Marriage Struggle

Marriage Struggle
Penyesalan Tanpa Kata Maaf


__ADS_3

Kabar meninggalnya Ayah mertua akhirnya di dengar oleh Ibu mertua. Wanita lima puluh tiga tahun itu hanya menghela nafas, menatap ke atap dan terdiam memikirkan apa yang sedang ada di otaknya. Kehidupan pria yang telah mencabik-cabik habis hatinya telah berakhir, pria yang selama ini hidup dengan perasaan bersalah telah pergi untuk selamanya. Tidak bahagia, itu lah kenapa dia tidak bisa tersenyum meski sempat menginginkan kematian semua orang telah menyakitinya.


Jalan yang sudah dia tempuh telah memberikan banyak sekali luka, jadi sekarang dia berpikir kematian sebenarnya adalah hal yang paling benar untuk mengakhiri duka, juga rasa sakit. Dia merasa berduka, tapi dia juga bersyukur karena pria yang sudah menderita karena kondisi tubuhnya sudah tidak akan merasakan sakit lagi. Sekarang hanya tinggal dirinya, menunggu kapan datangnya masa dia akan meninggal. Dia akan baik-baik tinggal di penjara, menjalani hari yang menyesakkan menikmati hukuman yang memang pantas didapatkan olehnya.


" Bagus, berakhir seperti ini juga adalah hal yang baik. " Gumam Ibu mertua, lalu tersenyum dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Hari ini sebenarnya Rien dan juga Gail datang untuk menemuinya, tapi dia menolak untuk bertemu, lalu tidak lama polisi yang berjaga menyampaikan pesan Kematian suaminya, jadi Gail dan Rien datang pasti untuk menyampaikan itu secara langsung bukan?


Ibu mertua kini mengalihkan tatapan matanya, menatap buku kosong dan juga satu pena yang di titipkan Theo untuk Ibunya. Asalnya Ibu mertua malas untuk menerima buku itu, tapi sepertinya dia akan menggunakan buku itu sekarang. Perlahan dia meraih buku dan pena, membawanya ke dalam pangkuannya, dan mulai menulis semua yang ingin dia sampaikan kepada orang-orang.


Pertama dia menulis untuk Theo, dia meminta maaf kepada putra kandungnya yang sudah banyak mendapatkan ketidakadilan, dia meminta maaf untuk segala sikap, juga sifat yang selalu membuatnya kesal. Meskipun begitu Ibu mertua benar-benar merasa bangga kepada putranya, kenapa? Karena putranya memiliki keteguhan. Dia tidak membuatkan yang salah, dia akan mencoba melawan dan membela ketidak adilan. Berbanding terbalik dengan Gail yang hanya akan diam, mencoba menjadi penengah yang bahkan selalu gagal. Setidaknya dia sudah melahirkan anak yang tidak seperti dirinya, dia melahirkan seorang putra yang memiliki ketegasan dalam hal apapun.


Gail, dia juga adalah bagian dari hidupnya selama ini. Susah senang mereka selalu bersama. Gail memang bukan putra kandungnya, tapi perlakuan Gail padanya benar-benar seperti putra kandung sendiri. Gail sangat lembut, dia pengertian dan baik hati. Meskipun sifat seperti itu memiliki banyak kelemahan, tapi Ibu mertua juga merasa bersyukur karena Gail memiliki kesetiaan yang tidak di miliki oleh Ayah kandungnya, atau suami dari Ibu mertua.


Jenette, gadis itu juga menjadi bahan mainannya selama ini. Dia pasti juga sudah sadar bahwa sebenarnya Ibu mertua menyiksanya dengan cara lain bukan?


Untuk Rien,

__ADS_1


Ibu mertua terdiam sebentar, dia bingung bagaimana dia akan menuliskan apa yang dia pikirkan terhadap menantu yang selama ini sudah banyak menderita karenanya. Tapi setelah mulai bisa berpikir kembali, Ibu mertua mulai mengerjakan tangannya untuk menuliskan apa yang dia pikirkan.


