
Seperti sedang sengaja ingin membuat Rien tidak tenang, Greta justru masih bertahan di rumah itu, bahkan dengan tida tahu malunya dia memutuskan untuk menginap. Iya tentu itu adalah keinginan Ibu mertua juga, tapi apapun yang akan terjadi Rien benar-benar tidak ingin ambil pusing. Entah nanti Greta akan merayu Gail atau tidak, atau apapun Rien pastikan dia hanya akan diam tak mengatakan apapun, juga tidak akan mengeluhkan apapun.
Bukan tidak cinta lagi, tapi Rien sekarang ini berada di masa di mana dia benar-benar merasa begitu lelah dengan kehidupan yang begitu menekannya juga terus bersabar. Ini bukan akhir cerita, melainkan awal dari sebuah masa akan adanya perubahan besar di dalam kehidupan mereka. Selama makan malam juga Rien sama sekali tak mengatakan apapun, Greta sibuk mengajak bicara ini itu tidak jelas kepada Ibu mertua, dan juga Gail.
Theo yang berada di sana juga masih tak banyak bicara, dia mengabaikan Jenette yang terus menatap ke arahnya seolah dia begitu malas menatap Jenette. Setelah hari dimana anak mereka meninggal, Theo memilih untuk sering menghindari Jenette, bahkan dia juga lebih sering tidur di ruang baca sendirian. Entah akan berakhir seperti apa hubungan rumah tangga mereka, yang jelas Theo memang masih terlihat enggan bersama dengan Jenette.
Setelah kegiatan makan malam selesai, semua orang kini sedang berada di ruang tengah untuk mengobrol bersama, kecuali Theo yang memilih untuk menuju ke ruang baca, juga Rien yang beralasan akan ke kamarnya tapi nyatanya kini dia sedang berada di kamar Ayah mertuanya. Rien tengah bersimpuh di hadapan Ayah mertua yang sedang duduk di kursi rodanya, menunjukkan sebuah photo wanita yang kehilangan satu hari manisnya. Awalnya Ayah mertua tidak menunjukan banyak ekspresi, tapi semakin lama dia semakin mengamati, ternyata Ayah mertua menunjukkan ekspresi yang begitu sedih, terpukul, hingga dia memegangi dadanya yang mungkin saja terasa penuh dan sakit.
Sekarang Rien mengerti, wanita itu benar-benar adalah wanita yang sedang dia cari keberadaannya. Rien memasukkan kembali ponselnya, meraih tangan Ayah mertuanya dan menatapnya dengan sungguh-sungguh.
" Ayah Mertua, aku tidak tahu benar siapa sebenarnya wanita ini. Ibu kandung Gail, atau siapa benar-benar tidak jelas, jadi bisakah Ayah mertua memberitahu siapa wanita ini dengan cara seperti biasanya? " Pinta Rien, yang Rien maksud adalah membuat pola hidup di telapak tangan Rien agar Rien memahami apa yang akan di katakan Ayah mertua.
" Ibu, kandung, Gail. " Seperti itulah kalimat yang keluar dari mulut Ayah mertua. Memang terdengar ajak sulit dan terbata-bata, tapi setidaknya Rien bisa mengartikan dengan jelas apa yang di katakan oleh Ayah mertua.
Rien tentu saja terkejut, dia pikir Ibu Gail maksudnya adalah Ibu tiri Gail sebelumnya, karena yang ia tahu Ibu kandung Gail kan sudah meninggal sejak Gail masih sangat kecil. Sebenarnya kenapa tiba-tiba Ibunya Gail muncul? Lalu makam siapa yang selama ini sering Gail dan juga Rien datangi?
Tunggu! Tidak, bukan itu yang penting sekarang, tapi yang paling penting adalah, Ayah mertua sudah mulai bisa berbicara meski belum sangat jelas. Rien tersenyum menatap Ayah mertua dengan tatapan bahagia.
