
Rien terdiam menatap seorang wanita yang pernah membuatnya selalu dalam masalah. Dia adalah Kanya yang kembali datang untuk meminta pekerjaan kepada Gail, bukan berarti harus di perusahaan Gail dan Theo, tapi di mana saja asalkan dia dapat bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya dia benar-benar akan menerimanya.
Gail sebenarnya sudah menolak langsung Kanya, memintanya untuk segera pergi karena Gail ingat benar bagaimana kacau rumah tangganya di buat Kanya. Tai Rien justru menyambutnya dan meminta Kanya untuk duduk sebentar, lalu memberikan solusi dari masalahnya.
Kaya datang dengan wajah menunduk, tak berani melihat ke arah Rien maupun Gail karena dia benar-benar merasa malu dan rendah diri. Tapi kalau sampai Kanya nekad menemui Gail dan Rien, artinya dia benar-benar dalam masalah ekonomi bukan? Meksipun memang benar Rien sangat tidak menyukai Kanya karena apa yang terjadi di masa lalu, Rien juga tidak tega mengusir Kanya begitu saja karena bisa saja yang Kanya lakukan adalah solusi terakhir yang dia miliki untuk menolong perekonomian keluarganya.
" Ada satu restauran milik teman ku, tapi ada di luar kota, dan untungnya tidak jauh dari desa mu. Kalau kau bersedia bekerja di sana, kau bisa berangkat sekarang juga karena aku sudah mengubungi lewat pesan teks. Dia sudah membalas, jadi kau bisa pertimbangkan itu. " Ucap Rien membuat Kanya terlihat bersemangat meski dia masu terlihat gugup dan canggung saat matanya tak sengaja bertemu dengan mata Rien.
" Baik, baik! Aku akan segera berangkat setelah ini. "
Rien memaksakan senyumnya, ternyata memang benar Kanya menerimanya. Dia dan keluarganya pasti sedang kesulitan sekali bukan? Melihat itu Rien juga bisa tenang sekarang, Kanya datang ternyata bukan untuk menjadi duri dalam rumah tangganya lagi.
Dengan keberanian yang dia miliki, Kanya meminta maaf dengan tubuh gemetar mengingat apa yang pernah dia lakukan memang benar-benar memalukan. Dia juga memohon maaf kepada Gail sembari menangis karena telah menimbulkan kekacauan dalam hubungan Gail juga Rien. Belum lama ini dia baru tahu kalau Bibinya, Ibu mertua di penjara atas kejatahan yang dia lakukan. Kanya mulai berpikir bahwa bisa saja itu akan terjadi dengannya andaikan dia tidak segera membenahi diri dan hidup dengan lebih baik.
Rien tersenyum dan merelakan apa yang sudah terjadi sebagai pelajaran hidup untuknya, untuk Kanya, badan juga untuk Gail. Sekeras apapun dia mencoba membenci Kanya, atau siapapun wanita yang mencoba untuk mengganggu rumah tangganya, ternyata Rien tidak benar-benar bisa membencinya. Terlebih Gail juga masih di sana, berdiri dengan gagah dan tegap untuk tetap bersamanya. Ribuan kali ucapan, permintaan untuk bercerai, seribu kali itu juga Gail mengeratkan genggaman tangannya, dengan sabar membuat Rien merasa yakin untuk tetap bersama dengannya.
Perubahan Gail sekarang benar-benar membuat Rien merasa bersyukur dia tidak mengambil keputusan yang akan dia sesali. Gail selalu mengedepankan Rien, mencoba untuk memahami situasi, memahami Rien, mempertimbangkan tindakannya yang akan mempengaruhi Rien, dan dia juga tak pernah menyembunyikan apapun lagi entah kenyataan itu akan menyakitkan atau tidak bagi Rien.
__ADS_1
Rien, dia juga belajar lagi untuk menjadi lebih baik walaupun jujur saja dia masih kesulitan. Dia masih mudah marah untuk hal-hal sepele, dia masih mudah menuntut, tapi untunglah Gail yang sabar bisa membuatnya tersadar sendiri bahwa dia harus lebih keras lagi untuk terus mencoba menjadi lebih baik sebagai saudari, Ibu, terutama istri.
Di sisi lain.
