
" Jika kau merasa muak dan lelah, maka tidak masalah jika kau beristirahat sebentar. Tapi jangan lupakan satu hal penting ini, nak. Rumah tangga itu bukan tentang cinta saja, tapi juga komitmen, tiap orang berumah tangga memiliki ujiannya tersendiri. Ibu tidak tahu seberat apa ujian mu, tapi tolong jangan kau anggap itu menjadi beban. Rien, selama suami tidak ringan tangan, berselingkuh dan juga malas bekerja, semua itu bisa di bicarakan baik-baik. Ibu dan Ayah akan menerima mu kapan saja kau ingin datang dan tinggal, tapi setidaknya biarkan Gail datang, dan bicara kepada kami. Kalian bisa menceritakan masalah kalian kepada kami kalau kalian merasa begitu tidak sanggup, siapa tahu kami memiliki solusi untuk masalah kalian bukan? "
Rien tidak menjawab, dia hanya bisa terus terdiam tak tahu harus mengatakan apa. Sebenarnya masalah terbesar dalam rumah tangganya adalah Ibu mertua yang selalu ingin menendangnya menjauh dari Gail. Pernah Rien memikirkan masalah ini, sebenarnya apa yang akan di dapatkan Ibu mertua jika dia menjauh dari Gail? Kenapa Ibu mertua selalu mendatangkan masalah demi mereka bertengkar? Apakah memang ingin memisahkan mereka, atau melihat Gail dan Rien bertengkar adalah hal yang membahagiakan untuknya? Sekarang sudah berada di ujung jalan, Rien tidak bisa mundur lagi karena langkahnya sudah sejauh ini.
Rien menatap Ibu dan Ayahnya, berusaha tenang mengatakan apa yang ingin dia katakan kepada orang tuanya.
" Ibu, sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi dengan Ibu mertuaku. " Setelah itu Rien menceritakan segalanya yang ia ketahui, baik yang dia alami selama menjadi istrinya Gail, lalu cerita dari Ayah mertua, rekaman kamera pengawas, dan juga bukti yang dia dapatkan dari rumah sakit jiwa Grevverent.
Orang tua Rien tentu saja terkejut bukan main, yang mereka tahu Gail adalah pria yah sangat baik, tidak sekalipun pernah menggunakan tangannya untuk memukul Rien, juga tidak berselingkuh, di tambah Gail juga pekerja keras jadi selama ini dia yakin Rien akan baik-baik saja. Ibunya Rien kini hanya bisa terduduk lemas tak tahu harus mengatakan apa kepada Rien. Padahal dia juga seorang Ibu, padahal dia juga memiliki dua menantu tapi tak sekalipun dia pernah memperlakukan menantunya dengan buruk. Mereka selalu berusaha yang terbaik, memperhatikan anak menantu dengan sama, tapi kenapa putrinya harus mengalami cobaan seberat ini?
" Rien, Ayah tidak bisa mengatakan apapun sekarang. Ayah juga tidak berhak meminta mu bercerai, tapi Ayah juga tidak berani meminta mu untuk kembali. Tenangkan dirimu dulu, mari kita lihat sejuah apa Gail memperdulikan mu dan berusaha untuk meluluhkan hati mu. Tapi, Ayah sangat tidak setuju kau terjun langsung dalam masalah serumit ini, Rien. Kenapa tidak kau laporkan saja kepada pihak berwajib? " Tanya Ayahnya Rien dengan tatapan yang masih begitu terkejut, dia juga terlihat sedih atas apa yang menimpa putrinya.
" Tidak semudah itu, Ayah. Ibu mertua seperti memegang sebuah kunci penting, dia pasti akan berbuat sesuatu jika sampai ada yang melapor ke polisi. Dia sudah berundak selama puluhan tahun, jelas saja dia sudah menyiapkan diri dengan baik untuk lolos dari segala tuduhan yang akan di arahkan padanya. Dia amat tenang, tenang sekali sampai tatapan matanya saja sudah cukup membuatku berdebar takut. "
Ayahnya Rien menghela nafasnya. Sekarang dia benar-benar bingung sendiri, dan juga mulai merasa was-was karena perasaannya mengatakan jika Rien akan berada dalam bahaya nantinya. Tapi menghentikan Rien yang terlihat begitu semangat tentu saja juga tidak mudah.
