Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Tentang Nikah


__ADS_3

Happy reading


Sedangkan di sisi lain para sahabat Arum dan Gibran yang sudah selesai memakan-makan sore mereka langsung pamit kepada Bibi Surti dan Pak Yaman untuk pergi ke pantai menyusul dua anak manusia yang sudah meninggalkan mereka tadi.


Karena jarak pantai yang lumayan dekat mereka memutuskan untuk jalan kaki saja. Apalagi mereka ingin menikmati sunset dari pantai. Pasti sangat indah.


"Gak sabar mau main air," ucap Keysha dan dianggukkan oleh Yanti.


Memang sedari dulu kedua kakak beradik ini sangat suka bermain air di pantai. Tapi karena kesibukan orang tuanya mereka harus memendam keinginan itu dengan bermain di kolam yang pemandangannya itu itu saja.


"Huh sangat membosankan," begitulah batin mereka dulu saat ingin bermain air.


"Kak, aku sudah bawa baju baju koleksi kita. Saatnya kita coba," ucap Yanti menunjuk paper bag yang ia bawa di tangannya.


"Oke, kita harus penuhi keinginan kita dulu untuk main air sepuasnya," ucap Keysha menggandeng tangan sang adik dengan semangat.


Karena kesukaan mereka terhadap air membuat mereka berdua membeli banyak pakaian renang dan pakaian kurang bahan untuk di pakai di pantai nanti.


Yanti dan Keysha berjalan di depan sedangkan Vito dan Reno berjalan di belakang mereka. Keduanya tampak tersenyum melihat kekasih mereka yang sangat ceria sore ini.


Sedikit banyak mereka tahu jika pasangan mereka ini sangat menyukai air. Tapi belum ada waktu saja untuk pergi ke pantai.


"Sayang ingat ya saat di pantai nanti kamu gak boleh terlalu capek. Main air boleh tapi gak boleh lari lari hmm," peringat Reno menatap sang istri yang sedang tersenyum itu.


"Hmm iya sayang. Aku ingat kok, ada baby yang harus aku jaga," jawab Keysha menoleh ke arah belakang dan tersenyum lembut pada Reno.


Sampainya mereka di pantai, mereka mencari keberadaan Gibran dan Arum yang katanya ada di pantai ini. Tapi mereka tak menemukan kedua anak manusia itu. Karena saking panjangnya pantai itu tak mungkin mereka berjalan menelusuri pinggir pantai sampai ujung.


Akhirnya mereka berhenti disatu titik dan bermain air disana. Keysha dan Yanti juga sudah berganti pakaian dengan pakaian yang cukup se**i menurut para pasangan mereka.


"Hais mereka itu."


"Cocoknya dikasih hukuman apa ya kak?" tanya Vito menatap tajam kearah Yanti yang sedang berjalan menuju ombak yang tenang itu.


"Kalau kakak sih Kuring di kamar sampai pagi. Tapi buat kamu, jangan coba coba kamu hukum Yanti dengan hukuman yang sama dengan kakak. Bisa habis di kek kamu sama kakaknya," ucap Reno berjalan menuju pohon kelapa itu.


"Tapi gak ada salahnya juga ngehukum Yanti dengan hal yang sama. Asal masih bisa menjaga dia sampai kita nikah nanti," gumam Vito mulai melepaskan kaos yang ia pakai kemudian berjalan menuju Yanti yang sedang berendam itu.


Dengan usil laki laki itu memeluk tubuh Yanti dari belakang hingga membuat Yanti kertejut.


"Vitoooo."


"Pakaian kamu buat aku gak sabar pengen hukum kamu malam ini," bisiknya mengelus lembut perut Yanti yang polos.


Glek


"Gawat," batin Yanti.


"Aku aku gak mau ihh."

__ADS_1


"Kamu sudah mempertontonkan apa yang seharusnya milikku pada orang lain. Kamu rela kalau aku gak pakai celana di pantai ini hah?" tanya Vito menampar pelan bokong Yanti hingga membuat air itu berkecipak ke atas.


