Marriage Struggle

Marriage Struggle
Menyusun Rencana


__ADS_3

Setelah mendapatkan balasan pesan dari mantan kekasihnya itu, Rien segera menghubungi kembali dan meminta waktu bicara secara langsung dengannya. Benar-benar seperti Tuhan sedang berpihak padanya, mantan kekasihnya merespon dengan cepat, dan dia juga tidak keberatan kapanpun Rien ingin menemuinya.


Malam nanti Gail akan kembali ke rumah, jadi dia tidak boleh membuang waktu lagi dan harus segera menemui mantan kekasihnya agar bisa lebih cepat menyelamatkan Ayah mertua, juga istrinya. Entah ini di akan di sebut sok jagoan atau apa, tapi Rien benar-benar tidak bisa tenang dan tidak bisa diam saja mengingat betapa menderitanya Ayah mertua. Walaupun nanti jalannya akan sangat sulit, juga mungkin akan meyakinkan, asalkan itu hanya terjadi padanya, setidaknya Rien tidak akan mati membawa penyesalan di hati nanti.


Rien segera keluar dari kamarnya, dan tentulah dia sudah menggunakan pakaian yang pantas. Melintasi Kanya dan Ibu mertua, Rien sama sekali tak menyapa, dia terus berjalan seolah tidak melihat kedua orang itu.


" Kakak ipar mau kemana? " Tanya Kanya.


" Menemui Cherel. " Jawab Rien.


Setelah kepergian Rien, Ibu mertua tersenyum tipis dengan segala pemikirannya. Dia pikir semua akan berjalan sesuai dengan yang dia rencanakan, tapi Rien sepertinya tidak sebodoh yang dia pikirkan, sedangkan Kanya juga tidak sehebat yang dia duga. Tapi tenang saja, dia sudah menyiapkan segalanya, rencana kedua yang akan membuat Rien terguncang.


" Aneh, kenapa harus menitipkan anaknya di tempat lain? Sementara Ibunya hanya sibuk di dalam kamar seharian. " Ujar Kanya.


" Memang benar katamu, aneh. Kalau begitu, kenapa tidak kau ikuti saja dia diam-diam? "


Kanya terdiam sebentar, lalu tersenyum dengan semangat dan bangkit dari posisinya untuk menyusul Rien. Ibu mertua tersenyum miring, memang siapa orangnya yang tidak akan membatin penuh tanya? Menitipkan anak di tempat orang tuanya, di rumah tidak melakukan apapun. Selama ini Ibu mertua sesudah mengamati satu persatu penghuni rumah dengan sangat teliti. Rien, dia adalah wanita yang amat menyukai anak-anak, apalagi anak kandungnya, tentu saja dia tidak akan rela berpisah sampai seharian. Rien juga terus berada di dalam kamar, tentu saja dia sedang melakukan sesuatu yang orang lain tidak boleh tahu kan? Walaupun Kanya memang bodoh dan agak lamban, tapi dia juga akan berguna di waktu yang tepat.


Beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Rien tersenyum kepada mantan kekasihnya yang sudah sampai lebih dulu, duduk dan tersenyum saat Rien melihat ke arahnya.


" Apa kabar, Marco? Maaf membuatmu menunggu, dan maaf karena aku menyita waktu berharga mu. " Ujar Rien menyapa dengan sopan, lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Marco tersenyum, dia mengangguk seolah dia tidak masalah dengan itu, dan menerima jabatan tangan dari Rien.


" Kau masih saja seperti dulu, suka sekali meminta maaf. "


Rien tersenyum meski sebenarnya dia cukup gugup karena sudah lama mereka tidak bertemu, di tambah pria di hadapannya pernah menjadi pria yang paling dekat dengannya. Andai saja dia meilki kenalan yang bertugas seperti Marco, tentu saja dia akan memilih orang itu, namun sayangnya dia sama sekali tidak memilikinya.


