
" Ayah, dengarkan aku baik-baik ya? Obat yang kemarin ternyata adalah penyebab kondisi Ayah, aku memiliki bukti lab nya, jadi mari kita laporkan saja Ibu ke kantor polisi. " Ucap Rien yang langsung saja bersimpuh di hadapan Ayah mertua yang tengah duduk di kursi roda.
Ayah mertua menggeleng dengan mimik ketakutan membuat Rien menjadi bingung. Kenapa lagi? Bukankah hasil lab juga adalah bukti yang bisa membuat Ibu mertua di hukum berat? Ayah mertua meraih tangan Rien, menggerakkan satu jarinya yang lain untuk bergerak membuat pola huruf di telapak tangan Rien. (Ibu Gail) Itulah yang bisa Rien artikan meski tangan Ayah mertuanya gemetaran.
Rien terdiam dengan begitu terkejut sembari menatap Ayah mertua. Ibu Gail? kenapa dengan Ibu Gail?
" Apa maksud Ayah? Bukankah Ibunya Gail sudah meninggal saat Gail bayi? " Tanya Rien karena memang itulah yang dia ketahui.
Ayah mertua menggeleng sembari menangis, dan itu membuat Rien benar-benar kemas dan hampir saja pingsan. Kenyataan apa lagi ini? Kenapa bisa seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?
" Ayah, apa maksud Ayah sebenarnya? Kalau memang begitu kita hanya tinggal lapor polisi, dan mencari keberadaan Ibunya Gail saja kan? "
Ayah mertua menggelengkan kepalanya, dia menahan suara tangisnya agar tak pecah dan bisa saja nanti terdengar oleh Ibu mertua.
Melihat bagaimana Ayah mertuanya berupaya untuk tidak mengeluarkan suara saat menangis, Rien jadi memilki dugaan yang begitu mengganggu pikirannya.
__ADS_1
" Apakah hanya Ibu mertua yang tahu keberadaan Ibunya Gail? Atau, dia menyandera Ibunya Gail? "
Ayah Mertua mengangguk, dan tentulah dia masih menangis, mengigit bibir bawahnya cukup kuat agar dia tak mengeluarkan suara.
Rien terdiam tak bisa berkata-kata sekarang, bukankah ini sangat menakutkan? Ayah mertua sampai tidak berani macam-macam seperti ini pastilah sebelumnya dia pernah memberontak, mencoba untuk melawan agar bisa menyelamatkan istri pertamanya bukan? Jadi untuk bisa membuat Ayahnya Gail menerima perlakukan tidak manusiawi ini sudah pasti Ibu tiri melakukan ancaman yang tidak main-main. Mungkin keadaan semakin di rasa gawat hingga Ayah mertua seakan tak memiliki pilihan lain selain meminta tolong kepada Rien karena dia yakin benar Rien tidak akan pernah menjadi sekutu Ibu mertuanya.
" Ayah mertua, kalau begitu tolong lah lebih semangat untuk sembuh. Aku belum paham bagaimana kondisi ini, bagaimana berbahayanya Ibu mertua jadi tolong bantu aku, tolong sembuhlah, minimal Ayah bisa bicara agar aku bisa memahami situasi dan mencari cara untuk bisa mengatasi semua masalah ini. Atau biarkan aku memberitahu Gail siapa Gail bisa- " Pinta Rien dengan sungguh-sungguh. Ayah mertua langsung menggenggam tangan Rien, menggeleng dengan tatapan memohon, dan mungkin dia memohon untuk jangan memberitahu Gail. Entah sebenarnya kenapa tidak boleh memberitahu Gail, tapi apapun itu tetaplah Ayah mertua yang paham, mungkin dengan Gail tidak tahu akan baik untuk semuanya.
Klak!
" Kau menangis? Apa yang kau tangisi? Kehidupan ini? " Tanya Ibu mertua sembari mengedarkan pandangan mencari apakah ada orang di dalam sana yang membuat suaminya menangis.
