
Jenette tersenyum sebentar.
" Aku tidak akan kembali, mungkin lusa pengacara ku akan datang ke rumah untuk menyerahkan surat permohonan cerai secara langsung. " Ujar Jenette membuat Theo terdiam membeku.
Sebenarnya Jenette paham benar bahwa tidak seharusnya dia mengatakan hal itu di hadapan orang lain, di tambah lagi juga mereka kini berada di tempat umum sehingga akan ada beberapa orang yang mendengar ucapannya tadi. Tapi dia juga tidak ingin menutupi apapun lagi, dia ingin bebas dan membebaskan Theo untuk memilih jalannya sendiri. Wanita yang datang bersama dengan Greta mungkin memiliki perasaan kepada Theo, karena Jenette paham benar seperti apa arti tatapan mata wanita itu, yang tidak jauh beda dengan cara dia menatap Theo sebelumnya.
Mendengar jawaban yang begitu mengejutkan, Gail benar-benar sempat tak tahu harus mengatakan apa dan memilih untuk diam sebentar sembari membatin, berpikir dengan kemungkinan yang ada. Jenette dan juga Rien sama sekali tidak pernah akur sebelumnya, dan hubungan mereka membaik apakah mereka memiliki tujuan yang sama sekarang? Rasanya Gail ingin menghilangkan pemikiran yang begitu membuatnya tidak tenang, tapi dia juga tidak bisa merasakan tenang sekeras apapun dia mencobanya. Mungkinkah sebentar lagi Rien juga akan mengatakan kalimat yang sama untuknya. Tidak, dia benar-benar tidak siap untuk itu.
" Aku pergi dulu, kami harus berpindah tempat supaya kami bicara dengan nyaman. Jujur saja, adanya kalian benar-benar membuat kami berdua tidak tenang. " Ujar Rien merangkul Jenette dan mengajaknya untuk pergi hanya dengan tatapan matanya.
Gail tak bisa berkata-kata, sekarang dia sedikit paham bahwa lagi-lagi dia melakukan apa yang seharusnya tidak dia lakukan. Greta, wanita itu, wanita yang pernah dia cintai dulu jelas membuat Rien merasa tidak nyaman, apalagi sekarang Gail tengah bersama dengan Greta. Memang benar mereka tidak hanya berdua saja, masih ada Theo dan juga asistennya Greta, tapi sialnya keberadaan mereka justru membuat kesan mereka seperti tengah menjalani double date.
Setelah sebentar terdiam untuk berpikir, Gail memutuskan untuk menjalankan kakinya dengan cepat, menghampiri Rien yang sudah akan masuk ke dalam mobil Jenette dan menahan lengannya.
" Ayo kita bicara, sepuluh menit saja. " Ajak Gail.
Rien menatap Jenette, dan saat Jenette mengangguk mempersilahkan Rien karena dia paham benar banyak hal yang harus di bicarakan keduanya, dan Jenette juga berharap hunga Gail tidak akan seperti hubungannya dengan Theo. Mereka sebenarnya saling mencintai, hanya saja kesalahpahaman datang satu persatu, menyerbu dari segala sisi sehingga mereka memilih untuk memendam dan pada akhirnya membuat mereka saling salah paham antara satu dengan yang lainnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Rien kini duduk sembari memangku Cherel, dan Gail duduk di sebelah mereka. Sekarang ini mereka tengah berada di dalam mobil Gail yang terparkir tidak jauh dari mobil Jenette.
" Rien, katakan semua yang menganggu mu, mengganggu perasaan mu padaku. Aku ini terllau bodoh dan tidak tanggap itu lah kenapa kau mulai menjauh dari ku bukan? Aku ingin pernikahan kita ini benar-benar berakhir dengan perpisahan yang hanya karena maut saja. Tolong jangan memikirkan perpisahan karena aku tidak menginginkan itu, dan tidak pernah memikirkan hal itu sama sekali. "
Rien terdiam sebentar, perpisahan? Sebenarnya hanya dengan membicarakan perpisahan hatinya juga cukup sakit, namun apakah mungkin hubungannya benar-benar akan berakhir baik jika dia melanjutkan rumah tangganya bersama dengan Gail?
