
Dengan tangan gemetaran Jenette menekan tombol untuk menghapus ribuan photo yang bersangkutan dengan Theo. Tekadnya untuk mengakhiri rasa sakit karena perasaan cintanya sudah membulat meski hatinya juga masih merasakan tidak rela.
Sudah lima tahun dia mencintai pria yang tidak mencintainya, meski sempat merasa bahagia saat Theo memperlakukannya dengan baik setelah menikah, tapi karena pada akhirnya tetap berakhir menyedihkan, maka Jenette juga tidak perlu mengingat apapun yang akan membuatnya semakin sulit untuk melepaskan Theo.
Setelah semua jejak Theo menghilang dari pandangannya, sekarang Jenette harus segera mencoba untuk menghilangkan Theo dari hatinya. Sudah dua hari ini dia menghabiskan waktunya untuk menangis, dengan bodohnya masih saja mengharapkan Theo datang menemuinya dan membujuknya untuk kembali ke rumah, tapi setelah sadar kalau Theo tidak akan mungkin datang karena keadaan rumahnya pasti sedang kacau, di tambah juga kenyataan bahwa Theo sama sekali tidak mencintainya. Jenette hanya bisa tersenyum pahit dan harus memilih jalan yang jelas bukan jalan yang dia inginkan sejak awal.
" Jenette, hari ini jadi menemui pengacara? " Tanya Ibunya Jenette yang baru saja masuk ke dalam kamar Jenette.
" Iya, Bu. " Jenette memaksakan senyumnya, ah! lebih tepatnya lagi dia menahan tangis. Yah, ternyata semua berakhir seperti ini, sulit, menyakitkan, tapi akan lebih menyakitkan jika tidak di lepaskan.
" Baiklah, Ayah akan bersiap-siap, kau juga bersiap ya? "
Jenette mengangguk paham, lalu tersenyum.
Setelah Ibunya keluar dari kamar Jenette, dengan segera Jenette mengeluarkan kembali ponselnya untuk menghubungi, tidak! Dia akan mengirimkan pesan kepada Theo sebagai pesan terakhir yang akan dia kirimkan sebelum Jenette menghapus dan memblokir nomor ponsel Theo.
__ADS_1
Semoga segala urusan mu cepat selesai, jaga diri dengan baik, selamat tinggal, semoga kau menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya, kebahagiaan yang memang benar kau dambakan. Terimakasih untuk segalanya, dan maaf.....
Jenette menyudahi pesan yang dia kirimkan sampai di sana. Dia sebenarnya ingin meminta maaf karena apa yang terjadi dengan putra mereka, tapi hanya dengan memikirkan itu dadanya sakit sekali, dia terus mengingat bayinya yang lahir tanpa suara, tanpa bergerak, tubuhnya sudah membiru, dan sangat dingin. Belum lagi dia harus melihat tatapan dingin dan sikap acuh Theo yang seolah menyalahkan dirinya, menghukumnya, membuatnya sadar jika menyentuh hati Theo sudah tidak akan mungkin bisa dia lakukan sekeras apapun dia mencoba.
Di sisi lain.
Theo menutup pintu ruangan rumah sakit di mana Ayahnya sedang mendapatkan perawatan. Sudah sejak siang tadi dia berada di sana untuk menemani Ayahnya, dan sudah waktunya untuk kembali karena ada pekerjaan yang harus dia kerjakan di kantor sebentar. Memang ini sudah sore dan hanya satu jam lagi jam kantor akan selesai, tapi dia juga tidak ada pilihan lain, waktu untuk menyelesaikan pekerjaan juga tidak bisa di tawar lagi.
Begitu berjalan beberapa langkah meninggalkan ruangan itu Theo tersadar jika ada pesan masuk di ponselnya. Segera Theo mengeluarkan ponselnya guna melibat siapa yang mengirimkan pesan padanya. Begitu membaca pesan itu Theo benar-benar hanya bisa mengernyitkan dahi membatin kenapa Jenette harus sibuk mengirimkan pesan padanya? Kenapa juga harus bertele-tele seolah-olah ingin Theo membujuknya?
