
" Ayah ku bilang bahwa, tidak semua hubungan harus berakhir dengan bersama untuk bahagia. Seperti hubungan kita, aku merasa sudah banyak menyakiti perasaan mu, menyakiti diri ku sendiri, membuang jati diri ku, mengubah diri agar kau bisa lebih menyayangiku. Aku sadar benar bahwa aku sudah lakukan kesalahan besar, keras kepalaku, egoku, perasaan yang ingin terus di utamakan ini sudah harus di hentikan. Selama aku tahu mencintaimu, aku sampai lupa sebenarnya aku adalah orang yang seperti apa. Tentu saja itu bukan salah mu, makanya aku menyebutnya sebagai tindakan menyakiti diri sendiri, juga menyakitimu. "
Jenette mengakhiri kalimatnya dengan senyum pahit yang begitu jelas terlihat, tapi dia juga sama sekali tak memiliki niatan untuk membatalkan rencananya. Cinta yang menyiksa, cinta yang terasa sakit, cinta yang begitu indah, semua bukan lagi tentang Theo semata. Sekarang dia punya Ayah dan Ibu yang memberikan banyak cinta padanya.
Tempo hari Jenette keluar dari rumah untuk bertemu dengan salah satu sahabatnya, di sana ternyata sahabatnya juga tengah bersama teman yang lainnya. Jenette memang merasa agak tidak terbiasa karena selama ini dia jarang sekali memiliki waktu untuk berkumpul bersama teman yang lainnya. Dari sana Jenette menyadari bahwa dia sudah melewatkan banyak hal terutama kebahagian dari arah lain yang begitu jelas di banding mengagumi Theo yang bahkan selalu terlihat semu, entah cinta yang dia miliki akan terbalas atau tidak. Kali ini Jenette tidak akan melepaskan kesempatan untuk mengenali dirinya sendiri, bahagia dengan cara yang lain, melihat dengan cara lain, mulai membuka hati dan pikiran agar dapat melihat betapa baiknya dunia yang telah menyuguhkan miliaran kebahagiaan.
" Kau benar-benar yakin? " Tanya Theo yang sebenarnya masih mengharapkan Jenette mengatakan hal lain, setidaknya dia sedikit goyah dan memikirkan kembali niatnya untuk. bercerai. Tahu, perasaan Theo seperti dalam keadaan mengambang, bimbang tidak dapat menentukan apalagi mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan. Entah dia mencintai Jenette tanpa dia sadari atau tidak, tapi perceraian itu benar-benar membuat Theo merasa cukup tidak rela. Dia sudah terbiasa dengan Jenette meski iya memang Jenette memiliki sikap dan sifat yang membuatnya merasa terganggu. Tapi jika di pikirkan kembali, bukankah sulit menemukan wanita yang bisa mencintainya sedalam itu?
Jenette memaksakan senyumnya, lalu mengangguk. Pikirannya yang terus mengatakan jika pada akhirnya semua akan baik-baik saja asalkan dia memiliki niat untuk memperbaiki diri dan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan kebahagiaan dengan cara yang lain.
" Semua akan berakhir baik untuk kita, bukan. kah begitu? Aku memang tidak paham sekali bagiamana rasanya mengahadapi diri ku yang sangat egois dan tidak bisa menahan diri. Tapi setidaknya aku paham benar bahwa pasti berat sekali menjadi dirimu kan? Aku minta maaf, Theo. Aku sudah hadir di hidup mu dan membuat kekacauan yang cukup menyebalkan. "
Theo terdiam tak mengatakan apapun. Sejujurnya dia ingin sekali mengatakan untuk memikirkan lagi niatan itu, tapi dia juga merasa cukup berat dan merasa tidak pantas meminta Jenette untuk bertahan bersama dengannya. Dia sadar benar bahwa sebenarnya dia juga bersalah kepada Jenette, dia menghakimi Jenette, menyalahkan dirinya atas kematian putranya. Dia sibuk memikirkan perasaan sedih, kecewa, dan kehilangan hingga lupa memikirkan bahwa sebenarnya Jenette juga sangat tersiksa. Jenette adalah Ibunya, dan bayinya meninggal karena ego Jenette, pasti dia amanat tersiksa karena rasa bersalah, kehilangan putranya, juga penghakiman yang Theo lakukan bukan?
