
Rien membuang tisu bekas yang ia gunakan untuk mengelap bibir Gail, bukan satu atau dua lembar saja, tapi begitu banyak. Rien menggosok bibir Gail sangat kuat bahkan sampai membuat bibir Gail terluka dan berdarah. Setelah melihat bibir Gail berdarah dia benar-benar tidak kuasa menahan tangisnya, dia sesegukan sembari memukuli dada Gail yang sedari tadi hanya diam tak melawan, tak menolak, bahkan juga terlihat tak keberatan dengan apa yang di lakukan Rien.
Mereka sedang berada di dalam kamar mandi, karena itulah Gail merangkul Rien dan membawanya keluar karena takut Rien akan terpeleset nantinya. Setelah dari kepergian Kanya beberapa saat lalu, Rien menarik tangan Gail membawanya masuk ke dalam kamar mandi, meminta Gail untuk menggosok giginya, membersihkan lidahnya, lalu membersihkan dengan berkumur dengan air juga cairan pembersih mulut. Rasanya masih tak puas, Rien keluar dari kamar mandi, mengambil kotak tisu, menggosoknya dengan kuat dan seperti tadi lah yang terjadi.
Setelah mereka sudah berada di luar kamar, Gail memeluk Rien erat-erat mencoba untuk menenangkan dan berharap Rien tidak lagi menyalahpahami apa yang terjadi beberapa saat lalu. Mungkin memang benar ada wanita yang lebih di Bandung Rien yang mengidamkan dirinya, tapi Gail juga yakin bahwa tidak mungkin juga dia memiliki hati dan cinta yang tulus seperti istrinya. Dari awal mereka bertemu tak ada materi yang di tonjolkan Gail, dia hanya berusaha dengan caranya, Rien juga sama sekali tak pernah menanyakan seberapa banyak uangnya, haha sekali Rien pernah berkata apa Gail pekerja tetap?
" Sayang, untuk kali ini, aku bersumpah untuk apapun, untuk diriku, bahkan aku berani bersumpah untuk putriku bahwa aku tidak sengaja melakukanya. Aku kira dia adalah kau, karena jenis kain dress yang Kanya gunakan sangat mirip dengan semua kain dress milikmu, aroma parfum, juga rambut. Aku salah paham, tapi begitu dia menciumku aku sadar kalau itu bukan kau, lalu aku mendorongnya, sungguh aku tidak berbohong kali ini. "
Rien tak bisa berkata-kata, tentu saja dia tahu kalau Kanya sengaja datang ke kamarnya untuk menggoda Gail. Rencana yang begitu matang, bukankah tidak ada yang bisa melakukannya selain Ibu mertua? Shampo, perfume, kain dress, semua itu tentu Ibu mertua yang sudah mengaturnya. Tapi kenapa rasanya begitu sakit? Padahal beberapa hari lalu dia sempat meminta cerai, tapi kenapa perasaan cemburu itu masih begitu terasa? Akankah jika benar mereka berpisah Rien bisa baik-baik saja?
Gail mengurai pelukannya, menatap Rien dan menangkup wajahnya. Dia bukannya tidak bisa berselingkuh dari Rien, dia hanya tidak menyesali apa yang dia lakukan nantinya mengingat bagaimana sulitnya, bagaimana Rien kesakitan melahirkan putrinya secara normal beberapa bulan lalu. Belum lagi saat Rien menjalani kehamilan yang begitu tidak mudah, Gail yang harus melihat Rien bekerja sampai perutnya besar, perjuangan seperti itu benar-benar tidak semua wanita mampu menjalaninya bukan?
" Aku akan menerima hukuman apapun yang aku berikan, jadi jangan diam saja, jangan mengumpulkan kekecewaan untuk bekal kau membenciku, aku tidak akan bisa menerimanya. " Ucap Gail Yangs sedari tadi terus menatap Rien dengan tatapan yang begitu dalam.
Rien menyeka air matanya, sial! Hatinya terlalu rapuh oleh pria bodoh di hadapannya itu. Sejak pertama bertemu hingga sekarang, dia masih saja berdebar dan tidak berdaya meski sering di buatnya emosi.
