Marriage Struggle

Marriage Struggle
Air Mata Kemarahan


__ADS_3

" Rien, sebenarnya aku harus bagaimana mengatakan padamu? Tidak bisakah kau mengerti betapa aku kebingungan, seperti tercekik tidak bisa melakukan apapun saat kalian bertengkar? Baiklah, aku tidak akan memintamu untuk memahami Ibuku, tapi bisakah saat kau kesal lihat dulu bagaimana situasinya? kau bisa bicara dengan Ibu saat tamu sudah pulang kan? "


Rien membuang nafasnya. Saat ini dia hanya berdua dengan Gail saja di kamar, karena Gail tidak ingin keributan itu menjadi meluas kemana-mana akhirnya Gail membawa Rien ke kamar untuk bicara berdua saja di sana.


" Rien, aku tahu kau lelah dengan semua pekerjaan rumah ini. Aku paham dan aku juga sudah mencoba untuk sebisa mungkin membantumu. Tapi, untuk satu hal saja aku minta padamu, tolong jangan- "


" Jangan lanjutkan ucapanmu itu, Gail! " Rien menatap Gail dengan tatapan marah. Dia pikir, menduga bahwa Gail pasti akan meminta Rien untuk sedikit mengalah, lebih bisa menekan emosi dan memikirkan bagaimana dampaknya saat keributan antara Rien dan juga Ibu mertuanya terjadi lagi.


Gail terdiam sebentar, melihat tatapan marah Rien sepertinya dia tahu benar bahwa Rien salah paham dengan apa yang dingin dia ucapkan. Sekarang ini sepertinya menjelaskan apa yang ingin dia katakan juga belum tentu bisa di terima oleh Rien, jadi Gail putuskan untuk diam sebentar siapa tahu dengan begitu Rien akan sedikit meredam kemarahannya, lalu mereka bisa bicara dengan kepala dingin.


" Ibumu, Ibumu yang paling kau cintai di dunia ini terang-terangan mengatakan bahwa dia sering membicarakan ku saat bersama temannya! Kau tahu apa yang di katakan oleh teman Ibumu itu, hah?! Rawatlah tubuhmu dengan baik, baru punya anak satu sudah seperti itu, bagaimana nanti kalau suamimu jijik padamu dan melirik wanita lain? Hah! Teman Ibumu begitu lancar mengatakan kalimat yang begitu menyakitkan itu, aku jadi penasaran benar, seperti apa dan bagaimana asiknya Ibuku juga temannya saat membicarakan aku. " Rien menyeka air matanya yang jatuh padahal dia benar-benar tidak ingin menangis saat itu. Tapi yah, bukankah kalimat yang keluar dari mulut teman Ibu mertuanya memang sangat menyakitkan? Seandainya saja alasan dia tidak bisa merawat diri karena malas, tentu saja tidak akan sesakit ini bukan?


Gail mengusap wajahnya, tentu saja dia tidak tahu tentang itu.


" Sayang, kau tahu aku tidak seperti itu kan? Aku tidak pernah merasa jijik apalagi melirik wanita lain? Bukankah kau saja sudah cukup untukku? "


Rien tersenyum Kelu, rasanya dia ingin percaya tapi mengingat terus ucapan teman Ibu mertuanya itu cukup membuatnya memiliki rasa takut yah tinggi. Bagaimanapun Gail masih terlihat gagah, tampan, dan perawakannya memang sangat mendukung. Rien sendiri kini jadi semakin tirus dan lesu karena seringnya kelelahan membuatnya tak memilki banyak waktu untuk merawat diri.


" Bahkan manusia saja bisa memakan daging manusia, bukankah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini? " Rien menatap Gail dengan tatapan dingin.

__ADS_1


Gail membuang nafasnya. Benar saja, kalau sedang marah Rien memang menjadi sangat keras kepala dan selalu saja berpikiran jelek.


" Sudahlah, kita akhiri saja pembicaraan ini. Sekarang kita temui Ibu saja ya? Minta maaf saja padanya supaya cepat selesai, dan kau masuk ke kamar setelah itu. "


Rien kini menjadi sangat marah, dia menatap Gail dengan tatapan yang begitu tajam sampai tubuhnya bergetar.