__ADS_1
" Ayah mertua sudah bisa bicara cukup jelas? "
Ayah mertua segera meletakkan jari telunjuk di bibirnya meminta Rien untuk tidak membicarakan hal itu untuk berjaga-jaga agar tidak ada yang boleh mendengarnya. Rien mengangguk paham, lalu menatap kembali Ayah mertuanya untuk bertanya.
" Ayah, bagaimana bisa Ibunya Gail masih hidup? Lalu kenapa ada makam yang nambah sama dengan Ibunya Gail? "
Ayah mertua menggenggam tangan Rien cukup kuat, dia benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana, dan dia juga takut kalau nanti Ibu mertua mendengar pembicaraan mereka. Bukan hanya akan bahaya untuk Rien saja, tapi juga bahaya untuk wanita yang dia cintai dan dia rindukan selama ini.
" Hentikan saja, kau akan dalam bahaya. Dia sangat licik dan banyak strategi, kau lebih baik membiarkan saja seperti ini. "
" Ayah mertua, mau sampai kapan terus diam saja membiarkan dia menjadi semakin kejam? Dan bisa jadi bukan hanya kepada kita saja, orang lain juga mungkin akan bisa merasakan hal yang sama jika kita terus mengalah, Ayah mertua. "
Ayah mertua menahan tangisnya, dia menghela nafas dengan kualitas meraih wajah Rien, mengusapnya dengan lembut.
" Terimakasih karena memperhatikan ku, tapi aku tidak bisa memaafkan diriku kalau terjadi sesuatu yang buruk padamu. " Ucapan Ayah mertua memang tidak jelas, tapi seperti itulah yang Rien bisa artikan melalui beberapa kata yang dia pahami, dan bagaimana ekspresi Ayah mertua saat berbicara.
" Sah, benar-benar menantu yang sangat perhatian sekali. Kau bilang akan istirahat di kamar, tapi diam-diam menemui suamiku. Kau, apakah sedang mempengaruhinya untuk mendapatkan apa yang kau inginkan? "
__ADS_1
Rien segera bangkit begitu mendengar ucapan Ibu mertuanya, entah sejak kapan dia berada di dekat pintu kamar yang kini sudah terbuka, namun melihat bagiamana dia menunjukkan ekspresi wajahnya, Rien bisa menebak dengan jelas kalau Ibu mertuanya itu pasti sudah mencurigainya entah sedikit atau banyak.
Ayah mertua terkuat takut, dia menjauhkan kursi rodanya dari Rien, dan berpura-pura seolah Rien tak mengatakan hal yang penting padanya.
Haruskah Rien mengaku? Tidak! Dia tidak akan mengatakan apapun, dan biarkan saja Ibu mertuanya menebak apa yang sedang mereka bicarakan tadi, karena walaupun bisa mendengar apa yang mereka berdua katakan, jelas saja kalau Ibu mertua pasti tidak mungkin mendengar semua pembicaraan mereka.
" Berhentilah untuk main-main denganku, aku memperingati sebelum kau menyesal nantinya. Bersikaplah seolah kau tidak tahu apa-apa, dan jadilah menantu yang menurut semua perintahku, barangkali aku akan sedikit menyukaimu dan memperlakukan mu sedikit lebih baik. " Ibu mertua tersenyum miring setelah mengatakan itu membuat Rien begitu ingin marah tapi tetap harus bisa dia tahan.
" Sayang sekali, menuruti Ibu mertua sama saja membunuh kewarasan ku. Sudah cukup Ibu mertua saja yang tidak waras, aku tidak perlu menjadi seperti Ibu mertua. "
Pft!
Ibu mertua menahan tawanya namun Rien sama sekali tak menanggapinya.
" Sudah pernah aku bilang padamu, aku bisa dengan mudahnya membuatmu menjadi sepertiku, maka tunggulah saja waktunya. "
Bersambung.
__ADS_1