Mantan Tapi Sayang

Mantan Tapi Sayang
Dasar anak muda


__ADS_3

Happy reading


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam tapi Arum belum juga bisa tidur. Ia menatap ke arah Yanti yang sudah terlelap seraya menghembuskan nafasnya pelan.


Arum mengambil ponselnya kemudian mulai mengetikkan pesan dan dikirimkannya ke Gibran. Entahlah laki-laki itu masih bangun atau tidak yang pasti ia ingin teman ngobrol karena ia belum bisa tidur.


Anda


Yank aku gak bisa tidur. Kamu udah tidur?


Tak lama kemudian Gibran membalas pesan Arum hingga membuat gadis itu tersenyum dengan lembut karena mendapati sang pacar juga belum tidur.


GibranLv


Sama aku juga belum tidur, mikirin kamu jadi gak bisa tidur 🫣


Arum yang membaca pesan dari Gibran itu tersenyum dengan lembut kemudian membalas kembali pesan Gibran.


Anda


Vc yuk. Aku gak mau begadang sendiri ya.


Beberapa detik setelah ia mengirimkan pesan itu Gibran langsung memanggil Arum dengan panggilan video.


Wajah tampan Gibran langsung terlihat jelas di layar ponsel mahal itu. Keduanya sama-sama tersenyum kalau mendapati mata mereka masih jreng.


"Yank pas lihat wajah kamu aku jadi pingin tidur bareng lagi deh," ucap Gibran pada Aruk yang hanya tertawa dengan kecil.


Tak mungkin ia tertawa lantang saat sahabatnya sedang tertidur. Arum tahu rasanya tidur nyenyaknya diganggu oleh orang, dan itu sangat tidak enak dan sangat mengesalkan.


"Tidur di ruang tamu lagi gimana?" tanya Arum yang sejujurnya ingin memeluk tubuh Gibran yang sangat wangi itu.


"Boleh ayo ke rumah tamu jangan lupa bawa selimut," jawab Gibran dan dianggukkan oleh Arum.


Gadis itu mulai mengambil selimut yang ada di lemari dan keluar dari kamar itu bersamaan dengan Gibran yang keluar dari kamarnya.


Panggilan video itu langsung diputus oleh Gibran saat melihat pacarnya ada di depan pintu kamar. Gibran langsung menghampiri Arum dan mengajak gadisnya itu berjalan menuju ruang tamu.


Walaupun masih ada kamar lagi satu tapi mereka memutuskan untuk tetap tidur di ruang tamu. Keduanya tak ingin khilaf yang lebih jauh karena berduaan di dalam kamar. Mending mereka tidur di ruang tamu agar tak menimbulkan fitnah di kemudian hari.


"Sudah mulai kecanduan tidur sama aku ya?" goda Gibran meraih pinggang pacarnya yang sangat ramping.


Arum yang mendengar itu hanya mendelikan matanya mendengar godaan dari sang pacar itu. Tapi memang benar sih mereka sudah mulai kecanduan untuk tidur bersama, hanya tidur bukan ngapa ngapain.

__ADS_1


"Emang kamu enggak?"


"Iya sih." Kiduanya saling tawa, karena mereka sama-sama merindukan pelukan saat tidur.


Sampainya di ruang tamu Gibran langsung menjadikan sofa itu menjadi tempat tidur sedangkan harum mulai mengambil bantal yang ada di sana kemudian naik ke atas sofa itu.


Bughh


"Argghh enak banget walau tak seempuk di kamar," ucap Arum dan dianggukkan oleh Gibran.


Gibran juga ikut naik ke tempat tidur itu dan masuk ke selimut yang sama dengan yang dipakai oleh Arum.


Hangat, itulah yang mereka rasakan kalah tubuh mereka saling bersentuhan. Arum dan Gibran saling berhadapan dengan lengan laki-laki itu menjadi bantal Arum.


"Pulang dari Bali kita nikah yuk yank," ajak Gibran mengelus lembut rambut sang kekasih.


Arum yang mendengar ajakan dari Gibran itu menganggukkan kepalanya, tapi beberapa detik kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya pertanda ia tak setuju jika pulang dari Bali langsung nikah.


"Kita bakal nikah tapi nggak pulang dari Bali juga, kan masih ada hari-hari nanti. Kita harus nikmati masa-masa pacaran kita sekarang. Jangan tergesa gesa," ucap Arum denagn senyum.


Tidur bersama dengan lawan jenis seperti ini memang sangat berbahaya untuk para perempuan tapi mau bagaimana lagi mereka tidak bisa tidur untuk saat ini.


"Tapi..."


"Ssttt nanti orang rumah malah mikir yang nggak-nggak kalau kita langsung nikah pulang dari sini," ujar Arum pada Gibran.


Ia ingin dinikahi secara baik-baik oleh Gibran dan keluarganya. Hingga bisa dipandang terhormat oleh mereka dan orang-orang di sekitar mereka.


