
Happy reading!
Kini Arum dan Gibran berada di dalam mobil Gibran, entah kenapa Gibran akhir akhir ini lebih suka pakai mobil daripada motor. Tapi tak salah juga laki laki itu membawa mobil, karena ia tak ingin paha mulus sang kekasih dinikmati para jantan di luar sana.
Sebelum menjalankan mobilnya itu, Gibran mengambil selimut tipis yang ada di belakang itu dan menutupi paha Arum dengan selimut itu. Memang Gibran selalu membawa selimut itu kemana mana entah apa tujuannya.
"Lain kali pakai yang agak panjang hmm," ucap Gibran. Laki laki itu tak banyak menuntut sebenarnya mungkin hanya sedikit memberi pengertian saja.
Arum yang mendapat perhatian itu tersenyum, inilah yang membuat Arum bertahan dengan hubungan mereka. Gibran yang selalu pengertian padanya dan tidak terlalu menuntut Arum untuk menjadi sosok wanita idaman laki laki itu.
"Makasih sayangku, sengaja emang mau pake celana ini. Bukan mau goda siapa siapa kok, aku juga tahu kamu tadi bawa mobil jadi aku bisa pakai celana pendek ini," ucap Arum dan dianggukkan oleh Gibran.
"Mau aku ganti aja?" tanya Arum yang tiba-tiba bersalah pada Gibran.
Gibran sontak menggelengkan kepalanya pertanda ia tak ingin sang kekasih turun dari mobil lagi.
"Gak usah lagian di kamar aku juga ada rok kamu yang tertinggal dulu."
"Ih tapi aku pake cardigan panjang gini, jelek dong kalau pake rok," ucap Arum dengan cemberut.
"Cantik kok."
Gibran menjalankan mobilnya meninggalkan area rumah Arum. Laki-laki itu membawa mobilnya dengan kecepatan sedang ke lambat karena ia ingin menikmati waktu liburnya dengan sang kekasih walaupun hanya bercanda ria di dalam mobil.
"Yank, kamu naik kelas berapa bulan lagi?"
"3 bulan mungkin, kenapa? Gak sabar ya?" goda Arum menoleh pipi Gibran.
"Iya gak sabar pengen halalin kamu, dan setelah itu aku bisa kekepin kamu tiap hari," jawabnya dengan gelak tawa.
"Ih dasar ya, masa cuma dikekepin aja gak dikasih makan, mati dong aku," ucap Arum dengan canda.
"Gak gitu juga."
Mereka bercanda dan tertawa tentang hal-hal random yang mereka bicarakan. Tangan mereka juga saling bertaut sejak tadi, dengan Gibran yang menyetir dengan satu tangan saja.
"Mau mampir kemana dulu?" tanya Gibran. Biasanya sang kekasih akan mampir ke suatu tempat dulu sebelum ke rumahnya. Itu sudah menjadi hal rutin selama ini.
"Emm mau mampir ke mana ya, emm.."
__ADS_1
Gadis itu tampak memikirkan sesuatu hingga guratan kecil muncul di keningnya. Tanpa sengaja matanya tertuju pada pedagang yang ada di pinggir jalan.
"Eh yank yank yank, berhenti di depan pedanga itu ya," ucap Arum menujuk pedangan makanan itu.
"Oke."
Sesuai perintah Gibran menghentikan mobilnya di pinggir jalan dekat pedagang makanan dan kue-kuean tradisional yang ada di sana. Untungnya jalan raya saat ini tidak padat jadi mobil mereka tak menghalangi jalan mereka.
"Bu, jualan apa?" tanya Arum saat kaca mobil itu sudah diturunkan oleh Gibran. Laki-laki itu hanya mengamati apa yang dilakukan oleh pacarnya itu.
Arum memesan begitu banyak kue tradisional yang dijual ibu l itu. Setelah ibu itu memberikan dua kresek makanan itu pada Arum, Gadis itu menatap Gibran dan mengulurkan tangannya.
Gibran memberikan uang yang ada di mobil itu pada Arum, kemudian Arum memberikannya pada penjual kue itu.
"Kembaliannya buat ibu," ucap Arum yang mendapat balasan terima kasih dari ibu itu.
Setelah itu Gibran kembali menjalankan mobilnya meninggalkan jalan itu. Arum menatap makanan yang sudah dibelinya.
"Yank.."
Cups
"Semoga rezekinya lancar, dan bisa jajanin aku tiap hari," ucap Arum kembali ketempatnya.
