Marriage Struggle

Marriage Struggle
Petunjuk Yang Sangat Jelas


__ADS_3

Gail menuju kamarnya karena dia pikir tidak mungkin dia tetap berada di sana, membuat istrinya berikut macam-macam padahal dia sama sekali tidak memiliki niat apapun terhadap mantan kekasihnya itu. Seperti dugaan Gail, Rien akan dingin dan tidak banyak bicara lagi seperti beberapa waktu terakhir ini. Sungguh itu sangat tidak nyaman, dan kalau boleh memilih tentu saja dia akan memilih untuk Rien menjadi seperti sebelumnya. Rien yang akan langsung mengatakan apa yang membuatnya marah, melampiaskan kemarahannya dengan berbicara sesuka hatinya, juga mengutarakan bagaimana yang dia rasakan. Sekarang haruskah Gail menebak yang belum tentu tebakannya itu benar?


" Kau sudah makan malam? " Tanya Gail.


Rien menghela nafas, tidak memberikan jawaban untuk pertanyaan Gail tadi. Padahal dia kira Gail belum pulang ke rumah, bukankah kalau memang dia sudah pulang seharusnya dia tahu kalau Rien tidak ada di rumah, lalu menghubunginya, dan menjemputnya bukan? Sungguh, dia benar-benar banyak berharap kepada Gail yang sama sekali tidak paham jika tidak di beritahu lebih dulu.


" Kau marah karena ada Greta? "


Rien tersenyum pahit, kenapa harus di tanya? Tapi masalahnya Rien juga tidak bisa mendebat untuk urusan ini karena dia juga menemui mantan kekasihnya meski tujuannya adalah untuk Gail dan keselamatan banyak orang. Di saat seperti ini sebenarnya Rien benar-benar membutuhkan seseorang yang mampu mendorongnya untuk lebih semangat lagi, tapi sepertinya harapan itu akan lebih baik jika tidak ada sejak asal saja.


" Tidak, aku tidak punya hak untuk marah. Tapi aku ingin memberitahu satu hal padamu, Gail. Aku sedang berada di ambang pintu, aku selalu ragu dan bingung apakah aku harus masuk atau keluar, jadi aku memutuskan untuk melihat orang di belakangku akan mendorong ku, atau menarik ku untuk masuk ke dalam. " Rien mengakhiri ucapannya dengan senyum, lalu segera dia berjalan masuk ke kamar mandi karena Gail di sana jadi dia tidak perlu khawatir tentang Cherel.


Gail terdiam tak mengatakan apapun setelah Rien pergi, sebenarnya harus bagaimana caranya memberitahu dan menyakinkan Rien bahwa hatinya tidak akan berubah seperti janji pernikahan di antara mereka berdua. Tapi beberapa hari belakangan ini Rien seperti menjadi orang lain, dia selalu bersikap dingin, tidak lagi mengeluh membuatnya bingung dan harus menebak-nebak apa yang sebenarnya sedang di pikirkan Rien, jika dia salah harus bagaimana mendapatkan maaf dari Rien, serta bagiamana agar Rien bisa kembali seperti semula?


Begitu Rien keluar dari kamar mandi, Gail mencoba mengajak Rien bicara lagi dengan makan malam.


" Sayang, aku temani kau makan ya? "


Rien terdiam sebentar, lalu menatap Gail.

__ADS_1


" Kau sudah makan? "


Gail mengangguk.


Rien tersenyum kelu, sepertinya Gail sudah makan malam dengan Ibu mertua, dan juga Greta. Yah, sepertinya Ibu mertua cukup bekerja keras untuk hari ini. Tapi sayang sekali, Rien benar-benar tidak dalam mood yang bagus untuk bisa ikut bermain dengan Ibu mertua.


" Lupakan saja, aku juga sudah makan malam bersama orang tuaku. "


Besok paginya.


