Marriage Struggle

Marriage Struggle
Penampilan Menjadi Sorotan


__ADS_3

Hari ini Gail dan Rien sama sekali tak bicara, sejak pagi Gail benar-benar memilih untuk sibuk bermain dengan putrinya. Hari ini adalah akhir pekan, Gail tentu saja akan di rumah seperti biasanya.


Tentu saja Rien akan mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan, sedari pagi dia sibuk memasak, dan membersihkan rumah sampai hampir siang pun dia belum selesai, dan sialnya lagi adalah, teman-teman arisan Ibu mertuanya datang begitu banyak membuat Rien mau tidak mau harus melayani mereka. Menyiapkan minuman, camilan, juga kesibukan lainnya. Sementara Jenette, wanita yang sedang hamil besar itu benar-benar hanya tahu duduk dan dengan santainya bergabung dengan teman-teman Ibu mertuanya.


" Ngomong-ngomong, sebentar lagi cuci laki-laki ku akan lahir loh, nanti aku akan undang kalian semua di perayaan kelahiran ya? " Ucap Ibu mertua dengan bangga menceritakan bagaimana perkembangan janin yang ada di dalam perut Jenette. Dia benar-benar terlihat bersemangat sekali membuat Rien yang tengah membawa jus untuk para tamu hanya bisa membatin cemburu.


Rien meletakkan semua minuman itu ke meja.


" Pembantu rumahmu benar-benar sangat rajin dan cekatan sekali ya? " Ujar salah satu wanita, yang adalah teman Ibu mertuanya. Iya, dia menganggap Rien adalah pembantu rumah karena penampilan Rien memang sangat mendukung. Daster kebesaran, rambut yang di Cepol tinggi ke atas, wajah kusam dan kurang tidur, jadi siapa yang tidak akan mengganggapnya seperti itu?


" Pft! " Jenette menahan tawa, melirik sebentar kepada Rien yang jelas Rien bisa melihatnya. Bukankah itu seperti menghina dirinya? Benar-benar hanya Tuhan yang tahu seberapa busuk hati Jenette dan juga Ibu mertuanya itu.


" Nyonya, jangan salah paham, sebenarnya dia ini adalah istrinya kak Gail. "


Wanita paruh baya itu menutup bibinya dengan tatapan mata terkejut. Iya, dia tidak enak karena sudah mengatakan kalimat itu, tapi dari sorot matanya yang sedikit tajam, melirik memperhatikan dari atas ke bawah benar-benar membuat Rien bisa merasakan seperti apa yang sedang di batin oleh wanita itu, juga yang lainnya karena mereka juga menatap dengan sama.


Rien membuang nafasnya.


" Aduh, padahal masih muda tapi tidak pandai merawat badan. Anakmu baru satu kan? Kasihan nanti suamimu, badan harus di urus supaya suami puas, juga supaya tidak melirik wanita lain lantaran jijik melihat tubuh istrinya sendiri. "

__ADS_1


Rien menatap wanita yang mengatakan itu dengan mata tajam penuh amarah. Salahkah dia menatap seperti itu? Jijik? Demi Tuhan kata-kata itu benar-benar sangat menyakitkan untuk di dengar apalagi di masukkan ke dalam hati. Batu pertama kali Rien mendapatkan perlakuan tidak manusiawi seperti ini, padahal dia adalah wanita kan? Apakah dia tidak berpikir bagaimana jika posisi mereka di tukar? Bagaimana jika dia, atau anak perempuannya di perlakukan seperti itu?


" Sudahlah, tidak usah nasehati dia. Kau juga tahu kan aku sering menceritakan bagiamana keras kepala dan kurang ajarnya dia? Menanti di rumahmu sama sekali tidak pernah membantah kan? Dia ini orangnya agak lain, jadi anggap saja tidak ada. " Ujar Ibu mertua melirik kesal kepada Rien.