Gibran masih sedikit ngeblank dengan apa yang dilakukan oleh Arum. Laki-laki itu seketika tersadar jadi lamunannya kemudian menarik sudut bibirnya hingga tercipta senyum manis itu.
"Aamiin, doa istri selalu diijabah sama Allah."
Gibran mengelus rambut Arum dengan lembut dan dibalas senyum manis oleh Arum.
Setalah 45 menit berkendara akhirnya mobil itu sampai di depan rumah Gibran. Waktu tempuh yang biasanya hanya sekitar 25 menit sampai 30 menit kini harus ditempuh selama 45 menit gara gara Gibran yang tak mau cepat-cepat sampai rumah.
Mereka berdua turun dari mobil dengan tangan Arum yang menenteng dua kresek berisi makanan yang tadi ia beli.
Terlihat Mama Anin yang sedang berada di teras membaca majalah ditemani teh melati kesukaan Mama Anin.
"Mama."
"Anak Mama udah sampai, kok lama banget sayang?" tanya Mama Anin pada Arum.
__ADS_1
Nah kan, ini nih yang membuat Gibran malas mengajak Arum ke rumahnya jika ada Mama di rumah. Seakan-akan ia dilupakan di rumah ini padahal Ia adalah anak kandung dari mama dan Papanya. Walaupun hal itu tidak membuat Gibran marah dengan Arum karena merebut perhatian orang tuanya. Laki-laki itu malah senang jika keluarganya menerima Arum dengan baik di keluarganya.
Setelah beberapa saat di luar memengarum mengajak kedua anaknya masuk ke dalam rumah. Arum yang melihat pipi itu memberikan satu kresek berisi kue kue tradisional itu untuk dibagikan kepada pekerja di rumah ini sedangkan satu kresek untuk disajikan.
"Harusnya gak perlu bawa bawa segala nak."
"Hehe gak apa apa Ma. Lagian pakai uang Gibran juga, Arum mana pernah keluar duit kalau sama anak Mama," ucap Arum dengan jujur yang membuat Mama Anin tertawa.
Memang sudah menjadi kebiasaan Arum akan cepat-ceplos dan sangat jujur kepada orang yang lebih tua dari dirinya. Mama Anin yang mendengar Arum berbicara seperti itu bukannya marah karena anaknya diporotin malah tertawa karena Arum hanya menggunakan sedikit uang Gibran.
Padahal sudah berulang kali Mama Anin mengatakan untuk memakai uang Gibran yang banyak. Mau shopping atau apa terserah tapi ya Arum jarang ke mall malah sering jajan ya akhirnya setiap pergi keluar pasti Gibran harus membawa uang receh.
Mereka bercanda ria di ruang tamu itu kemudian tak sengaja tatapan Arum mengarah pada kotak kado berwarna hitam yang ada di atas meja. Jangan lupakan pita merah yang sangat mencolok di sana.
"Nah itu paket yang tadi Mama terima."
Gibran mengambilnya dan melihat dari siapa kotak itu. Tapi di luar tak ada apapun, Arum yang penasaran itu langsung mendekat ke arah Gibran dan membantu sang kekasih untuk membuka kado itu.
Setelah kita ditarik oleh Gibran, mereka melihat sebuah kartu di atas kain itu.
"Dari Lidia, Yank," ucap Arum yang membuat Gibran menatap kertas itu.
Mereka berdua membaca kertas itu bersama, kertas yang berisi permintaan maaf Lidia pada Arum dan Gibran dan juga memberikan selamat karena sebentar lagi mereka akan menikah.
"Darimana dia tahu kita mau nikah?" tanya Gibran pada Arum yang dijawab gelengan oleh Arum.
"Lihat kadonya apa?" tanya Arum mengambil apanyang ada di depannya itu.
"Banyak banget, ini buat siapa? Gak mungkin kamu pake gaun ini yank," ucap Arum menatap Gibran kemudian menatap gaun yang dipegangnya.
"Buat kamu yank. Nih ada tulisannya, kado pernikahan kita. Padahal kita belum menikah tapi udah dapat kado aja," ucap Gibran pada Arum.
Mama yang melihat itu sedikit bingung tapi ia mulai paham setelah membaca kertas yang dipegang oleh Gibran.
Kado itu berisi satu set perhiasan dan juga gaun berwarna biru muda yang sangat cantik dengan pernak-pernik di sana sangat indah.
Kalau masalah maaf sebenarnya mereka tak ambil pusing selagi Lidia tidak mengganggu mereka lagi.
Bersambung
__ADS_1