
Besok paginya, Rien terpaksa menyiapkan makanan karena Gail juga harus bekerja jadi tidak mungkin dia membiarkan suaminya bekerja tanpa sarapan. Tapi pekerjaan itu benar-benar ringan sekali karena ternyata Kanya membantu semua pekerjaan dapur. Entah harus bersyukur atau apa dengan adanya Kanya di sana, tapi mengingat bahwa suaminya adalah pria yang di sukai Kanya, dia tetap saja tak bisa berpura-pura mengucapkan terimakasih.
Nasi goreng dengan ayam dan sosis, di lengkapi dengan telur sudah siap di meja. Ada susu hangat, juga jus sesuai kesukaan masing-masing orang.
" Kak Gail, bagiamana rasa nasi gorengnya? " Tanya Kanya menatap Gail penuh harap berharap mendapatkan jawaban seperti yang dia inginkan.
Gail memaksakan senyumnya, sedari tadi matanya hanya sibuk menatap istrinya yang masih saja mendiamkannya. Dia menyapa saya bangun pagi tadi, tapi Rien justru berpura-pura tidak dengar dan terus berbicara dengan Cherel. Baju untuk bekerja, dan lainnya sudah di siapkan oleh Rien, tapi tetap saja sangat aneh bagi Gail ketika istrinya bersikap dingin seperti itu. Di tambah pagi ini yang mengambilkan sarapan untuknya adalah Kanya.
" Enak, suamiku pasti menyukai nasi gorengnya. Besok lebih rajin buatkan sarapan ya? Siapa tahu kau juga akan menjadi istri suamiku jadi anggap saja ini adalah pelatihan. " Ujar Rien tak berekspresi.
Gail menatap Rien, dia tahu benar Rien memang sangat tidak menyukai Kanya, padahal dia sama sekali tak menunjukkan sikap yang seolah memancing Kanya, tapi sepertinya dia juga masih terlihat salah di mata istrinya. Rasanya Gail benar-benar tidak ingin bekerja hari ini, dia ingin bersama Rien dan mengobrol banyak hal untuk meluruskan masalah Kanya yang sama sekali tak pernah menjadi niatnya untuk membuat Kanya memperhatikan dirinya dengan berlebihan.
Kanya tak lagi bisa tersenyum, dia seolah ingin menunjukkan kepada semua orang betapa tertekannya Kanya dnegan sikap Rien yang sangat cemburu itu. Padahal dia hanya sedikit berbicara, bertanya karena dia ingin tahu lebih banyak bagaimana selera makan Gail, apakah berubah apa memang masih seperti yang dulu.
Theo yang berada di sana hanya bisa diam menatap dingin Kanya. Sebenarnya tidak di terimanya Kanya di perusahaan adalah karena dirinya, dia tahu kalau nanti Kanya pasti akan membuat suasana, atau hubungan kakaknya menjadi semakin rumit maka dari itu mendorong Kanya menjauh sedikit demi sedikit adalah pilihan yang tepat. Dia tidak bisa dengan frontal mengusir Kanya, karena Theo paham benar bagaimana sifat Ibunya. Jadi jika terjadi secara alami tentu saja Ibunya tidak bisa banyak memprotes dan menyalahkan orang lain bukan?
__ADS_1
" Kanya, bagaimana kalau sembari mencari pekerjaan yang baru, kau bisa tinggal disini, dan bantu buatkan sarapan? Bibi suka sekali makanan buatan mu, karena sbelumnya bibi hanya makan makanan yang cenderung hambar. " Ucap Ibu mertua, melirik sebentar Rien yang terlihat acuh tapi Rien dengan jelas mendengar satu persatu kata yang terangkai, keluar dari mulut Ibu mertuanya itu.
" Tentu saja, Bibi! Aku senang sekali memasak, jadi aku tidak keberatan kalau memasak setiap hari. " Ujar Kanya, dia tersenyum begitu lebar seolah dia benar-benar bahagia karena memasak, padahal matanya yang sempat menatap ke arah Gail sudah cukup jelas bahwa dia bahagia karena bisa berada di dekat Gail lebih lama lagi.
" Benar, makanan yang sebelumnya kan sangat hambar, sayurannya juga kadang terasa seperti mentah. " Ujar Jenette sengaja ingin mengompori, membuat Rien tersinggung dan kesal sendiri.
