
Hari ini Rien sudah bersiap dengan segalanya. Dia akan menemui wanita yang berada di rumah sakit jiwa, wanita yang kehilangan satu jarinya karena Ibu mertua, wanita yang adalah Ibu kandung Gail. Cherel sudah dia titipkan kepada orang tuanya, sementara Gail juga tidak tahu apakah dia tahu atau tidak kemana dia akan pergi hari ini.
Sudah waktunya untuk bergegas, Rien sudah tidak ingin memikirkan lagi selain memecahkan masalah yang begitu rumit ini. Jika di tanya apakah dia takut, maka jawabannya adalah dia cukup takut, dia gugup, dia juga bingung harus bagaimana dan dari mana untuk memulai pembicaraan nanti. Tapi, mengingat kesempatan seperti ini belum bisa dia dapatkan di lain hari, tentu saja Rien tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bagus ini.
Berkat Marco, Rien kini sudah berada di rumah sakit jiwa Grevverent, menggunakan pakaian perawat, kaca mata dan juga masker penutup agar wajahnya tak di kenali meskipun ada kamera pengawas di sana. Sudah waktunya Rien masuk ke ruangan yang paling ujung, paling sunyi, ruangan di mana Ibunya Gail di tahan di sana. Menurut keterangan dari Dokter yang menyayanginya, wanita itu sudah mengalami gangguan kejiwaan cukup lama, tapi dia yang tidak menyukai banyak suara, membuat Dokter tidak berani mendekatkan ruangannya dengan pasien lain. Wanita itu sangat pendiam, satu bulan mungkin hanya satu kata saja yang keluar dari mulutnya, tapi jika sudah mengamuk, dia akan sangat histeris dan tidak segan-segan melukai orang lain.
" Tolong berhati-hati. " Ucap perawat yang biasa berada di sana karena dia merasa khawatir saat Rien menolak untuk di temani dengan alasan siapa tahu adalah orang lebih dari satu akan membuat emosinya naik dan membuatnya mengamuk.
Begitu sampai di dalam, Rien terdiam membeku melihat seorang wanita paruh baya duduk dengan begitu tenang. Dia seperti melamun dengan matanya yang kosong, dia seperti putus asa tentang hidupnya membuat jantung Rien berdegup kencang. Sungguh wanita yang katanya Ibu kandung Gail ini gila? Sejujurnya Rien takut kalau wanita itu mengamuk dan menyerang dirinya, tapi lagi-lagi karena kesempatan yang tidak akan mudah untuk dia dapatkan ini, dia tidak bisa menyia-nyiakan begitu saja.
Perlahan Rien melangkahkan kakinya mendekati wanita itu, lalu duduk lumayan jauh darinya sembari terus menatap ke arahnya. Rien membuang nafas, menelan saliva berharap apa yang dia lakukan barusan bisa sedikit membuat perasaan gugupnya berkurang.
__ADS_1
" Selamat siang, Nyonya? " Sapa Rien dan sanita itu sama sekali tidak merespon Rien sama sekali, tetap duduk termangu tanpa ekspresi.
" Nyonya, sebenarnya aku datang kesini karena ingin memastikan sesuatu, jadi bisakah Nyonya mengatakan atau menjawab satu saja pertanyaan ku? "
Wanita itu masih tak merespon, dia benar-benar seperti tak melihat Rien juga seperti tak mendengar suara apapun juga.
Rien membuang nafasnya, ternyata benar kalau wanita itu sama sekali tidak suka bicara, jadi Rien harus bagiamana? Di lain sisi dia takut kalau dugaannya benar, lalu dia menyingung nama Gail atau nama Ayah mertuanya akan membuat wanita itu mengamuk, tapi Rien juga sangat penasaran seperti ingin mati saja kalau sampai tidak tahu apapun setelah menemui Ibu mertua.
Rien mengambil ponselnya, menunjukkan photo Gail yang tengah menggendong Cherel kepada wanita itu. Beberapa saat memang wanita itu sempat tidak merespon seolah itu juga bukan hal yang penting, tapi Rien terus menunjukkan photo itu kepada wanita itu sehingga wanita itu mulai memperhatikan layar ponsel milik Rien.
