Marriage Struggle

Marriage Struggle
Membiarkan Dia pergi


__ADS_3

Merasa Gail tidak bisa di ajak bicara, Rien akhirnya memutuskan untuk tetap diam dan membiarkan saja Gail dengan segala pemikirannya. Entah apa yang sedang di pikirkan Gail, tapi Rien sudah harus berusaha untuk tidak memperdulikannya lagi. Jujur saja dia kecewa karena ternyata dugaannya yang menyatakan bahwa Gail pasti akan mencoba melangkah maju dan mencari tahu apa yang terjadi, nyatanya justru berujung dengan situasi yang semakin tidak mendukung.


Masalah cinta, tentu saja dia masih mencintai Gail sepenuh hati, namaun masalahnya akan sampai kapan dia hanya bertahan untuk mencintai jika nyatanya dia merasakan sakit tiada henti. Mungkin cinta di antara mereka kurang kuat, kurang dalam, sehingga sekeras apapun mereka mencoba tak pernah mendapatkan akhir yang baik. Rien yang mudah marah dan sellau bertindak tanpa perduli bagaimana akibatnya. Gail yang selalu memilih untuk banyak diam, mencoba berada di tengah-tengah dan hal itu membuat Rien merasa hanya berjuang sendirian dalam hubungan mereka. Nyatanya Gail sudah mencoba sebaik mungkin, tapi sialnya mereka justru tidak tahu bagiamana harus saling memahami dan menangani masalah bersama.


Rien meraih ponselnya, mengirimkan pesan kepada kakaknya untuk segera menjemputnya dari sana. Sekarang dia sudah benar-benar berada di tahap yang pasrah tak ingin melakukan apapun, perjuangan apapun dalam hubungannya dengan Gail. Rasanya sakit karena takut kehilangan Gail, tapi di banding menggenggam paku berkarat, bukankah akan lebih baik untuk melepaskannya, dan perlahan menyembuhkan diri? Setelah mengirimkan pesan kepada kakaknya, Rien mengeluarkan tas yang cukup besar untuk mengemas seluruh pakaian Cherel, dan juga pakaiannya. Tentu saja tidak bisa membawa semua barang, makanya Rien hanya membawa beberapa saja yang biasa dia gunakan. Entah akan di apakan setelah dia keluar dari rumah itu, harapan Rien hanyalah semoga saja Gail mau mengantarkan semua barangnya, dan semua akan berakhir baik seperti yang dia inginkan.


" Kenapa kau mengemas pakaian? " Tanya Gail yang terkejut melihat Rien sedang membereskan pakaian begitu dia keluar dari kamar mandi.


Rien menatap Gail sebentar, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.


" Rien, kenapa kau ini?! " Gail merebut tas besar itu dan menjauhkannya dari Rien. Melihat Gail yang seperti itu rasanya Rien benar-benar semakin tidak tahan. Ternyata benar, suaminya benar-benar tidak peka dan tidak memahaminya sama sekali. Ini sudah akan berakhir jadi bisakah Rien tenang? Pinta Rien di dalam hati.


Rien menghela nafasnya, menatap Gail dengan tatapan serius.


" Gail, aku akan kembali ke rumah orang tuaku. "

__ADS_1


Gail terlihat marah, dia mencengkram tas yang masih dia pegang, lalu menghempaskan tas itu ke lantai hingga separuh pakaian yang sudah masuk ke dalam sana berserakan keluar.


" Selalu saja kau seperti ini, kenapa mudah sekali bagimu untuk berpisah dariku? Aku sama sekali tidak pernah meminta mu untuk menghargai ku, Rien. Tapi bisakah sedikit saja kau perduli dan mengingat sumpah kita saat kita menikah? "


Rien yang tidak bisa menahan laju air matanya hanya bisa menyeka air matanya, membuang nafas kasarnya berharap itu dapat sedikit membuatnya lega.


