
Happy reading
Sesampainya di rumah, Arum langsung berjalan masuk ke dalam rumah itu dan menyapa sang ibu yang sedang membuat makan siang untuk keluarga mereka. Saat ini sebisa mungkin makan siang mereka adalah di jam setengah 2 karena, papa bisa pulangnya dari kantor jam segitu.
"Wah udah matang semua aja ma?"
"Iya sayang. Langsung ganti baju dan makan ya, Papa udah ada di perjalanan pulang kantor ini."
"Siap Mama cantik."
Arum terlebih dahulu mengecup pipi sang ibu dengan kilat kemudian berlari menuju kamarnya.
Mama yang melihat tingkah sang putri itu hanya menggelengkan kepalanya. Kadang mama Tiya berpikir apa menikahkan putrinya dengan Gibran sudah menjadi keputusan yang tepat. Melihat tingkah kekanak kanakan yang dilakukan oleh Arum.
Tanpa Mama Tiya sadari, Papa Sandi sudah berada di samping istrinya yang tengah melamun itu.
"Mama kenapa ngelamun?" tanya Papa sandi pada sang istri.
"Eh... Papa kapan sampai?" tanya Mama yang kini malah terkejut melihat suaminya.
"Baru aja."
"Katanya tadi masih di jalan kok udah sampai rumah aja?" tanya Mama Tiya kembali mengaduk sayur yang dimasaknya.
"Masa ya di jalan terus, kan waktu terus berjalan ma."
"Terserah papa aja deh. Sana cuci tangan dan tunggu di meja makan. Sambil nunggu Arum datang."
"Loh Arum udah pulang?"
"Kan hari ini ujian pa, jadi dia pulang awal," jawab Mama Tiya yang dianggukkan oleh Papa Sandi.
Papa Sandi berjalan menuju washtafel dan mencuci tangannya. Setelah selesai laki laki itu mengambil minuman dingin di kulkas.
"Ma, nanti malam papa pulang agak telat ya."
"Gak boleh lebih dari jam 7 malam. Ingat Papa itu masih di tahap pemulihan, kalau gak ingat perusahaan juga Mama gak akan izinin papa buat ke kantor."
"Tapi kan perusahaan itu udah jadi tanggung jawab Papa, Ma. Gak enak sama karyawan kantor kalau Papa sering gak masuk."
"Huhhh Pa, kamu itu belum 100% sembuh. Aku gak mau kalau kamu paksain buat lembur, kepala kamu malah jadi sakit. Kamu baru operasi loh pa. Belum genap 2 minggu kamu keluar dari rumah sakit."
Papa Sandi yang tahu akan kesedihan sang istri itu hanya diam. Ia tahu bagaimana takutnya sang istri dengan keadaannya. Bahkan anak anaknya juga sudah mengingatkan agar Papa Sandi tidak ke kantor dulu sebelum sembuh total tapi hal itu malah diabaikan oleh Papa sandi.
"Maaf ya selalu buat mama khawatir."
Mama Tiya tak menjawab, wanita itu mulai menuangkan panci berisi sayur itu ke dalam mangkuk besar dan membawanya ke meja makan.
"Bi, dapurnya tolong bersihkan ya."
__ADS_1
"Iya nya."
Mama Tiya duduk disamping sang suami, tak lama Arum turun. Gadis itu sudah berganti pakaian tak lupa juga wajah yang tadinya kusut kini sudah segar kembali.
Sampainya di meja makan, Arum sedikit bingung dengan orang tuanya yang diam diaman seperti ini.
"Kenapa kalian diam diam gini? Berantem?" tanya Arum yang sepertinya tak tahu jika raut wajah sang Mama sudah berubah tak seperti tadi.
"Udah jangan banyak tanya, sekarang Makan siang dulu!"
Arum yang mendengar itu menganggukkan kepalanya. Sepertinya ia bertanya juga salah saat ini.
"Mama dan Papa sepertinya terlibat perang dingin," batin Arum mengambil makannya sendiri seraya menatap sang Mama yang sedang melayani sang Papa dengan banyak sayur.
Padahal semua keluarga juga tahu jika papa sangat tidak suka dengan sayur bayam. Tapi Mama yang seolah lupa malah menambah sayur bayam itu ke piring sang Papa.
"Udah ma cukup," ucap Papa menatap piringnya yang kini nasipuj sudah tertutup dengan sayur hijau itu.
"Makan!!"
Bagaikan kerbai dicucuk hidungnya, Papa Sandi mengangguk saja dan mulai memakan makan siangnya. Untungnya Mama Tiya tak menambahkan kuah ke piringnya tadi.
"Pa, ayamnya pa."