Jenette tersenyum saat tengah bertemu dengan Ibu dari kekasihnya. Bukan tersenyum bahagia, melainkan tersenyum pahit, Kelu karena ternyata Ibu dari kekasihnya membuatnya tidak nyaman sekali.
" Jika nanti kau menikah dengan putraku, ada beberapa peraturan keluarga yang harus kau patuhi benar. Keluarga kami selalu mengedepankan anak laki-laki, dan anak laki-laki akan selamanya menjadi milik Ibunya. "
Agak lucu, tapi Jenette juga tak bisa banyak bicara dan membantah karena sebelumnya juga kekasihnya sudah menjelaskan bahwa keluarganya masih menganut tradisi kuno, hampir mirip seperti tradisi bangsawan jaman dulu.
" Menikahi putra keluarga kami artinya kau harus bersedia mengorbankan segalanya, kau harus siap memberikan apapun untuk kebahagiaan putra keluarga kami. "
Jenette membuang nafasnya pelan, tersenyum degan sopan sebelum dia memutuskan untuk bertanya.
" Jadi, bolehkah saya tahu sampai batas apa saya harus berkorban? Dan bagaimana jika anak perempuan keluarga ini menikahi pria dari keluarga luar? Apakah dia juga harus mengorbankan segalanya untuk pria tesebut? "
Wanita paruh baya dengan dandanan serba mahal, tapi klasik itu terdiam sebentar, menatap Jenette seolah sedang menyelidiki apa yang sedang Jenette pikirkan.
__ADS_1
" Keluarga kami adalah keluarga keturunan bangsawan, kami melindungi anak cucu kami dengan baik karena darah mereka adalah darah bangsawan yang di percaya memiliki hak untuk berada di atas, kasta atas, jadi tidak ada sejarahnya anak cucu kami melakukan itu. "
Jenette menahan tawanya, dia benar-benar tidak percaya kalau kekasihnya begitu sabar harus hidup selama tiga puluh tahun lebih du keluarga kuno seperti itu. Aneh sekali bukan? Orang lain di wajibkan untuk berkorban segalanya demi kebahagiaan keturunan mereka, tapi keturunan mereka tidak boleh melakukan yang sama. Bukankah itu sangat egois? Jadi sekarang Jenette bisa menebak bahwa, batasan untuk berkorban adalah tidak ada. Artinya juga suami jatuh cinta dengan wanita lain dan ingin memilikinya, dia harus menerima sebagai bentuk pengorbanan. Jika suami ingin Jenette mati, maka Jenette harus mati demi kebahagiaan suaminya. Pengorbanan, ataukah pembodohan? Keturunan bangsawan? Cih!
Jenette menyibakkan rambutnya, kembali tersenyum dengan berani. Di dunia ini manusia hidup dengan hak, harga diri, kebebasan, posisi yang sama, kasta yang sama. Jenette memang bukan keluarga bangsawan, tapi dia adalah Tuan putri bagi orang tuanya, dia adalah kesayangan orang tuanya, dia adalah permata tak ternilai bagi orang tuanya. Kenapa dia harus menjadikan dirinya seperti sampah dan memberikan luka kepada orang tuanya yang harus melihat putri kesayangan mereka bersujud, merangkak dengan bodohnya hanya untuk menjadi seorang istri?
" Baiklah, Nyonya Ester. Aku sudah paham sekali, dan Aku tidak ada lagi yang ingin di katakan selain, aku datang karena putramu terus mengejar ku dan melamar ku berkali-kali. Dia bersimpuh dan bersujud untuk mendapatkan hati ku, aku tersentuh, aku merasa dia adalah pria yang baik. Tapi sayangnya, aku adalah wanita yang memiliki pengalaman menikah, dan aku tahu akan seberapa mengerikannya jika pernikahan ini sampai terjadi. "
Jenette bangkit dari duduknya, dia berniat pergi meninggalkan kediaman kekasihnya yang begitu megah dan bergaya klasik.
Greb!
Kekasih Jenette menahan lengan Jenette dan menatapnya dengan tatapan memohon.
" Aku membawa mu menemui keluargaku, bukan untuk meminta restu mereka, tapi aku hanya ingin mengenalkan mu sebagai wanita yang akan aku nikahi. Aku tidak akan mengikuti tradisi keluarga yang aneh ini. "
Bersambung.
__ADS_1