Marriage Struggle

Marriage Struggle
Hasutan Atau Bukan?


__ADS_3

" Kenapa Ibu menggendong anakku?! " Tanya Rien dengan tatapan marah, dan nada bicaranya yang meninggi.


Ibu mertua tersenyum lagi, dia melipat kedua lengannya, meletakkan ke dada dengan wajah dingin tapi juga sulit untuk di tebak apa yang sedang di pikirkan oleh Ibu mertuanya.


" Bukankah anak mu sangat lucu? Dia terlalu mirip dengan Gail, aku baru menyadarinya setelah melihatnya dari jarak yang sangat dekat tadi. " Setelah mengatakan itu Ibu mertua kaki tersenyum miring.


Rien menggigit bibir bawahnya menahan kesal yang begitu menumpuk di dadanya. Tatapan aneh semacam itu, mimik wajah yang tidak terbaca jelas saja Ibu mertua adalah orang yang pandai menyembunyikan wajah aslinya.


" Lain kali, tolong jangan menyentuh anakku. " Ucap Rien dengan tatapan tegas.


Ibu mertua tak menanggapi hingga beberapa saat dan matanya hanya fokus menatap Cherel seperti ingin membuat Rien merasa gugup dan takut. Tapi kenapa Rien harus takut sekarang? Setelah ini dia benar-benar akan menitipkan Cherel di rumah orang tuanya, di tambah Gail yang juga sedang banyak diam, tentu dia tidak akan keberatan untuk tinggal di rumah orang tuanya untuk beberapa waktu ke depan.


" Melihatmu yang sibuk beberapa waktu terakhir, aku penasaran sekali apa yang sedang kau rencanakan, menantu ku tersayang? "


Rien menghela nafas, tersenyum dengan tatapan mencemooh karena memang dia kesal sekali dengan bosa basi, bertele-tele dan sok tidak tahu apapun. Memuakkan! Tapi yah mati lihat saja sampai di mana Ibu mertua bisa bersikap seperti itu, entah akan lama atau dalam waktu dekat ini akan terungkap wajah aslinya, setidaknya Rien sudah bertekad bahwa dia akan menyelesaikan semuanya hingga akhir nanti.

__ADS_1


" Aku sibuk dengan urusan ku, bukankah Ibu mertua juga memiliki kesibukan lain yang tidak biasa? " Rien mencoba menekan Ibu mertua dengan kalimat yang begitu menohok, tapi sayangnya Rien sama sekali tidak bisa melihat bagaimana Ibu mertua tertekan. Dia terlihat begitu santai, seolah ucapan Rien sama sekali tidak ada arti untuknya. Rien tentu saja kesal, juga bingung. Apakah sebegitu hebatnya Ibu mertua dalam mengendalikan mimik wajah dan suasana hati agar tidak terpengaruh oleh keadaan dan ucapan orang lain?


Ibu mertua menyelipkan anak rambut Rien ke belakang telinganya, senyum yang aneh, terasa begitu menekan dan membuat dada Rien sesak terbit dari wajah Ibu mertuanya.


" Baiklah, sibuk lah dengan apa yang kau lakukan, karena itu semua tidak akan mempengaruhiku. Apa yang aku inginkan, apa yang aku mainkan, kau, dan mereka semua berada di bawah kendaliku, tidak akan ada yang bisa lepas terkecuali aku yang ingin membuangnya. "


Rien terdiam sembari membatin, tidak! dia tidak akan terus berada di bawah kendali Ibu mertua, dia akan melakukan apa yang bisa dia lakukan agar bisa menyeret Ibu mertua menuju penghukumam sesuai dengan apa yang sudah di lakukan Ibu mertua selama ini.


" Tidak usah tergesa-gesa, santai saja, rileks...... " Ibu mertua tersenyum dengan tatapan matanya yang kembali membuat Rien tidak nyaman. Yah, apapun yang terjadi, bagaimanapun sulitnya, Rien benar-benar tidak akan membiarkan semua ini berakhir baik untuk Ibu mertua.


