
Rien mengeryit bingung melihat pakaian yang di gunakan Kanya karena pakaian yang melekat di tubuhnya benar-benar tidak biasa. Sangat seksi, terbuka, dan entah apakah maksudnya untuk menggoda Gail atau memang kebetulan saja. Belum lagi Ibu mertuanya seperti sengaja terus menatap Kanya, jadi salahkah Rien berpikir jika Ibu mertuanya sengaja melakukan itu, menyodorkan Kanya kepada Gail untuk membuat ucapannya terwujud?
Tak lagi menatap Kanya, meksipun Kanya memang terlihat menggoda, tapi Rien juga memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi sekarang jika masalah fisik. Untuk seorang wanita yang sudah melahirkan secara normal, menyusui juga, dia juga senang karena tubuhnya tetap ramping meski memang tak bisa sesempurna sebelum hamil dan melahirkan. Tentu dia juga akan memperbaiki diri dengan teratur mandi, dan lainnya. Meskipun ini buka tentang kompetisi, tapi Rien yakin untuk tidak membiarkan Kanya menang.
Melihat Gail yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah pulang bekerja, Rien segera bangkit untuk ikut Gail masuk ke dalam kamar dan menyiapkan semua yang di butuhkan Gail. Tapi Kanya tiba-tiba saja menghadang jalannya, lalu tersenyum tepat di hadapan Gail sembari menyodorkan sekotak makanan.
" Kak, ini makanan yang aku janjikan. "
Gail terdiam sebentar, lalu memaksakan dirinya untuk tersenyum.
" Baiklah, terimakasih. " Ucap Gail lalu segera mengambil kotak makanan itu, dan dia langsung meletakkan di meja makan membuat Kanya terlihat kecewa. Gail bukanya sengaja melakukan itu, hanya saja Gail tidak begitu tertarik untuk makan malam dengan makanan yang tinggi kalori, kenaikan berat badannya sebanyak dua kilo gram cukup membuat Gail merasa tidak nyaman. Di tambah lagi beberapa hari ini dia tidak ada waktu untuk olah raga, jadi memakan makanan yang di berikan Kanya sepertinya tidak akan sanggup untuk dia telan.
" Sayang, masuk yuk! "
Gail mencium kening Rien, merangkulnya dan membawanya untuk ikut masuk ke dalam kamar. Tentu saja Rien mengikuti ucapan suaminya, dia juga sempat melihat bagaimana Kanya terlihat kecewa, dan Rien cukup puas dengan itu.
" Bagus sekali. " Ujar Ibu mertua membuat Kanya mengeryit bingung, menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Dia seperti menyalahkan Ibu mertua yang ternyata mendukung Rien karena terbukti tersenyum puas saat Gail mengacuhkan Kanya.
__ADS_1
" Jangan salah paham, Kanya. Biarkan saja dia terus merasa bahwa dia hebat, biarkan terus dia merasa begitu penting bagi Gail dan akan selalu jadi yang utama untuk Gail. Tiba saatnya nanti, mari jatuhkan dia dari atas langit, tenggelamkan dia ke dasar jurang, lumuri seluruh tubuhnya dengan kotoran. " Ibu mertua tersenyum miring. Meskipun Kanya tidak begitu paham apa maksud ucapan Ibu mertua, dia tak banyak bicara dan membiarkan saja, serta akan setia mengikuti perintah Ibu mertua agar bisa hidup bersama Gail, pria yang selama ini dia cintai.
Saat makan malam tiba, Gail benar-benar tak memakan secuil pun makanan yang di belikan Kanya. Dia meminta Rien membuatkan salaf buah dan akhirnya mereka berdua memakan salad buah itu. Yah, tentu saja Kanya kesal selain, apalagi yang memakan makanan itu justru Jenette yang sedari kemarin sama sekali tidak bicara, dan seharian pula dia berada di dalam kamarnya.
" Kak, besok aku saja yang ke luar kota, Kak Gail tinggal saja di rumah. " Ujar Theo setelah makan malam mereka selesai.
