Marriage Struggle

Marriage Struggle
Rencana Baru


__ADS_3

Setelah kembali dari rumah sakit jiwa, Rien langsung menemui putrinya dan sebentar bermain untuk menenangkan dirinya. Jujur saja kebenaran dengan adanya Ibu kandung Gail cukup membuatnya semakin berpikir betapa harusnya dia berhati-hati karena sepertinya Ibu mertua adalah orang yang begitu pintar membuat sebuah tragedi hingga puluhan tahun berlangsung.


Sejenak Rien menghela nafas, mencoba untuk memfokuskan segala pemikirannya yang harus dia pusatkan kepada keselamatan semua orang, terutama putrinya, Cherel. Entah harus bagiamana nanti memberi tahu Gail tentang Ibunya, dan tentang betapa jahatnya wanita yang selama ini begitu dia sayangi melebihi Ibu kandungnya sendiri, yah pasti Rien benar-benar tidak akan berhenti sampai akhir, sampai dia bisa mengentikan kejahatan Ibu mertua.


Hari sudah akan malam, ini juga sudah tiba satunya untuk Rien dan juga Cherel kembali ke rumah. Tidak tahu akan ada drama apa lagi hari ini, tapi jika dramanya adalah tentang Greta, maka Rien akan memilih untuk diam dan tidak akan banyak bicara, tidak akan juga memberikan respon apapun.


Menaiki sebuah taksi, Rien dan juga Cherel kini sudah sampai di rumah dan sepertinya Gail juga belum sampai. Rien masuk ke dalam sembari menggendong Cherel, dia hanya perlu langsung masuk ke dalam kamar dan tidak perlu lagi mengurusi makan malam atau beberes rumah. Kalau saja dulu, Rien benar-benar akan mati-matian mengerjakan semua itu, tapi sekarang ini dia benar-benar tidak akan pernah melakukannya lagi. Memuaskan sarapan tentu saja iya, meskipun tidak sering seperti sebelumnya dia juga masih melakukan bersih-bersih rumah.


" Matamu tidak melihat atau memang matamu buta? "


Rien terdiam, menoleh ke arah sumber suara dan ternyata dia salah Jenette yang sedang menyapu. Rien memang tidak melihatnya maka dari itu dia berjalan saja membuat Jenette kesal sekali.


" Maaf. " Ucap Rien lalu berniat melanjutkan kembali langkah kakinya.


" Dasar tidak punya otak! Semenjak bayiku meninggal kau benar-benar meninggalkan pekerjaan yang seharusnya kau kerjakan, apa kau sedang membalas dendam padamu?! " Ucap Jenette mengutarakan apa yang sebenarnya dia rasakan kepada Rien.


Rien menghela nafasnya, dan menatap Jenette dengan tatapan jengah. Sebenarnya dia ingin sekali membalikkan pertanyaan Jenette barusan dan membuat Jenette mengingat bagaimana lelahnya menjadi Rien dulu. Mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus suami, mengurus bayi, belum harus menghadapi polah menyebalkan Ibu mertuanya yang selalu ingin membuatnya kesulitan. Gak ingin berseteru untuk hal yang tidak penting bagi Rien, dia akhirnya mengacuhkan saja Jenette dan segera masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Jenette yang kesal benar-benar si buat semakin kesal dengan Rien yang membisu seperti itu. Jujur saja dia memiliki segunung kebencian untuk Rien karena Rien lah yang telah membuat Theo sama sekali tak lagi meliriknya, bahkan berada di dekatnya juga Theo terlihat begitu ogah. Dia mencintai Theo, dan perasaan itu sudah berlangsung cukup lama hingga sekarang, jadi melihat Theo yang lebih memperhatikan Rien, selalu membela Rien membuatnya benar-benar kesal dan tidak terima.


" Dasar menyebalkan, lihat saja kau! Suatu hari nanti akan ku balas semua rasa sakit yang aku rasakan padamu! "


Beberapa saat kemudian.


Gail sudah kembali ke rumah, dan hati ini Gail benar-benar sangat berbeda dari sebelumnya. Entah apakah karena pembicaraan terakhir saat Rien menemui Marco, atau apa. Tapi memang semenjak hari itu Gail lebih banyak diam, dia bahkan hanya bicara seperlunya saja dengan Rien. Sebenarnya Gail yang seperti itu juga cukup membuat Rien terganggu, tapi bisa apa karena semua yang terjadi ini juga akibat kesalahan mereka berdua.


" Aku sudah pesan makan malam untuk kita, jadi nanti tolong di siapkan saja di meja makan ya? Aku akan pergi mandi dulu. " Ucap Gail lalu langsung pergi menuju ke kamar mandi. Rien tak menjawab apapun, dia diam karena dia sendiri tidak tahu kalau pada akhirnya hubungan mereka akan menjadi sedingin ini. Rien jadi berpikir lagi, apakah saat dia memberitahu tentang Ibu kandung nya Gail, juga tentang kejatahan Ibu mertuanya Gail bisa menerima itu di saat hatinya yang sedang tidak bisa terbaca?


Rien membuang nafasnya, lalu berjalan keluar untuk menyajikan makanan di meja makan, barulah dia akan kembali ke kamar untuk mengajak Gail ke meja makan. Tidak ada yah bicara hingga kegiatan makan malam itu hampir selesai, sungguh itu tidak seperti biasanya apalagi beberapa waktu lalu ada Greta yang begitu suka mengoceh dan mengobrol tidak perduli kalau dia sedang makan, begitu juga orang lain.


Rien tersenyum begitu masuk ke dalam kamar Ayah mertuanya, dia memberikan sepiring makanan karena yang Rien tahu sejak dia pulang tadi, dia belum melihat Ibu mertua mengantarkan makanan untuknya.


" Ayah, buat aku suapi jadi makan lah yang banyak ya? "


Benar saja, Ayah mertua begitu lahap makan seperti kelaparan malah. Entah seharian ini di beti makan atau tidak, sepertinya Ibu mertua memang semakin tidak memperhatikan keadaan Ayah mertua. Nanti biar Rien lihat dari kamera pengawas yang terhubung kepadanya, adakah Ibu mertuanya memberi Ayah mertua makan atau tidak hari ini.

__ADS_1


Setelah menghabiskan sepiring makanan, Rien membantu Ayah mertua untuk meminum air mineral, lalu ada jus apel yang belum lama ia buat.


" Ayah, sekarang sudah kenyang bukan? "


Ayah mertua mengangguk, lalu tersenyum.


Rien melihat ke arah pintu yang masih tertutup rapat, lalu mengeluarkan ponselnya untuk memperlihatkan Ibunya Gail yang berada di rumah sakit jiwa.


" Ayah, lihat ini! "


Ayah mertua nampak begitu emosional hingga tidak bisa menahan laju air matanya yang jatuh. Jelas sekali dia merindukan Ibunya Gail, dan ini sudah cukup menjelaskan bahwa mereka berpisah pasti bukan karena keinginan dari mereka berdua, tapi kemungkinan terbesarnya adalah karena Ibu mertua.


" Ayah, hari ini aku melihat langsung Ibu mertua yang sesungguhnya. Dia tidak banyak bicara, tapi begitu aku menunjukan photo Cherel, dia langsung memeluk photonya karena menganggap Cherel adalah Gail. "


Ayah mertua terus memandangi photo di layar panel Rien, dan itu benar-benar membuat Rien semakin bertekad untuk mempertemukan mereka berdua suatu saat nanti.


" Ayah mertua, aku sedang merencanakan untuk mengeluarkan Ibu dari sana, Ayah mertua setuju kan? "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2