Setelah itu Ibu mertua keluar dari kamar Rien, membuat Rien segera menjatuhkan dirinya dengan posisi duduk di pinggiran tempat tidur sembari memeluk Cherel dengan erat. Jujur Ibu mertua memang memiliki aura yang sangat buruk membuat Rien juga merasa begitu tidak nyaman dekat dengannya. Sial! Kenapa dia baru menyadari sekarang padahal sejak awal bertemu dengan Ibu mertua juga dia sudah bisa merasakan perasaan tidak nyaman. Iya, mungkin dulu Rien berpikir itu adalah hal wajar mengingat mereka bukan anak dan Ibu kandung jadi butuh waktu untuk bisa dekat, walaupun nyatanya, pada akhirnya Rien justru bisa melihat betapa bobroknya sifat Ibu mertuanya itu.


Tak ingin berlama-lama memikirkan apa yang di katakan Ibu mertua dan segala apa yang dia lakukan, Rien segera merah ponselnya, melihat apakah pesan dari Marco ada, dan apakah Ibu mertua bisa melihat pesan di ponselnya meski ponselnya memiliki kode keamanan sendiri. Rien membuang nafasnya ternyata Marco masih belum membalas pesan darinya. Wajar saja, Marco juga bukan satu dua kali saja lama membalas pesan karena dia juga sibuk sekali dengan pekerjaannya.


Setelah beberapa saat, Marco akhirnya membalas pesan yang di kirimkan Rien, dan dia mengatakan akan membantu Rien dengan segala cara, dan Marco juga mengingatkan kepada Rien untuk terus hati-hati, serta semua bukti juga sudah terkopi padanya jadi bisa kapan saja Marco dan Rien melaporkan Ibu mertua jika dia melakukan hal bahaya dalam waktu dekat ini.

__ADS_1


Gail dan juga Theo pulang ke rumah, dan masih seperti sbelumnya, Theo tak menyapa Jenette membuat Jenette terlihat begitu sedih. Setelah meninggalnya anak mereka, Jenette bukan hanya jadi pendiam, tapi dia juga terlihat sangat kurus. Sebenarnya Rien benar-benar kasihan melihat Jenette yang di perlakukan dingin oleh Theo, tapi bisa apa dia? Tidak melakukan apapun dia di anggap menggoda Theo dan selalu di maki sesuka hati oleh Jenette, jadi memang lebih baik kalau Rien diam saja bukan?


" Kau tidak pergi ke luar hari ini? " Tanya Gail tanpa ekspresi. Sebenarnya Rien malas menjawab pertanyaan Gail yah terlihat seperti orang yang malas bertanya. Tapi Rien mencoba menahan diri agar tidak bertengkar dulu dengan Gail, Rien ingin memperbaiki suasana hati Gail agar dia bisa berbicara dengan suasana hati yang baik nantinya.


" Tidak, apa kau takut aku pergi menemui Marco? "


Gail terdiam sebentar, meletakkan pakaiannya di tempat pakaian kotor.


" Tidak, aku hanya bertanya. Kau bisa menemui siapapun, menemui siapapun juga, bukankah begitu? "


Rien membuang nafas kesalnya. Apa-apaan sebenarnya? Tapi tunggu! Apakah ini yang di maksud Ibu mertua dia akan membiarkan apa yang ingi dia mainkan? Apakah Gail mendapat hasutan yang tidak baik, hasutan yang membuat Gail mulai bersikap dingin kepada Rien seperti sekarang ini? Bukankah kalau iya itu berarti Gail tidak memiliki kepercayaan sama sekali terhadap istrinya sendiri? Rien menggeleng heran, dia sudah bersiap untuk membuka mulut mengatakan apa yang ingin dia katakan mengenai Ibu mertuanya agar Gail berhenti untuk mudah di hasut.


" Aku mandi dulu. " Ucap Gail yang membuat Rien tidak lagi ingin melanjutkan niatnya untuk bicara, dan menutup bibirnya serapat mungkin.


" Gail, betapa kecewanya aku apa kau tahu? " Gumam Rien menatap pintu kamar mandi yang kini sudah tertutup rapat.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2