
Happy reading
Ting
GibranLv
Sayang, aku gak bisa jemput kamu. Ada ujian mendadak nanti, kebetulan dosen yang buat pagi ini lagi keluar jadi ujiannya di ganti sore hari.
Kamu gak apa apakan?
Anda
Iya Sayang nggak apa-apa. Aku bisa suruh pak Tiyo buat jemput aku pulang kok atau enggak naik taksi online kayak biasanya.
GibranLv
Beneran gak apa-apa?
Sebenarnya aku mau bolos dari ujian kali ini tapi aku udah keseringan Bos takut nanti malah ngulang tahun depan.
Anda
Jadi kamu udah sering puas ujian? Kenapa sih kamu gak prioritasin kuliah kamu aja. Kamu harus cepat lulus kerja dan dapat uang banyak 🤣😂😂
GibranLv
Bagi aku kamu adalah prioritas utama, kalau kampus iya sih penting tapi tidak sepenting kamu.
Anda
Halah gombal. Ya sudah kalau gitu aku mau belajar bentar buat jam ke 2.
GibranLv
Iya sayang, kamu harus fokus sama ujian kamu.
Anda
Hmm
Ini Arum berada di gazebo bersama kedua sahabatnya dan juga Sania yang memang tadi disuruh untuk gabung bersama mereka.
Sebenarnya Yanti dan Vito ingin mempertanyakan kenapa Arum menyuruh Sania untuk bergabung dengan mereka. Tapi hal itu ya diurungkan karena sandinya masih ada di dekat mereka.
Tak lama seorang pemuda yang tak lain adalah anak dari pemilik kantin sekolah mereka datang membawa dua mangkok bakso dan juga 1 mangkok mie ayam dan 1 piring mie gacoan yang tak lain adalah menu baru di kantin.
"Makasih mas."
"Iya sama sama neng, den."
Tak mungkin kan mas-mas itu hanya bilang Neng sedangkan di sana ada Vito yang duduk di dekat Yanti.
Setelah memberikan uang pada mas mas itu, Arum dan teman temannya itu mulai memakan makanan yang sudah ada di depan mereka.
"Yank, mie gacoan ini enak banget deh. Kamu mau coba?" tanya Vito pada Yanti.
"Gak mau kayaknya pedes banget. Pangsitnya aja sini aku mau," jawab Yanti mengambil 2 pangsit besar yang ada di piring itu dan meletakkannya di atas baksonya.
__ADS_1
"Bagi satu yank, kan punyaku juga mau aku kasih pangsit."
"Nah itu ada yang kecil kecil. Jangan pelit jadi pacar nanti rejekinya seret," canda Yanti dengan santainya memakan pangsit yang ada di mangkuknya itu.
Akhirnya Vito mengikhlaskan pangsit yang tadi ada di piringnya itu. Sania menatap interaksi itu dengan bingung, Arum yang mendapati Sania itu hanya bisa tersenyum tipis.
"Mereka memang seperti Tom and Jerry tapi hati mereka baik dan yah pasangan yang serasi. Jadi kamu jangan kaget kalau kedepannya melihat hal-hal absurd yang mereka berdua lakukan," ujar Arum yang membuat Sania menganggukkan kepalanya.
"Kita bukan Tom and Jerry ya say, kita manusia. Masa cantik-cantik gini dikatain mirip tikus, lagian ya Vito walaupun gitu juga ganteng gak mirip sama kucing kayak tom yang warnanya abu abu," seru Yanti tak terima jika mereka disamakan dengan Tom and Jerry.
"Iya bener banget, Tom and Jerry gak pernah akur gitu. Kalau kita kan nggak pernah berantem," tambah Vito seraya memakan mie yanganda di piringnya.
"Iya iya gak mirip Tom and Jerry."
Mereka berempat akhirnya terlibat dengan pembicaraan yang santai sekaligus dengan canda tawa dari mereka. Sania yang baru pertama kali berinteraksi dengan para most wanted itu tak menyangka jika mereka bertiga sangat welcome dengan dirinya walau masih canggung.
Sania sadar dirinya hanya gadis yang masih baru dan belum terlalu dekat dengan mereka.
Kedekatan mereka berempat membuat para gadis yang ingin berteman dengan Arum dan Yanti seketika iri dengan Sania yang bisa bergabung dengan mereka.
Setelah beberapa saat mereka berada di gazebo itu akhirnya bel jam kedua berbunyi.
Arum mulai membereskan mangkok baksonya untuk diberikan nanti. Semoga tidak hilang mangkuk dan piring itu.
****
Tak terasa kini sudah waktunya untuk pulang memang lebih awal dari jam-jam biasanya karena ada ujian.
Arum yang sudah memesan taksi online itu menunggunya di pos satpam, sedangkan Yanti dan Vito sudah pulang terlebih dahulu dengan motor sport Vito. Sejak Yanti dan Vito pacaran, Yanti jarang membawa mobil dan diantar supir.
"Dia mau naik bis ya?" tanya Arum pada dirinya sendiri.
Entah kenapa kakinya merasa tergerak untuk mendekati Sania yang ada disana. Arum langsung membatalkan pesanan taksi online itu. Arum berjalan mendekati Sania dan menyapa wanita itu.
