Marriage Struggle

Marriage Struggle
Tertahan Perasaan


__ADS_3

Ibu mertua menatap Rien dengan marah, dia mengalahkan semua yang terjadi ini karena ulah Rien, dia terlalu sok baik, tidak memahami situasi. Padahal memang tidak harus sebanyak itu pembantu rumah mendapatkan uang padahal dia hanya bekerja satu Minggu saja.


Dia semakin kesal sekali saat melihat Rien justru menatapnya juga seperti tak kenal takut. Mungkin dia seperti itu karena dia merasa Gail akan terus melindunginya, tapi mana mungkin dia akan diam saja? Semakin Rien memberontak, dia akan semakin kejam dan juga akan lebih sering terus mencari cara untuk menyingkirkan Rien.


Rien yang sedari tadi menatap Ibu mertuanya juga membatin yang sama. Selama ini dia sudah banyak bersabar meski tetap dianjuga mengeluh dan memprotes tindakan Ibu mertuanya. Setelah hari ini pasti Ibu mertuanya akan sangat gencar membuat masalah dengannya, maka dari itu Rien benar-benar bulat untuk pergi dari rumah itu.


" Rien, kita masuk ke dalam kamar ya? " Ajak Gail meraih tangan Rien, tapi segera juga Rien menepis tangan Gail dengan marah. Rien tak mengatakan apapun, dia meninggalkan tempat itu, bersamaan juga meninggalkan tatapan menantang kepada Ibu mertuanya seolah dia ingin mengatakan kepadanya bahwa Rien sama sekali tidak merasa takut dan menyesal. Tatapan itu di tanggapi sinis oleh Ibu mertuanya, tapi setelah Rien beranjak Ibu mertua tersenyum jahat.


Dengan langkah kaki cepat Rien ingin segera menuju ke kamarnya, lalu membereskan bajunya, tapi saat melintasi kamar di mana Ayah mertuanya berada, Rien terdiam melihat Ayah mertuanya melihat dari celah pintu yang sedikit terbuka. Ayah Mertuanya menatap Rien dengan air mata yang jatuh membuat Rien membeku dengan segala pemikirannya.


Kenapa Ayah mertuanya selalu menangis saat melihat ke arah Rien? Kenapa Rien merasa tatapan itu seperti meminta tolong? Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?


" Pergi sana! " Ucap Ibu mertuanya yang entah sejak kapan sampai dan segera menutup pintu kamar Ayah mertuanya. Gail yang baru tiba juga hanya bisa diam mencoba menebak apa lagi yang di bicarakan oleh Rien dan Ibu mertua dengan tatapan seperti ingin bertarung itu.


Rien mengepalkan tangannya, menatap Ibu mertua dengan tatapan menyelidik, tajam, dan masih terlihat marah. Sebenarnya kenapa Ibu mertua seperti sangat membatasi pergerakan Ayah mertuanya? Sial! Padahal Rien sudah ingin pergi dari sana, tapi melihat Ayah mertuanya menatap seperti itu dia benar-benar jadi tidak bisa pergi, dia tertahan oleh perasaan melas, juga penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi dengan Ayah mertuanya.

__ADS_1


" Kenapa Ibu mertua selalu melarang Ayah keluar dari kamar? "


Ibu mertua menaikkan satu alisnya, menatap Rien seolah mengancam Rien untuk jangan banyak bicara. Gail yang berada di sana segera merangkul istrinya, kalau masalah Ayahnya Ibunya memang sangat sensitif sekali, dia takut kalau dia lengah dan istrinya akan terkena tamparan dari Ibunya. Berbeda dengan Rien, dia benar-benar penasaran, dia ingin tahu sekali apa yang sebenarnya membuat Ayah mertuanya harus di kurung di dalam kamar seperti itu.


" Bukan urusanmu, dia adalah suamiku, aku yang merawatnya dua puluh empat jam setiap hari. Kau siapa? Hanya sekali saja memberikan makanan untuk dia sudah sok mengintrogasi. Gara-gara makanan yang kau berikan kemarin, tekanan darahnya naik, jangan sok perhatian kalau kau bahkan tidak tahu apapun. " Jawab Ibu mertua dengan sinisnya.


