Marriage Struggle

Marriage Struggle
Apa Kau Merindukanku?


__ADS_3

Hari itu Marco benar-benar memiliki banyak pekerjaan hingga untuk sekedar memegang ponselnya saja dia tidak ada waktu. Siangnya dia harus keluar kota untuk penyelidikan sebuah kasus pembunuhan dan penculikan, karena tidak memiliki banyak ruang yang nyaman untuk bicara, di sana ada banyak teman kerjanya, makanya Marco memutuskan untuk mengirimkan pesan, berharap Rien tidak bertindak dulu setidaknya sampah dia kembali nanti.


Sayang, sungguh amat di sayangkan karena Rien juga tidak melihat ponselnya, dia begitu antusias dan bahagia sekali pada akhirnya bisa menemui kembali Ibunya Gail, berbicara banyak hal meski Ibunya Gail lebih banyak diam, dan photo Cherel masih dia peluk dengan hangat. Rien tersenyum bahagia, dia mendekatkan dirinya untuk bisa lebih do dengar dan oleh Ibunya Gail, mencoba membuat kontak mata meski itu sulit sekali.


Mengingat dia memiliki banyak video tentang Cherel, Rien langsung mengambil ponselnya, begitu membuka ponsel dia benar-benar mengeryit bingung membaca pesan yang di kirimkan Marco padanya. Hah! Andai saja dia minat Ponselnya sebelum masuk ke rumah sakit jiwa Grevverent, tentu saja dia tidak akan berada di sana sekarang. Tapi yah, mungkin ini adalah jalan yang sudah di haruskan untuknya, jadi Rien hanya perlu berhati-hati, toh nyatanya dia juga tidak memiliki niat jahat apapun bukan?


Rien mengabaikan pesan dari Marco, lalu membuka galeri video untuk dia tunjukan kepada Ibu mertuanya, dan benar saja! Ibunya Gail langsung fokus dengan ponsel Rien, menatap dengan matanya yang penuh air mata. Mungkin jiwa seorang Ibu benar-benar bangkit begitu melihat bayi yang mirip dengan bayinya, dia merasa rindunya sedikit terobati, tapi juga jadi memiliki keinginan untuk memeluk anaknya.


" Abigail ku...... " Tangan Ibunya Gail bergerak dengan gemetar meraih ponselnya Rien, terus menatapnya dengan tatapan yang begitu terlihat merindu membuat Rien juga merasakan sedih yang sama. Rien adalah seorang Ibu, berpisah dengan anak kandungnya tentu saja adalah hal yang paling berat, paling menyakitkan. Apalagi Ibunya Gail sudah berpisah selama puluhan tahun, tentu saja wajah jika bisa stress seperti sekarang ini bukan?


" Ibu, ini bukan Gail. Namanya adalah Cherel, dia anak ku dan juga anaknya Gail. Cherel adalah cucu Ibu. " Ucap Rien pelan membuat Ibunya Gail menatapnya, Rien sebenarnya ragu apakah benar Ibunya Gail gila? Karena Dau tatapan matanya dia seperti orang yang tidak gila, dia masu bisa merespon mengenai anaknya dengan sangat baik, tapi entahlah, Rien juga tidak mengerti tentang penyakit mental seperti itu.


" Abigail ku, Abigail ku di mana? "


Rien tersentak, menatap Ibunya Gail dengan terkejut tapi responnya juga tidak berlebihan karena sebisa mungkin dia harus tetap membuat Ibunya Gail tenang dan tidak memiliki pemicu untuk dia mengamuk seperti yang banyak di ceritakan oleh perawat dan Dokter dari rumah sakit jiwa Grevverent.


Rien tersenyum, dengan sopan dia megambil ponsel dari tangan Ibunya Gail, kembali membuka galeri video yang memperlihatkan Gail tengah bercanda dengan Cherel, mencium Cherel, dan menggendongnya sampai Cherel tertidur nyenyak di gendongannya.