" Aku sebenarnya sedang kacau, aku tidak tahu bagiamana dan sebenarnya apa yang aku inginkan untuk hidupku dan Cherel. Di lain sisi aku mencintaimu, tapi di sisi lain pula aku melihat kau yang selalu mengabaikan ku dengan dalih melindungi ku. Kita ini sebenarnya sama-sama egois dan kurang dewasa, aku takut pilihan ku nanti akan membuat Cherel tersiksa, begitu juga dengan hatiku. "
" Tentu saja apa yang kau katakan benar, tapi bisakah kita bulatkan tekad kita dan sama-sama belajar lebih giat dan lebih baik lagi untuk bisa lebih saling mencintai, untuk bisa tumbuh dengan pemikiran yang dewasa, belajar untuk menjadi orang tua yang baik untuk anak kita? "
Rien mengigit bibir bawahnya. Haruskah dia benar-benar melakukan itu?
" Masalah Greta, tolong jangan berpikir terlalu jauh dan terlalu banyak. Aku tahu benar bagiamana melindungi diri ku sendiri, dan aku juga tidak dapat banyak menentang karena ini masalah pekerjaan yang cukup menguntungkan. Tapi, jika mengakhiri hubungan kerja sama dengan Greta adalah hal yang tebaik untuk kita, tentu saja aku akan melakukannya dengan senang hati. "
Rien menghela nafasnya.
__ADS_1
Di sisi lain, Theo membiarkan saja asistennya Greta terus bertanya dan mengajaknya mengobrol ini itu. Sebenarnya sekarang otaknya benar-benar terus memikirkan ucapan Jenette mengenai perpisahan yang akan terjadi di antara mereka. Memang sangat mengejutkan untuknya, selama ini dia terlalu terbiasa dengan Jenette yang over protective, Jenette yang menunjukkan perasaan cinta dengan begitu menggebu-gebu, jadi jika perpisahan itu terjadi akankah benar akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik?
Mengingat selama ini dia merasa cukup risih dengan Jenette yang berlebihan dalam cemburu, dia juga cukup tertekan harus menatap wajah Jenette yang terus mengingatkan dirinya dengan kematian putranya. Tapi, apakah benar-benar dia akan bahagia saat perpisahan di antara mereka benar terjadi?
" Theo? Theo? " Panggil Greta setelah sudah berapa kali dia memanggil nama Theo dan Theo justru malah sibuk melamun entah apa yang dia pikirkan.
Theo tersentak, lalu menatap Greta untuk bertanya apa yang mereka bicarakan selama dia melamun.
Greta membuang nafasnya, lalu menatap Theo dengan tawa kecil yang seolah menertawakan sikap Theo yang begitu aneh dengan terus melamun.
" Kakak mu sudah pergi cukup lama, apakah kita tidak lebih baik menghubunginya agar dia bisa segera bergabung dengan kita? " Tanya Greta.
Theo membuang nafasnya, lalu tersenyum seolah tak tahu harus bagiamana menghadapi Greta yang seperti terus menekan untuk memilki kesempatan bersama dengan Kakaknya. Lewat kerja sama yang cukup menguntungkan, dan memulai pendekatan dengan membocorkan niat buruk Ibu mertua sehingga bisa mengambil hati Gail.
" Tenangkan dirimu, Greta. Kau semakin memperlihatkan seperti apa tujuan mu. Aku hanya mengingatkan satu hal padamu bahwa, kakak ku tidak pernah memikirkan untuk mencintai wanita lain, aku juga yakin benar bahwa dia tidak akan berpikir dua kali untuk mengakhiri hubungan kerja sama kita jika tujuan mu adalah untuk itu. Meskipun kakak ku bukan orang yang sangat tegas, tapi dalam hal mencintai, aku pastikan kalau bahkan tidak akan ada wanita lain di hati kakak ku selain istrinya sendiri.
Bersambung.
__ADS_1