Marriage Struggle

Marriage Struggle
Terkejut Dengan Hal Tak Terduga


__ADS_3

Bruk!


Rien menjauhkan dirinya di lantai, duduk dengan tatapan terkejut yang tak ada habisnya. Sekarang harus bagiamana? Apakah dia harus segera memberitahu Gail dan juga Theo tentang ini? Theo, dia adalah anak kandung Ibu mertua, walaupun selama ini Theo baik padanya, bukankah tidak akan ada anak kandung yang rela Ibunya di penjara? Lalu Gail? Apakah Gail akan menganggapnya gila karena hal ini? Apakah Gail akan memilih untuk mempercayai dirinya di banding Ibu mertua?


Mengingat semua yang sudah Ibu mertua lakukan memang adalah hal yang sangat menyebalkan, sikap pilih kasihnya, dan semena-mena tentu saja lebih baik dari pada apa yang dia lakukan terhadap Ayah mertua. Rien terdiam memikirkan baikan sekarang Ayah mertuanya? Semua orang sibuk dan sedang dalam suasana berduka, apakah ada yang memperhatikan Ayah mertuanya? Sial! Rien benar-benar tidak bisa masa bodoh dan tidak perduli, di sangat khawatir karena takut Ibu mertua melakukan sesuatu yang membahayakan Ayah mertuanya, juga dia terlalu takut kalau sampai Ibu mertua menyadari degan obat yang sudah di ganti oleh Rien.


Tidak ada pilihan lain, sekarang dia hanya bisa kembali ke rumah, bersikap seperti biasanya dan jangan membuat Ibu mertuanya merasa curiga.


Seperti yang sudah di sepakati bersama dengan Gail, malam setelah Gail pulang dari kantor, dia akan di jemput untuk kembali ke rumahnya. Selama di dalam perjalanan Rien benar-benar tak mengatakan satu katapun membuat Gail terus menahan diri agar jangan sampai apa yang akan dia katakan dan dia tanyakan menjadi alasan lagi untuk Rien semakin marah padanya.


" Kak Gail sudah- " Kanya terdiam membeku, dia kaget karena ternyata Gail pulang bersama dengan Rien. Yah, padahal dia cukup berharap Rien tidak pulang dulu sehingga dia memiliki sedikit waktu lagi untuk dia mencoba mendekati Gail.


Rien tentu saja bisa melihat wajah Kanya yang terlihat kecewa saat melihat ke arahnya. Entah itu perasaannya saja atau bukan, sekarang Rien benar-benar akan menjaga apa yang perlu dia jaga, dia juga tidak perlu berlebihan karena sadar benar dia sudah tidak boleh lagi membuang energi untuk hal yang tidak begitu penting.


" Sayang, berikan Cherel padaku, biar aku saja yang gendong. " Ucap Gail lalu dengan segera mengambil Cherel dari gendongan Rien, dan meraih jemari Rien untuk diajak menuju ke kamar mereka. Tak menghiraukan Kanya, Rien kini menoleh melihat ke arah kamar Ayah mertuanya berada, terus memperhatikannya dan beralih kandang saat dia melihat Ibu mertuanya meski Ibu mertua tidak sedang menatap ke arahnya.


Rien menghela nafasnya, dia mencoba untuk tetap tenang dan tujuannya adalah tidak menimbulkan kecurigaan apapun yang nantinya akan membuat Ayah mertua, atau orang yang dia sayangi akan berada di dalam bahaya.

__ADS_1


Setelah Gail meletakkan Cherel di kamarnya, Rien meminta Gail untuk lebih dulu menuju kamar mereka, sementara dia ingin berada di sana sebentar sampai Cherel benar-benar tidur nyenyak. Bukan itu niat yang sebenarnya, tapi Rien ingin meletakkan cctv berukuran kecil yah akan dia sembunyikan untuk mencegah hal-hal yang tidak dia inginkan. Sebenarnya Gail sudah memasang baby camera untuk mengawasi Cherel, tapi untuk bisa melihat dari berbagai sisi, Rien memasang satu lagi yang bisa langsung terhubung dengan ponselnya. Setelah selesai barulah Rien meninggalkan kamar putrinya, untuk menuju kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar Cherel.


Gail baru saja selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi, lalu tersenyum saat mendapati Rien masuk ke dalam sana. Dia pikir Rien akan tidur bersama Cherel, dan syukurlah dugaannya itu tak terjadi.


