
Happy reading
Malam harinya Mama Anin dan Papa Abi kini sudah masuk ke dalam kamar karena ada yang harus mereka kerjakan di dalam kamar.
"Pamit dulu ya Bu, Yah."
Kedua orang ini meninggalkan ibu dan ayah yang duduk di ruang keluarga dengan tatapan bingung. Baru juga sehari mereka di sini sudah mau ngamar aja.
"Mereka tetep aja kayak gitu. Pasti mau anu itu," ucap Ayah dengan frontal yang membuat ibu menggeplak bibir suaminya dengan pelan yang mulutnya tidak tahu aturan.
"Kalau ngomong sembarangan ndak boleh seperti itu. Biarkanlah mereka juga masih muda tidak seperti kita yang sudah tua," jawab Ibu dengan perhatian.
"Tua tua gini juga masih kuat kalau buat kamu teriak," jawab Ayah dengan nada tak terima.
"Terserah kamu aja, lihat tuh film kesukaan kamu," Ibu menunjuk televisi yang menampilkan adegan romantis dari tokoh figuran itu.
Walau mereka sudah tua tapi keromantisan dalam rumah tangga mereka masih tetap terjaga hingga usia mereka yang sudah menginjak 60 tahunan lebih.
"Bu, tolong buatin jamu seperti biasa buat ayah."
"Ngapain, kalau ujung ujungnya Ibu yang sakit."
"Pahala loh Bu."
"Huh bentar."
Tentu saja Ibu tahu apa yang dimaksud jamu oleh suaminya, karena Ibu sering membuatkan jamu tersebut agar stamina suaminya tetap terjaga walau sudah tua.
Sedangkan Ayah menatap punggung istrinya yang menghilang dari pandangannya itu dengan senyum. Laki-laki itu tak pernah bosan dengan tingkah laku sang istri yang selalu ada saja yang membuat dia rindu. Untung sekarang ia tak mengurusi perusahaannya yang berkembang pesat saat ini karena sudah diurus oleh Abi(Menantunya) dan para bawahannya yang lain.
Tak lama nenek datang membawa segelas jamu dan memberikannya pada kakek. Dengan cepat Kakek pun langsung meminum jamu itu hingga tantas kemudian memberikan gelas kosong itu pada sang istri.
"Errr sudah kuat ayo ke kamar."
Ibu hanya menggelengkan kepalanya mendengar ajakan suaminya yang tanpa basa-basi langsung mengajak ia ke kamar.
Keduanya berjalan beriringan menuju kamarnya yang berada di lantai 2 dengan menaiki tangga, sebaiknya di depan pintu kamar anak dan menantunya mereka hanya bisa menjalankan kepalanya saat mendengar suara yang tidak begitu asing di telinga mereka.
"Apa kataku, mereka itu masih butuh seperti itu."
"Iya iya, ayo Ibu juga harus meraih pahala dari Ayah."
Tanpa babibu Ayah menarik tangan itu menuju kamarnya kemudian menutup pintu itu dengan keras. Kalian tentu tahu apa yang akan kedua orang tua itu lakukan jika sudah seperti itu.
Sedangkan di kamar mama Amin dan Bapak Abi keduanya kini sedang melakukan ritual malam mereka agar hubungan keduanya tetap romantis hingga akhir hayat mereka.
"Oushh yess Papa faster."
"Ahh huhh aahhh."
Setelah beberapa saat mereka melakukan itu, Mama Anin langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh sama suami dengan posisi yang lebih menyatu.
"Suka deh kalau mama pakai baju gini terus."
"Enak di Papa enggak buat Mama."
Tetapi hanya tertawa mendengar jawaban dari sang istri itu. Memang jika ia sudah meminta jatahnya akan sangat lama selesainya dan juga selalu minta lagi, lagi, dan lagi.
"Gak salah kalau mama habiskan uang ratusan juta buat perawatan tubuh," ucap Papa Abi pada sang istri.
"Iya dong, kalau enggak ada hasilnya rugi dong Mama."
"Mama pingin punya anak lagi deh pah. Tapi Mama udah gak bisa," ucap Mama pada Papa Abi.
