
Suara tepuk tangan, ucapan selamat ulang tahun, juga kemeriahan para anak-anak membuat suasana rumah menjadi sangat ramai dan menyebabkan.
Hari ini adalah hari ulang tahun Cherel yang ke dua tahun.
Sudah selesai menyanyikan lagu selamat ulang tahun, memotong kue, bahkan Cherel juga menerima banyak sekali hadiah dari kata tamu undangan yang datang.
Dua tahun sudah usia Cherel, itu artinya tiga tahun sudah usia pernikahan Gail dan juga Rien yang sudah banyak menjalani banyak sekali rintangan. Kedepannya jelas akan datang masalah baru, kebahagiaan baru, maka mereka hanya perlu selalu bersama dan saling menguatkan satu sama lain.
Kehidupan rumah tangga mereka juga tidak lain dari keluarga lain, tapi mereka juga tidak mengelak bahwa mereka bahagia. Rien yang hampir tidak pernah merasa di nomor duakan dalam hal apapun, Cherel yang bahaya dan sangat lengket dengan Ayahnya, Gail yang merasa begitu bersyukur pada akhirnya keluarganya tetap bersama. Gail benar-benar merasakan benar kebahagiaan yang luar biasa setelah badai rumah tangga yang terjadi beberapa waktu lalu.
Gail selalu berusaha menjadi suami dan Ayah yang baik, Rien selalu mencoba untuk terus memperbaiki emosinya yang muda meledak, dia juga merasa lebih nyaman dengan hidupnya sekarang. Mencuci baju, membersihkan rumah, mengurus anak dan suami benar-benar tidak begitu lelah seperti dulu, apalagi Gail juga tidak segan untuk membantunya. Gail yang tidak tahu caranya mencuci baju kini bisa melakukanya dengan sangat baik, dan banyak hal yang Gail pelajari setelah badai masa itu. Ketika istri bahagia, anak juga akan bahagia, dia juga akan bahagia karena Rien melakukan banyak hal dengan cinta. Rien hampir tidak pernah menangis seperti dulu kecuali saat dia merindukan Ibu dan Ayahnya saja. Gail tidak pernah mendengar Rien mengeluh lelah, apalagi protes seperti dulu. Gail benar-benar tahu benar pentingnya istri bahagia sehingga dia selalu mencoba segala cara agar istrinya bahagia. Dengan begitu Rien juga melakukan hal yang sama untuknya.
" Gadis kecil kita akan tumbuh dewasa sebentar lagi, rasanya aku tidak rela. " Gumam Gail sembari menatap putrinya yang begitu cantik dengan dress berwarna merah muda, dress mengembang khas untuk acara ulang tahun.
Rien tersenyum, memang benar waktu akan berjalan begitu cepat, tapi memang seperti ini jalan kehidupan bukan? Lahir, tumbuh, dan mati. Proses kehidupan yang panjang, Rien berharap putrinya dapat menjalani semua itu dengan baik, terutama untuk lebih memperhatikan diri sendiri, mencintai diri sendiri, bahagiakan diri sendiri asalkan tidak merugikan orang lain, karena itu adalah kunci hidup bahagia.
" Apa aku sangat terlambat? "
Rien dan Gail menoleh ke arah sumber suara.
" Jenette? "
__ADS_1
Rien segera bangkit dan berlari memeluk Jenette yang sudah setahun lebih tidak bertemu secara langsung. Mereka berpelukan dengan sangat erat untuk melepaskan rasa rindu.
Theo yang berada di sana juga tergugah begitu menyadari adanya Jenette di sana. Theo tersenyum melihat Jenette yang terlihat baik, penampilannya masih sama, dia terlihat lebih segar. Rasanya kakinya ingin bergerak melangkah dan dia benar-benar tidak bisa menahan itu.
Tapi begitu melihat seorang pria berada di belakang Jenette langkah kaki Theo terhenti, dia diam membeku berharap apa yang dia takutkan tidak akan terjadi.
" Kenapa tidak memberi kabar jika ingin datang? Kalau tahu aku kan bisa menjemputmu di bandara! " Protes Rien dengan wajah sebalnya.
Jenette terkekeh.
