
Begitu kembali ke rumah, Rien di kejutkan dengan adanya Gail juga Theo. Padahal Gail mengirim pesan pagi tadi akan kembali pukul sepuluh malam, tapi ini baru jam sembilan lewat dia sudah berada di rumah. Rien tak menyapa Ibu mertua dan juga Kanya yang berada di ruang keluarga, di sana juga ada Jenette, Theo juga Gail.
Melihat bagaimana cara mereka menatap Rien, tentu saja mereka sedang membicarakan Rien belum lama ini. Tidak masalah, dia juga sudah tidak tahu harus mengatakan apa, dan melakukan apa. Intinya sekarang cukup fokus dengan apa yang dia ingin lakukan, baru nanti pikirkan lagi bagaimana akan mengambil jalan untuk melanjutkan hidupnya.
Gail yang tak mendapatkan sapaan dari istrinya menjadi amat kecewa, padahal dia ingin di tanya kenapa sudah pulang atau apapun itu, tapi Rien malah seperti tidak perduli dan berlalu begitu saja. Beberapa saat lalu setelah mereka pulang, Kanya langsung memberondong dirinya dengan banyak sekali pertanyaan mengenai photo yang Kanya kirimkan padanya. Tentu sebagai seorang suami dia merasa perlu untuk menjaga nama baik istrinya.
" Lihat bagaimana kelakuan istrimu kan? Saat tahu kau tidak ada di rumah, dia pergi menemui pria lain, berangkat tidak bicara, pulang pun tida menyapa. Kau ini suami, Gail. Jangan biarkan dia menginjak harga dirimu dan seenaknya bertingkah seperti wanita yang tidak tahu aturan. Katanya ingin melihat putrinya, tapi ternyata malah berselingkuh. " Ujar Ibu mertua sengaja ingin membuat Gail kesal, tapi Gail mana mungkin menunjukan apa yang dia rasakan, di tentu aja menahan perasaan kecewa dan menunjukan kepada semua orang bahwa dia mempercayai istrinya.
" Rien, tidak mungkin melakukan itu. " Ujar Gail membuat Ibu mertua hanya bisa membuang nafas sebal karena lagi-lagi harus di bantah oleh Gail. Tentu saja berbanding terbalik dengan yang di pikirkan Ibu mertua, dia tahu benar bagaimana Gail. Meskipun Gail setia, nyatanya Gail memiliki satu kekurangan yaitu, dia tak berdaya dalam banyak hal meskipun dia tahu dan paham benar apa yang benar dan apa yang salah tanpa bisa melakukan apapun.
Gail menyusul Rien ke kamar karena tidak ingin terus menerus mendengarkan ucapan Ibu mertua dan Kanya yang seolah ingin terus memojokkan Rien. Begitu masuk ke dalam kamar, rupanya Rien sudah berganti pakaian, dan kini duduk di tempat tidur sembari memainkan ponselnya. Gail membuang nafasnya perlahan karena dia tidak ingin terpancing emosi dan berakhir dengan bertengkar lagi.
" Sayang, hari ini kau pergi kemana saja? Sudah hampir jam setengah sepuluh kenapa baru pulang? " Tanya Gail dengan nada bicara biasa sembari berjalan mendekati Rien, lalu duduk di sebelahnya.
Rien yang saat itu sedang memeriksa catatan belanjanya segera menghentikan kegiatannya, lalu terdiam sebentar sembari berpikir. Pergi kemana? Itu berarti dia pergi kemana hari ini ada yang tahu bukan? Biasanya Gail tidak pernah bertanya, jadi sudah jelas ada yang mengadukan dengan siapa dia bertemu tadi siang.
" Kenapa memangnya? Tanyakan saja apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan, Gail. "
__ADS_1
Gail membuang nafasnya, entah akan jadi kebiasaan atau apa, tapi Gail benar-benar sangat tidak nyaman dengan Rien yang belakangan ini terus memanggil dirinya degan sebutan nama. Gail meraih jemari Rien, membuatnya saling bertautan dan menggenggamnya erat.
" Sayang, bisakah jangan mulai membiasakan dirimu begitu dingin padaku? Aku tidak nyaman karena akhir-akhir ini kau selalu memanggilku dengan nama, apakah perlu sampai seperti ini? "
Rien membuang nafasnya, lalu menatap Gail.