Respon wanita itu tentu saja membuat Rien terdiam, begitu terkejut hingga tidak bisa mengatakan apapun. Ternyata benar wanita itu adalah Ibunya Gail, juga berarti adalah Ibu mertuanya? Sebenarnya seberapa gila Ibu mertua memperlakukan dan mempermainkan orang lain?
__ADS_1
" Abigail ku, kenapa menggunakan pakaian perempuan, apa wanita jahat itu melakukannya? " Ucap wanita itu, ( Ibunya Gail ) Dia memeluk ponsel Rien dan menangis pelan membuat seluruh tubuh Rien gemetar. Rien mencoba untuk tetap tenang, dia berjalan pelan mendekati Ibunya Gail ingin mengambil ponselnya untuk dia tunjukan yang mana Gail sebenarnya. Dia pasti mengira Cherel adalah Gail karena wajah Cherel benar-benar mirip dengan Gail saat masih bayi. Tapi tangan Rien langsung di tepis oleh Ibunya Gail karena merasa Rien ingin merebut putranya dari dirinya.
" Ibu, meksipun ini kali pertama kita bertemu, tapi aku yakin benar Ibu pasti orang baik yang tidak akan mungkin meninggalkan Gail begitu saja bukan? Gail sekarang sudah dewasa, dia sudah menikah, dan dia sudah punya anak. Bayi kecil yang menggunakan pita itu adalah putrinya Gail, dan pria yang menggendong bayi itu adalah Gail, aku adalah istrinya Gail. " Ucap Rien perlahan berharap Ibunya Gail dapat memahami walau sedikit. Tapi nyatanya salah, dia justru mendorong Rien hingga Rien jatuh duduk di tempat lantai.
Rien kembali bangkit sembari menahan sakitnya punggung yang membentur lantai, dia kembali berjalan mendekati Ibunya Gail, mengeluarkan selembar photo, dan photo itu adalah photo Cherel yang belum lama ini dia cetak.
" Ini, ambil photo ini dan simpan baik-baik ya? " Rien menyodorkan photo Cherel kepada Ibunya Gail, dan benar saja, Ibunya Gail langsung membuang ponsel Rien ke sembarang arah untuk mengambil selembar photo dari tangan Rien. Untungnya saat di photo itu Cherel menggunakan pakaian berwarna putih, tidak menggunakan hiasan kepada jadi membuatnya sangat mirip dengan Gail. Untuk berjaga-jaga, Rien diam-diam memotret Ibunya Gail setelah memungut Ponselnya. Ada retak di layar ponsel, tapi untungnya ponsel masih bisa digunakan seperti sebelumnya.
Melihat bagaimana Ibunya Gail memeluk terus photo itu, bukankah sudah jelas kalau dia tidak mungkin berpura-pura mati, lalu meninggalkan Gail begitu saja bukan? Walaupun memang tidak ada petunjuk apapun, rasanya Rien benar-benar yakin kalau semua ini pasti terjadi karena Ibu mertuanya yang sekarang ini.
Rien kembali menatap Ibunya Gail sembari membatin, sepertinya Ibunya Gail tidak separah itu, dia masih ingat anaknya, gender anaknya, dia mengingat dengan jelas semua itu jadi dia tidak gila sampai harus membutuhkan puluhan tahun untuk pulih kan? Rien tersentak, membulatkan matanya saat dia memiliki pendapatnya sendiri.
__ADS_1
" Apakah Ibu mertua yang membuat Ibunya Gail seperti ini? Kalau iya, bukankah dia sudah sangat keterlaluan sekali? " Gumam Rien. Sekarang dia harus memikirkan benar bagaimana caranya mengeluarkan Ibunya Gail, dan membuat Ibu mertua di hukum untuk semua kejatahan yang dia lakukan, dan tentunya Rien juga harus memiliki bukti itu dulu bukan?
Bersambung.