
" Aku pernah menganggap dunia ini tidak memberikan aku kebahagiaan, aku menyesali setiap waktu atas keputusan yang aku ambil. Aku menyalahkan mu, menyalahkan diri sendiri hingga kita berakhir dengan perpisahan. Awalnya semua memang terasa menyakitkan, sesak, aku bahkan stres cukup parah apalagi saat malam hari dan aku berada sendirian. Jujur saja setelah bercerai aku benar-benar sangat hancur hingga merasa tidak ingin melakukan apapun. Tapi begitu Jefrey hadir di dalam hidupku, menganggu tidak kenal waktu, dia bertingkah seperti remaja yang baru merasakan jatuh cinta. Aku merasa ragu dan takut, aku tahu ini terlalu cepat, otakku juga masih memikirkan tentangmu, tapi dia meraih tanganku, menggenggam erat, membawaku melihat sendiri bahwa ada cinta lain yang pantas untukku. " Jenette tersenyum setelah mengatakan itu. Saat ini dia tengah bersama dengan Theo, berbicara berdua saja di taman samping rumah. Bagaimana hal itu bisa terjadi, semua karena Cherel yang terus berlarian, sementara Jenette mengejarnya hingga tidak sengaja bertemu Theo yang sedang duduk seorang diri di sana.
Tadinya Jenette hanya ingin menyapa saja, tapi pada akhirnya mereka mulai bicara lumayan dalam, hingga akhirnya membicarakan sampai disini ketika Theo membahas tentang apa saja yang di lakukan Jenette selama di luar negeri, dan bagiamana keadaannya selama berada di sana.
Theo memaksakan senyumnya, selama ini juga dia hanya sibuk memikirkan banyak hal, juga sibuk memikirkan perasaanya yang kacau akibat perceraian yang begitu membuatnya menyesal. Sekarang dia bisa melihat Jenette bersama pria lain, pria yang amat mencintainya, memperlakukannya dengan sangat baik, bahkan juga terlihat begitu perhatian hingga Theo merasa malu sendiri mengingat selama dia menikah dengan Jenette dia hampir tidak pernah memperhatikan Jenette seperti yang di lakukan Jefrey.
Sekarang Theo sadar benar jika dia tidak akan bisa meraih, apalagi untuk menggenggam hati Jenette. Jefrey adalah pria yang baik, Theo juga yakin benar bahwa Jenette pasti akan bahagia bersama pria yang menghargainya, dan siap melakukan apa saja demi kebahagiaannya.
" Jenette, aku benar-benar ingin melihatmu bahagia, jadi jangan kecewakan aku, hiduplah dengan bahagia karena kau pantas mendapatkannya. " Ucap Theo sembari mengulurkan tangannya.
Jenette tersenyum, dia mengangguk lalu menerima jabatan tangan Theo, mereka saling berjabat tangan, terucap di dalam hati mendoakan kebahagian mereka masing-masing.
Setelah berjabat tangan, Theo dan Jenette berjalan berlawanan arah membuat hanya punggung mereka saja yang berhadapan dan saling menjauh tanpa menoleh lagi.
Sebuah hubungan bukan berati harus bersama untuk menuju bahagia, perpisahan memang menyakitkan, perpisahan membuat seseorang menyadari betapa besar arti seseorang yang kini sudah tak lagi bersama. Tangan yang menggenggam terlalu kuat bukankah akan menyakitkan? Jika tidak bisa mengontrol genggaman tangan agar keduanya merasa nyaman, bukankah akan lebih baik melepaskan saja, dan membiarkan kedua tangan terlepas dari rasa sakit, beristirahat untuk terus menggenggam kuat seperti sebelumnya?
Cinta......
Kata cinta di artikan begitu indah lewat syair, drama, cerita dalam novel, dan sebagainya. Namun, sedikit sekali yang menyadari jika cinta yang indah adalah cinta yang tidak akan mengorbankan apapun. Tidak menyakiti diri sendiri, juga tidak menyakiti orang lain.
Melihat perpisahan antara Theo dan Jenette, Gail dan juga Rien yang berada tak jauh dari sana hanya bisa terdiam dengan perasaan sedih.
Gail meraih tangan Rien, menggenggamnya membuat mereka kini saling menatap.
" Terimakasih karena pada akhirnya memilih untuk tetap bersama dengan pria bodoh ini, terimakasih karena memiliki kesabaran yang begitu luas sehingga pria yang banyak kekurangan ini selalu di berikan kesempatan untuk berada di sampingmu. "
Rien terdiam sebentar mendengar apa yang di katakan Gail, lalu tersenyum mengiyakan apa yang di katakan Gail. Tentu saja kekurangan itu bukan hanya milik Gail seorang, Rien juga sama, dia memiliki banyak kurang terutama dalam bersikap. Tapi bukankah kesempurnaan itu hanya milik Tuhan? Ini lah pentingnya hal yang di butuhkan dalam hubungan, memberi dan menerima, memahami, dan di pahami.
