Marriage Struggle

Marriage Struggle
Pertemuan Dengan Jenette


__ADS_3

Hari sudah larut malam, tapi Gail masih betah berada di sana berharap kerinduan yang ia rasakan sedikit berkurang tanpa menganggu Rien yang pasti masih tidak ingin bertemu dengannya. Sayang, benar-benar sayang sekali karena menatap rumah kedua orang tua Rien, rumah di mana Rien tinggal bersama anaknya justru membuat Gail ingin menangis pilu.


Di dalam hati dia terus bertanya, sebenarnya bagaimana caranya agar Rien kembali padanya? Kenapa dia sama sekali tak pernah benar dan selalu salah? Setiap tindakan yang dia ambil nyatanya malah justru membuat Rien semakin ingin menjauh darinya, padahal yang ingin dia lakukan adalah agar istri dan anaknya baik-baik saja.


" Dia pasti sangat merindukan kalian. " Ujar Ibunya Rien saat tak sengaja melihat Rien diam-diam mengintip dari celah jendela, dan pasti Gail adalah orang yang di lihat oleh putrinya.


Rien tak mengatakan apapun sebagai jawaban dari ucapan Ibunya. Tentu saja dia tahu benar kalau Gail merindukan dirinya juga Cherel, tapi jika mereka masih belum bisa diri masing-masing tentu kedepannya juga akan sama sulitnya seperti saat ada Ibu mertua. Sebenarnya wajar jika seorang istri menuntut untuk di nomor satukan oleh suaminya, meskipun memang benar terdengar egois karena menuntut suaminya seperti itu. Tapi apakah ada yang bisa menjamin hubungan suami istri dalam biduk rumah tangga akan membuat mereka merasakan bahagia jika istri adalah pihak yang harus terus mengalah dan memberikan pengertian? Rien juga Merindukan Gail, dia merasakan perasaan yang sama terhadap suaminya itu, tapi sayang sekali dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk menyambut suaminya datang padanya.


" Kau akan terus seperti ini? " Tanya Ibunya Rien.


" Tidak tahu, Bu. Aku tidak tidak tahu harus mengatakan apa, juga melakukan apa karena itu lah aku memilih untuk tetap berada di sini. "


Ibunya Rien menghela nafas, mengusap punggung putrinya dengan lembut. Yah, mau bagaimana lagi jika hati tidak siap? Meskipun masalah rumah tangga terasa ringan dan sepele, nyatanya kalau tidak di pikirkan matang-matang dan saling menenangkan diri tentu saja akan menjadi masalah yang sangat besar.


" Ya sudah, kau kirimkan saja dia pesan untuk pulang ke rumah dan istirahat. Dia pasti lelah karena banyak hal yang harus di kerjakan, jangan biarkan dia terus berada di sana. "


Rien tersenyum, dan mengangguk paham.


Begitu Rien kembali ke kamar, dia mengeluarkan Ponselnya, mengaktifkan kembali ponsel yang sudah beberapa hari sengaja dia matikan. Ada banyak sekali pesan yang di masuk ke ponselnya, baik dari Marco juga dari Gail, bahkan juga ada dari Jenette yang mengajak Rien untuk bertemu, ada juga Theo yang bertanya apa Jenette membuat ulah dengannya?

__ADS_1


Rien membuang nafasnya, dia mengirimkan satu pesan kepada Gail, meminta Gail untuk kembali ke rumahnya dan istirahat. Setelah itu Rien kembali membaca pesan yang di kirimkan Jenette padanya, pesan itu berisi tentang ajakan untuk bertemu karena ada hal yang ingin di bicarakan Jenette padanya, jadi Jenette meminta waktu agar bisa bertemu dengan Rien. Tak mungkin mengabaikan Jenette seperti yang Theo lakukan, Rien segera membalas pesan dari Jenette, dan menyetujui untuk bertemu besok. Bagaimanapun Jenette sudah menyelamatkan nyawa Cherel, jadi bisa di bilang Rien berhutang besar kepada Jenette.


Di luar rumah.