Keinginannya untuk memiliki anak laki sangat besar tapi ia sadar ia tak mungkin bisa memiliki anak kandung dari rahimnya sendiri. Tapi juga tahu hal itu, laki-laki itu tak banyak menuntut soal anak pada sang istri karena baginya Gibran sudah lebih dari cukup untuk menjadi anak dan pewaris mereka nanti.
Lagi pula setelah Gibran dan Arum menikah pasti anak mereka akan memberikan anak-anak yang lucu-lucu untuk mewarnai hidup mereka yang sudah tua ini.
"Kenapa Mama bahas ini lagi sih? Apakah capek Mama nangis terus kalau ingat soal ini. Ingat ya mah kita sudah punya Gibran dan sebentar lagi kita akan mempunyai menantu yang akan memberikan banyak cucu untuk kita, jadi kamu tak perlu sedih."
__ADS_1
Mama Anin yang mendengar jawaban dari sang suami itu mengganggukan kepalanya dengan pelan di atas dada sang suami. Setelah nafasnya sudah kembali normal Mama Anin memiringkan badannya dan berbaring di samping sang suami seraya menarik selimut tebal di kamar itu.
"Iya ya pah. Kan sebentar lagi kita bakal punya malu dan cucu-cucu yang tampan dan cantik," ujar Mama Anin membayangkan jika nanti rumah mereka penuh dengan suara tawa dan tangisan bayi pasti akan sangat membahagiakan dan membuat rumah mereka kembali hidup.
"Hhh sekarang Papa mau ronde ke dua."
"Papa apa-apaan sih, malam ini cukup satu kali aja karena besok pagi kita harus berangkat ke Bogor kan. Papa juga nggak bisa lama-lama menyerahkan perusahaan pada anak buah papa," ucap Mama Anin mengelus rahang sang suami dengan lembut.
Bukan ia tak mau mengulangi apa yang menjadi candu mereka bertahun-tahun ini tapi masalahnya besok mereka harus berangkat dari Jakarta ke Bogor. Ke rumah orang tua Papa Abi.
Mendengar hal itu Papa Abi langsung menganggukkan kepalanya kemudian ikut menarik selimut tebal itu hingga membuat tubuh po.los mereka tertutupi.
"Sini deketan, Papa mau peluk biar kangennya ilang."
Memang agak lain suaminya ini, posisi yang sudah dekat ini disuruh lebih dekat lagi gimana ceritanya. Kini keduanya dengan posisi saling berpelukan mulai memejamkan matanya dan berjalan menuju alam mimpi mereka masing masing.
***
Matahari sudah menampakkan sinarnya dari celah celah kaca ruangan itu. Mama Tiya yang bangun terlebih dahulu itu langsung berjalan menuju kamar mandi dan membasuh mukanya.
Setelah keluar dari kamar mandi Mama Tiya melihat posisi tidur anak-anaknya yang membuat ia meringis melihat Cika ya sepertinya tidak nyaman dengan posisi tidurnya saat ini.
Dengan lembut Mama Tiya membangunkan keempat anaknya untuk membasuh muka mereka selagi ada di rumah sakit.
"Kak, kak ayo bangun sudah pagi."
Dengan lembut Mama Tia membangunkan Kak Naufal dan Kak Cika terlebih dahulu kemudian baru membangunkan Gibran yang sedang memangku tubuh Arum. Pasti laki-laki itu sangat lelah memangku tubuh Arum yang lumayan berat.
Setelah ketiganya bangun Kak Naufal malah merasa bersalah kepada sang istri karena sudah membuat sang istri kelelahan dengan menyangga kepalanya yang ada di pahanya.
Berulang kali Cika mengatakan tidak apa-apa tapi tetap saja Naufal merasa bersalah dengan hal ini. Bahkan paha jika saja sampai kebas dan mati rasa saat ini.
"Aku gendong aja ke kamar mandi ya. Habis itu baru kita pulang ganti baju."
"Iya."
