
Pagi harinya.
Rien bersiap untuk pergi ke toko buah karena persediaan buah sudah habis, sementara Gail berada di rumah untuk menjaga Cherel. Untungnya toko buah langganan Rien tidak jauh jadi tidak perlu di antar juga untuk menuju kesana. Tapi sebelum pulang, Rien memutuskan untuk sebentar duduk menyalakan ponselnya agar bisa menghubungi Marco terlebih dulu. Dia menanyakan apakah Rien bisa masuk ke dalam rumah sakit jiwa atau tidak, dan begitu Marco mengatakan jika nanti akan mencari bagiamana caranya lebih dulu, Rien memutuskan untuk mengakhiri sambungan telepon, dan untuk hari ini juga Rien membatalkan niatnya menemui Marco karena ada hal yang harus dia lakukan di rumah, tepatnya di kamar Ayah mertuanya.
Sial! Batin Rien.
Ternyata saat pulang ke rumah dia harus melihat Greta duduk bersebelahan dengan Gail, bukan itu yang membuat Rien kesal sebenarnya, tapi kenapa Gail membiarkan Cherel berada di pangkuan Greta? Meskipun Cherly memang terlihat baik-baik saja, tapi rasanya Rien benar-benar tidak rela karena mereka sedang berpose seperti sebuah keluarga kecil. Rien menjatuhkan kantung yang berisi beberapa macam buah, berjalan cepat dan langsung mengambil Cherel dari pangkuan Greta.
" Hei, jangan kasar! Nanti kalau Cherel terluka bagiamana? " Protes Greta saat Rien tiba-tiba saja datang dan mengambil Cherel dengan cepat.
Gail segera bangkit dari duduknya, dia menatap Rien seolah meminta Rien untuk tidak membuat keributan karena apa yang Rien pikirkan tidak pernah Gail lakukan.
__ADS_1
" Aku tidak pernah kasar dengan anak ku, Jadi jangan menasehati ku karena anak ini adalah anak yang aku lahirkan sendiri. Biar aku peringatkan padamu, Nona Greta. Aku tidak memberikan izin kepada orang luar menyentuh apalagi menggendong dan memangku anak ku. Kau boleh mengambil Ayahnya Cherel, tapi tidak dengan Cherel. Ah, kalau kau ingin memiliki anak juga, bagiamana kalau kalian berdua buat sendiri saja? "
Gail terlihat sangat tidak menyukai kalimat Rien barusan, dia benar-benar kesal tapi dia juga tidak mungkin menasehati istrinya di depan Greta. Sementara Greta, wanita itu tak banyak bicara karena dia juga sudah cukup puas melihat Rien yah merasa cemburu dan kesal padanya. Sebenarnya Greta juga sudah pernah menikah, dia keguguran di empat bulan kehamilannya sehingga dia terus merasa damai saat ada anak kecil yang membuatnya terus mengingat tentang anaknya yang sudah tiada. Belum lama ini dia bercerai, dan dengan alasan rindu anaknya lah Gail mengizinkan Greta memangku dan bermain dengan Cherel.
Gail tidak ingin istrinya berbicara tidak sopan lagi, jadi dengan segera dia membawa istri dan anaknya untuk masuk ke dalam kamar.
" Cukup, Rien. Apa kau tahu yang kau katakan tadi bisa saja menyakiti hati orang lain? "
" Kenapa aku harus memperdulikan perasaan orang lain di saat aku sendiri bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaanku? Kau jangan bicara seolah aku adalah orang yang tidak tahu aturan sehingga bisa membuka mulut untuk menyakiti orang lain, Gail. Bagiamana denganmu? Bagaimana dengan tindakan mu yang selalu mendorongku untuk berpisah denganmu? Gail, aku benar-benar minta tolong satu hal saja darimu sekarang, tolong jangan memberikan anak ku ke tangan orang lain karena aku membencinya. Kalau kau memang kasihan dan begitu menjaga perasaan Greta, maka lakukan saja seperti itu selamanya. Kau tidak akan pernah paham apa yang aku katakan, tapi aku semakin paham apa yang harus aku lakukan. Tunggu sebentar lagi, Gail. Tunggu saat aku sudah menemukan apa yang aku inginkan, kau bisa menjalani hidupmu sesuai dengan kemauan mu. Kau bisa memilih istri yang terus kau mintai pengertian, yang akan sabar melihatku menjaga perasaan orang lain tapi istri harus terus menjaga perasaanmu dan sikapmu. Hanya sebentar lagi, tunggu saja. "
Gail mencengkram lengan Rien dan menatapnya marah. Ini adalah untuk pertama kalinya Gail benar-benar sampai membuat Rien merasa tidak nyaman, atau bisa di bilang sakit karena cengkraman tangan Gail benar-benar kuat sekali.
__ADS_1
" Jangan bilang kau ingin bercerai lagi? Pernikahan ini bukan untuk main-main sehingga kau bisa mengucapkan kata itu kapan saja kau mau! Aku tahu aku bukan suami yang baik, aku banyak salah, aku tentu saja paham benar. Tapi, untuk menjadikan mu istri pertama dan terakhirku aku bisa memegang teguh janji itu. "
Rien melepaskan lengannya dari cengkraman tangan Gail, menatap Gail dengan tatapan yang tak kalah marahnya. Mungkin inilah yang membuat Rien hampir mulai merasakan cintanya kepada Gail seperti tertekan oleh sikap Gail yang sama sekali tidak mengerti bagiamana seharusnya jika dia sudah tahu salah. Pernikahan tentu saja bukan soal cinta saja, tapi juga harus adanya tindakan dan juga perilaku satu sama lain yang tidak perlu menyakiti atau akan lebih baik jika saling melengkapi, saling menasehati, saling membantu, saling berusaha untuk menumbuhkan perasaan untuk terus bersama. Lalu apa yang di lakukan Gail sekarang? Dan apa yang Rien lakukan? Tidak sepenuhnya salah Gail, ini juga salahnya yang tidak bisa mengambil sikap benar sehingga membiarkan masalah demi masalah datang menumpuk dan menyakiti satu sama lain.
" Gail, mari kita mengistirahatkan diri masing-masing. Mari kita introspeksi diri, dan pikirkan baik-baik kira-kira apa kesalahan kita, dan apa jalan yang terbaik untuk kita. Aku tidak akan memaksa mu, kau juga tidak boleh memaksa ku. Untuk sementara ini aku akan tidur bersama Cherel, dan aku juga tidak akan melarangmu atau menyalahkan mu seandainya apa yang terjadi antara kau juga Kanya akan terjadi lagi dengan orang lain. Aku sudah tidak ingin berdebat mengenai prinsip kita yang sulit untuk di satukan. "
Gail tak lagi bicara, sepertinya dia terlalu rapuh jika berdebat dengan Rien. Sebenarnya dia ingin lebih detail membicarakan masalah di antara mereka supaya mereka bisa segera menyelesaikan masalah itu tanpa harus berpisah, tapi cara Rien meminta waktu untuk saling mengintropeksi diri, sepertinya kecondongan untuk berpisah begitu terasa.
" Tidak, suami istri tidak boleh tidur terpisah apapun alasannya. Kalau memang masalah prinsip begitu mengganggu kita, maka ayo bicarakan ini baik-baik, dan mari kita rundingkan bagiamana jalan keluarnya. " Ucap Gail menatap Rien yang kini sama sekali enggan untuk menatapnya.
" Aku sedang sangat lelah, aku sedang merasa tidak ada yang lebih baik di dunia ini. Kau, aku, semuanya seperti sedang mendorongku untuk jatuh ke jurang. "
__ADS_1
Bersambung.