Marriage Struggle

Marriage Struggle
Pergi Ke Laboratorium


__ADS_3

Rien menggenggam erat-erat tiga kapsul obat milik Ayah mertuanya, obat itu sengaja dia sisakan untuk dia bawa ke Dokter, tujuannya adalah untuk membawanya ke lab dan mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang begitu memenuhi kepala Rien. Hanya tiga kapsul itu saja yang di sisakan Rien, lainnya sudah di buang ke kamar mandi jadi Rien benar-benar menjaga benar tiga kapsul yang dulu di konsumsi oleh Ayah mertuanya.


Tak ingin hilang, dengan segera Rien memasukkan ke dalam dompetnya, lalu segera dia bersiap-siap untuk pergi dari rumah untuk menjalankan tujuannya. Untungnya Cherel juga sedang bersama orang tuanya, jadi dia bisa menggunakan alasan itu untuk pergi dalam waktu yang cukup untuk menyelesaikannya.


" Sayang, mau kemana? " Tanya Gail yang baru saja masuk ke dalam kamar, dia baru saja menyusul Theo untuk membuatnya tenang, tapi karena Theo meminta waktu untuk sendiri makanya Gail meninggalkannya dan menyusul Rien yang berada di dalam kamar.


" Menemui Cherel. " Jawab Rien singkat.


Gail terdiam sebentar, dia sedang berpikir bagaimana caranya membuat Rien berhenti marah padanya, dia tidak ingin hubungannya dengan Rien bertahan seperti ini terus.


" Aku ambil kunci mobil dulu, aku akan antar kesana. "


" Tidak! "


Gail yang sudah akan berbalik untuk mengambil kunci mobil tertentu, dia menatap Rien dengan tatapan bertanya, kenapa tidak mau di antar olehnya? Tapi begitu melihat tatapan mata Rien yang begitu dingin, dia jadi bisa mengerti bahwa Rien memang masih belum memiliki keinginan untuk berbaikan dengannya. Sakit, dia juga merasa takut kalau dia akan tergantikan, dia juga akan di lupakan, tidak di cintai lagi, dan kehilangan anak serta Istrinya.


" Sayang, aku tidak bisa mengantarmu kemana kau pergi sebelumya karena aku sibuk bekerja, sekarang aku tidak bekerja, jadi ini juga jarang sekali kan? Maka biarkan aku antar, aku juga ingin bertemu Cherel. "


Rien tersenyum Kelu, jujur saja dia memang bahagia memiliki suami yang begitu menyayangi putrinya, tapi meskipun ada pepatah yang mengatakan jika tidak ada manusia yang sempurna, rasanya sulit untuk Rien menerima kekurangan Gail. Mungkin ini terdengar egois, tapi bisakah tolong biarkan untuk kali ini saja Rien melakukan apa yang seperti dia inginkan?


" Aku ingin sendiri, aku butuh waktu untuk tenang. Jangan takut, aku akan kembali sampai aku merasa aku sudah selesai. "


Selesai? Selesai apa? Gail terdiam dengan dada yang begitu sesak, sampai setiap tarikan nafasnya dia merasa begitu nyeri. Apakah sungguh Rien benar-benar ingin menyelesaikan pernikahan ini dengan perpisahan? Pertanyaan itu benar-benar membuat Gail tak bisa berkata-kata, bahkan mulai membayangkan hidupnya tanpa Rien juga Cherel dia tidak sanggup melakukannya.

__ADS_1


" Kau pulang jam berapa? Nanti biar aku yang jemput. "


Rien menghela nafasnya, Tuhan, sungguh dia juga merasakan sakit dan sesak yang sama setiap kali melihat wajah Gail yang tidak berdaya. Rasanya dia juga marah karena harus melihat wajah seperti itu terus menerus seolah kebahagiaan dari rumah tangga mereka begitu sedikit tak bisa mengimbangi ketidakberdayaan suaminya.