Jika benar Jenette memilih jalan yang bisa membuatnya lega, maka Theo juga akan menyetujuinya tanpa banyak bertanya dan mengeluh lagi. Hatinya sangat berat, tapi dia juga ingin menatap kembali hati, dan juga pikirannya, berharap nanti akan kembali bertemu dengan jenette sebagai Theo yang lebih baik, begitu juga dengan Jenette.
__ADS_1
Setelah pembicaraan hari itu, keesokan hatinya pengacara Jenette datang kerumah untuk menyerahkan surat permohonan cerai dari Jenette. Theo sebenarnya tidak rela untuk membubuhkan tanda tangannya, tapi harapan untuk bisa sama-sama saling menatap hai masing-masing akhirnya membuat Theo terpaksa menandatangani surat permohonan cerai itu.
Kabar perceraian yang sedang berjalan, atau sedang berproses membuat Gail dan Rien sangat terkejut karena pada akhirnya hubungan Jenette dan Theo akan berakhir dengan perpisahan. Mereka tidak bisa mengatakan banyak hal kecuali meminta Theo untuk bersabar, begitu juga dengan Jenette.
Sekitar satu bulan akhirnya putusan cerai telah di sahkan oleh pengadilan bahwa mereka resmi bercerai mulai hari itu.
" Terimakasih untuk beberapa waktu lalu, aku harap mulai dari hari ini hidup kita berdua akan berjalan lebih baik dari pada sebelumnya. " Ucap Jenette seraya menyodorkan tangannya, dan Theo dengan segera menyambut tangan Jenette untuk berjabat tangan. Gila, dia benar-benar ingin menangis tapi dia hanya bisa mengekspresikan dengan senyum getir seperti yang sedang di rasakan oleh hatinya. Rasanya dia tidak ingin melepaskan jabatan tangan mereka, tapi dia juga tidak ada hak untuk bisa menahan Jenette lagi. Semua berjalan dengan begitu cepat, dan selama itu juga Theo menyadari benar bahwa jauh di dalam lubuk hatinya dia sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini.
Setelah mengatakan itu Jenette dengan segera meninggalkan Theo yang masih berdiri menatapnya di depan ruang persidangan.
" Tidak, aku tidak bisa begini, semua sudah berakhir. " Gumam Jenette seraya menjalankan kaki menuju parkiran mobil dan di sanalah kedua orang tuanya tersenyum menatapnya seolah mengatakan kepada Jenette bahwa mereka akan slalu ada dan selalu mencintainya.
Jenette tersenyum, lalu berjalan dengan cepat untuk memeluk Ayah dan Ibunya.
" Sudah selesai. " Ucap Jenette membuat kedua orang tuanya menepuk punggung Jenette dengan lembut.
__ADS_1
" Kau pasti akan baik-baik saja, percayalah....."
" Em! "
Jenette melepaskan pelukannya dan menata kedua orang tuanya sembari tersenyum.
" Ayah, aku akan pergi besok, tidak apa-apa kan? "
Kedua orang tua Jenette saling menatap, terdiam sebentar, lalu mengangguk meski mereka terlihat berat.
Jenette tersenyum lalu kembali memeluk kedua orang tuanya.
Baiklah, aku hanya perlu mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku pantas untuk bahagia, aku pantas untuk di cintai sebanyak mungkin. Aku akan baik-baik saja karena aku adalah perempuan yang kuat, ucapkan selamat tinggal dan terimakasih kepada masa lalu, dan bersiap untuk menerima masa depan dengan segala pengalaman hidup yang sudah memberikan banyak pelajaran berharga.
Bersambung.
__ADS_1