__ADS_1
" Mari kita berusaha dengan sangat keras melewati hari, Minggu, bahkan, tahun, bersama? Walaupun aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, tapi aku harap kau hanya milikku seorang, dan begitu juga sebaliknya. " Ucapan Rien barusan membuat Gail tersenyum dan setuju dengan sangat yakin.
Di sisi lain.
Jenette tersenyum kepada Jefrey yang kini juga tersenyum ke arahnya. Di dalam hati Jenette dia benar-benar sudah merasa lega sekali setelah berbicara dengan Theo, dan dia sangat bersyukur sekali pria yang bernama Jefrey itu benar-benar mencintainya.
Aku sudah tidak merasa ragu lagi.
Jenette berjalan mendekati Jefrey, langsung menggenggam tangannya dan tersenyum.
" Hari ini aku akan mengatakan dengan sungguh-sungguh padamu, mari kita hadapi badai dalam hubungan kita bersama-sama, mari kita lalui susah senang bersama, dan aku akan melihat apakah kau benar layak atau tidak. Asalkan kau tidak berubah pikiran, tetap mencintaiku, maka aku akan berada di dekatmu, aku berjanji. "
Jefrey terdiam menatap kedua bola mata Jenette berharap apa yang di katakan Jenette benar-benar tidak main-main.
" Aku bersungguh-sungguh, jadi berhentilah menatapku seperti itu! " Ucap Jenette yang langsung membuat Jefrey tersenyum sembari menahan tangis. Gila, seumur hidup dia benar-benar baru kali ini merasa sangat bahagia hingga tidak mampu memasang ekspresi dengan benar.
" Lakukanlah banyak hal baik, hindari perbuatan buruk dan pastikan untuk tidak datang ke tempat ini lagi. " Ucap seorang sipir kepada seorang wanita paruh baya yang kini tersenyum tipis. Begitu dia berbalik, wanita itu tersenyum dan perlahan mengerakkan bola matanya ke atas, menggunakan telapak tangan untuk menghalau sinar matahari yang sangat terik waktu itu.
Penampilannya sudah sangat berubah, uban di rambut kepalanya benar-benar sudah cukup banyak, kerutan di wajahnya juga sudah tidak lagi bisa di tutupi. Tubuhnya yang jauh lebih kurus, juga pipinya yang tirus, dia adalah Ibu mertua.
" Mengikuti langkah kaki, berjalan tanpa arah, menikmati terpaan angin, sepertinya adalah hal yang menyenangkan bukan? " Gumam Ibu mertua lalu tersenyum tipis.
" Sayang sekali harus keluar, padahal kalau aku sudah keluar itu artinya aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan bukan? " Ibu mertua tersenyum kembali sembari menenteng tas berukuran besar di mana beberapa lembar pakaiannya tersimpan di sana.
" Bukankah akan lebih baik kalau kita menghabiskan waktu bersama? "
Ibu mertua berbalik badan, menatap seseorang yang baru saja bicara dengannya.
__ADS_1
Ibu mertua menghela nafasnya.
" Sayang sekali, aku tidak tertarik hidup dengan Kakak tiri yang menyebalkan sepertimu. Ngomong-ngomong kau sudah semakin tua, kenapa masih harus mengabiskan waktu untuk datang kesini? "
Ibunya Gail tersenyum, melangkahkan kaki mendekati Ibu mertua, dan tersenyum saat jarak mereka sudah dekat.
" Waktu untuk kita hidup sudah tidak banyak lagi bukan? Walaupun hanya sebentar saja, mari kita hidup bersama, mari habiskan waktu kita yang sisa sedikit ini dengan baik. "
Ibu mertua terdiam sebentar, lalu berbalik badan menolak tanpa kata.
" Diana, kau tidak memiliki pilihan lain! "
Ibunya Gail berjalan cepat menghampiri Ibu mertua, meletakkan tangannya di lengan Ibu mertua dan memeluknya dengan erat, mengabaikan wajah sebal Ibu mertua.
Penderitaan boleh di rasakan cukup lama, tapi aku tidak akan membiarkan kita mati dengan keadaan yang menyedihkan, adikku.
TAMAT
Halo Pembaca kesayangan?
Terimakasih selalu mendukung, juga mengikuti cerita ini hingga tamat ya?....
Mampir juga yuk di karya baruku,
Benih Terlarang
Di tunggu ya...... 😘😘😘
__ADS_1