Ayah mertua membulatkan matanya saat Ibu mertua Henda berjalan mendekati sisi tempat tidur di mana Rien tengah bersembunyi. Dia mencoba mengentikan langkah kaki istrinya dia memaki meski sadar benar suaranya benar-benar tidak jelas. Iya, dia hanya bisa mengamuk, berteriak tidak jelas agak istrinya mendekatinya, dan berpikir bahwa dia masih mengalami gejala dari efek obat yang dia berikan. Benar saja, Ibu mertua jadi berbalik mendekati Ayah mertua. Bukan untuk menolong dan menenangkannya, melainkan dia hanya melihat saja seolah apa yang terjadi dengan suaminya adalah hal yang wajar dan sama sekali tak menyentuh hatinya.
" Kalau saja kau bisa mencintai ku seperti kau mencintai perempuan sialan itu, mana mungkin kau akan jadi seperti ini? Kau sudah berjanji untuk menikahi ku, tapi malah memilih wanita lain. Sekarang kau tahu bagiamana rasanya di sakiti bukan? Wanita yang kau rindukan selama ini pasti juga sedang berteriak histeris sepertimu. " Ibu mertua membuang nafasnya, dia tidak terlihat bahagia melihat suaminya yang sedang memberontak, dia juga tidak terlihat sedih. Wajahnya begitu datar sehingga sulit membedakan apakah dia memliki emosi di hatinya ataukah tidak.
__ADS_1
Melihat suaminya terus bersuara seperti memakinya, sebenarnya itu benar-benar cukup mengganggu untuknya. Tapi dia juga harus tetap berada di dalam sana, dia harus melihat sendiri suaminya benar-benar tersiksa, sama depresinya seperti yang dulu dia rasakan saat melihat suaminya menikahi wanita lain.
" Kau tidak memiliki pilihan lain sekarang, ikuti semua keinginan ku, jangan mengeluhkan apapun, nikmati saja hidup mu dengan baik, kau bisa tenang karena aku tidak akan membunuh mu buru-buru. Jangan juga melakukan hal bodoh, karena kalau tidak, aku bukan hanya akan mengirimkan satu jari wanita itu lagi, melainkan sembilan jarinya yang masih tersisa, ah! Apa perlu aku kirimkan jari kakinya juga padamu? "
Ayah mertua sepertinya kembali terlihat marah, dia menangis membuat Ibu mertua tersenyum dengan matanya yang menitihkan air mata. Apa sebenarnya yang dia rasakan melihat suaminya tersiksa? Apakah begitu menyenangkan menyakiti manusia lain, sesama wanita? Lalu apa arti air matanya itu? Mungkinkah dia merasa sangat puas sampai dia menangis?
" Diam! " Bentak Ibu mertua dengan nada yang tidak begitu kuat. Ayah mertua perlahan mulai tenang karena mungkin dia benar-benar takut kalau sampai istri pertamanya itu di sakiti lagi oleh Ibu mertua.
" Makan malam mu akan aku antarkan satu jam lagi, pastikan saat aku datang lagi nanti, kau sudah bisa tenang, dan makan dengan baik, lalu minum obatnya. " Setelah mengatakan itu, Ibu mertua keluar dari sana.
Rien, wanita itu sedari tadi menangis, menutup mulutnya rapat-rapat agar tak mengeluarkan suara apapun, dan begitu Ibu mertua pergi cukup lama, Rien segera keluar dari kamar itu, dia segera masuk ke kamarnya, lalu menuju kamar mandi untuk memuntahkan makanan yang ada di perutnya.
Setelah itu Rien menangis cukup kuat sembari memukuli dadanya yang sesak. Jari? Ibu mertua bahkan memotong jari Ibunya Gail untuk mengancam Ayah mertua?
" Iblis, dia benar-benar Iblis! " Rien kembali menangis karena begitu tak berdaya. Bagaimana mengerikannya berada di dekat Ibu mertua, bagaimana dia akan bertahan?
__ADS_1
Bersambung.