Sebelum ia menggendong jika menuju kamar mandi Naufal terlebih dahulu menanyakan keadaan Papanya pada sang ibu. Mama Tia menganggukkan kepalanya dan mengatakan jika Papa mereka sudah siuman tadi malam.
Setelah Kak Naufal membawa Kak cika masuk ke dalam kamar mandi. Gibran gini malah enggan membangunkan sang kekasih yang masih terlelap di pangkuannya itu. Bahkan gini wajah Arum tampak nyaman berada di dadanya dengan tangan yang berada di antara dada mereka.
Karena tak mau membuat kondisi aroma makin memburuk karena kemarin baru saja melakukan donor darah. Gibran mengambil bantal yang tadi digunakan oleh Naufal dan mulai meletakkan Arum di sofa panjang itu agar tidurnya lebih nyenyak.
Jarum infus yang kemarin masih menancap di punggung tangan Arum itu sudah dicabut oleh suster tadi malam hingga membuat harum tak terlalu terganggu dengan adanya infus yang ada di tangannya dan juga botol yang kemana-mana ia bawa.
"Alhamdulillah kamu gak demam sayang."
Mama Tiya yang melihat apa yang dilakukan oleh Gibran itu tersenyum. Merasa anaknya sangat beruntung memiliki seorang kekasih seperti Gibran walaupun Gibran pernah membuat ia sedikit marah.
"Nak Gibran gak pulang?"
Gibran menoleh ke arah mama tiya kemudian menggelengkan kepalanya pertanda ia tak pulang dari rumah sakit untuk hari ini.
"Nanti ada asisten Papa yang bakal ke sini membawa pakaian buat aku sama Arum. Tapi kalau buat kak Naufal dan Kaka Cika gak tahu soalnya ukuran kita beda tapi kalau mau pakai baju aku juga gak apa apa."
Mama Tiya yang mendengar jawaban dari Gibran itu menganggukan kepalanya pertanda ia paham dengan apa yang diucapkan oleh Gibran.
Tak lama Kak Naufal dan Kak Cika keluar dari kamar mandi, setelah itu Gibran yang berjalan menuju kamar mandi. Yah kamar rawat Papa Sandi memang VIP jadi fasilitasnya lengkap di rumah sakit ini. (Maklumlah orang kaya)
"Ma, titip Arum ya. Kasihan nanti kalau jatuh."
"Iya nak."
Laki laki itu masuk ke kamar mandi, walau hanya untuk mencuci muka saja.
"Papa bangun bentar yuk."
Mama Tiya membangunkan sang suami yang masih terlelap dalam tidurnya itu dengan lembut. Perlahan mata Papa Sandi terbuka hingga membuat Mama Tiya dan Naufal tersenyum tak lupa Cika yang langsung mengelus perutnya karena bersyukur ternyata mertuanya benar benar bangun.
"Mama lap tubuh papa ya," ucap Mama pada sang suami yang sudah mulai membaik. Apalagi setelah dokter mengeceknya tadi malam. Ya setelah Mama Tiya berbincang dengan Papa Sandi, wanita itu memanggil dokter yang masih berjaga untuk mengecek tubuh suaminya.
__ADS_1
"Iya ma."
"Papa beneran udah sembuh nih? Udah gak sakit lagi?" tanya Naufal pada sang Papa.
Papa Sandi mengangguk kemudian tersenyum, bisa dilihatnya bagaimana putranya yang terlihat lelah itu.
Mama Tiya dengan telaten melap tubuh suaminya yang mudah terjangkau. Sedangkan Naufal dan Cika memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Apalagi kini Cika sedang hamil. Naufal cukup merasa bersalah dengan tidurnya tadi malam, pasti Cika sangat kelelahan.
Keluarnya Gibran dari kamar mandi bersamaan dengan asisten Papa Abi yang mengantarkan pakaian untuk mereka. Bahkan pakaian untuk Mama Tiya juga di bawakan.
"Terima kasih."
"Sama sama tuan. Kalau suasana sudah kondusif, Tuan disuruh Tuan besar untuk ikut membantu di perusahaan," ucap asisten Papa Abi sedikit pelan karena tak ingin mengganggu.
