
Rien masih begitu marah, dia terus menggunting kecil-kecil dan acak semua pakaian yang ia beli untuk Cherel. Dia bahkan mengeluarkan semua baju yang di belikan Gail untuk dia gunting acak. Tas, sepatu, perhiasan, barang yang sulit untuk dia gunting apakah perlu dia melemparkan ke wajah Ibu mertuanya, apa mungkin memasukkan semua itu ke dalam mulut Ibu mertuanya agar bisu untuk selamanya?
Entah terbuat dari apa hati Ibu mertuanya, padahal dia juga bukan perempuan yang gila belanja. Selama ini dia terlalu membayangkan betapa indahnya hidup bersama pria yang lembut seperti Gail, dia begitu menyayangi Ibunya dan membuat Rien beranggapan bahwa Gail pasti akan memperlakukan dirinya sama seperti itu. Tidak, ternyata tidak seperti itu! Di hati Gail Ibu mertuanya adalah yang utama yang membutuhkan kemakluman dan kesabaran seorang Gail.
" Rien, apa yang kau lakukan? " Gail segera menghentikan tangan Rien, membuang gunting di tangan Rien jauh darinya.
" Rien, kenapa kau seperti ini?! Aku membelikan semua barang ini hanya untukmu, kenapa kau merusaknya? Kalau memang kau marah tidak harus seperti ini kan? Kenapa kau masih tidak bisa mengendalikan emosi mu, Rien? "
" Ah! " Rien mendorong Gail untuk menjauh darinya. Marah sekali, dia tidak bisa menahan lagi, dia tidak ingin mengikuti ucapan kakaknya. Tentu saja kakaknya memiliki mertua, tapi jelas sekali kalau kakaknya juga pasti akan tidak tahan jika mertuanya seperti Ibunya Gail kan? Hari demi hari Rien hanya bisa membatin sedih, menahan segala amarah, emosi, dia bahkan pernah membenturkan kepalanya di dinding karena stres yang berlebihan. Apakah begitu sulit hanya ingin hidup tenang bersama suami dan anak? Kalau memang harus seperti ini terus bukankah hanya Rien seorang yang akan menjadi gila?
" Rien, mungkin semua pakaian dan barang-barang yang aku belikan tidak mahal, tapi apakah kau bisa sedikit menghargainya? Aku membelikan ini untuk membuatmu bahagia, tapi kalau kau seperti ini apakah kau tidak memikirkan sedikit saja bagaimana perasaanku? "
Rien menatap Gail dengan tatapan marah, dia masih terus menitihkan air mata karena emosinya yang seperti sudah berada di atas awan. Ini bukan soal barang, bukan soal cinta, tapi soal perasaan yang seolah di khianati kenyataan. Semua barang yang di belikan Gail tentu saja membuatnya merasa bahagia karena Gail begitu memperdulikan dirinya dan selalu diam-diam membelikan barang yang dia inginkan. Tapi, kenapa semua barang itu seolah tidak bisa menggantikan perasaan kecewa dan marah yang begitu dalam di hatinya?
Rien terdiam, dia tidak lagi menatap Gail. Duduk dengan wajah sedih membuat Gail juga tak bisa berkata-kata. Dia tahu istrinya pasti sangat kesal sekali, dia tahu istrinya marah dan butuh pelampiasan. Tapi Gail tidak menyukai Rien yang merusak barang, kebiasaan seperti ini adalah kebiasaan yang harus di hindari bukan?
" Gail, mari bercerai saja. "
__ADS_1
Gail membeku di tempatnya, dia menatap Rien dengan tatapan terkejut. Bercerai? Kata itu adalah kata yang paling Gail takuti. Selama ini dia terlalu mempercayai kalau Rien sangat mencintai dirinya, sama seperti perasaan yang dia miliki untuk Rien. Pernikahan mereka yang baru seumur jagung memang tidak berjalan mulus, hari demi hari memiliki cobaan sendiri, tapi Gail sama sekali tidak pernah sekalipun memikirkan tentang perceraian dengan Rien. Boleh saja Rien bukan cinta pertamanya, tapi Rien adalah wanita yang paling memiliki hatinya, jadi masalah perceraian tentu tidak akan pernah Gail lakukan.