Marco mengajak Rien untuk mengobrol santai selama sepuluh menit karena dia bisa melihat wajah Rien yang terus menyembunyikan perasaan gugupnya. Meski dia sendiri juga merasakan yang sama, tapi bukankah akan lebih nyaman jika mereka bisa mengatasi perasaan gugup satu sama lain? Setelah cukup mengobrol dan mereka tertawa bersama membicarakan masa lalu yang begitu lucu, tengah anjing tetangga yang akan menggonggong setiap kali Marco lewat, juga pernah menggigit ujung dress Rien.


Rien yang sudah merasa tenang akhirnya menceritakan apa yang terjadi, antara dia juga Mertuanya, serta apa yah terjadi dengan Ayah mertuanya. Obrolan menjadi serius hingga mereka sama sekali tidak menyadari jika Kanya sudah mengambil banyak photo mereka berdua, dan tujuannya adalah untuk dia tunjukan kepada Gail.


" Menurut mu apakah aku menggeledah kamar Ibu mertua ku? " Tanya Rien karena dia pikir Ibu mertuanya pasti menyembunyikan banyak hal yang akan menjadi bukti di dalam kamarnya.


Marco membuang nafas, lalu terdiam sebentar.


" Kalau dari ceritamu itu, Ibu mertua mu adalah orang yang memiliki penyakit mental yang menakutkan. Dia pasti memiliki banyak pemikiran, dan cara berpikirnya juga jauh lebih cermat di banding kita berdua. Menyimpan bukti di tempat yang bisa di jangkau siapapun, tentu saja tidak akan dia lakukan sama sekali. Tapi jika kau ingin mencobanya, maka lakukan saja, aku harap kau beruntung dan tidak di curigai olehnya. "


Rien mengangguk setuju, sebenarnya dia juga ragu benar apakah akan ada bukti atau tidak di sana, tapi mengenai Dokter yang merawat Ayah mertua akan di selidiki oleh Marco jadi dia bisa tenang dan mencari bukti di tempat lain, mengumpulkan semua kejatahan Ibu mertua agar dia tidak bisa bebas dari kurungan besi.

__ADS_1


" Tapi kau juga perlu mencari tahu informasi tentang istrinya Ayah mertua mu itu Rien. Aku akan coba melacaknya, semoga saja aku bisa mendapatkan informasi, dan akan aku usahakan tidak akan melewatkan sekecil apapun informasinya. "


Rien mengangguk setuju, dia benar-benar merasa bersyukur juga senang sekali karena ternyata mantan kekasihnya itu masih bersedia membantunya, diam-diam mencari keberadaan Ibu mertuanya padahal dia tahu Marco juga pasti banyak kasus yang harus dia tangani.


Setelah selesai menemui Marco, Rien segera menemui putrinya untuk melepaskan rindu karena seharian tidak bertemu.


Di sisi lain.


Gail terdiam menahan kecewa melihat photo yang di kirimkan oleh Kanya kepadanya. Dia merasa di khianati, padahal dia sama sekali tidak pernah menemui wanita lain setelah dia dan juga Rien menikah.


Theo yang tidak sengaja melihat kakaknya terlihat sedih padahal dia sedang bekerja sekarang hanya bisa menghela nafas dan berbisik kepada Gail untuk fokus terlebih dulu.


Gail memasukan ponselnya di dalam saku kemejanya, kalau kembali meneruskan pembicaraan mengenai pekerjaan meski sulit untuknya tetap fokus.


" Apa ada masalah, Kak? " Tanya Theo setelah semua selesai.


Gail membuang nafasnya, mengeluarkan ponselnya untuk dia tunjukan kepada Theo.


" Hanya photo seperti ini kak Gail sudah begitu murung? Tanyakan saja kepada kakak ipar, jangan asal berasumsi tidak benar. Kalau yang kak Gail lihat photo mereka sedang melakukan hubungan suami istri, barulah kak Gail bisa murung dan marah. "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2