Marriage Struggle

Marriage Struggle
Bukan Tidak Ada


__ADS_3

Jenette terdiam memandangi gundukan tanah di mana putranya telah di kuburkan. Pastilah hatinya hancur, dia bahkan sudah pingsan empat kali setelah mengetahui keadaan bayinya yang tidak lagi hidup. Begitu melihat bayinya lahir, dia benar-benar sangat terkejut karena tubuh bayinya sudah membiru. Masih menolak untuk mempercayai jika bayinya sudah meninggal, dia masih berharap jika bayinya mungkin saja akan hidup kembali, dan dia bisa merawatnya dengan baik. Dia pikir semua bayi akan mendapatkan keajaiban seperti kebanyakan cerita drama, tapi ternyata dia salah. Bayinya benar-benar tidak bisa hidup lagi sekeras dan sebanyak apapun dia meminta kepada Tuhan.


Rasanya dia benar-benar kecewa, dia marah karena tidak jadi memiliki anak, dia ingin menyalahkan siapa juga tidak bisa melakukannya. Menyesal, mungkin iya dia menyesal karena tidak mendengarkan apa yang di katakan Dokter dan juga Rien, tapi dia juga masih enggan menerima jika itu salah dirinya sendiri. Dia menolak untuk percaya jika gara-gara dia lah bayinya meninggal, dia tidak ingin menerima kenyataan itu, dia juga tidak sanggup untuk mengakuinya.


Rien, dia juga hanya bisa ikut sedih dengan apa yang terjadi. Apalagi saat melihat Theo yang tak mengatakan apapun, dia hanya diam menahan perasaan sedih, kecewa dan marah. Theo juga pasti sama terpukulnya seperti Jenette bukan? Mungkin ini bukan apa-apa, tapi Rien mencoba untuk menyentuh bahu Theo dan menatapnya.


" Dia sudah pergi tapi bukan berarti dia tidak ada, mati hanya soal waktu dan menunggu giliran saja, nanti ada masanya kalian juga bertemu. Jangan putus asa, jangan menyalahkan diri sendiri, kau pasti bisa melewati ini semua, sama seperti bayimu, dia pasti melewati banyak hal hingga ini adalah akhir untuknya di dunia ini. "


Theo terdiam sebentar, dia benar-benar tenang mendengar ucapan Rien, apalagi saat menatap mata Rien, rasanya benar-benar teduh dan membuatnya merasa kalau beban kesedihan yang dia rasakan sedikit berkurang. Theo mengangguk paham, memang benar apa yang di katakan Rien, putranya memang sudah pergi, tapi bukan berarti tidak ada. Benar, dia tidak memiliki waktu sama sekali untuk mereka bersama sekarang, tapi dia juga akan bertemu dan memiliki banyak waktu saat nanti dia kembali kepada Tuhan.


" Terimakasih, Rien. " Ucap Theo membuat Rien tersenyum dan mulai menjauhkan tangannya dari sana. Rien? Sangat tumben sekali dia memanggil Rien dengan sebutan nama, karena sesudah Rien menikah dengan Gail, dia selalu memanggil Rien dengan sebutan kakak ipar.

__ADS_1


Jenette yang bisa melihat itu benar-benar menjadi semakin sedih, padahal dia sedang sangat menderita karena anaknya tiada, tapi Rien malah terang-terangan menggoda suaminya. Gail juga melihat itu, jujur saja dia juga tidak nyaman melihatnya. Bagaimanapun dia sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan Jenette, jadi dia cemburu sekali dan mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.


Gail yang berada tak jauh dari Rien segera meraih tangan Rien, menggenggamnya erat berharap Rien hanya fokus padanya, menjadi miliknya seorang, tak memiliki niat dengan pria manapun lagi, termasuk juga adiknya sendiri. Rien menghela nafasnya, entah apa yang sedang di pikirkan oleh Gail, tapi Rien benar-benar sedang tidak ingin banyak berinteraksi dengan Gail dulu. Rien mencoba melepaskan jemarinya, tapi Gail justru semakin mengeratkan genggaman tangan mereka.