__ADS_1
" Baiklah, ini sudah malam, kau tidurlah dulu, Rien. " Ucap Ibunya Rien yang merasa pembicaraan di antara begitu menegangkan, di tambah dia juga tidak ingin Rien terlalu berlebihan dalam berpikir karena itu tidak akan baik untuk dirinya, juga ASI nya yang akan terhambat saat Rien stress nanti.
Rien menuruti apa yang di katakan Ibunya, dia segera bangkit berjalan menuju kamarnya di mana Cherel juga sudah nyenyak tidur di sana.
Sekarang tinggallah Ayah dan Ibunya Rien saja.
" Bagaimana menurut mu, Ayah? " Tanya Ibunya Rien.
Ayahnya Rien menggeleng bingung.
Ibunya Rien mengangguk setuju. Rasanya dia juga sama, menyesal tapi juga tidak menyesal. Tapi harus bagiamana lagi? Semua sudah terlanjur terjadi, dan mereka juga tidak akan bisa mengulang waktu sebesar apapun penyesalan mereka.
" Perasaanku benar-benar tidak enak. " Ujar Ibunya Rien. Ayahnya Rien juga mengangguk setuju.
" Bagaimana kalau suruh dia berhenti ikut campur masalah itu, dan biarkan saja Marco yang melakukanya? Kita bayar saja dia dua kali lipat, bukankah itu bisa? "
__ADS_1
" Kita bicarakan nanti saja saat anak kita sudah agak tenang, sekarang pasti dia juga sedang kacau, jadi bersabar lah sedikit. "
Setelah malam itu, Rien memutuskan untuk menjauh lebih dulu dari Gail. Dia tidak mengaktifkan nomor ponselnya, tujuannya adalah dia ingin mencoba kembali menatap segala pemikirannya agar bisa berpikir dengan baik, dan kali ini dia juga ingin lebih fokus dengan menyelamatkan atau mengeluarkan Ibu kandung Gail dari rumah sakit. Nanti baru cari waktu yang pas untuk mempertemukan Ayah mertua dengan Ibunya Gail, dan menjelaskan bagiamana situasi yang sebenarnya.
Pagi hari.
Rien bergegas pergi setelah selesai sarapan, dia pergi bersama dengan Ayahnya yang akan pergi bekerja, sedangkan Cherel tinggal di rumah berdua dengan Ibunya Rien. Pada saat sarapan pagi tadi Sebenarnya orang tua Rien sudah meminta Rien untuk berhenti dan membiarkan Marco menyelesaikan masalah ini sendiri, tapi Rien merasa tidak enak kalai melimpahkan segalanya kepada Marco padahal dia sudah menyita banyak waktu Marco, sehingga waktu untuk istirahat benar-benar sangat sulit Marco dapatkan.
Rien turun di pinggir jalan, tepatnya di mana halte bus berada. Dia menuju ke rumah sakit Grevverent untuk mengurus biaya yang sudah dia janjikan, sekaligus membicarakan tentang niat Rien yang ingin membawa Ibunya Gail ke luar dari sana.
Begitu sampai di rumah sakit jiwa Grevverent, Rien langsung menemui resepsionis, lalu di bimbing untuk membayar tagihan yang belum di bayar.
" Setelah saya membayar, apa saya boleh langsung bertemu dengan beliau? " Tanya Rien, dan begitu mendapati anggukan Rien langsung tersenyum bahagia tanpa dia sadari Marco telah mengirim pesan meminta Rien untuk jangan melakukan apapun sementara ini karena tiba-tiba dia di tugaskan untuk keluar kota selama tiga hari.
Bersambung.
__ADS_1