Rien sebenarnya benar-benar kesulitan menahan diri, jika saja di hadapannya itu adalah orang yang sebaya dengannya, bukan Ibu mertuanya, tangan Rien pasti akan dengan sangat cepat mendarat di wajahnya berkali-kali. Sepertinya sekarang Rien akan menahan segalanya dulu sampai dia benar-benar bisa mengerti dan membantu Ayah mertuanya. Setelah itu barulah Rien akan memikirkan kembali tentang keluar dari rumah itu, dan meninggalkan status sebagai istrinya Gail walaupun perpisahan jelas akan menyakitkan.


Tak mendapatkan jawaban yang dia inginkan, Rien segera beranjak pergi menuju kamarnya. Dia teringat dengan pil yang dia simpan di dalam laci lemarinya karena siapa tahu itu bisa menjadi sebuah petunjuk. Begitu sampai di dalam kamar, Rien dengan segera membuka laci di mana dia menyimpan pil itu, tapi dia hanya bisa mengeryitkan dahi dan bertanya di dalam hati, kemana pil itu bisa tidak ada di sana?


" Di mana pil yang aku simpan di sini? "


" Oh, itu, aku buang. Pilnya kotor, dan sudah tidak bagus lagi, jadi aku membuangnya sekalian membuang baju yang kau gunting-gunting. "


Rien terdiam, sial! Kenapa bisa jadi rumit seperti ini?

__ADS_1


" Itu pil apa? Kalau memang perlu aku keluar sekarang untuk beli. " Ujar Gail.


Rien menghela nafasnya, beginilah yang membuat Rien dilema. Gail bodoh dan terlalu mencintai Ibunya, tapi dia juga begitu sigap setiap kali untuk Rien. Yang Rien sesalkan adalah, kenapa dia dan Gail seperti pasangan berselingkuh di mata Ibunya?


" Jangan melakukan apapun untukku lagi, Gail. Aku sudah tidak bisa memahami seberapa pentingnya aku di matamu. Jangan mengatakan apapun juga yang tujuannya adalah untuk membujukku. Ini sudah akan berakhir, tolong jangan melakukan apapun supaya aku tidak goyah lagi. "


Gail terdiam, dia memiliki banyak hal yang ingin dia bicarakan sebenarnya. Tapi apakah Rien Sudi untuk mendengarnya? Tidak, karena dia sendiri juga tidak berdaya, tidak bisa memilih antara Ibu dan istri, tidak bisa tegas untuk keduanya karena dia takut melukai keduanya, dia takut membuat keduanya merasa tersisihkan, terbuang dan tidak memiliki arti. Tapi nyatanya, dia mencoba untuk berada di tengah-tengah justru membuat keduanya merasa tak memiliki arti untuk Gail. Ibunya adalah orang yang paling berjasa karena sudah merawatnya dengan baik layaknya anak kandung sendiri, istrinya juga perempuan yang paling dia cintai, di tambah dia juga memiliki satu putri yang cantik. Bagaimana dia bisa memilih salah satunya jika mereka memiliki arti yang sama besarnya untuk Gail?


Di kamar lain.


" Selalu saja, selalu kau membela Rien! Kau mengaku saja, kau masih mencintai Rien si wanita brengsek itu kan?! Iya kan?! Ayo mengaku saja! " Jenette membentak Theo sembari memukuli dada Theo yang hanya bisa diam dan menatap heran kepada istinya itu. Seberapa banyak dia harus mejelaskan kalimat yang sama dan berulang-ulang? Rien adalah Kakak iparnya, dia tidak akan memiliki niat yang tidak baik, tapi apakah istrinya yang selalu mudah cemburu itu mau sedikit saja paham? Tidak! Setiap kali Rien dan Ibunya bertengkar Theo hanya bisa melihat bagaimana Rien tersiksa, sementara Ibunya yang begitu gemar menyiksa, haruskah dia membela Ibunya? Tidak, Theo tidak bisa diam seperti Gail karena Gail tertekan oleh Budi, sedangkan dia tidak tahan melihat penyiksaan.


" Berpikirlah semaumu, Jenette. Sedari awal pernikahan ini aku sudah berusaha menjadi suami yang baik semampuku, silahkan saja lakukan apa yang kau inginkan. Di matamu, kau selalu menempatkan dirimu sebagai orang yang tersakiti, maka seperti itulah selamanya, dan kau akan bodoh seumur hidupmu. "


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2