudian menatap Arum yang senantiasa mendengarkan apa yang diceritakan oleh Gibran.


"Aku juga tak bisa menyimpulkan karena aku tak tahu tentang kejadian itu, mungkin jika aku ada di atap gedung itu aku bisa menghentikan Kiano," jawab Arum mengelus rambut Gibran.


Gibran tak menjawab ia kembali memeluk tubuh gadisnya dengan erat.


"Udah jangan sedih sedih lagi, nggak ada gunanya kamu sedih karena Kiano juga gak akan kembali lagi. Kamu cukup kirimkan dia aja buat dia, jangan menangisi kepergiannya," ucap Arum dengan bijak.

__ADS_1


Gibran menganggukan kepalanya memang tak ada gunanya ia bersedih seperti ini. Tapi tetap saja ia merasa bersedih karena teringat dengan Kiano lagi.


Setelah beberapa saat akhirnya Gibran sudah kembali seperti semula, Arum yang melihat pacarnya sudah mulai tersenyum kepadanya itu mulai bernafas lega.


Kurang lebih setengah jam untuk mengembalikan mood Gibran yang tadi anjlok. Entahlah setiap pertemuan Claudia Gibran selalu begini.


"Udah gak sedih lagi kan?" tanya Arum pada Gibran. Laki laki itu mengangguk saja dengan senyum.


"Sekarang waktunya kamu turuti kemauan aku," ucap Arum dengan semangat.


"Mau kemana lagi?" tanya Gibran menggenggam tangan Gibran dengan senyum.


"Jajan dong, tapi yang halal aja. Masa udah sampai sini gak jajan, nenagin kamu juga perlu tenaga, " jawab Arum dengan semangat.


Jika sudah mengingat jajan tentu saja Arum sangat semangat. Selain gratis karena dibayari oleh Gibran, ia juga bisa merasakan jajanan khas dari kota ini.


Gibran yang mendengar itu tertawa dengan pelan, dibandingkan dengan belanja gadisnya itu lebih suka jajan.


Arum yang ingin bangun dari duduknya itu langsung ditarik oleh Gibran hingga gadis itu terduduk di pangkuan laki laki itu.


Arum yang ingin protes itu seketika menegang kala Gibran melakukan hal yang tak terduga sebelumnya.


"Tapi sebelum itu... Cups."


"Ucapan terima kasih karena kamu sudah mau menenangkan aku," ucap Gibran mengecup bibir Arum dengan lembut.


"Gibran... kamu kebiasaan banget sih nyosor mulu. Masa hukuman sama ucapan terima kasih sama sih," kesal Arum pada Gibran yang hanya tersenyum lebar kala mendapati wajah sang pacar itu memerah karena malu.


"Itu karena aku cinta sama kamu," jawab Gibran menempelkan hidungnya dengan hidung Arum.


"Emm."


Arum tersenyum saat ia merasakan hembusan lembut di bibirnya itu. Reflek saja Arum menempelkan bibirnya pada bibir Gibran. Gibran yang merasakan hal itu cukup terkejut karena Arum sangat sangat jarang memulai dulu seperti ini. Biasanya ia yang memulai dan setelah itu Arum selalu mendiaminya.

__ADS_1


Tapi sekarang ia tak akan menyia-nyiakan hal itu, Gibran menahan tengkuk leher Arum dan mencium bibir itu semakin dalam.


Arum yang tadinya memulai itu malah terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Gibran. Tapi ia tak bisa menolak karena Gibran yang menahan tengkuk lehernya.


"Emhh."


Setelah berberapa saat akhirnya mereka tersadar karena angin yang tiba tiba menerpa mereka.


Gibran melepasnya dengan pelan kemudian laki laki itu menyatukan kening mereka seraya menikmati raut wajah sang pacar yang sangat menggemaskan itu.


Arum yang malu itu langsung menenggelamkan wajahnya di dada Gibran. Sedangkan laki laki itu tertawa kala melihat Arum seperti ini.


Ini adalah rekor ciuman terlama mereka setelah 2 tahun pacaran, biasanya hanya kecupan saja kini sudah ke ciuman itu sudah sangat bagus bagi Gibran.


Gibran menggelus lembut punggung Arum, mumpung suasana lagi sepi. Tak akan ada alasan Gibran untuk sembunyi sembunyi lagi.


"Sayang kamu yang mulai loh," goda Gibran.


Sungguh laki laki itu sangat suka dengan Arum yang malu malu seperti ini daripada yang marah marah tapi tetap saja apapun ekspresi Arum, Gibran sangat suka.


"Ihh jangan mulai, aku tadi khilaf loh," jawab Arum membela diri karena ia sudah terlanjur malu.


Sedangkan Gibran yang mendengar itu kembali tertawa, entahlah kenapa wajah Arum sangat membuat moodnya kembali baik.


"Iya deh iya."


"Katanya mau jajan, ayo..." ajak Arum dengan rengekan kecil yang membuat Gibran sedikit tersentak kala gadisnya ini membuat ia sedikit tera***ang.


"Stop sayang. Ya sudah ayo kita jajan, kamu boleh jajan sepuasnya," ajak Gibran dan dianggukkan oleh Arum.


Mereka berdua akhirnya kembali ke atas motor dan menjalankan motor itu meninggalkan telaga menuju tempat selanjutnya walaupun jam sudah menunjukkan pukul 3 lebih.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2