"Mau nunggu bus?" tanya Arum pada Sania.
"Eh iya, mungkin bentar lagi bakal datang."
"Kamu gak dijemput pacar kamu? Kok malah disini?" tanya Sania yang bingung. Biasanya gadis itu akan menunggu pacarnya itu di post satpam tapi kini Arum malah ada di halte bus bersama dirinya.
"Dia ada ujian sore, aku juga gak bilang kalau hari ini pulangnya siang. Jadi gak dijemput," jawab Arum dengan jujur.
Sania menganggukkan kepalanya pertanda ia paham dengan apa yang diucapkan oleh Arum.
Tak menunggu lama akhirnya bus yang mereka tunggu sampai di depan halte bus. Arum dan Sania langsung masuk ke dalam bus itu.
Arum bukannya cewek yang gak tahu soal naik bus, tapi memang jarang. Dulu Arum juga pernah naik angkot saat pulang dari pasar.
Arum dan Sania duduk di belakang, agar bisa santai jika ingin berbincang bincang.
"Lu tiap hari naik bus?" tanya Arum pada Sania.
"Iya udah biasa, mau naik ojek juga sayang uangnya."
Arum hanya menganggukkan kepalanya kemudian menatap ke depan. Ternyata banyak juga anak anak SMA yang juga naik bus. Ada manfaatnya juga Gibran tak bisa menjemputnya. Dengan begini ia bisa naik bus kan.
Bus itu berjalan membuat Arum langsung menolehkan pandangannya menuju luar bus itu.
__ADS_1
"Gimana ujian tadi?" tanya Sania membuka pembicaraan pada teman barunya.
"Lumayan sih, tapi ya gak gampang. Emang ada ujian yang gampang? Kalau di ruangan lu tadi gimana?" tanya balik Arum menatap Sania yang tampak lelah.
Mungkin efek dari apa yang dilakukan tadi pagi ditambah hari ini adalah hari pertama ujian.
Mereka berbincang dengan santai hingga kini obrolan mereka menuju soal hamil. Sania takut jika dirinya hamil di luar nikah, pasti orang tuanya akan sangat hancur. Kehilangan kehormatannya saja sudah membuat Sania hancur berkeping keping.
"Kamu punya obat kontrasepsi?" tanya Arum tanpa ba bi bu. Sania yang mendengar itu langsung menggelengkan kepala.
"Terakhir kamu haid kapan?"
"Bulan lalu."
"Kita mampir apotek aja dulu, beli obat buat kamu. Jaga jaga aja ya San, aku gak mau kalau kamu sampai hamil di luar nikah."
"Masa depan kamu masih panjang dan kamu juga harus sukses dulu. Jangan sia siakan beasiswa kamu saat ini."
Arum hanya memikirkan masa depan Sania, gadis itu prihatin dengan apa yang di lalui oleh Sania. Walaupun anak itu adalah rejeki yang Tuhan titipkan sama Kita.
Tak berberapa lama akhirnya bus itu berhenti yang membuat Arum dan Sania juga ikut turun karena mereka sudah sampai di depan apotek.
Keduanya berjalan menuju apotek itu dan membeli obat pencegah kehamilan. Arum yang memang sudah biasa membeli obat seperti ini sudah tak heran lagi dengan tatapan mbak mbak apoteker itu padanya.
"Buat Mama saya mbak. Jangan berpikir yang negatif," ucap Arum dengan santainya yang membuat Sania bingung dan sedikit curiga. Apa Arum pernah membeli hal semacam ini sebelumnya.
Setelah mendapat apa yang di beli, Arum menyerahkan kantong plastik itu pada Sania.
"Terima kasih ya Rum. Gue gak tahu gimana jadinya kalau lu gak ada tadi."
"Sama sama, lagian gue juga gak tega kali lihat lu. Kalau gue punya kekuatan super, udah gue cincang itu pak Tua," jawab Arum dengan menggebu gebu. Dalam pikirnya kok ada ya orang yang seperti itu, udah tua bukannya banyak ibadah malah makin jadi.
Sania yang mendengar itu tersenyum dengan tulus. Mungkin inilah sisi lain dari Arum yang tak banyak teman temannya tahu.
"Udah lu minum dulu itu obat, biar gue yang cari taksi."
Sania mengambil air minum yang ada di dalam tasnya kemudian meminum obat itu sedangkan Arum sedang mengotak Atik ponselnya untuk memesan taksi online.
Setelah berberapa saat akhirnya taksi itu datang, Arum mengajak Sania untuk ikut masuk ke dalam taksi.
Taksi itu mulai melaju meninggalkan area apotek itu dengan kecepatan sedang menuju alamat Sania baru ke alamat Arum.
"Sekali lagi terima kasih ya Rum."
"Iya sama sama."
Sesampainya di rumah sederhana milik keluarga Sania, gadis itu keluar dari taksi itu dan melambaikan tangannya pada Arum.
"Besok kalau berangkat agak siang aja. Tunggu gue di pos satpam."
"Oke makasih sekali lagi."
"Iya."
Setelah mengantarkan Sania pulang, kini waktunya pak sopir itu yang mengantar Arum pulang ke rumahnya.
Bersambung
__ADS_1