" Aku hanya ingi mengejutkan keponakan ku, tapi tidak tahunya kau juga terkejut ya? " Ledek Jenette yang akhirnya mendapat pukulan kecil di pundaknya dari Rien.
Setelah itu Jenette dengan segera berjalan mendekati Cherel dan menggendongnya. Cherel terlihat agak takut pada awalnya, dia juga hampir sana menangis. Tapi saat memperhatikan wajah Jenette, dia ingat benar bahwa dia sering melihat wajah itu meski hanya lewat telepon video saja. Akhirnya Cherel mulai tersenyum, bahkan tak lama dia tertawa ketika Jenette menggodanya.
Rien dan Gail menyadari bagaimana Theo terus menatap Jenette, mereka juga tahu benar bagaimana Theo tidak bisa melupakan Jenette dan masih terus berharap Jenette akan kembali padanya.
Melihat Jefrey yang menghampiri Jenette, memeluk pinggang, ikut menyentuh pipi Cherel, Rien, Gail, juga Theo seperti minat keluarga kecil yang begitu bahagia.
Theo tersenyum Kelu, dia ingat benar bahwa sekalipun dia tidak pernah memperlakukan Jenette dengan begitu mesra dan baik. Selama mereka menikah Theo tetapi menjaga jarak, tidak rela dengan perjodohan mereka, bahkan juga membuat batasan tidak perduli dengan perasaan Jenette yang selama itu begitu mengawasi cinta satunya.
Jefrey benar-benar terlihat begitu mencintai Jenette, cara dia menatap, cara dia tersenyum kepada Jenette, cara bicaranya, bahkan sebentar-sebentar Jefrey akan mengusap kepala Jenette dengan lembut.
__ADS_1
Setelah beberapa saat.
" Apa kabar, Theo? " Tanya, sapa Jenette kepada Theo. Jenette sebenarnya merasa agak canggung menyapa mantan suaminya, tapi dia juga tidak ingin hubungannya buruk, Jadi dia mencoba untuk menyapa lebih dulu.
" Iya, seperti yang kau lihat. Bagaimana denganmu? " Tanya Theo mencoba sebaik mungkin untuk tersenyum.
" Aku baik, senang bertemu denganmu lagi. "
Theo tidak tahu harus mengatakan apa sehingga dia hanya bisa tersenyum.
Melihat suasana yang nampak begitu canggung dan kaku, Rien mencoba untuk mengobrol santai agar lebih terasa hangat mengingat mereka sudah lama tidak bertemu.
" Bagaimana kehidupanmu di luar negeri, Jenette? " Tanya Rien.
" Aku sungguh menjalani kehidupan yang sangat luar biasa. Aku bekerja untuk kehidupanku di sana, aku jadi tahu kalau mencari uang itu sungguh sulit sekali sehingga sayang sekali kalau membuang uang begitu saja hanya untuk membeli barang tidak perlu. " Jawab Jenette.
" Ayolah, kau tidak akan mati kelaparan saat kau tidak bekerja. Kau sendiri yang menyukai kesibukan bukan? " Ujar Jefrey membuat Jenette tersenyum malu.
Lagi, Theo jadi merasa bahwa selama ini dia benar-benar adalah suami yang sangat buruk. Selama menikah dengan Jenette, dia sama sekali tidak tahu apa saja mengenai Jenette, tapi Jenette benar-benar kebalikannya. Dia tahu apa saja tentang Theo mulai dari makanan kesukaan, warna, gaya berpakaian, parfum, model rambut, dan hampir semuanya Jenette paham tentang dirinya.
" Sudah jamnya, kau perlu minum obat mu. " Ucap Jefrey mengingatkan Jenette untuk meminum obat. Sebenarnya selama tinggal di luar negeri Jenette juga berobat di sana. Karena depresi yang cukup menganggu, membuatnya sulit berkonsentrasinya dan akhirnya memutuskan untuk berobat jalan, dan dari Dokter psikologi itulah Jenette dan Jefrey bertemu dan saling mengenal.
__ADS_1
Rien memaksakan senyumnya. Dia bisa melihat wajah Theo yang tidak baik, tapi dia juga bahagia melihat Jenette di perlakukan seperti ratu oleh seorang pria.
Bersambung.