" Sudahlah, Gail. Pulang jam berapanya, tolong jangan di pikirkan lagi. Aku akan pulang saat aku merasa harus pulang kemari, kau tenangkan saja Ibumu, bukankah dia adalah yang paling penting untukmu? "


Gail menggeleng tidak setuju.


" Kau, juga anak kita sama pentingnya. "


Rien membuang nafasnya.


" Akan aku anggap begitu, aku pergi dulu. " Ucap Rien lalu segera menjalankan kakinya keluar dari kamar dengan segera.


" Tidak, tidak, tidak boleh begini! "


Kanya yang sedari tadi menemani Jenette hanya bisa mengeryit kebingungan. Dia sudah sedari tadi mengusap punggung Jenette, dan membisikkan kata-kata agar Jenette bisa lebih bersabar, tapi ternyata Jenette malah tiba-tiba histeris sendiri membuat Kanya serasa ingin pergi saja.


Beberapa saat kemudian, Rien menyerahkan obat itu untuk di periksa ke lab.


" Baiklah, anda bisa megambil hasilnya besok pagi ya? "


Rien tersenyum dan mengangguk. Setelah itu Rien keluar dari sana buru-buru, dan sekarang dia akan menuju ke rumah orang tuanya. Di dalam perjalanan Rien benar-benar begitu berdebar, entah mengapa dia merasa begitu takut sekali. Tentang lab mungkin ini cukup lancar, tapi Rien memiliki firasat kalau kedepannya dia benar-benar akan kesulitan menyelesaikan tugasnya. Rien membuang nafasnya, menyenderkan tubuhnya di senderan kursi taksi yang dia duduki sembari berdoa di dalam hati agar menjaga semua keluarganya dari kejahatan dan ketakutan yang Rien pikirkan.

__ADS_1


Di rumah keluarga Gail.


Jenette sedang menangis sesegukan mengadukan apa yang dia pikirkan kepada Ibu mertua. Gail yang mendengar hal itu segera menghubungi istrinya, karena tidak mendapatkan jawaban dia akhirnya menghubungi orang tua Rien untuk menanyakan apakah Rien ada di sana atau tidak. Gail kini hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun menahan ketakutannya, dia tidak ingin percaya dengan apa yang di katakan Jenette, tapi ini begitu kebetulan. Gail tak mengatakan kepada Jenette ataupun Ibunya kalau Rien tidak ada di rumah orang tuanya, dia juga tidak mengatakan jika dia sudah mencoba menghubungi Rien dan juga Theo. Dia masih ingin mencoba memercayai istrinya, dia tidak ingin dugaan yang belum jelas itu membuat hubungannya dengan Rien semakin buruk. Theo, setidaknya Gail juga harus yakin bahwa adiknya bukan pria semacam itu.


" Kenapa kau harus menangis seperti itu, Jenette?! Theo bukan pria tidak bermoral seperti itu, di tambah hari ini adalah hari kematian putranya, kau pikir Theo tidak punya otak?! "


Jenette menahan tangisnya meski hatinya jadi semakin hancur karena tak mendapatkan dukungan dari Ibu mertuanya.


" Kalau Theo tidak mau menerima telepon mu, kau bisa hubungi Rien kan? " Ujar Ibu mertua sebentar melirik Jenette dengan tatapan sebal.


Jenette dengan segera mencoba untuk menghubungi Rien, dan untungnya Rien langsung menerima panggilan suara itu.


" Kau dimana?! " Tanya Jenette.


Bukan urusanmu.


Mendengar jawaban Rien Jenette jadi semakin liar menebak-nebak dan tebakannya justru membuat dirinya semakin merasa hancur dan sedih.


"Dasar wanita murahan! Sanita tidak tahu malu! Beraninya kau menggoda suamiku! "


Gail tak terima mendengar itu, dia segera berjalan mendekati Jenette ingin merebut ponsel itu dan membantingnya. Tapi suara Rien yang bisa di dengar karena mode pengeras suara membuat Gail terhenti tak lagi ingin melanjutkan niatnya.


Aku tidak ada waktu luang untuk menggoda pria lain, sampai jumpa.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2