Gail membuang nafasnya, dia tidak ingin membahas soal cerai lagi.
Gail meletakkan paper bag yang berisi pakaian Rien.
" Istirahatlah lebih cepat, kau pasti kelelahan. " Ujar Gail lalu dia bersiap untuk memunguti semua pakaian yang di gunting-gunting oleh Rien.
" Kau benar, Gail. Aku lelah, lelah sekali. Perasaan lelah, muak, aku hanya pernah merasakan semua ini ketika menjadi istrimu. Aku ingin berhenti, aku tidak ingin tersiksa dengan perasaan marah dan tersakiti seperti ini terus menerus. Tolong aku, Gail. Biarkan aku pergi, biarkan aku bebas dari perasaan lelah yang menyakitkan ini. " Ucap Rien dengan wajahnya yang terlihat begitu putus asa.
Gail, pria itu memunguti semua pakaian di lantai dengan tangannya yang gemetar. Rasanya menyakitkan sekali melihat dan mendengar ucapan istrinya seperti itu, di tambah yang sedang di bicarakan oleh Rien adalah tentang perpisahan yang sama sekali tidak dia inginkan. Rien, juga Cherel sudah seperti bagian terpenting di dalam hidupnya, mereka seperti sudah seperti nyama untuknya. Jika perpisahan itu benar terjadi, Gail mungkin akan memilih untuk mati saja, karena hanya itu yang mungkin bisa membuatnya rela untuk Rien.
Gail mengambil kantung plastik cukup besar dan memasukkan semua pakaian rusak itu ke dalam sana. Dia terdiam, dia begitu sedih karena melihat bekas paket itu ada baju Cherel gang juga di gunting oleh Rien. Gail merah baju itu dan memasukkannya dengan hatinya yang terasa begitu sedih. Bukankah Rien begitu menyayangi putrinya? Setiap kali pergi kemanapun dia hanya akan memikirkan Cherel, kebutuhannya. Sedangkan Rien, dia bahkan benar-benar melupakan apa yang di butuhkan untuknya.
" Besok aku akan beli baju untuk Cherel. " Ucap Gail.
Setelah selesai membereskan baju yang di rusak Rien, Gail buru-buru mengeluarkan semua itu untu di taruh di tempat sampah pastinya. Tapi Ibu mertua yang saat itu sedang bersama Jenette dan juga Kanya melihat apa yang di buang oleh Gail karena kantong itu transparan satunya.
__ADS_1
" Ya ampun kak Gail, kenapa bajunya di buang? " Tanya Kanya seraya berjalan mendekati Gail. Rien juga keluar dari kamar, niatnya adalah untuk ke kamar Cherel karena dia sedang tidak ingin dekat dengan Gail dulu. Tapi mendengar suara Kanya dia jadi ingin mendengar dan melihat apa yang akan di lakukan Kanya.
Gail membuang nafasnya seperti malas untuk menjawab pertanyaan Kanya.
" Bajunya sudah tidak muat lagi, juga sudah ada yang sobek jadi istriku tidak bisa pakai lagi. " Jawab Gail.
Kanya yang sangat penasaran dengan segera merebut kantong itu dan mengeluarkan satu baju, sementara Gail yang ingin menghentikannya benar-benar terlambat untuk itu. Kanya benar-benar terkejut melihat baju yang begitu rusak padahal masih sangat bagus kalau di lihat dari warna kainnya. Gail yang kesal segera merebut baju itu, dan segera memasukkan kembali ke dalam kantong.
" Kak Gail, kakak ipar marah karena bertengkar dengan Ibu dan membuat semua ini? "
" Tidak, baju ini memang sudah rusak. "
" Sudahlah, Gail. Tidak usah berbohong terus, baju itu adalah baju yang belum lama kau beli untuk istrimu kan? " Ujar Ibu mertua.
" Ya ampun, kakak ipar benar-benar sangat tidak menghargai pemberian kak Gail ya? " Ujar Kanya.
" Bukan begitu, aku marah dengan Rien, jadi dari pada memukuli Rien lebih baik seperti ini saja. " Jawab Gail lalu segera melangkahkan kakinya menuju tempat sampah.
__ADS_1
Bersambung.