Gail menghela nafasnya, lalu menggelengkan kepala karena dia tidak setuju. Bagaimanapun pekerjaan ini adalah pekerjaan mereka, jadi apapun kondisinya Gail juga berharap mereka bisa menyelesaikan semuanya berdua.
" Kak, kalau kita berdua pergi, tidak akan ada yang tinggal di kantor juga bukan hal yang bagus kan? "
" Theo, kita pergi kan akhir pekan, untuk apa tinggal di kantor? "
Melihat situasinya yang kurang bagus karena Gail dan Theo akan pergi ke luar kota, maka Rien hanya bisa meminta Gail untuk mengantarkan putrinya ke orang tua Rien dengan alasan mereka meminta Rien mengantarkan Cherel setiap akhir pekan karena mereka kesepian kalau sepanjang waktu hanya sibuk berdua saja. Untungnya Gail tidak keberatan, dia benar-benar bisa melepaskan Cherel dengan tenang kepada orang tua Rien, juga bisa lega karena setiap akhir pekan setidaknya Rien akan memiliki waktu lebih untuk istirahat di rumah.
Jenette benar-benar semakin membenci Rien padahal Rien juga tak melakukan apapun. Dia benci Rien yang tetap mesra dan akur meski sering bertengkar dengan suaminya. Dia kesal karena Theo sama sekali tak bisa menjadi Gail yang selalu saja tidak ragu meminta maaf dan begitu mencintai Rien. Aneh memang, karena sepertinya dia terus menemani Rien untuk alasan yang tidak jelas sama sekali.
Ibu mertua tersenyum tipis, sungguh dia menyukai suasana ini. Kanya menatap cemburu dan terus berimajinasi untuk berada di posisi Rien, Jenette yang begitu membenci segalanya tentang Rien kedua putranya yang sama sekali tidak tahu tentang keadaan yang sesungguhnya. Rien, dia juga terlihat tenang, tapi Ibu mertua paham benar ada banyak pemikiran yang di luar dugaan.
__ADS_1
Rien......
Menantunya itu cepat atau lambat akan masuk ke dalam genggamannya, dia akan membuat Rien merasakan sakit dari jutaan sakit yang menjadi satu. Kenapa dia membenci Rien, sungguh hanya dia yang tahu dan mari kita tunggu saja kapan dia akan memberitahu kita semua, oke?
Malam harinya.
Rien berjalan keluar kamar setelah memastikan kalau Gail sudah tidur, dia sebentar berdiri di ambang pintu menoleh memeriksa situasi apakah aman untuknya masuk ke dalam kamar Ayah mertuanya. Merasa tak ada orang lain di sekitarnya, Rien segera melangkahkan kaki untuk menuju kamar Ayah mertuanya, tadinya dia ingin langsung masuk ke dalam, tapi saat akan dekat dengan pintu rupanya ada orang yang membuka kamar Ayah mertua dan Rien hanya bisa mengubah posisi tubuhnya agar orang yang melihatnya akan menyangka kalau dia akan pergi ke dapur.
" Berjalan tanpa suara, apa kau sedang ingin melakukan aksi tidak biasa? "
Ibu mertua tersenyum tipis menatap Rien yang kini berbalik dan tengah menatap ke arahnya. Tak sengaja Rien melihat tangan Ibu mertua yang menggenggam sesuatu tapi entah apa Rien benar-benar tidak bisa menebaknya.
" Aku hanya ingin mengambil air. Memang di malam hari seperti ini kalau berjalan dengan suara apakah tidak akan menganggu orang tidur? Apalagi Ibu mertua sering sakit kepala, jadi mana berani aku seperti itu? "
Ibu mertua kembali tersenyum dengan tatapan matanya yang begitu dingin dan dalam.
" Kalau begitu, minumlah dengan baik selagi kau bisa melakukanya. " Ucap Ibu mertua.
__ADS_1
Bersambung.