Hari itu adalah akhir pekan, dan Rien juga sudah mulai bersiap menunggu kabar dari Marco tentang bagiamana dia akan mencaritahu apakah ada pasien yang mencurigakan atau tidak. Mencari orang yang tidak jelas siapa memang hal yang sangat sulit untuk Marco. Pertama tidak adanya photo karena di rumah itu tidak ada photo orang tersebut, Ayah mertua juga tidak memilikinya. Kedua, rumah sakit Grevverent memiliki sistem keamanan yang cukup baik jadi jelas pekerjaan ini adalah pekerjaan yang tidak mudah untuk Marco. Entah harus seberapa banyak membayar Marco nantinya, tapi yang paling utama dan penting adalah bagiamana bisa memecahkan masalah ini dulu.


Seperti biasanya, tidak lama setelah Gail netagkay bekerja, Rien akan keluar rumah dan menuju rumah orang tuanya guna menitipkan Rien dan bersiap siap tahu Rien di butuhkan untuk melancarkan apa yang sedang di lakukan Marco.


Rien, ada satu pasien yang sudah alam tinggal di sana. Aku belum bisa memastikan seberapa lama karena datanya di simpan dengan sangat rapih, tapi sepertinya dia sudah puluhan tahun tinggal di sana.


Rien berpegangan dengan pinggiran tempat tidur karena merasa kemas dengan jantung yang begitu berdebar hebat. Apa-apaan sebenarnya? Dia pikir dia akan merasa lega setelah mendapatkan satu informasi penting, tapi ternyata dia justru merasa takut jika benar Ibu mertua lebih jahat dari pada yang dia pikirkan.


" Marco, apa kau sempat mengambil photo orang itu? "

__ADS_1


Iya, tapi tidak begitu jelas karena dia terus menunduk dan melamun. Aku tidak tahu dia benar gila atau tidak, aku tidak memiliki kesempatan untuk mendekatinya.


" Baiklah, kirimkan saja padaku, aku ingin lihat. "


Oke, detailnya besok saja kita bicarakan lagi, oke?


" Iya, baiklah. "


Setelah memutuskan panggilan suara dengan Marco, tak lama Marco mengirimkan photo padanya. Seorang wanita dengan rambut terurai, tapi dia menunduk jadi Rien tidak bisa melihat wajahnya. Rien menghela nafas kecewa, bagiamana dia bisa melihat wajah itu dengan jelas? Selain dia menunduk, sepertinya dia juga tidak keluar dari ruangan karena di batasi pagar besi, dan ruangannya juga agak gelap.


Rien kembali melihat photo itu dengan perasaan kecewa, lalu saat dia ingin menjauhkan ponselnya dia tersentak dan terkejut lalu kembali melihat layar ponselnya.


Bruk!


Rien benar-benar jatuh duduk di lantai kamar yang dingin karena mesin pendingin ruangan. Dia memegangi dadanya dengan matanya yang begitu memperlihatkan bahwa dia sangat terkejut, tangannya yang gemetar menatap layar ponsel hingga membuat ponselnya terjatuh.


" Tidak, tidak, aku tidak bisa mempercayai ini, tapi juga tidak bisa menyangkalnya. Aku, aku, harus bagaimana? " Rien menangis sesegukan dengan tubuhnya yang semakin gemetar.


Beberapa detik lalu, Rien tak sengaja melihat tangan wanita itu, dan satu jarinya ternyata tidak ada. Dia teringat ucapan Ibu mertuanya yang telah mengirimkan jari kepada Ayah mertua untuk mengancamnya selama ini dan membuat Ayah mertua dengan rela meminum obat pelumpuh saraf, bahkan rela di anggap gila untuk keselamatan wanita, si pemilik jari itu.

__ADS_1


Dengan segenap kekuatan dan keberanian Rien meraih ponselnya, menghubungi Marco lagi, tujuannya adalah menceritakan perihal jari yang hilang satu dari wanita itu. Marco juga cepat menangapi, dan dia sengaja tidak begitu memfokuskan kepada wajah wanita itu karena dia ingin Rien melihat sendiri satu petunjuk yang begitu jelas untuk Rien lihat.


Bersambung.


__ADS_2