" Akan ku beritahu yang sebenarnya kemana aku pergi seharian ini. Aku, bertemu dengan mantan kekasihku yang bekerja sebagai polisi. Ada satu hal rumit, peristiwa yang tidak sederhana ingin aku selesaikan, dan aku membutuhkan tenaganya. Aku tidak tahu siapa yang memberitahumu, atau mungkin dia mengirimkan photonya padamu, tapi aku yakin benar dan sadar, juga ingat benar bahwa aku tidak menemui dia dengan tubuh polos. Benarkan apa yang aku katakan, Gail? "
Gail tak lagi ingin membahas tentang siapa yang di temui Rien tapi dia menjadi penasaran hal apa yang begitu membutuhkan tenaga polisi? Rien juga sengaja mengatakan itu karena dia ingin mengundang rasa penasaran, dan rasa curiga Gail agar Gail mau mencari tahu sendiri apa yang sedang Rien bicarakan. Bukan tidak ingin memberitahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya saja jika Rien memberitahu apa yang dia tahu kepada Gail saat itu, jelas sudah Gail tidak akan mempercayainya sama sekali. Jadi biarkan saja rasa penasaran Gail menuntunnya untuk mengatahui apa yang sebenarnya terjadi, dan Rien hanya perlu memberikan arahan-arahannya.
" Masalah apa? Kenapa tidak bicara denganku saja, aku akan membantumu semampuku. " Ujar Gail dengan tatapan memohon.
" Bicara padamu? Kalaupun aku mengatakan apa yang sebenarnya, di matamu aku pasti sedang bercanda. Gail, kau adalah suamiku. Aku tahu aku salah tidak mengatakannya padamu, tapi karena kau juga adalah suamiku, maka menyelesaikan dengan orang yang tepat adalah jalan yang terbaik. Selama ini kau hanya bisa mencoba meminta orang lain untuk mengerti dan memahami, tapi kau tidak tahu bagiamana caranya bertindak. Aku, membutuhkan orang yang bisa bertindak, dan orang itu bukanlah dirimu. "
Gail tak lagi ingin bicara, kenapa dia seperti ini? Sepertinya apa yang di katakan Rien memang benar, dia sama sekali tidak bisa bertindak dan hanya bisa tak berdaya dalam banyak situasi. Dalam pekerjaan Gail boleh saja cekatan, tapi dia tidak pernah bisa tegas terhadap keadaan dan sibuk menenangkan dan meminta pengertian satu sama lain saja.
" Aku ke dapur dulu untuk ambil buah. Kau belum makan buah kan? " Tanya Rien dan langsung di angguki oleh Gail.
__ADS_1
Rien menutup pintu kamarnya setelah keluar dari kamar sembari membatin, kau harus bisa keluar dari perasaan tidak berdaya, kau harus bisa menyingkirkan perasaan hutang Budi agara bisa membuat matamu melihat semuanya dengan benar.
" Ternyata kau cukup lihai dalam menjinakkan Gail ya? " Ujar Ibu mertua seraya meletakkan piring kosong miliknya tak jauh dari piring milik Rien yang sudah berisi beberapa buah-buahan. Rien yang saat itu sedang memotong buah peach sebentar terdiam, lalu melanjutkan kegiatannya mencoba untuk menjauhkan Ibu mertuanya.
" Cobalah sebisa mu, aku ingin lihat seberapa tinggi level yang kau miliki sampai memliki niat untuk melawanku. "
Rien terdiam, kalimat barusan apakah dia menyadari apa yang Rien lakukan selama ini? Rien menegakkan pandangan, menatap Ibu mertua dengan berani meski hatinya tetap saja merasakan takut.
" Level yang Ibu mertua bicarakan barusan, sepertinya aku kurang memahaminya. " Rien tersenyum.
" Benarkah? Senang sekali melihatmu berpura-pura bodoh. "
" Bukankah, berpura-pura adalah kebiasaan Ibu mertua? Tolong jangan samakan aku dengan Ibu mertua, tahu sendiri kan kalau kita sangat jauh berbeda. "
Ibu mertua tertawa terbahak-bahak sementara Rien hanya bisa diam menggenggam pisau di tangannya erat-erat sembari menayangkan betapa inginnya dia menusukkan pisau itu ke kerongkongan Ibu mertuanya.
" Rien, menantuku tersayang, aku bahkan bisa membuatmu menjadi sepertiku, tunggulah saja waktunya. "
__ADS_1
Bersambung.