Theo membuang nafasnya, tak berniat membalas pesan yang Jenette kirimkan dan memasukkan kembali Ponselnya ke dalam saku celana. Saat ini dia sedang pusing memikirkan pekerjaan, Ayah, Ibu, dan juga nasib dirinya di dalam keluarga sehingga menolak untuk memperdulikan yang lain, bahkan dia juga sampai lupa kalau sebenarnya Jenette juga adalah keluarganya karena Jenette masih istrinya.
Jenette sudah paham dan tahu benar bahwa Theo pasti tidak akan membalas pesan darinya seperti sebelumnya. Theo adalah pria yang tidak romantis, tapi dia memiliki pesona sendiri sehingga banyak gadis yang menyukainya, dan itu lah yang membuat Jenette semakin jatuh hati kepada Theo yang tidak mudah di goda oleh wanita. Dia hanya beruntung karena dia memiliki waktu bersama dengan Theo, dia juga menjadi istrinya Theo, sungguh itu amat Jenette syukuri hingga sekarang. Biarlah kenangan menjadi kenangan, dan masa depan adalah sebuah misteri yang tidak ada satu pun manusia yang akan bisa menebak dan tahu apa yang akan terjadi.
Semenjak hari itu, Jenette benar-benar menghabiskan waktunya untuk merenung dan menimbang apakah tindakannya benar? Tapi nasehat kedua orang tuanya benar-benar masuk akal sekali. Selama ini Jenette sudah melupakan banyak hal penting, termasuk melupakan bahwa dia juga perlu membagi cintanya untuk dirinya sendiri bukan hanya kepada Theo seorang.
__ADS_1
Hari demi hari yang dia lalui, menyaksikan orang tuanya begitu memperdulikan dan memerhatikan dirinya, Jenette jadi semakin yakin dan semakin membulat kan niatnya untuk bercerai dari Theo.
Jenette membuang nafasnya lalu menarik laci untuk mengeluarkan sebuah amplop berukuran cukup besar, amplop di mana selembar kertas yang akan mengantarkannya menjadi seorang janda berada. Jenette menetap sebentar selembar kertas permohonan cerai itu, lalu tak lama mengeluarkan pena, dan membubuhkan tanda tangannya di sana sebagai pihak pemohon.
" Benar-benar berakhir ya? "
Jenette tersenyum pahit, akhirnya dia menandatangani juga setelah beberapa hari ini terus menimbang dan berpikir akan keputusan besar yang akan dia ambil itu.
***
Setelah menahan diri selama beberapa waktu, Gail kini tengah berada di depan rumah orang tua Rien untuk diam-diam melihat Rien yang biasanya akan membawa Cherel ke teras rumah, dan bermain bersama Cherel di sana. Tapi sudah beberapa hari ini juga Rien tidak keluar dari rumah entah apa saja yang dia lakukan di dalam sana.
Hari sudah larut malam, tapi Gail masih betah berada di sana berharap kerinduan yang ia rasakan sedikit berkurang tanpa menganggu Rien yang pasti masih tidak ingin bertemu dengannya. Sayang, benar-benar sayang sekali karena menatap rumah kedua orang tua Rien, rumah di mana Rien tinggal bersama anaknya justru membuat Gail ingin menangis pilu.
Di dalam hati dia terus bertanya, sebenarnya bagaimana caranya agar Rien kembali padanya? Kenapa dia sama sekali tak pernah benar dan selalu salah? Setiap tindakan yang dia ambil nyatanya malah justru membuat Rien semakin ingin menjauh darinya, padahal yang ingin dia lakukan adalah agar istri dan anaknya baik-baik saja.
__ADS_1
" Dia pasti sangat merindukan kalian. " Ujar Ibunya Rien saat tak sengaja melihat Rien diam-diam mengintip dari celah jendela, dan pasti Gail adalah orang yang di lihat oleh putrinya.
Bersambung.