" Suami macam apa kau ini, Gail?! Yang di tekan adalah aku, yang di hina adalah aku, yang di sakiti juga aku, kenapa aku harus minta maaf untuk kebenaran atas apa yang Ibumu lakukan?! Aku minta maaf lalu bagaimana dengan Ibuku? Apakah dia juga Sudi meminta maaf untuk semua perbuatan keji yang dia lakukan?! Bahkan Ibu keledai saja akan lebih baik di banding Ibumu! "


" Rien! " Bentak Gal marah.


" Apa?! " Rien memukul dada Gail cukup kuat dengan kedua lengannya.


" Hentikan, kau sudah tidak terkontrol lagi bicaranya! "


Gail membuang nafas kasarnya, kali ini dia benar-benar tidak tahan, dia sudah menahan betapa pusingnya dia dan Rien terus memprovokasinya seperti ini.


" Tutup mulutmu, Rien. Kalau kau seperti ini aku bisa muak! "


Rien menyeka air matanya. Muak? Muak? Rien tersenyum dengan tatapan mengejek.

__ADS_1


" Yang seharusnya muak adalah aku, Gail. Aku yah harusnya muak, aku yang yang seharunya mengatakan itu padamu! Dasar bajingan! " Rien memukul dada Gail lagi dengan begitu marah, marah sekali sampai dia juga terus menitihkan air mata.


" Rien! " Gail menahan tangan Rien, lalu menyingkirkan darinya dengan marah.


" Kau selalu saja seperti ini, saat marah kau akan seperti ini! Kenapa kau sama sekali tidak bisa mengontrol emosimu? Asal kau tahu Rien, sikapmu yang seperti ini, membeludak saat marah, mengatakan apa yang seharunya tidak kau katakan, bukankah pada akhirnya membuat orang lain jadi muak dan memiliki niat untuk menjauh darimu? "


Plak!


Rien menampar wajah Gail, matanya yang tajam terbuka lebar menatap Gail marah. Gail juga menjadi diam tak berkata apapun, dia benar-benar sangat terkejut kalau Rien akan menamparnya seperti itu.


" Lakukanlah, Gail. Lakukan apa yang kau katakan barusan. Carilah wanita yang baru, jadikan dia istrimu dan lihat seberapa lama dia akan bertahan. Jika memang dia bisa selamanya bersama denganmu, aku akan berkaca baik-baik dan menyalahkan diriku sendiri. Tapi jika tidak, maka berkacalah pada dirimu sendiri, barangkali di balik sikap baikmu kau juga adalah sosok yang jahat. "


Setelah mengatakan itu Rien langsung beranjak keluar dari kamar menuju kamar Cherel. Ibu mertuanya ternyata berada tak jauh dari kamarnya, yah mungkin ingin mendengar seberapa besar keributan antara Gail dan Rien.


Memilih untuk mengabaikan Ibu mertuanya, Rien langsung saja masuk ke kamar Cherel. Mengambil tas untuk pakaian Cherel dan memasukkan semua pakaian Cherel di sana.


Gail, pria itu benar-benar menyesali apa yang dia katakan tadi. Padahal niatnya hanya ingin membuat Rien berhenti berteriak karena takut Ibunya mendengar itu, lalu Lagi-lagi menyalahkan Rien dan nantinya dia harus pusing lagi menghadapi masalah baru sementara masalah lama saja belum selesai.


Gail segera menyusul Rien karena pasti Rien akan masuk ke kamar putrinya, dan memenangkan diri di sana. Gail menyusul kesana karena ingin meminta maaf kepada Rien, jadi dengan begitu keributan di antara mereka bisa sedikit mereda. Tapi sayangnya begitu dia masuk ke kamar putrinya dia justru di kejutkan dengan Rien yang sedang mengemas semua pakaian Cherel.

__ADS_1


" Sayang kau mau kemana? Kenapa mengemas bajunya Cherel? "


Bersambung.


__ADS_2