"Ahhh kamu mahhh."


Yanti berbalik badan hingga mereka saat ini saling berhadapan kemudian betapa terkejutnya saat Vito kini memperlihatkan bagian atas tubuhnya.


"Kok pake lepas baju sih? Sengaja mau pamer dada hah?"


Plak


Yanti menampar dada Vito dengan keras hingga membuat laki laki itu mengaduh dibuatnya.


"KDRT kamu," ucap Vito mencipratkan itu ke wajah Yanti.


Yanti yang tak terima itu langsung membalas apa yang dilakukan oleh Vito. Hingga akhirnya mereka bermain air yang membuat rambut mereka ikut basah.


Keysha yang sudah menepi itu menghampiri suaminya yang sedang duduk santai di bawah pohon kelapa itu dan mengajaknya untuk bermain air.


"Ayo main papa," ajak Keysha menarik tangan suaminya yang tampak malas untuk ikut bermain air.


"Gak mau sayang, aku gak bawa baju ganti," jawab Reno menolak ajakan istrinya untuk bermain air.


Mendengar penolakan dari suaminya itu membuat Keysha sedih. Wanita hamil yang memakai pakaian sedikit sopan itu langsung terduduk di pasir dekat suaminya.


"Hiks hiks papa gak mau main sama mama nak, kamu jangan sedih ya. Mama aja yang sedih," ucapnya dengan nada yang sudah terisak seraya mengelus perutnya yang sudah terlihat menyembul.


Sontak melihat hal itu Reno langsung kaget karena istrinya terduduk di pasir dengan air mata yang sudah mengalir deras ke pipi cubby milik sang istri.


Tangisan itu semakin menjadi jadi karena merasakan ucapan lembut di punggungnya.


Reno yang mendengar tangisan kencang sang istri itu semakin panik dan menatap orang orang di sekitar yang memperhatikan mereka dengan tatapan tak terbaca.


Akhirnya dengan sedikit terpaksa Reno mengiyakan apa yang diinginkan sang istri untuk bermain air. Walaupun ia paling malas yang namanya main air tapi ia tak bisa melihat wajah istrinya semakin memerah karena tangisan yang tak kunjung mereda.


"Kamu terpaksa ya," ucap Keysha menghapus air matanya seraya menatap sang suami dengan tajam.


"Enggak terpaksa, ayo main air sampai kamu puas. Aku tak mau anak kita ileran gara gara aku yang gak menuhin keinginan dia," ucap Reno membangunkan sang istri yang sedang duduk itu.


Akhirnya mereka berdua berjalan menuju air pantainya yang sedikit surut itu dengan tangan yang bergandengan.


Tanpa mereka sadari internasional mereka juga disaksikan oleh Arum dan Gibran yang masih berada di warung tempat mereka membeli es kelapa tadi.


"Mereka lucu ya, hahaha. Kayaknya Kak Reno tertekan banget sama keadaan Kak Keysha yang lagi hamil seperti itu," ujar Arum dengan tawa begitupun dengan Gibran.


Gibran tahu selama ini Reno sangat anti dengan yang namanya bermain air. Bukan alergi, Reno tak memiliki alergi terhadap air tapi memang dasarnya bocah gak mau dingin aja.


Bahkan setahu Gibran, Reno bisa mandi hanya menghabiskan waktu 5 menit atau bahkan kurang dari 5 menit.


"Wajar sayang, kan Keysha lagi hamil. Tapi semoga kamu nanti kalau hamil gak kayak Keysha gitu ya. Malu sama orang orang, tapi kalau cuma sama aku aja gak apa apa. Aku bakal kabulin apa yang menjadi keinginan kamu dan baby kita nanti," jawab Gibran mengelus lembut perut Arum yang sangat rata.

__ADS_1


"Ih masih lama. Niatnya aku malah mau nunda momongan dulu sampai aku lulus SMA. Gak bisa dibayangin gimana susahnya hamil saat masih SMA. Tapi kalau Allah menghendaki agar kita bisa cepat cepat punya momongan ya gak apa apa aku ikhlas jalaninya kalau sama kamu," ucap Arum menggenggam tangan Gibran yang tadi mengelus perutnya.