Dia tahu apa yang dia lakukan salah, dia juga tahu kalau menyakitkan untuk Rien. Tapi dia juga juga tidak ingin meminta maaf, apalagi mengharapkan maaf dari Rien. Bukan angkuh, tapi karena dia sadar benar bahwa dia tidak pantas untuk meminta maaf apalagi di maafkan.


Pasti banyak sekali pertanyaan dari Rien. Kenapa dia menggunakan Rien untuk melancarkan aksinya? Kenapa dia menyiksa Rien?


Jawabannya adalah,


" Aku terlalu pengecut. "


Aneh? Iya, memang benar sangat aneh sekali.


Ibu mertua tidak mampu membunuh Ibunya Gail, dia terlalu pengecut dan takut, jadi dia mendesak Rien melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Mungkin dunia dan seluruh isinya akan menyalahkan dirinya, menyalahkan hatinya yang rapuh sehingga mudah di bodohi oleh dendam dan rasa sakit hati. Tapi bolehkah dia membela diri dengan mengatakan bahwa dia juga hanya manusia biasa? Dia bukan pemaaf, dia bukan orang berhati suci, maka itulah dia bahkan tidak menyalahkan dirinya sendiri hingga saat ini.


Dia pikir dunia boleh menyalahkan dirinya, tapi tidak dengan dirinya sendiri. Perasaan sakit, kecewa, marah, sangat sulit untuk meredamnya meski sudah beberapa kali dia coba.

__ADS_1


Ibu mertua tersenyum tipis sembari menatap kedua tangannya yang kini gemetar setelah menuliskan apa yang dia pikirkan.


" Tangan ini, sudah banyak melakukan apa yang aku inginkan. Aku memang tidak merasa puas, aku juga tidak merasa bahagia setelah semua ini. Tapi, aku merasa bersyukur karena pada akhirnya aku bertahan hidup, aku telah berperang melawan takdir yang kejam. Sekarang aku tidak merasa sedih sendirian bukan? Pria yang dulu menghancurkan hatiku bahkan mati membawa perasaan sedih dan penyesalan, wanita yang selalu membuatku sedih, membuatku tersisih juga akan hidup dalam penyesalan. Jadi mari kita habiskan waktu untuk menikmati kesedihan ini bersama..... " Ibu mertua kembali tersenyum.


Di sisi lain.


Theo terdiam memandangi photo keluarnya yang masih lengkap, photo itu di ambil sekitar delapan tahun yang lalu ketika Ayahnya masih sehat.


Sebenarnya hingga saat ini Theo Benar-benar masih tidak mengerti kenapa bisa terjadi. Ibunya di penjara, dan enggan untuk menemui siapapun. Ayahnya pergi untuk selama-lamanya, dan sialnya hatinya di buat semakin hancur karena setelah perceraian dia mulai sadar bahwa ternyata dia juga terus memikirkan Jenette.


Beberapa bulan terakhir ini dia sudah mencoba ingin menghubungi Jenette, tapi tidak ada satupun penghubung di antara mereka. Rien memang memiliki nomor telepon Jenette karena Jenette sering melakukan panggilan video untuk mengobrol dengan Cherel. Tapi Rien juga tidak bisa berbuat apa-apa saat Theo menghubunginya Jenette akan langsung memblokir nomor Theo. Media sosial milik Jenette juga sudah lama tidak di gunakan lagi, jadi Theo hanya bisa mencoba mencari peruntungan.


Sempat terpikirkan olehnya, apakah Jenette sudah memiliki kekasih? Tapi hatinya yang belum rela kehilangan Jenette membuatnya selalu ingin mencari tahu tentang Jenette dan berusaha untuk mendapatkan kembali hatinya.


Sementara di sebuah negara lain.


Jenette kini tengah tersenyum kepada seorang pria yang sudah hampir enam belas kali menyatakan cinta padanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2