Gail membaca pesan yang di kirimkan Rien padanya, dia tersenyum Kelu karena sepertinya sekarang dia juga tidak dapat melihat Rien secara langsung begitu juga dengan anaknya. Gail membalas pesan dari Rien, dia mengatakan kepada Rien untuk istirahat dengan nyaman, jangan lupa jaga kesehatan, dan jangan lupa untuk menerima panggilan video darinya agar Gail bisa melihat wajah Rien dan juga Cherel secara langsung.


Esok harinya.


Rien memenuhi janjinya untuk bertemu dengan Jenette. Karena ini adalah pertemuan yang dia niatkan untuk mengucapkan terimakasih kepada Jenette, Rien mengajak Jenette untuk bertemu di sebuah pusat belanja, tepatnya di salah satu restauran makanan lokal yang di sukai oleh Jenette.


Sesampainya di sana, Rien tersenyum menyambut kedatangan Jenette yang datang sepuluh menit setelah dia sampai. Rien sebenarnya agak ragu untuk tersenyum, tapi melihat Jenette yang membalas senyumnya dia jadi merasa lega karena pada akhirnya Jenette mau membalas senyuman darinya, juga yang membuat Rien merasa lebih bahagia lagi adalah, sorot mata Jenette sudah tidak lagi menunjukan kebencian seperti sebelumnya.


Rien tersenyum, sebenarnya dia juga merasakan benar apa yang di rasakan oleh Jenette, tapi sebisa mungkin dia mencoba untuk tidak menunjukkannya.


" Jangan bicara seperti itu, Jenette. Aku tentu tidak masalah karena memang tidak ada hal yang membuatku sibuk, dan kau lihat sendiri kan? Cherel sangat pengertian sekali? "


Jenette tersenyum menatap Cherel yang juga tersenyum kepadanya, rasanya semenjak melihat Cherel pertama kali dia seperti jatuh cinta dengan wajah cantik Cherel yang menggemaskan, di tambah saat dia tersenyum akan ada lesung pipi yang begitu manis, juga tubuhnya yang gendut dan rambut ikal mengkilap, rasanya perpaduan itu benar-benar sangat indah dan tidak membosankan.


" Mau ikut Bibi? " Jenette mengulurkan tangannya, dan Cherel langsung merentangkan tangannya. Dengan segera Jenette mengambil Cherel dari pangkuan Rien, lalu memindahkan ke pangkuannya.

__ADS_1


Melihat itu Rien benar-benar amanat bahagia juga terharu. Hal yang tidak mungkin dulu dia pikirkan, kini terjadi tepat di hadapan matanya. Cherel nampak nyaman dengan Jenette, dan Jenette yang juga terlihat tulus padahal sebelumnya Rien menganggap Jenette hanyalah gadis manja, juga egois yang telah terbiasa hidup nyaman sejak dia di lahirkan. Jenette yang terlihat keibuan itu benar-benar membuat Rien sadar kalau Jenette pasti juga terus membayangkan bagiamana rasanya bisa memangku dan menggendong anaknya sendiri.


Beberapa saat kemudian.


" Rien, sebenarnya aku mengajak mu bertemu karena aku ingin meminta maaf secara langsung padamu. Aku sudah banyak melakukan kesalahan, aku tidak sadar lebih cepat hingga tanpa sadar kebodohan ku justru di manfaatkan oleh orang lain. "


Rien meraih tangan Jenette dan menepuk lembut punggung tangannya. Entah seberapa menyakitkan apa yang telah di rasakan Jenette sebelumnya, dia pasti sangat menderita hingga pada akhirnya dia tersadar dengan apa yang sebenarnya terjadi.


" Tolong jangan bicara seperti itu, kau sudah menyelamatkan nyawa putriku, aku sudah banyak berhutang padamu. Meskipun aku tahu jutaan kata terimakasih tidak akan cukup, tapi aku tetap akan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk apa yang kau lakukan. "


Jenette membuang nafas leganya.


" Kalau kau merasa tidak cukup, bagaimana kalau aku tetap jadi Bibinya Cherel? Aku akan sering menemuinya. "


" Kau kan memang Bibinya Cherel, kenapa harus bicara seperti itu? Kau bisa menemui Cherel kapanpun kok. " Ujar Rien lalu tersenyum.


Jenette terdiam sebentar saat dia kehilangan senyumnya.


" Aku akan bercerai dengan Theo, jadi statusku akan berubah juga kan? "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2