Arum memberikan ayam kecap yang ada di sana ke piring sang Papa. Tak tega rasanya melihat papa sandi memakan nasi saja. Arum yakin sayur hijau itu tak akan disentuh oleh Papa.
"Makasih nak."
"Mama sama Papa kenapa diam diaman?" tanya Arum pada Papa.
"Papa mau lembut, Mama gak boleh," jawab Papa Sandi yang membuat Arum membulatkan matanya.
"Pantes aja Mama sampai ngambek gitu. Asal Papa tahu aja ya. Saat Papa di ruang operasi kemarin itu, Mama berberapa kali pingsan dan juga nangis histeris. Aku gak bisa apa-apa saat itu, bahkan kalau gak Gibran bujuk dengan ancaman kesehatan Papa mungkin Mama juga gak akan makan. Gimana perasaan Mama nanti kalau Papa kembali masuk rumah sakit hmm? Mending sekarang papa bujuk mama dan minta maaf, dan ya aku setuju sama Mama. Papa gak boleh lembut apapun alasannya!!!"
Mendengar penjelasan sang putri yang panjang, lebar, kali tinggi itu membuat Papa mengangguk. Segera Papa menghabiskan nasinya dan meminum air mineral itu hingga tandas.
"Papa bujuk Mama dulu."
"Iya, aku izin keluar. Mau jalan jalan."
"Terserah kamu yang penting kamu bisa juara satu."
"Siapp."
Papa Sandi berlari menuju kamarnya, meninggalkan Arum yang masih mengaduk jusnya yang ada disana.
"Jalan jalan? Kemana ya?"
Emang aneh ini anak, udah tahu lagi ujian malah mau jalan jalan. Kalau anak anak lain kan belajar ya kan.
__ADS_1
"Mana Gibran belum pulang lagi."
Akhirnya ia yang tak tahu ingin kemana, ia mulai mengambil motor matic milik salah satu ART di rumahnya. Tenang saja tadi ia sudah izin, yang penting bukan motor sport.
Brum. Ngeng....
****
"Ma, Papa masuk ya," ucap Papa membuka pintu kamarnya dan melihat sang istri sedang duduk di atas kasur itu.
"Pergi aja, gak usah pulang sekalian," jawab Mama Tiya pada sang suami yang berjalan ke arahnya itu.
Entah kenapa ia kini merasa kecewa dengan sang suami yang tak memikirkan kesehatan tubuhnya sendiri. Sebagai seorang istri tentulah ia khawatir dengan kondisi dengan sang suami yang harus aja keluar dari rumah sakit.
"Mama."
Papa Sandi duduk di kasur itu dengan posisinya samping sang istri. Laki laki itu memegang tangan sang istri yang sudah menemaninya dua puluh tahun lebih itu.
"Maafin Papa ya ma. Papa salah," ucap Papa Sandi meletakkan tangan sang istri di pipinya.
Tangis Mama Tiya tiba tiba meluncur walau sudah berkali kali ia tahan. Teringat kembali berberapa hari lalu dimana tubuh sang suami yang terbujur di rumah sakit dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.
Bahkan sekarang saja jahitan itu dikepala sang suami itu tampak belum sepenuhnya kering.
"Mama gak mau sampai papa masuk rumah sakit lagi. Mama sakit pa, Mama gak kuat," ucap Mama Tiya mengelus pipi sang suami.
"Iya maafin Mama ya sayang sudah buat Mama khawatir. Papa janji sebelum Papa sembuh, Papa gak akan lembur walaupun banyak kerjaan."
"Janji ya pa. Papa juga harus jaga kesehatan papa, jangan capek capek. Dan papa harus hati hati kalau lagi nyetir bilang sama pak supir juga suruh hati hati."
"Iya Mama sayang. Udah gak marah lagi kan?" tanya Papa Sandi dan dianggukkan oleh Mama Tiya.
"Papa janji, nanti malam Papa pulang seperti biasa, mau dibawain apa?"
"Es buah."
"Oke siap. Nanti Papa belikan es buah kesukaan Mama," jawab Papa Sandi mengecup telapak tangan sang istri.
Mama Tiya tersenyum kemudian memeluk leher sang suami dengan lembut.
"Tapi Mama mau papa aja hari ini. Gak usah pergi lagi ya."
"Tapi pekerjaan lagi banyak di kantor Mama."
"Papa janji akan menyelesaikan pekerjaan papa dengan cepat. Biar bisa cepat pulang dan peluk Mama lagi "
"Ya sudah."
Mama Tiya juga tak bisa menahan sang suami Jiak ini menyangkut soal pekerjaan. Akhirnya Papa sandi yang sudah berberapa menit di kamar itu pamit pada sang istri dan kembali ke kantor.
__ADS_1
Bersambung