" Makanan yang agak hambar adalah makanan yang paling sehat, tidak banyak gula, tidak banyak garam, tidak banyak kaldu, tidak banyak penyedap rasa. Sayuran yang tidak terlalu matang artinya si pemasak benar-benar pintar sekali menjaga kandungan vitamin pada sayuran supaya tidak hilang. " Ujar Theo membuat Rien sontak menatapnya dan tersenyum. Theo, pria yang dulu selalu banyak membantunya kini juga masih sama. Dia selalu paham bahkan tanpa Rien menjelaskan satu kalimat pun. Theo juga tidak sengaja melihat Rien, mereka sempat saling tersenyum dan menatap membuat Jenette lagi-lagi harus merasa begitu marah.
" Benar. " Ucap Gail meraih tangan Rien karena dia juga melihat bagaimana Rien dan Theo sempat saling bertatapan dan saling tersenyum. Memang, Theo bukan pria tak berperasaan yang akan tega merebut atau berselingkuh dengan istri kakaknya, Rien juga bukan wanita murahan seperti itu, tapi tetap saja Gail merasa sakit dan tak menyukai apa yang dia lihat tadi.
Rien menghela nafas, menaik pelan tangannya dari genggaman tangan Gail dan melanjutkan sarapannya. Meskipun malas sekali menelan makanan, tapi dia juga tidak boleh tidak sarapan mengingat Cherel masih membutuhkan ASI darinya.
" Iya, Kanya memang hebat memasak. Tapi akan lebih bagus kalau nanti memasak, minyaknya agak di kurangi. " Ujar Rien tak menatap Kanya sekalipun.
Kanya terdiam, tapi di dalam hati dia benar-benar sangat tertekan dengan sikap Rien yang begitu berani mencelanya terang-terangan seperti itu. Dia sendiri tahu kalau memasak dengan bumbu yang sedikit, cara memotong sayuran, kematangan masakan, dia sudah mempelajari semua itu dengan baik. Tapi Kanya merasa perlu juga mengimbangi selera makan Gail dan keluarga nya kan?
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Gail dan Theo juga sudah berangkat, sementara Rien kini harus memandikan Cherel dulu. Saat berjalan ke kamar Cherel Rien benar-benar di buat keheranan dengan Jenette yang hobi sekali tidur. Padahal belum lama selesai sarapan, dia yang tadinya menonton televisi kini tertidur di sana sembari memegangi camilan, bersama dengan Kanya. Rasanya ingin sekali mendoakan saja, tapi kalau seperti itu terus bukankah akan sulit nantinya melahirkan secara normal? Jenette mengalami kondisi yah tidak biasa, entah apa masalahnya tapi Jenette sempat mengatakan kepada Ibu mertua jika dia tidak bisa di operasi saat melahirkan nanti. Ah, entahlah apa masalahnya, Rien juga sama sekali gak memahaminya.
Rien menghela nafasnya, dia menggerakkan lengan Jenette perlahan karena dia ingin Jenette bangun, setidaknya agar Jenette berjalan sebentar.
" Ah, apa-apaan sih?! " Kesal Jenette sembari membuka matanya dengan dahi yang masih mengeryit.
" Jenette, cobalah untuk menjalankan kakimu, berputar saja di halaman rumah beberapa kali supaya kakimu tidak terus bengkak, dan proses lahiranmu lancar nanti. "
" Tidak usah ikut campur! Kau ini tidak pernah hamil atau bagaimana, hah?! " Datang Ibu Mertua yang terlihat sangat marah melihat Rien mengganggu Jenette.
Jenette juga sama, dia benar-benar kesal sekali karena di bangunkan oleh Rien.
" Jenette, aku memang sebal dengan tingkah polah menyebalkanmu, tapi aku ingin kau lancar melahirkan. "
" Itu urusanku! Kau seharusnya lebih paham bagaimana rasanya hamil kan?! Aku juga inginnya berjalan-jalan, makan bersama temanku, melakukan banyak hal, tapi tubuhku tidak bisa melakukanya, aku selalu mengantuk! Dasar tidak berperasaan! Terserah saja aku mau tidur dari pagi ke pagi, memang apa ruginya kau?! Oh, kau mau aku membantumu di dapur? Heh! Mimpi saja sana! "
__ADS_1
Bersambung.