" Sumpah? Kita bahkan tidak menjalankan satu saja dari sumpah yang kita ucapkan. Kita tidak pernah saling mengerti, kita tidak pernah merasakan perasaan satu sama lain, aku tidak pernah merasakan perlindungan darimu, aku juga selalu menjadi beban mu bukan? Permasalahan di antara kita ini sangat besar, Gail. Coba kau ingat lagi, sekeras apa kita mencoba untuk bertahan, tapi bagiamana akhirnya? Kau, aku, kita terjebak satu sama lain, kita merasakan sakit dan beban masing-masing hingga tidak ada waktu untuk saling menghibur. Aku tahu yang aku lakukan ini memang ke kanakan, tapi percayalah dengan begini kita akan belajar memahami diri kita sendiri, apa yang kita inginkan, apa yang kita butuhkan, dan apa yang sebenarnya bisa membuat kita bahagia. "


Gail mengangkat wajahnya menatap langit-langit kamarnya sembari membuang nafas, sebenarnya dia benar-benar tidak ingin berpisah apapun alasannya, tapi karena dia memiliki alasan tersendiri, dan melihat Rien yang begitu sering terlihat sedih akhir-akhir ini, Gail jadi merasa kalau benar dia gagal dalam menjadi seorang suami. Gail, dia sama sekali tidak memahami Rien, dan begitu juga dengan Rien.


Rien mengambil kembali tas itu, membenahi pakaian yang sudah dia rapihkan tadi untuk di masukkan ke dalam tas.


Rien menghela nafas, menatap Gail dengan tatapan yang begitu memperlihatkan bahwa dia tidak ingin terus bertengkar dengan Gail, dia sangat lelah karena energinya habis untuk meladeni emosinya sendiri.


" Gail, Cherel meminum ASI dariku, kau tidak lupa kan? Kalaupun kau bisa megambil ASI setiap hari dari ku, memang siapa yang akan menjaga Cherel di rumah? ibu mu? Kau tidak lupa betapa kali Cherel dalam bahaya karena Ibu mu kan? "

__ADS_1


Gail tak menjawab karena dia paham dan ingat benar, tapi bolehkah dia mengatakan kalau dia tidak rela berpisah juga dengan Cherel?


" Hari semakin malam, Gail. Aku harus segera bersiap. "


Gail mengusap wajahnya dengan kasar.


" Tunggu, biar aku yang antar. "


" Tidak, kakak ku sudah akan sampai. "


Gail kembali menatap Rien dengan tatapan kecewa. Kakak? Apakah sebegitu tidak inginnya Rien dekat dengannya? Gal benar-benar tidak percaya kalau hubungannya dengan wanita yang dia cintai akan rumit seperti ini. Rasanya Gail ingin merengek seperti biasanya agar Rien jangan keluar dari rumah dan meninggalkannya, tapi karena satu alasan membuat Gail tidak bisa membuka mulutnya dan membiarkan saja Rien dengan segala keinginannya.


" Terserah kau saja kalau begitu. "


Melihat kepergian Rien rasanya hati Gail benar-benar hancur. Dia sengaja membuatkan Rien menggendong putrinya dengan menenteng tas yang cukup besar tanpa membantu berharap Rien akan mengajaknya bicara, dan meminta tolong. Ternyata itu sama sekali tidak terjadi, bahkan Rien masuk ke dalam mobil kakaknya tanpa sekalipun menoleh ke belakang untuk melihat Gail yang mula meneteskan air mata menyebut dua nama dengan lirih, Cherel.... Rien.....

__ADS_1


Selama di dalam perjalanan Rien sama sekali tidak bicara, kakaknya juga tidak berani bertanya karena tahu benar jika seorang istri memutuskan untuk keluar dari rumah suaminya dengan raut wajah sedih, jelas sekali dia sudah tidak tahan berada di rumah itu. Dia juga seorang menantu, dia juga istri dan Ibu, dia paham menjalani rumah tangga itu sangat tidak mudah. Beberapa tahun awal mungkin sikap asli masing-masing masih belum terlihat, tapi saat keduanya sudah memunculkan karakter asli mereka, maka tidak heran kalau banyak pasangan suami istri yang tidak bisa menerima itu dan berujung berpisah.


Bersambung.


__ADS_2