" Bagiamana dengan Ayahmu? Dia pasti juga sedih cucunya meninggal bukan? " Tanya Rien yang sebenarnya ingin tahu bagaimana keadaan Ayah mertua hari ini.


Gail menghela nafasnya.


" Iya, dia terlihat sedih saat aku mengantarkan sarapan pagi tadi. Aku hanya berharap dia membaik, tapi dia justru terlihat begitu mengkhawatirkan aku. Syukurnya juga, Ayah sudah tidak lagi banyak mengamuk seperti sebelumnya, dia juga selalu merespon saat di ajak bicara, aku benar-benar senang melihatnya. "


Rien menatap Gail yang tersenyum bahagia, dia bisa melihat betapa leganya Gail karena Ayahnya terlihat membaik. Rien mengepalkan tangannya, mulutnya benar-benar begitu gatal sekali mengatakan semuanya yang dia ketahui, tapi mengingat betapa takut raut wajah Ayah mertuanya, Rien benar-benar harus sekuat mungkin menahan niatnya untuk bicara.


Gail tersenyum Kelu, dia mengingat hari di mana Ayahnya di ajak keluar, mengambil sejadi-jadinya, saat dia coba untuk menenangkan Ayahnya justru dia di pukuli habis-habisan, begitu juga dengan Theo, lalu saat Ibunya mendekat, Ayahnya langsung menggigit lengan Ibunya sampai berdarah, membuat orang yang melihat menjadi sangat ketakutan. Sebulan ini memang Ayahnya jarang sekali berteriak, beberapa hari terakhir ini juga dia terlihat lebih tenang. Tapi mengingat hari itu Gail masih merasa takut kalau saja nanti orang lain yang akan celaka karena Ayahnya.


" Kalau untuk keluar dari kamar, akan aku bicarakan saat Dokter spesialis Ayah datang nanti. "


Rien tersentak, dia menatap Gail dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


" Oh iya, aku hampir lupa. Dokter Ayah itu apakah sejak awal dia yang menangani Ayah? "


" Tidak, mungkin sebulan setelah kita menikah. "


Rien tak lagi bisa bicara, Dokter yang datang setiap sebulan sekali itu memang terlihat baik dan ramah saya datang ke rumah, tapi bukan berarti apa yang bisa di lihat mata adalah apa yang sebenarnya bukan? Rien kini mulai memiliki daftar orang yang akan dia selidiki, jadi sekarang selain Ayah mertuanya, dia juga harus mencari tahu kebenarannya agak semua semakin jelas dan Ibu mertua tidak memilki kesempatan sedikit pun untuk mengelak.


Besok paginya.


Kanya terus melihat ke arah Rien yang kini tengah mengelap piring sebelum di gunakan untuk sarapan nanti. Bukan tanpa alasan, itu karena ada tanda merah yang di tinggalkan Gail di leher Rien.


" Dari pada hanya melihatku saja, tolong lap saja piringnya, aku akan melihat Cherel. " Ucap Rien membuat Kanya berhenti menatapnya, dan melakukan apa yang di katakan Rien.


Tentu saja Rien segera pergi dari sana, tapi tujuannya adalah untuk mendatangi Ayah mertuanya. Untunglah tidak di kunci, jadi Rien bisa langsung masuk ke dalam sana.


" Ayah, dengarkan aku baik-baik ya? Obat yang kemarin ternyata adalah penyebab kondisi Ayah, aku memiliki bukti lab nya, jadi mari kita laporkan saja Ibu ke kantor polisi. " Ucap Rien yang langsung saja bersimpuh di hadapan Ayah mertua yang tengah duduk di kursi roda.


Ayah mertua menggeleng dengan mimik ketakutan membuat Rien menjadi bingung. Kenapa lagi? Bukankah hasil lab juga adalah bukti yang bisa membuat Ibu mertua di hukum berat? Ayah mertua meraih tangan Rien, menggerakkan satu jarinya yang lain untuk bergerak membuat pola huruf di telapak tangan Rien. (Ibu Gail) Itulah yang bisa Rien artikan meski tangan Ayah mertuanya gemetaran.

__ADS_1


Rien terdiam dengan begitu terkejut sembari menatap Ayah mertua.


Bersambung.


__ADS_2