__ADS_1


" Ini Abigail, Ibu. Dia sudah dewasa, sudah menikah dan sudah punya anak. Meskipun dia bukan pria yang sempurna, tapi dia pria yang baik, Ayah yang baik juga untuk putriku, Cherel. "


Ibunya Gail menangis, merintih membuat Rien bingung harus mengatakan apa untuk membuatnya tenang. Mungkinkah dia menangis karena telah kehilangan banyak waktu untuk menemani Gail tumbuh dewasa? Ataukah dia jadi semakin merindukan Gail setelah melihat video itu dan hanya bisa menangis?


" Ibu, maafkan aku kalau apa yang aku tunjukan justru membuat Ibu sedih. " Ucap Rien menatap Ibunya Gail dengan tatapan sedih, sebenarnya dia ragu ingin memeluk Ibunya Gail berharap bisa membuatnya tenang, tapi Rien terus menguatkan dirinya dan berkata di dalam hati bahwa semua pasti akan baik-baik saja. Rien akhirnya memeluk Ibunya Gail, menepuk punggungnya dengan lembut. Sungguh sangat di luar dugaan, ternyata Ibunya Gail tidak memberontak sama sekali, dia masih menangis tapi tubuhnya tak membuat gerakan perlawanan jadi Rien merasa lega karena setidaknya dia sedikit di terima oleh Ibunya Gail.


" Ckckck..... Mertua dan menantu yang sangat saling menyayangi dan mengasihi, apakah aku harus itu melihat ini? "


Rien tersentak, dia berbalik untuk melihat siapa yang bicara di balik punggungnya meskipun dia sangat mengenali siapa pemilik suara itu. Ibu mertua......


Ibunya Gail membulatkan matanya, dia memundurkan tubuhnya, terlihat takut bahkan tubuhnya sampai gemetar hebat.


Rien yang terkejut dengan kehadiran Ibu mertua kini di buat semakin terkejut dengan Ibunya Gail yang terlihat begitu ketakutan. Jangan bunuh? Rien menatap Ibu mertua dengan tatapan marah, juga masih terlihat terkejut. Jadi apakah benar nyawa seseorang tak ada harganya di mata Ibu mertua?


" Wah, tatapan mu membuatku merinding, menantuku tersayang.... " Ibu mertua mengakhiri kalimat itu dengan senyum yang membuat Rien semakin begitu marah. Takut, sepertinya Rien tidak memikirkan perasaan itu lagi setelah melihat betapa takutnya Ibunya Gail barusan.


" Tidak kah kau merasa kalau kau tidak seperti manusia normal? " Tanya Rien menahan marahnya hingga tangannya yang sedari tadi mengepal kini menjadi gemetaran.

__ADS_1


Ibu mertua membuang nafasnya, melipat lengannya dan meletakkan di dada, menatap Rien dengan tatapan yang begitu jelas ingin menyampaikan betapa bodinya Rien saat ini.


" Manusia normal? Kau, dan kalian semua yang tidak normal. "


Rien mengigit bibir bawahnya, dia benar-benar membenci Ibu mertuanya, bahkan kebencian itu tak bisa dia bandingkan dengan kata sangat membenci.


" Sebenarnya kau ini kenapa? Kenapa kau melakukan ini semua?! " Tanya Rien dengan nada yang begitu lantang karena tak tahan dengan perasaan marah yang begitu menumpuk di dadanya. Andaikan saja membunuh orang tidak mendapatkan hukuman dan karma, demi Tuhan Rien tidak akan merasa rugi melenyapkan Ibu mertua yang begitu tak berhati itu.


Ibu mertua kembali tersenyum seolah pembicaraan di antara mereka sama sekali tak membuat emosinya terpancing.


" Kenapa? Karena aku pantas mendapatkan apa yang aku inginkan, aku kayak melakukan semuanya. "


" Dasar monster! " Maki Rien, lalu menyeka air mata kemarahan yang jatuh tanpa dia inginkan.


Ibu mertua tersenyum sinis kepada Rien, lalu menatap Ibunya Gail dengan tatapan yang begitu dingin dan mengancam.


" Sudah satu bulan tidak melihat wajah ku, apa kau merindukan ku, kakak tiri? " Tanya Ibu mertua membuat Rien terdiam karena kenyataan yang tak sama sekali dia duga.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2