" Oh, iya benar juga. "


" Kalian semua, kalian adalah wanita juga kan? Berani sekali kalian menghinaku seperti itu, lalu bersikap seperti tidak terjadi apapun? Sebelum menghina tubuhku, tolong lihatlah tubuh kalian yang seperti ulat sagu. Wajah kalian yang banyak kerutan, kulit kalian yang kendur, mata kalian yang buram karena faktor usia, rambut kalian yang sudah tumbu uban, apakah kalian tidak takut suami kalian jijik lalu melirik wanita lain? "


" Rien! " Bentak Ibu mertua dengan tatapan marah, sedangkan wanita tadi, wanita yang mengatai Rien menjadi diam tak bisa berkata-kata.


Rien tersenyum dengan tatapan kesal.


" Aku tidak punya waktu untuk mengurus badan padahal anakku baru satu. Tahu kenapa? Karena aku sibuk mengurus mertuaku, adik ipar yang hanya tahu berbaring, duduk, makan, minum, dan bergosip. Aku juga harus mengurus rumah, kalau Ibu mertua ingin aku menjadi menantu yang baik, tolong bantu aku mengurus rumah, atau setidaknya mengurus diri Ibu mertua sendiri. "


" Ibu mertua, coba tanyakan kepada semua teman Ibu mertua, sanggup kah menanti mereka melakukan apa yang aku lakukan? Mengurus anak, suami, Ibu mertua, adik ipar, rumah, jangankan untuk mandi, kadang untuk minum saja aku tidak ada waktu. Ah, kalau saja nafas ini tidak secara otomatis, aku yakin aku juga sering lupa bernafas. "


Ibu mertua semakin menatap Rien dengan tatapan marah, lalu segera dia meraih lengan Rien dan membawanya menjauh dari ruang tamu.


" Dasar menantu durjana, tidak tahu diri! Lihat saja kau, akan aku berikan pelajaran untukmu setelah ini. "

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Ibu mertua segera meninggalkan Rien untuk kembali ke ruang tamu. Entah bagaimana dia kembali mencairkan suasana, yang jelas Rien sama sekali tidak perduli.


" Menantu durjana? Lalu aku apa? Mertua laknat? " Gumam Rien sembari menyeka air matanya yang jatuh tanpa dia rasakan. Setelah ini tentu saja akan ada keributan di rumah, meskipun ada rasa menyesal di hati Rien, tapi dia juga cukup merasa puas karena dadanya terasa lega.


Benar saja, setelah meminta semua teman-temannya pergi lebih dulu, Ibu mertua langsung berteriak memanggil Gail membuat Rien hah berada di dapur bisa mendengarkan suara itu dengan jelas. Benar-benar suka mengadu, tapi Rien juga sudah tidak bisa mentolerir sikap Ibu mertuanya yang sangat tidak manusiawi itu.


" Ada apa, Bu? " Tanya Gail setelah buru-buru dia berjalan keluar dari kamar Cherel untuk menghampiri Ibunya. Dia bukanya tidak dengar, dia tentu saja dengar tapi karena dia sedang menidurkan Cherel makanya dia tidak menyahut.


" Istrimu, dia benar-benar seperti iblis! Dia mempermalukan Ibu di hadapan semua teman Ibu, kalau kau tidak percaya, kau tanya saja kepada Jenette apa yang dia katakan! "


Gail terdiam sebentar, membatin di dalam hati, apalagi ini?


Rien tentu saja bisa mendengar suara Ibu mertuanya yang sangat nyaring di dengar. Rien menghela nafas dan berjalan mendekat karena dia juga tahu pada akhirnya dia akan di minta untuk kesana.


Melihat Rien datang, dengan segara Ibu mertua menunjukkan tatapan marahnya, dan merujuk Rien.


" Katakan! Katakan bagiamana kau mempermalukan ku di hadapan semua teman-teman ku! "


Rien terdiam sebentar, dia melihat Gail yang tak bereaksi. Mungkin dia bingung harus melakukan apa, satu sisi istrinya yang dia cintai, satu lagi Ibunya yang juga dia cintai.

__ADS_1


" Mengatakan apa? Kebenaran tentang bagaimana sikap Ibu yang memperbudak menantunya? "


Bersambung.


__ADS_2