Gibran tersenyum lembut kemudian menarik tubuh sang kekasih ke dalam pelukannya. Mereka menatap pemandangan indah itu dari sana dengan posisi saling memeluk sesekali Gibran mengecup lembut rambut halus sang pacar itu.


"Mau balik ke vila aja? Aku kangen berduaan sama kamu," tawar Gibran yang mendapat gelengan kepala oleh Arum.


"Mau lihat sunset."


"Kamu tadi bawa hp gak?" tanya Arum melepaskan pelukan itu dan menatap sang pacar dan mengangguk.


Laki laki itu mengambil ponselnya yang berada di saku celananya.


Arum memakai ponsel Gibran untuk membuka aplikasi Instagram milik pacarnya. Memang jarang sekali gadis itu membuka apk itu. Bagi mereka privasi di ponsel itu tidak ada apa apanya. Mereka juga saling jujur tentang isi ponsel masing masing. Tentang apa yang disimpan oleh Gibran di galeri hpnya juga Arum tahu.


"Foto bareng yuk, buat dipostingnya di story."


Gibran yang mendengar itu menganggukkan kepalanya dan mengambil pose mereka berdua. Jarang jarang mereka memposting foto berdua di story Ig mereka masing masing.


"Kamu cantik," ucap Gibran secara tiba tiba yang membuat Arum langsung menatap Gibran dengan bingung.


Tangan gadis itu menempel di kening sang pacar kemudian merasakan suhu tubuh Gibran.


"Gak panas. Kamu kenapa tiba tiba ngomong aku cantik? Gak biasanya deh," ujar Arum menarik kembali tangannya mengambil foto sebanyak banyaknya dari ponsel Gibran.


"Emang gak boleh? Kamu memang cantik sayang. Aku ingat, aku jarang banget bilang kamu cantik dan aku menyukaimu. I love you my girlfriend ups my wife," ucapnya yang memang menganggap Arum adalah istrinya.


"Love you too my boyfriend."


"Kok masih boyfriend?"


"Kan emang kamu masih pacar aku, kalau kita udah nikah baru my husband," jawab Arum menggoda sang pacar yang tampak muram karena ucapan Arum tapi memang benar itu adanya.


Arum tertawa melihat wajah sang pacar yang sangat tampan walau sedang muram seperti ini. Hahahah seperti tidak mendapatkan mainan yang diinginkan.


"Jangan kayak anak kecil," ujar Arum meletakannya ponsel mahal itu di atas meja dekat es kelapa mereka.


"Gak."


"Ulululululu anak Mama ngambek ya," goda Arum mencolek dagu sang pacar hingga membuat Gibran makin muram.


Hanya gara gara tak disebut my husband saja Gibran seperti ini. Sangat kekanakan kanakan sekali Gibran ini tapi Arum suka.


"Makanya kamu doa yang kenceng biar aku cepat lulus dan kita nikah."


"Hah nunggu kamu lulus 1 tahun lagi dong, enggak ada pokoknya kamu naik kelas 3 aku mau kita nikah titik. Lagipula secara finansial aku sudah mampu sayang, walaupun nanti banyak batu gronjalan dalam kehidupan kita tapi kita bisa lewatin ini sama sama," jawab Gibran yang tak setuju dengan pikiran Arum yang menunggu lulus sekolah.


"Emang kamu mau nikah cepet cepet mau ngapain sih hmm? Kalau mau gituan aja aku gak mau ya. Kita harus siap mental juga kalau mau nikah. Jangan cuma enak enak aja," ucap Arum dan dianggukkan oleh Gibran.


Sebelumnya ia sudah dikasih wejangan oleh kedua orang tuanya tenang pernikahan dan ia paham semua itu.

__ADS_1


"Aku bisa dan kita bisa lewatin ini sama sama. Aku janji."


Bersambung


__ADS_2