"Hmm. Baik paman, selagi Papa tidak ada Gibran juga akan belajar di perusahaan," jawab Gibran menatap paper bag yang ada di tangannya.
"Baik kalau begitu saya pamit Tuan Muda, saya tunggu kedatangannya di perusahaan."
"Iya paman."
Dengan sopan orang yang dipanggil paman itu undur diri dari hadapan Gibran, sedangkan Gibran langsung masuk ke dalam ruangan itu dan memberikan paper bag berisi pakaian Mama Tiya.
"Bilang terima kasih sama asisten Papa kamu ya nak."
"Iya ma. Kalau gitu Gibran ganti baju dulu ya, hari ini Gibran juga bakal izin dari kampus dan mengirim surat izin untuk Arum juga ke sekolahnya."
"Kalian tak perlu bolos, Papa sudah baik baik saja."
"Enggak Pah, Mama dan Papa saya sudah menugaskan saya untuk menjaga kalian, apalagi sekarang Arum juga masih sedih karena musibah ini."
Sontak saja kedua orang tua langsung menatap Arum yang masih terlelap dengan mulut yang sedikit terbuka hingga terlihat sangat menggemaskan di mata mereka.
"Ya sudah, tapi besok kamu dan Arum harus sekolah ya nak. Papa gak mau kalau sampai nilai kalian turun hanya gara gara Papa yang masih ada disini," tutur papa Sandi pada calon mantunya.
"Iya Pah."
Gibran berjalan menuju sofa itu dan mengangkat sedikit kepal Arum dan meletakkan kepala sang kekasih di pahanya.
Tangan kekarnya mengelus lembut rambut Arum hingga membuat gadis itu terusik dalam tidurnya. Dengan perlahan Arum membuka matanya dan menyesuaikan cahaya yang sudah sangat terang itu.
"Yank, kamu kok disini?" tanya Arum yang masih belum sadar dengan keadaannya saat ini.
"Iya kamu gak ingat semalam."
Arum dengan lucu berpikir dengan keras apa yang terjadi tadi malam hingga tiba tiba gadis itu langsung bangun dan menatap sekeliling dan Deg.
"Papa."
Pekik Arum langsung berlari menuju sang Papa dan memeluknya dengan pelan. Tentu saja ia tak bisa terlalu kencang karena masih ada selang selang di tubuh sang Papa.
Arum merasa senang karena Papanya kininsudah nau membuka mata. Terakhir kali ia melihat papanya kemarin masih dengan posisi terpejam tapi kini sudah tersenyum dan membalas pelukannya.
"Loh loh kok nangis sih nak."
Papa Sandi merasakan air mata putrinya yang sudah membasahi baju pasien yang ia pakai. Papa Sandi tentu tahu bahwa Arum sedih dengan keadaannya saat ini.
"Papa jahat banget kemarin lama banget tidurnya," ucap Arum dengan tangis yang tak bisa ia tahan.
"Papa gak apa apa kok sayang. Terima kasih sudah mau mendonorkan darah kamu buat papa, Papa sangat sangat berterima kasih," jawabnya seraya mengelus punggung sang putri.
"Arum bakal bantu sebisa Arum buat papa dan Mama. Jadi jangan berterima kasih atas apa yang sudah seharusnya Arum lakukan."
Mereka membiarkan Arum dan Papa Sandi saling bercengkrama. Bahkan Arum tak segan segan membuat Mama Tiya cemburu karena waktunya dengan sang suami direbut oleh Arum.
"Udah deh nak mending kamu mandi. Badan kamu udah bau banget, kasihan Gibran nanti," suruh Mama Tiya yang tentu dengan kebohongan.
Tapi memang benar sih sejak kemarin ia sama sekali belum mandi hingga membuat Arum sedikit risih.
"Hmm papa Arum mandi dulu."
__ADS_1
Arum melepaskan pelukan itu kemudian berjalan menuju kamar mandi tapi belum ada 2 menit sudah keluar lagi dan mengambil paper bag yang ada di atas meja. Gibran? Laki laki itu sudah pergi mencari sarapan untuk mereka.
Bersambung