"Iya sih, aku juga gak mau nikahi kamu dengan cara seperti itu. Aku ingin pernikahan kita baik dari awal hingga akhir. Aku juga ingin menjaga kehormatan kamu hingga resmi menjadi istriku," ucap Gibran pada Arum dengan sangat lembut.


"Heem, janji ya."


Arum mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Gibran. Gibran yang melihat itu hanya tersenyum karena tingkah Arum yang mirip anak SD.


"Kayak anak SD aja pake janji janji segala," ujar Gibran yang tetap menautkan jari kelingkingnya ke jari Arum.


Senyum manis itu terpatri di bibir Arum dan juga Gibran. Mereka memang sedikit nakal tapi mereka juga masih tahu batasan orang pacaran.


Apalagi mereka sudah dipercaya oleh kedua orang tua mereka untuk saling menjaga satu sama lain hingga mereka menikah nanti.


Di ruang tamu itu Gibran dan Arum saling berpelukan seraya bercerita dan ngobrol dengan tenang. Laki laki itu tampak senantiasa menanggapi apa yang diucapkan oleh Arum.


Hingga pukul satu lebih seperempat, keduanya mulai ngantuk dan memutuskan untuk tidur.

__ADS_1


Arum dan Gibran saling berpelukan untuk mendapatkan kehangatan dalam diri mereka. Dan tak lama setelah itu keduanya berlalu menuju alam mimpi.


***


Tak terasa hari sudah mulai pagi, sebuah sinar dari sang surya menyinari tubuh pasangan yang sedang tertidur lelap di kamar mereka yaitu Reno dan Keysha.


Berbeda dari biasanya yang selalu bangun siang, keduanya kini sudah bangun pada pukul setengah enam pagi.


"Yank pingin makan mangga deh," ucap Keysha saat melihat Reno masih bergelung dengan selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.


"Mangga muda apa tua?" tanya Reno pada sang istri.


Laki-laki itu sebisa mungkin untuk memenuhi apa yang diinginkan oleh istrinya itu yang sedang mengandung buah hatinya.


"Yang muda tapi dikasih bubuk cabe," jawab Keysha dan dianggukkan oleh Reno.


Seingatnya kemarin Pak Yaman membawa pulang buah mangga yang diletakkan di kulkas pasti saat ini masih ada.


Reno bangun dari jaringannya dan keluar dari kamar itu menuju ruang makan diikuti oleh Keisha yang ingin langsung makan di dapur.


Saat melewati ruang keluarga, tanpa sengaja tatapan mereka tertuju pada sofa ruang tamu yang sudah dialihfungsikan menjadi tempat tidur.


"Ya Tuhan, mereka tidur disana?" tanya Keysha yang sangat syok melihat sahabatnya tidur dengan saling berpelukan dengan pacarnya.


Ternyata hubungan mereka sudah sedekat ini hingga berani untuk tidur bersama dan peluk-pelukan seperti itu. Begitulah pikir mereka, saat rindu ingin membangunkan keduanya Keisha menahan sang suami agar membiarkan Gibran dan Arum untuk tidur.


Sepertinya pasangan itu sangat lelah hingga jam segini belum bangun. Biasanya Arum adalah orang pertama yang bangun tapi kali ini Arum malah masih nyaman dalam pelukan Gibran.


"Ayo ke dapur."


Reno menganggukkan kepalanya kemudian mengajak sang istri untuk masuk ke dapur dan mengambil buah mangga yang ada disana.


Setelah mendapatkan buah mangga muda yang ada di kulkas, laki-laki itu mulai mengupas kulit mangga dengan sangat telaten sedangkan Keisha mengambil bubuk cabe yang ada di lemari.


"Sayang jangan yang pedes, yang sedang aja," ucap Reno menatap cabai bubuk yang sangat merah itu. Tentu laki-laki itu tahu jika itu adalah bubuk cabe yang paling pedas yang ada di sana.


"Terus yang mana?" tanya Keysha.


Reno menunjuk satu wadah yang sangat berbeda dari wadah lainnya. Itu adalah bubuk cabai yang sudah ya campur dengan gula halus hingga membuat rasanya tak terlalu pedas. Benda itu ia bahwa karena Keysha sangat suka dengan bubuk cabai.


Dengan patuh Keisha mulai menganggukkan kepalanya kemudian mengambil wadah itu.


Reno yang sudah selesai mengupas buah mangga itu langsung memotongnya kecil-kecil dan meletakkannya di dalam piring. Geisha yang melihat itu sontak langsung menaburkan bubuk cabai yang tadi ia ambil dari lemari.

__ADS_1


Akhirnya ngidam Keysha terpenuhi untuk pagi ini. Entahlah untuk siang dan sore nanti karena setelah ini mereka akan mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang.


Bersambung


__ADS_2