" Aku ambil kotak obat dulu untuk mengobati lukamu. " Ujar Rien mencoba untuk menjauhkan diri dari Gail. Tapi Gail menolaknya, dia justru menarik kembali tubuh Rien dan memeluknya erat.
__ADS_1
" Lika ini bukan apa-apa, aku tidak merasa sakit jadi tidak membutuhkan bantuan kotak obat. "
" Tapi, "
Gail meraih dagu Rien, dan menciumnya.
Besok paginya.
Gail terdiam dengan wajah dingin saat melihat Kanya duduk duduk di sebelah Ibu mertua dengan wajah menunduk. Mungkin dia sudah menahan malu, tapi dia masih ingin tinggal kalau Gail tidak mengatakan apapun tentang semalam.
Kanya menatap Gail dengan tatapan sedih, dia memohon tanpa bicara kepada Gail agar tak mengusirnya dari sana. Tapi bagaimana mungkin? Gail yah tidak pernah menunjukkan wajah anaknya marah dengan tatapan tajam dan dingin sampai melakukan itu? Jelas sekali kalau Gail tidak memberikan penawaran apapun kepada Kanya, dan hanya satu saja jalannya yaitu, keluar dari rumah itu segera.
Kanya sempat menoleh ke Ibu mertua, tapi dia sama sekali tidak di tanggapi jadi hanya bisa diam menahan kesedihannya. Semalam setelah keluar dari kamar Gail, dia langsung menemui Ibu mertua, tapi dia justru mendapat makian dari Ibu mertua karena kebodohannya lah akhirnya Gail menolaknya. Ibu mertua sudah ogah membantu, Gail mengusirnya, Jenette juga hanya diam saja, semenjak bayinya meninggal dia benar-benar jarang jadi Kanya sama sekali tak mendapatkan satupun suara yang memihaknya.
Kanya tak bisa lagi menolak, dia juga tak memakan sarapannya dan langsung bangkit dari sana sembari menangis. Ibu mertua terlihat tersenyum tipis dan saat itu hanya Rien yang tak sengaja melihatnya. Rien terdiam membeku, apakah ini artinya Ibu mertua yang menang? Iya! Dia sengaja meminta Kanya masuk ke kamar untuk menggoda Gail karena dia tahu Kanya pasti akan gagal, dan dia tidak perlu repot-repot menyingkirkan Kanya yang tidak ada gunanya untuk Ibu mertua. Sedangkan Kanya tak bisa menuntut apapun karena merasa ini adalah kesalahannya sendiri.
Rien mengepalkan tangannya, menatap Ibu mertua sebentar lalu menunduk karena tidak ingin orang lain bisa mengartikan tatapan marahnya itu. Betapa liciknya iblis itu! Batin Rien menahan marah hingga matanya memerah ingin menangis.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Gail dan Theo berangkat ke kantor, Jenette masuk ke dalam kamar, dan kini hanya tersisa dirinya dan Ibu mertuanya saja. Sekarang Rien tidak perlu lagi menyembunyikan tatapan marahnya.
Ibu mertua terkekeh tanpa melihat ke arah Rien, dia membuang nafasnya barulah dia mengubah posisi tubuhnya agar bisa saling menatap dengan Rien.
" Bagaimana rasanya di cintai oleh Gail? Kau pasti bangga sekali ya karena Gail tetap memilihmu? Yah, aku juga sangat bersyukur karena orang bodoh itu sudah pergi, jadi kalau satu pergi seharusnya kau tahu siapa yang akan datang bukan? "
Rien tersenyum dengan tatapan menghina.
" Ibu mertua, kenapa aku sangat terkejut ya dengan Ibu mertua yang memiliki banyak kenalan jal*ng? "
Ibu mertua hanya tersenyum tak mengatakan apapun.
" Permisi, Nyonya? Ada paket untuk anda, dari rumah sakit jiwa Grevverent. " Ucap pengantar barang yang baru saja datang.
Rien terkejut, begitu juga dengan Ibu mertua yang juga terlihat terkejut meskipun dia coba untuk menyembunyikannya.
Bersambung.
__ADS_1