Sekembalinya mereka semua di rumah. Jenette benar-benar tak banyak bicara, tapi dia terus menunjukkan tatapan tak biasanya kepada Rien. Entah apa maksudnya tapi Rien benar-benar tida perduli dengan tatapan itu.


" Rien, Ayah dan Ibu pulang dulu ya? Cherel biar kami saja yang jaga, kau siapkan saja asi yang sudah di bekukan. " Ucap Ibunya Rien yang juga tadi menghadiri acara penguburan anak Jenette dan Theo. Rien tersenyum, lalu mengangguk setuju. Untung saja dia sudah memompa asinya cukup banyak beberapa saat lalu, stok sebelumnya juga masih banyak jadi Rien tidak perlu merasa khawatir tentang Cherel nantinya. Ibu dan Ayahnya sangat menyayangi Cherel, juga cucunya yang lain, tentu saja Rien sangat senang kalau Ibunya juga Ayahnya mau menjaga Cherel hingga besoknya.


Melihat Jenette yang benar-benar terpukul dan syok, Rien akhirnya mengambil air putih untuk dia berikan kepada Jenette. Rien pikir segelas air dapat membuat Jenette sedikit tenang, tapi Rien justru haus merasakan bagaimana segelas air putih itu di siram ke tubuhnya.


Ibu mertua yang ada di sana hanya menghela nafas jengah, sementara Kanya juga tercengang karena apa yang di lakukan Jenette kepada Rien.

__ADS_1


" Kau pasti senang karena anakku mati kan?! Kau pasti menyumpahi anakku supaya dia mati, jadi kau bisa menyingkirkan kekhawatiran mu yang tidak bisa melahirkan anak laki-laki, iya kan?! Kau juga terus menggoda suamiku, kau pasti ingin merebut semuanya dariku kan?! Kau iri padaku, iya kan?! "


Rien benar-benar tidak habis pikir dengan semua yang Jenette pikirkan tentang dirinya. Rasanya dia benar-benar kesal, dia ingin menampar wajah Jenette untuk membuatnya sadar, bangun dari fantasi yang terus dia pikirkan. Tapi, mengingat keadaan Jenette yang sedang berduka, Rien hanya bisa menahan semua itu, dan mengalah saja.


" Jenette, ini sudah cukup. Aku lelah sekali, aku sudah tidak sanggup menghadapi semua omong kosong mu itu. Kau kesal? Kau marah? Kau butuh pelampiasan karena anak kita meninggal? Maka salahkan dirimu sendiri, salahkan Sikap aroganmu, salahkan otakmu yang selalu merasa benar. " Ucap Theo, dia benar-benar memperlihatkan mimik wajahnya yang jengah, dia muak mengahadapi Jenette dan lelah bersabar dengan pernikahan yang sama sekali tak memberikan sedikit ketenangan untuknya. Andai saja dulu dia lebih keras lagi menolak untuk di jodohkan dengan Jenette, setidaknya dia pasti bisa bahagia menjalin hubungan dengan wanita yang dia inginkan bukan?


Rien membuang nafasnya. Dia sungguh merasa kasihan terhadap Jenette, tapi dia juga tidak bisa menyalakan Theo dengan segala kemarahannya.


" Jenette, yang kau bicarakan tadi, semua itu sungguh tidak benar. Aku tidak pernah merasa gagal melahirkan putriku, aku menyayanginya, aku mencintainya, dia adalah duniaku. Laki-laki atau perempuan asalkan dia adalah anakku, maka dia adalah kebanggaanku. Masalah gender, semua itu kualitas benih suamiku yang bisa menentukannya. Jangan menyerah, Jangan menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain, jadikan apa yang terjadi ini sebagai pelajaran agar kau bisa lebih mementingkan bayimu saat kau hamil lagi nanti. " Ujar Rien.


Theo tersenyum pilu.

__ADS_1


" Hamil lagi? Tidak, itu tidak akan terjadi. " Setelah mengatakan itu Theo bangkit dan berjalan pergi.


Bersambung.


__ADS_2